
Mengingat dua hari lagi dia akan berpindah tempat tinggal, malam ini Alina mulai bergegas untuk membereskan barang-barangnya. Pertama dia mengumpulkan barang-barang yang tidak terpakai dan memasukkannya ke dalam sebuah karung berukuran besar. Barang-barang itu akan dia berikan kepada orang lain yang lebih membutuhkannya agar bisa jadi bermanfaat.
Alina pikir dalam waktu semalam dia bisa mengemas setengah dari barang-barang yang akan dibawanya, tapi ternyata tidak. Dia hanya bisa mengemas barang-barang yang tidak terpakai itu saja malam ini.
"Ternyata banyak barangku yang nggak terpakai. Astaga, boros banget aku," gumam Alina pada dirinya sendiri.
Karena malam ini dia tidak bisa mengemas setengah dari semua barang-barangnya, keesokan harinya Alina memutuskan untuk mulai berkemas setelah pulang dari kampus. Tepatnya pukul dua siang, Alina yang baru saja pulang dari kuliah langsung membongkar semua isi lemarinya tanpa berniat untuk istirahat terlebih dahulu. Dia harus mengejar waktu agar besok saat Rico dan Andi datang, mereka bisa langsung mengangkat barang-barang berat seperti lemari, sofa, dan teman-temannya tanpa menunggunya untuk membereskannya lagi.
Sambil memutar musik dengan volume yang hampir full, Alina terlihat sangat santai mengerjakan pekerjaannya seorang diri. Dia bahkan sampai tidak sadar saat waktu telah menunjukkan pukul lima sore. Apalagi dia mengaktifkan mode pesawat pada ponselnya, membuat Alina benar-benar fokus akan apa yang dia kerjakan karena tidak ada yang mengganggu.
Saat lelah mulai terasa pada tubuhnya dan suara perut yang lapar pun mulai terdengar, Alina memutuskan untuk merebahkan tubuhnya sejenak. Dia yang sudah sangat kelaparan hendak memesan makanan melalui ponselnya, namun saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul lima sore, saat itu juga Alina dibuat terkejut. Dia tidak menyangka jika tiga jam berlalu dengan cepat tanpa dia sadari.
Alina menonaktifkan mode pesawat pada ponselnya, dan saat itu suara notifikasi yang cukup banyak mulai terdengar dengan begitu cepat. Alina memejamkan matanya, menunggu suara tersebut berhenti berbunyi. Saat dirasa tidak ada lagi suara dering pada ponselnya, Alina segera membuka aplikasi jasa antar makanan. Dia sengaja mengabaikan semua notifikasi itu karena menurutnya, perutnya saat ini lebih penting daripada apapun.
"Perutku lapar sekali, tapi kenapa aku nggak ada yang tertarik dengan semua makanan ini ya," gumam Alina.
Dia terus men-scroll aplikasi yang terdapat berbagai jenis makanan di dalamnya, namun entah kenapa dia tidak memiliki selera pada semua makanan itu, padahal perutnya sudah sangat lapar sekali. Saat gambar sepotong kue coklat terlihat oleh pandangan matanya, tiba-tiba saja selera makan Alina yang semula hilang kini muncul begitu saja. Dia menelan salivanya dan rasanya sangat ingin menekan tombol beli yang tertera pada bagian bawah layar ponselnya.
Alina yang disarankan untuk menghindari makanan jenis manis lantas berpikir keras sebelum memesan makanan lezat itu. Dia terlihat membolak-balikan tubuhnya karena bingung harus mengutamakan selera makannya saat ini atau menuruti perintah dokter.
Setelah hampir lima menit berpikir, akhirnya Alina memutuskan untuk membeli kue coklat itu.
"Dokter menyarankan untuk jangan sering-sering makan makanan manis, bukan berarti nggak boleh sama sekali ya, 'kan?" ucap Alina pada dirinya sendiri.
Merasa apa yang dipikirkannya benar, tanpa ragu Alina memesan kue coklat itu dengan jumlah dua box. Hanya dua box kecil tidak akan menjadi masalah untuk lambungnya, pikirnya. Selain kue coklat, Alina juga memesan minuman segar sebagai teman makanan manisnya.
__ADS_1
Selagi menunggu makanan pesanannya datang, Alina berniat melihat notifikasi yang tadi masuk ke ponselnya. Baru saja menekan icon whatsapp, tiba-tiba layar ponselnya berganti dengan sendiri, menampilkan nama kontak Rico yang saat ini menghubunginya melalui panggilan suara. Tanpa menunggu lama Alina segera menjawab panggilan tersebut dan mengaktifkan fitur speaker sebelum meletakkan ponselnya di atas kasur.
"Halo, Co," ucap Alina lebih dulu sembari memejamkan matanya.
"Al, kamu dari mana saja?" tanya Rico di seberang sana.
"Aku dirumah. Kenapa?"
"Kenapa sejak tadi ponselmu nggak aktif? Aku sejak siang tadi cemas loh karena kamu nggak ada kabar sama sekali."
"Aku lelah sekali, Co. Aku baru saja selesai mengemas barang-barangku untuk pindahan besok," ucap Alina dengan santainya.
"Lalu kenapa ponselnya nggak aktif?" tanya Rico yang terdengar posesif ditelinga Alina. Rasanya aneh sekali mendengar Rico bertanya seperti itu.
"Aku sengaja mengaktifkan mode pesawat agar bisa fokus dengan kerjaanku. Semua barang-barangku banyak sekali, Co, aku takut besok nggak selesai."
"Astaga, Sayang. Kenapa kamu nggak bilang sama aku? Kalau begitu 'kan kamu bisa minta tolong sama aku. Lagi pula kamu nggak perlu mengemas semua barang-barangmu, Al. Di sana sudah tersedia perabotan yang lengkap. Kamu cukup bawa yang penting-penting saja."
Alina membuka matanya. Sudah ada perabotan lengkap? Apa dia tidak salah dengar? Alina mendudukkan tubuhnya, menonaktifkan mode speaker dan menempelkan layar ponselnya ke telinganya.
"Kamu mencarikan aku rumah yang sudah ada isinya?" tanya Alina memastikan.
"Ya, begitulah," jawab Rico singkat.
"Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin, Co? Astaga, kalau begini 'kan aku nggak harus repot-repot menurunkan perabotan yang tidak terlalu penting," ucap Alina sembari membanting tubuhnya kembali ke atas kasur.
__ADS_1
Rasanya ingin menangis karena sudah melepas sebagian perabotan seperti kipas angin di ruang tamu dan beberapa barang kurang penting lainnya. Dia merasa lelahnya hari ini sia-sia saja karena Rico tak memberitahunya lebih detail mengenai tempat tinggal barunya. Dan salahnya dia sendiri juga yang tidak bertanya kepada Rico.
"Maaf, Al. Aku lupa memberitahumu. Sekarang kamu sudah makan?" tanya Rico kemudian.
"Aku sedang menunggu orderan kue coklatku," jawab Alina.
"Kue coklat? Memangnya kamu sudah makan makanan berat sebelumnya?" tanya Rico lagi.
"Aku nggak nafsu, Co. Aku sedang mau makan kue coklat saja," ucap Alina.
"Astaga Al, kamu harus makan nasi dulu sebelum makan makanan manis, Sayang. Kamu pasti belum makan apa-apa sejak pulang kuliah, 'kan?" tebak Rico dan diiyakan Alina.
"Aku bawakan makanan ya, Sayang. Kamu tunggulah di rumah, sebentar lagi aku ke sana. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu, sebentar lagi selesai kok."
Tanpa berniat mendebat perkataan Rico, Alina mengiyakan saja perkataan pria itu. Terserahlah apa yang mau dilakukan pacarnya itu, yang pasti dia tidak akan memakannya jika perutnya menolak nanti.
"Ingat, jangan memakan kue coklatnya sebelum aku tiba di sana, mengerti?"
Alina menghela nafasnya dan lagi-lagi hanya mengiyakan perkataan Rico yang terdengar berlebihan baginya.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
__ADS_1
.
.