
Sejak kembalinya keluarga Alina ke kota ini, sejak itu juga Alina tak lagi memakai pakaiannya yang dibeli di pinggir jalan. Selain karena pakaiannya itu masih berada di apartemen Rico dan dia hanya memiliki pakaian yang baru dibelinya bersama keluarganya, Alina juga sudah mulai mau membenahi penampilannya. Keluarganya yang dipandang dengan hormat oleh orang-orang besar, membuatnya harus menjaga penampilan agar tak memalukan keluarganya.
Apalagi Morgan yang sering mengejeknya karena pakaian yang dibelinya buka lah pakaian bermerek, dengan terpaksa Alina harus merelakan pakaian murahnya itu. Padahal dia sangat menyayangi pakaian itu yang dibelinya dari hasil keringatnya selama hidup mandiri.
Hari ini Alina berniat untuk mengemas semua barang-barangnya dari apartemen Rico. Rencananya, dia akan menyumbangkan semua barang-barangnya itu ke panti asuhan. Lebih baik dia sumbangkan agar menjadi berkah, daripada terus disimpan dan menjadi pajangan di lemarinya saja.
Saat itu Alina sedang bermain bersama keponakannya sambil menunggu kedatangan Rico yang akan menjemputnya. Saat mendengar suara mesin mobil yang berhenti di depan rumahnya, dia pun segera menggendong Lala dan beranjak untuk keluar rumah.
Melihat kedatangan Rico, Alina tersenyum dan menghampirinya.
Begitu pun dengan Rico, dia yang melihat Alina menghampiri bersama Lala dalam gendongannya ikut tersenyum. Entah kenapa situasi saat ini seperti menggambarkan dirinya yang baru pulang bekerja dan disambut oleh anak dan istrinya di depan pintu rumah. Membayangkan hal itu, Rico semakin tidak sabar untuk meminang Alina dan membuat anak yang banyak bersama wanita yang dia cintai itu. Dia sangat ingin memiliki banyak anak agar rumahnya terasa ramai, namun tak tahu dengan Alina, apakah wanita itu siap memiliki banyak anak.
"Hai, Lala," sapa Rico kepada gadis kecil yang dalam gendongan Alina.
"Hai, Om Rico," ucap Alina yang menirukan suara anak kecil.
"Lala cantik banget sih, mau sama Om?" ucap Rico sembari mengulurkan tangannya untuk menggendong Lala.
Alina pun yang melihat itu langsung menyerahkan Lala kepada Rico.
"Sudah cocok jadi seorang ayah," ucap Alina dengan tersenyum.
"Tentu saja. Aku ayahnya dan kamu ibunya," ucap Rico yang membalas godaan Alina.
Alina tertawa geli. "Ayo masuk dulu."
Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan Lala berada di tangan Rico. Di dalam sana tampak tak ada orang tua ataupun abangnya karena mereka semua ada di kamarnya.
"Kamu mau anak berapa kalau kita sudah menikah nanti?" tanya Rico kepada Alina.
"Satu," jawab Alina singkat yang saat itu berhasil membuat Rico mengernyitkan keningnya dan menetap ke arah wanita itu.
"Satu doang?" tanyanya dengan heran dan dijawab Alina dengan anggukan kepala dengan wajah tanpa ekspresi.
"Kamu serius? Apa nggak terlalu sedikit, Sayang?"
Alina pun menatap ke arah Rico dengan senyum tertahan.
"Memangnya kamu mau berapa?" tanyAlinaAl kemudian.
"Aku mau kita punya anak enam, gimana?"
Kini Alina yang mengernyitkan keningnya.
"Kamu mau buat aku melahirkan enam kali?"
Alina pun menelan salivanya. Enam kali melahirkan? Apa itu tidak terlalu banyak, pikirannya. Melihat kakak iparnya melahirkan satu kali saja dia sudah ngeri-ngeri sedap. Lalu bagaimana dia melahirkan sebanyak enam kali? Membayangkan hal itu saja Alina sudah bergidik ngeri.
"Kamu mikirin apa?" tanya Rico sembari menyentuh hidung pacarnya itu yang sedang melamun.
"Aku nggak mau. Enam kebanyakan, Co. Gimana kalau dua saja? Bukankah pemerintah menganjurkan dua anak lebih baik," ucapnya yang berhasil membuat Rico tertawa.
"Kamu kenapa ketawa?" tanya Alina hera.
__ADS_1
"Nggak papa. Lucu saja kamu mau ikutin anjuran seperti itu, padahal banyak anak itu lebih baik loh. Di masa tua kita nggak akan sendirian karena banyak anak yang akan mendampingi masa tua kita. Kalau anak kita perempuan, mereka pasti akan meninggalkan kita bersama suaminya."
Mendengar hal itu dari Rico, Alina pun terdiam. Mereka yang sudah berada di ruang tamu lantas menundukkan tubuhnya.
Alina masih diam memikirkan perkataan Rico, kemudian ingatannya tertuju kepada perkataan kedua orang tuanya yang beberapa tahun lalu diucapkan padanya.
"Sayang, kenapa kamu nggak ambil kuliah di sini saja sih. Belum setahun loh kamu kembali, sekarang sudah mau lanjut sekolah di Indo. Kita akan sangat kesepian banget loh nggak ada kamu dan Alfian di rumah. Kakak ipar kamu nggak banyak bicara, sementara abang kamu Morgan, dia lebih sering menghabiskan waktunya di perusahaan, di kampus dan bermain bersama teman-temannya. Mama dan papa kesepian di sini."
Membayangkan hal itu, Alina lantas melemaskan tubuhnya sembari menghela nafas.
"Kenapa?" tanya Rico dengan heran. Kenapa pacarnya itu tiba-tiba menjadi tak bersemangat setelah mendengar perkataannya. Apakah ada yang salah dari perkataannya barusan?
"Kamu bener banget, kita pasti akan kesepian di masa tua nanti. Mama dan papa saja sering merasa kesepian saat aku dan bang Fian sudah nggak tinggal di rumah lagi, padahal di antara ketiga anaknya hanya satu yang sudah menikah, dan itu pun mereka masih tinggal bersama. Kak Marissa hanya dekat denganku saja, dia bersama mama dan papa nggak begitu terbuka. Hanya bang Morgan yang biasa mencairkan suasana di rumah, tapi dia sangat sibuk di kantor dan di kampus. Apakah suatu saat kita juga akan merasakan seperti itu, Co?" tanya Alina yang kini dengan mode seriusnya.
Rico pun tersenyum mendengar pertanyaan Alina. Ternyata itu yang dipikirkan wanitanya sejak tadi.
"Sayang, aku hanya bercanda. Berapapun anak yang dikasih Tuhan, aku akan terima kok. Kita memiliki anak sesuai dengan kemampuan kamu saja. Jika kamu sudah nggak kuat untuk punya anak lagi, kita bisa menghentikannya. Kamu jangan takut walaupun anak-anak kita kelak akan tinggal bersama suami dan istrinya, karena aku janji nggak akan pernah meninggalkan kamu."
Alina kembali menghela nafasnya.
"Gimana kalau kita punya tiga anak saja?" ucapnya kemudian.
Rico hampir saja tertawa mendengar perkataan Alina yang tiba-tiba itu. Baru saja membicarakan sesuatu yang serius, kini Alina dengan mudahnya mengatakan hal yang menurutnya lucu.
**
Di apartemen, Alina segera mengemas pakaiannya yang ada di dalam kamar. Sementara Rico menunggu di ruang tamu sembari mengutak-atik ponselnya. Saat sedang fokus pada layar ponselnya, tiba-tiba saja Morgan menelponnya. Tak mau menunggu lama, Rico pun segera menjawab panggilan itu.
"Halo, Gan, ada apa?" tanya Rico lebih dulu.
"Iya, kita lagi di apartemen. Alina sedang mengemas pakaiannya yang tertinggal di sini."
"Kalian di apartemen berdua saja?" tanya Morgan dan langsung diiyakan oleh Rico.
"Wah, kalian ngapain berduaan di apartemen? Co, kamu jangan macam-macam ya sama adikku. Awas saja kalau nanti saat pulang tiba-tiba perut Alina sudah besar," ucap Morgan bercanda.
"Ngaco kamu. Pikiran kamu tuh yang nggak bener. Aku ini lagi di ruang tamu dan Alina lagi di kamarnya."
"Kamu serius nggak ikut ke kamar?" tanya Morgan menggoda.
"Kamu kayaknya lagi sibuk banget ya, akan aku tutup teleponnya," ucap Rico.
"Eh tunggu-tunggu, jangan ditutup dulu. Dih, gitu saja ngambek. Aku tahu kok kalau kamu anak baik-baik, nggak berani macam-macam sama adikku."
Rico hanya tersenyum mendengar perkataan Morgan. Meskipun benar, tapi Morgan terdengar berlebihan mengatakan itu padanya secara langsung.
"Jadi kenapa nelpon aku?" tanya Rico.
"Bilangin sama Alina kalau pulangnya jangan malam-malam. Besok pagi kita sudah harus pindah. Barang-barang pribadi dia belum dikemas soalnya."
"Besok pagi kalian sudah pindah?" tanya Rico.
Dia tidak tahu tentang kepindahan Alina dan keluarganya dari rumah Alfian karena Alina juga belum memberitahunya.
__ADS_1
"Seharusnya sih minggu depan, cuma papa bilang nggak baik kalau rumah kosong ditinggal terlalu lama, jadi terpaksa besok kita sudah harus pindahan."
"Kenapa dadakan sekali?" tanya Rico penasaran.
"Nggak dadakan sih. Sudah dibicarakan satu minggu yang lalu, hanya saja hari ini baru selesai dibersihkan, jadi besok sudah bisa ditempati."
Rico menganggungan kepalanya mengerti, kemudian dia mengiyakan perkataan Morgan dan setelah itu mereka menutup panggilannya masing-masing. Setelah panggilan terputus, Rico naik lantai dua menuju kamar yang biasa Alina tempati saat tinggal di sana.
"Al," panggil Rico saat melihat Alina yang saat itu masih memasukkan beberapa baju terakhirnya dalam koper.
Alina menoleh kepada Rico yang masuk ke dalam kamar dan menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Alina.
"Tadi Morgan nelpon, katanya besok kalian sudah harus pindahan, jadi kita nggak bisa pulang malam-malam."
"Besok? Kenapa dadakan sekali, bukannya bang Morgan bilang minggu depan?" ucap Alina heran.
"Papa kamu yang minta. Katanya nggak baik ke rumah kosong ditinggal terlalu lama."
Alina mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apartemen kamu juga sudah lama kosong, nggak ada yang nempatin."
"Nanti akan aku sewakan."
Dia juga baru kepikiran akan hal itu setelah mendengar perkataan Morgan. Karena kesibukannya juga, dia sampai mengabaikan apartemennya ini yang sudah kosong terlalu lama.
Saat itu Alina sudah berhasil memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper. Rico pun yang melihat itu lantas membantunya untuk menutup koper tersebut.
"Apa sudah semua?" tanya Rico sembari berdiri.
"Sepertinya sudah. Sisanya barang-barang kamu semua," ucap Alina dan dibalas anggukan kepala oleh Rico.
"Ya sudah ayo kita pergi. Aku tadi sudah menghubungi pengurus panti, katanya kita bisa ke sana sekarang."
Alina mengiyakan. Saat dia hendak melangkah tiba-tiba saja saat itu kakinya tersandung dengan sebuah baju yang terlupa untuk dia masukkan ke dalam koper. Karena sangat kaget, Alina pun dengan spontan menarik ujung baju Rico sehingga pria itu pun ikut tertarik dan terjatuh tepat di atas tubuhnya.
Melihat posisinya yang tak aman itu, baik Alina maupun Rico sempat terdiam dengan membelalakkan matanya. Hubungan mereka selama ini berjalan cukup mulus, meskipun tanpa sentuhan yang berlebih seperti pasangan lainnya. Dan posisi mereka yang tanpa jarak saat ini sungguh membuat jantung kedua orang itu hendak keluar dari tempatnya. Alina yang tersadar lebih dulu lantas mengedipkan matanya dan meminta Rico untuk pergi dari atas tubuhnya.
Rico yang juga tersadar akan hal itu pun hendak beranjak dari posisinya, namun saat melihat wajah merah yang seperti sedang menahan malu di depannya itu, dia pun dengan isengnya semakin mendekatkan wajahnya kepada wanitanya itu. Alina yang melihat Rico hendak mendekatkan wajahnya lantas membelalakkan matanya.
"Co, apa yang kamu lakukan? Cepat menyingkir dari sini."
"Kenapa kamu takut?" tanya Rico dengan suara menggoda.
"Co, kamu jangan macam-macam ya. Bang Fian akan sangat marah kalau melihat kita seperti ini." Ekspresi takut kini terlihat jelas di wajah Alina. Demi apapun wanita itu benar-benar sangat takut mengingat mereka hanya berdua di dalam apartemen ini.
Melihat wajah panik pacarnya itu, Rico pun semakin mendekatkan wajahnya. Sampai Alina memejamkan matanya dengan bibir bergetar, Rico pun mulai tersenyum geli. Dia ingin mengakhiri keisengannya itu, namun akan sangat disayangkan jika harus melewati ketempatan yang tidak akan terulang kedua kali sebelum mereka menikah. Rico pria normal, wajar jika dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan langkah ini.
Dengan keberaniannya, Rico mencium ujung hidung Alina yang membuat Alina kembali membuka matanya dengan terkejut. Dua detik kehilangan kesadaran, setelah itu Alina berteriak sembari memukul tubuh Rico dengan brutal.
Rico pun membaringkan tubuhnya di sebelah Alina sembari tertawa terbahak-bahak. Meskipun hanya kecup4n ringan di ujung hidungnya, tapi Rico sangat senang sekali sekaligus geli dengan ekspresi Alina. Baru pertama kali dia melihat wajah malu Alina yang merah seperti tomat itu.
__ADS_1
Jujur saja, meskipun dia mengisengi pacarnua itu, tapi kedekatan mereka tadi benar-benar membuat Rico hampir saja kehilangan jantungnya. Sebagai seorang pria normal Rico memang sempat tergoda dengan wanita cantik yang sempat berada di bawah kukungannya itu, namun karena pikirannya yang masih bisa membedakan mana yang boleh dan tak boleh dia lakukan, akhirnya hanya kecup4n singkat itu yang bisa dia lakukan.
"Sabar Rico, satu bulan lagi Alina sudah akan menjadi milik kamu sepenuhnya. Kamu nggak akan menunggu lama lagi kok," gumam Rico dalam hati.