Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
90. Rumah Baru Keluarga Wilson


__ADS_3

Pagi ini keluarga Alina sudah hendak pergi ke rumah barunya. Semua barang-barang pribadi telah dikemas dan diletakkan di dalam mobil. Rico pun hadir di sana untuk ikut membantu, meski sebenarnya tak ada yang perlu dibantu.


Alfian bersama orang tua dan istrinya berada dalam satu mobil. Sementara Morgan dan Alina ikut bersama Rico. Dua mobil lainnya dibawa oleh supir Thomas dan asisten pribadi Morgan bersama barang-barang mereka.


Perjalanan menuju kediaman baru Thomas dan keluarganya memakan waktu hanya tiga puluh menit. Tak terlalu jauh dari kediaman Alfian karena pria itu sengaja mencari lokasi yang dekat agar tak kesulitan jika hendak berkunjung satu sama lain.


Perumahan yang dipilih Alfian merupakan komplek perumahan elit, tak kalah mewah dengan rumah yang dia tempati. Hanya saja lebih besar karena di sana merupakan rumah utama yang akan menjadi tempat berkumpul keluarga.


Di dalam mobil yang dikendarai Rico, Morgan terlihat sangat senang menggoda adik dan pacarnya. Dia pun menyinggung keberadaan Alina dan Rico di apartemen semalam sehingga membuat kedua orang itu menahan malu akan keadaan yang tak sengaja terjadi.


"Heh, kalian berdua memang sering berduaan di apartemen ya? Apa jangan-jangan saat kamu tinggal di sana, Rico juga ikut menemani kamu ya, Al?" tanya Morgan kepada adiknya.


"Abang bisa diam nggak? Aku telepon bang Fian beneran loh," ancam Alina untuk kesekian kalinya. 


Dia benar-benar dibuat kehilangan muka gara-gara abangnya yang selalu bicara ceplas-ceplos itu. Tangannya yang hampir menyentuh tombol panggil pada nomor Alfian membuat Morgan membanting tubuhnya ke punggung kursi.


"Bisanya cuma mengancam. Nggak asik banget," ucap Morgan sembari menyebikkan bibirnya.


"Kamu hobi banget sih ngusilin Alina, Gan," ucap Rico sembari menatap spion untuk melihat raut wajah Morgan.


"Dalam persaudaraan memang begitu, Co. Ada yang pendiam seperti bang Fian, ada yang cerewet seperti Alina, dan ada pencair suasana seperti aku."


Alina yang mendengar dirinya disebut sebagai wanita cerewet pun tak setuju. Dia menghadap kursi penumpang dan menatap tajam kepada abangnya itu.


"Cerewet?"


"Ya, apa lagi?" ucap Morgan membenarkan.


"Co, apa aku cerewet?" tanya Alina kemudian kepada Rico.


Rico pun tersenyum ditanya seperti itu.


"Nggak kok. Mungkin kamu seperti itu karena Morgan yang menyebalkan."


Morgan pun yang merasa jika Rico membela Alina lantas menegakkan kembali duduknya, mendekatkan tubuhnya ke tengah-tengah Rico dan Alina.


"Aku menyebalkan?"


"Abang memang menyebalkan, benar-benar menyebalkan," ucap Alina dengan cepat dan penekanan pada akhir kalimatnya.


Alina kini berbangga hati karena Rico membelanya dan menyebut Morgan menyebalkan. Perdebatan kembali terjadi antara Morgan dan Alina, mereka mempeributkan dirinya yang tidak menyebalkan dan juga tidak cerewet.


Rico hanya tertawa geli melihat kelakuan dua bersaudara itu. Selama ini dia tidak memiliki kakak ataupun adik, dia tidak tahu bagaimana rasanya memiliki saudara seperti Alina dan Morgan. Meskipun sering bertengkar, tapi jika berjauhan mereka pasti akan sangat saling merindukan satu sama lain. Mengingat hal itu, Rico pun tersenyum tipis. 


Jika saja saat itu kedua orang tuanya tidak meninggal karena kecelakaan, apakah saat ini dia akan memiliki adik? Tapi, jika pun dia memiliki adik dan orang tuanya tidak meninggal, mungkin saat ini dia tidak akan berada satu mobil bersama Alina dan juga Morgan seperti saat ini. Dia tidak akan menjadi anak dari keluarga Renaldi, tidak akan bertemu Andi maupun Alina, dan tidak akan merasakan jatuh cinta kepada sosok wanita sempurna seperti yang ada di sampingnya saat ini.


Rico tidak tahu harus mensyukurinya atau bersedih. Syukur dan sedih yang dia rasakan memiliki porsinya masing-masing. Dia bersedih akan kematian kedua orang tuanya, yang membuat dirinya saat ini tak pernah merasakan kasih sayang orang tua kandungnya. Namun dia juga bersyukur akan kehidupannya yang lebih baik saat ini. Bertemu banyak orang baik, terutama Santi dan Irfan yang mau menjadikannya seorang anak tanpa menilainya rendah sedikitpun.


**

__ADS_1


Saat mereka sudah hampir sampai di kediaman Alina yang baru, mata Rico saat itu tak sengaja menatap pada papan pengumuman di depan sebuah pagar rumah. Rico sekilas memperhatikan rumah tersebut yang terlihat luas dan tampak terawat. Entah kenapa dia sangat menyukai rumah itu sejak pandangan pertama, dan tak tahu dari mana asalnya Rico pun memiliki niat untuk membeli rumah tersebut untuk ditempatinya setelah menikah nanti bersama Alina. Namun sebelum itu, dia harus meminta pendapat Alina terlebih dahulu, apakah wanitanya itu menyukai rumah tersebut dengan lokasi yang saat ini.


"Sayang, sepertinya rumah itu bagus deh. Kamu suka nggak?" tanya Rico.


Mereka yang saat itu baru saja melewati rumah tersebut membuat Alina mengernyitkan keningnya. Dia tidak sempat melihat dengan jelas rumah yang Rico maksud.


"Aku nggak sempat lihat rumahnya. Memangnya kenapa?" tanya Alina.


"Aku berniat membeli rumah itu untuk kita tempati setelah menikah nanti tapi aku nggak tahu kamu suka nggak sama rumahnya dan juga lokasinya


"Kamu mau ambil rumah di sini?" tanya Alina. 


"Kalau kamu suka, kenapa tidak."


Sudah satu bulan ini Rico dan Alina mencari rumah untuk mereka tempati setelah menikah nanti, namun sampai saat ini mereka belum juga menemukan rumah yang cocok. Entah untuk lokasi maupun model rumahnya. Jika pun harus merenovasinya seperti keinginannya, mereka harus memulainya dari awal dan itu akan percuma karena Rico juga sudah mempersiapkan rumah yang masih dalam tahap pembangunan. Sementara mereka sendiri sudah harus menempatinya setelah menikah nanti. 


"Aku mau aja sih kalau di sini, soalnya dekat dengan rumah mama dan tidak terlalu jauh juga dengan rumah mama kamu. Tapi aku belum lihat rumahnya seperti apa."


"Nanti aku hubungi pemiliknya terlebih dahulu, setelah itu baru kita cek lokasi."


Alina mengangguk mengiyakan.


"Kalian kenapa baru mencari rumah sekarang? Pernikahan kalian satu bulan lagi loh," tanya Morgan dengan heran.


"Rico sudah ada rumah Bang, tapi masih dalam tahap pembangunan. Masih lama untuk bisa ditempati, jadi kita berencana untuk mencari tempat tinggal sementara dulu."


"Ya maksudnya kenapa nggak cari dari jauh-jauh hari, Al. H-30 loh kalian mencarinya, apa sempat?" ucap Morgan lagi.


Morgan pun menganggukkan kepalanya, mulai paham dengan maksud dari calon adik iparnya itu.


Setiba di rumah baru Alina, mereka segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Alfian dan kedua orang tuanya sudah lebih dulu sampai dan kini mereka sudah berada di dalam rumah.


"Cantik," gumam Rico.


"Aku?" tanya Alina sembari menunjuk dirinya.


Rico yang mendengar itu menatap ke arah Alina dengan bingung. Begitupun dengan Morgan yang menatap ke arah adiknya itu, dia bahkan tertawa mendengar pertanyaan adiknya itu.


"Rico memuji rumahnya, bukan kamu," seru Morgan disela tawanya.


Alina pun yang mendengar itu lantas terdiam malu.


"Aku pikir kamu memuji aku," serunya sembari memajukan bibirnya, memasang wajah cemberut karena kesal sekaligus malu.


Rico tersenyum melihat wajah menggemaskan calon istrinya itu. Kemudian dia menyentuh ujung hidung Alina dengan jari telunjuknya.


"Kamu sudah cantik dari dalam kandungan, dan itu nggak perlu pengakuan lagi," ucapnya kemudian yang berhasil membuat Alina menatap terkejut ke arahnya. Sedetik kemudian senyum Alina mengembang sempurna, bahkan matanya terlihat menyipit karena saking senangnya mendapat pujian dari Rico.


"Aku tahu itu," sahut Alina dengan memamerkan deretan gigi putihnya.

__ADS_1


Melihat Alina yang tersenyum senang, Rico pun merasakan hal yang sama. Dia mengusap kepala wanita itu dengan sayang dan merangkul bahunya sembari berjalan memasuki rumah.


*


"Kalian sudah sampai?" ucap Zara saat melihat kedua anaknya serta Rico yang baru datang.


Mereka saat ini sedang di ruang keluarga, melihat beberapa pegawai yang sedang menata barang di sana.


"Mama cepat sekali sampainya," ucap Alina sembari memeluk mamanya.


"Kalian yang lama."


Bukan Zara yang menjawab, melainkan Thomas.


Alina hanya memajukan mulutnya mendengar ucapan papanya. Tak berniat menjawab karena memang Rico sangat lambat membawa mobilnya. Mereka lebih santai di perjalanan sambil berbincang dengan Morgan sebagai pencair suasana.


"Bang Fian sama kak Marissa mana, Ma?" tanya Alina kemudian.


"Sedang melihat kamar mereka."


"Mereka punya kamar di sini?" tanya Alina sembari melepas pelukannya dari sang mama.


"Wah, parah nih anak." Morgan berucap dengan heboh. "Mentang-mentang sudah punya rumah sendiri, kamu kira bang Fian nggak boleh punya kamar di sini?"


"Aku 'kan cuma nanya doang, memangnya salah?" ucap Alina.


"Salah besar," sahut Morgan cepat.


Alina hendak menyahuti kembali ucapan abangnya, namun dicegah oleh mamanya.


"Sayang, ini 'kan akan menjadi rumah utama, pasti bang Fian punya kamar pribadi di sini jika akan menginap," ucap Zara.


"Iya, Ma. Alina lupa," sahutnya.


"Iya, nggak papa kok. Kamu nggak mau melihat kamar kamu kah?" 


Alina yang mendengar itu, membuka matanya lebar-lebar. Kamarnya? Dia hampir saja lupa dengan kamarnya yang mungkin sudah siap ditempati itu.


"Aku ajak Rico ya, Ma," ucap Alina meminta izin.


"Heh, mau ngapain ngajak cowok ke dalam kamar," ucap Morgan yang menyela dengan cepat jawaban orang tuanya.


Alina pun yang baru saja hendak beranjak kini terdiam menatap sang abang.


"Dia calon suamiku, itu akan menjadi kamarnya juga nanti. Kenapa, masalah hah?" ucap Alina kemudian dengan nada menyolot.


"Calon saja–"


"Morgan," sela Zara sebelum Morgan menyelesaikan perkataannya. "Biarkan saja. Jangan ngusilin adik kamu terus."

__ADS_1


Morgan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf, Ma."


Alina yang dibela pun menjulurkan lidahnya kepada Morgan. Dia sangat senang jika ada yang membelanya dari Morgan yang selalu menyebalkan padanya.


__ADS_2