
Setiba di salah satu mall terbesar di kota itu, Rena langsung mengajak Alina mengelilingi mall tersebut. Semua toko yang ada di dalam sana mereka masuki dan hampir setiap toko yang mereka masuki, pasti ada saja yang mereka beli. Entah itu untuk kepentingan liburan atau untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan saat melihat sesuatu yang lucu, Rena akan langsung membayarnya ke kasir. Tak peduli apakah barang tersebut akan berguna bagi mereka atau hanya menjadi pajangan di rumah, bahkan mungkin hanya akan menambah koleksi di gudang mereka saja nantinya.
Hari ini mereka sangat bersenang-senang dengan kegiatannya hingga malam hari.
Ralat, sepertinya hanya Rena yang merasakan kesenangan itu karena sebenarnya Alina tidak terlalu suka berbelanja. Apalagi yang mereka belanjakan hampir 70% bukan barang penting yang akan dibawa saat liburan nanti.
Sejak awal, sebenarnya Alina sangat tidak setuju dengan apa yang Rena lakukan. Menurutnya Rena terlalu boros untuk sekedar membeli barang yang tidak berguna, namun dia juga tidak bisa melarangnya karena tidak mau mengganggu kesenangan wanita itu. Bahkan dia harus terpaksa menerima semua belanjaan itu.
Ya, semua belanjaan ditanggung oleh Rena. Dia mengatakan jika traktiran malam ini sebagai bayaran atas dirinya yang tidak bisa hadir saat hari kelulusan Alina beberapa hari lalu.
Melihat begitu banyak belanjaan di tangan mereka, rasanya Rena menyesal karena tak membawa supirnya. Dia pikir akan menyenangkan jika hanya pergi berdua bersama Alina, tapi ternyata merepotkan sekali.
"Al, kita masukin belanjaan ke mobil dulu yuk. Setelah itu baru keliling lagi, tanganku pegal banget nih pegang semua belanjaan ini," ucap Rena.
Dia yang belum puas berbelanja, hendak mengajak Alina untuk berkeliling lagi. Masih ada beberapa toko yang belum mereka masuki dan rasanya tidak akan puas jika semua toko-toko itu terlewatkan begitu saja.
Namun bukannya mengiyakan perkataan Rena, justru Alina menolaknya. Dia sudah sangat tidak sanggup lagi berbelanja meski bukan dia yang membayar semua itu. Alina yang selama beberapa tahun ini selalu berhemat dan membeli barang murah, tak begitu tertarik lagi dengan aktivitas menyenangkan itu. Sekarang dia jadi bisa lebih menghargai yang namanya uang meski hanya seribu rupiah.
"Masih ada beberapa toko lagi, Al. Sayang banget kalau harus dilewatkan. Ayolah," ucap Rena membujuk.
"Nggak, Ren. Kita sudah terlalu banyak belanja," tolak Alina lagi.
"Tiga toko lagi deh. Please," bujuk Rena lagi dengan penuh harap.
"Nggak. Ayo pulang," ajak Alina dengan penolakan untuk kesekian kalinya.
"Alina, please. Dua toko lagi deh, setelah itu baru kita pulang. Please, Al."
Berbagai cara Rena lakukan untuk membujuk Alina agar wanita itu mau mengiyakan perkataannya. Meski awalnya Alina selalu menolak, hingga beberapa saat akhirnya wanita itu menyerah dan mengiyakan keinginannya.
"Dua toko lagi, setelah itu pulang atau aku pulang sendiri."
Rena langsung mengiyakan perkataan Alina. Dia tersenyum senang dan dengan excited mengajak Alina menuju toko yang belum mereka masuki. Namun sebelum itu, dia mengajak Alina untuk meletakkan semua belanjaan yang mereka beli terlebih dahulu ke dalam bagasi mobil.
Dua toko yang mereka masuki memakan waktu sekitar hampir satu jam. Waktu yang sangat singkat untuk mereka yang suka berbelanja seperti Rena. Namun untuk Alina yang sudah bosan, dia tidak menikmati sama sekali aktivitasnya itu.
Alina hanya mengikuti langkah kaki Rena dan mengiyakan setiap perkataan itu. Terserah apa yang ingin wanita itu beli, Alina sudah tak peduli lagi. Bahkan dia juga mengiyakan begitu saja saat Rena membelikannya beberapa barang yang sebenarnya tidak dia perlukan untuk saat ini.
__ADS_1
Setelah selesai dengan aktivitas belanjanya, akhirnya Alina bisa bernafas lega saat mereka telah keluar dari area mall. Perut yang belum terisi sejak sore membuat mereka melajukan kendaraannya menuju salah satu restoran yang ada di pinggir jalan. Restoran bintang empat yang tak jauh dari mall yang mereka kunjungi barusan.
Dalam perjalanan menuju restoran, ponsel yang ada di dalam tas Alina berdering. Dia meraih ponselnya dan saat melihat Rico yang menelponnya, dia segera menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Co?" ucap Alina lebih dulu.
"Sayang, kalian masih di mall?" tanya Rico di seberang sana.
"Kita baru saja keluar mall. Ini mau makan dulu baru pulang. Kenapa?"
"Aku sama Andi mau menyusul. Kalian makan di mana?"
Alina menyebut nama restoran yang Rena sebutkan dan setelah Rico mengiyakannya, mereka segera menutup panggilannya masing-masing.
"Kenapa Rico, Al?" tanya Rena setelah Alina memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Dia sama Andi mau nyusul ke restoran," jawab Alina.
"Aisshh, kenapa mereka nggak nyusul dari tadi sih? Kalau gitu 'kan kita nggak perlu membawa semua belanjaan itu sendiri. Telat banget inisiatifnya," ucap Rena dengan sedikit kesal.
Alina tersenyum mendengar omelan Rena.
"Syal dan jaketnya lucu, sayang banget kalau nggak dibeli," ucap Rena tanpa dosa. Membuat Alina lagi-lagi harus tersenyum geli mendengarnya. Apa semua yang terlihat lucu harus dia beli, pikir Alina.
Setiba di restoran yang dituju, kedua wanita itu segera turun dari mobil. Baru saja hendak meninggalkan mobilnya, sebuah klakson berhasil menghentikan langkah kaki mereka.
Rena dan Alina berbalik untuk melihat siapakah orang aneh yang menekan klakson di belakang mereka. Saat di rasa jika mobil yang baru saja berhenti itu adalah milik Rico, kedua wanita itu lantas saling pandang.
"Kenapa cepat sekali mereka sampainya?" tanya Rena dan dibalas Alina dengan gelengan kepala sambil mengedikkan bahunya.
Mereka masih diam di tempat, menunggu kedua pria itu turun dari mobil.
"Sayang," ucap Andi dan Rico secara bersamaan. Membuat Alina dan Rena kembali saling pandang, lalu mengalihkan kembali pandangannya kepada kedua pria itu.
"Kalian dari mana? Kok cepat banget sampainya," ucap Rena penasaran.
"Kita tadi sudah di depan mall, mau nyusul kalian. Tapi berhubung kalian mau ke sini, jadi langsung saja kita ke sini," ucap Andi.
__ADS_1
"Yasudah ayo masuk, kita berdua sudah lapar," ucap Rico. Kemudian kedua pria itu menghampiri wanitanya masing-masing.
"Kalian belum makan?" tanya Alina saat Rico menggandeng tangannya.
"Belum. Kita baru pulang dari bermain biliar."
"Sejak kapan kalian bermain biliar?" tanya Rena yang mendengar perkataan Rico.
"Sejak tadi sore," jawab Rico dengan menatap ke arah Andi.
Ya, sejak sore mereka sibuk bermain biliar. Rico mengajak Andi ke sana karena temannya itu ingin mencari tempat hiburan baru selain klub.
Mengenai perkataan Rico tentang kebiasaan buruknya selama ini, membuat Andi kepikiran dan akhirnya memutuskan untuk berhenti pergi ke tempat terkutuk itu. Jika Rena saja mau berubah menjadi lebih baik demi dirinya, lalu kenapa tidak dengannya? Dia tidak boleh egois untuk mementingkan diri sendiri. Sebagai bentuk rasa cintanya kepada Rena juga, dia terpaksa menjauhi tempat hiburan terkutuk itu. Meski awalnya terpaksa tapi dia yakin suatu saat nanti akan mulai terbiasa.
Kedua pasangan itu mulai memasuki restoran dan mencari tempat duduk yang ada di pinggir jendela kaca. Setelah memesan makanan, mereka berbincang dengan pasangannya masing-masing. Andi dan Rena fokus pada ceritanya sendiri, begitu juga dengan Alina dan Rico.
Sampai tiba makanan pesanan mereka datang, barulah perbincangan pribadi itu berakhir. Andi hendak lebih dulu menyendok makanannya, namun dengan cepat Rena menahan tangannya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Andi heran.
"Kita foto dulu ya. Lagi cantik nih mejanya," ucap Rena yang membuat ketiga pemuda/i di sana terbengong. Sejak kapan Rena senorak ini, pikir Andi dan Rico.
Tanpa memperdulikan tatapan ketiga manusia yang ada di sana, Rena memanggil pelayan yang tak jauh dari mejanya berada.
"Mas, bisa tolong fotokan kita berempat?" tanya Rena dan langsing diiyakan pelayan tersebut.
Dengan sangat excited, Rena tersenyum lebar menghadap kamera ponsel yang dipegang pelayan restoran itu. Bahkan saking bersemangatnya, dia mengajak Rico dan Alina berpose seperti yang dia dan Andi lakukan. Sebuah pose dengan Andi yang merangkul bahunya. Hal itu membuat Rico dan Alina tak nyaman karena mereka yang memang tak biasa bermesraan, apalagi di depan umum.
Namun karena Rena terus memaksa dan kasihan melihat pelayan yang membantu mereka menunggu lama, akhirnya Alina dan Rico mau menuruti kemauan temannya itu. Hanya satu kali potret dengan pose yang terlihat sweet, cukup membuat Rico dan Alina menahan malunya. Namun Rena tak memperdulikan hal itu karena menurutnya tak perlu ada yg dimalukan. Merangkul bahu adalah sebuah sentuhan ringan yang dilakukan pada pasangan masing-masing dan menurutnya itu adalah hal biasa.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
__ADS_1
.