Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
112. Ngidam?


__ADS_3

Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini pun sepanjang melakukan pekerjaannya, Alina selalu ditemani suaminya melalui panggilan video di ponselnya. Suaminya itu posesif sekali, selalu ingin memastikan jika istrinya dalam keadaan baik-baik saja, padahal Alina sudah menegaskan jika dirinya baik-baik saja saat itu.


"Kamu beneran nggak pusing dan mual lagi 'kan, Sayang?" tanya Rico memastikan dengan cemas.


Karena sebelum jam makan siang tadi Alina mengatakan jika dirinya sempat mual dan dibantu oleh Morgan hingga dirinya kembali membaik.


"Iya, Sayang, aku sudah sehat kok, nggak mual lagi. Kamu nggak usah khawatir gitu ya. Kalau kamu terus khawatir gini, gimana dengan pekerjaan kamu?"


"Sayang, Aku 'kan sudah bilang, sebelum kamu meninggalkan pekerjaan kamu ini aku nggak akan tenang. Aku sangat takut kamu kenapa-napa di sana, sedangkan Morgan pasti nggak setiap saat ada di sisi kamu. Dia juga punya pekerjaannya sendiri, belum lagi jika harus menghadapi klien di luar."


"Tapi kalian tuh khawatirnya berlebihan tahu nggak. Orang tua kita, kedua abangku, kak Marissa, dan kamu juga, kalian tuh berlebihan, Sayang. Aku ini sedang hamil loh, bukan sedang sakit parah. Nggak perlu dikhawatirkan segitunya, aku tahu mana yang harus aku lakukan dan yang mana yang harus aku hindari. Aku nggak mungkin mencelakai anak kita, Sayang."


Alina benar-benar kesal karena kekhawatiran keluarganya membuat dirinya merasa tak nyaman. Dia memang senang banyak yang khawatir dan sayang padanya, namun dia kuga hanyalah manusia biasa, kadang merasa tak nyaman dengan sesuatu yang berlebihan seperti ini.


Rico pun yang menyadari hal itu lantas menghembuskan nafasnya dengan pelan. 


"Ya udah, maafin aku ya kalau rasa cemasku ini terlalu berlebihan sampai membuat kamu nggak nyaman. Aku benar-benar nggak bermaksud, aku hanya nggak mau kamu kenapa-kenapa saja, Sayang."


"Aku tahu, Sayang, tapi please, kamu mau 'kan percaya sama aku? Aku nggak mungkin melakukan hal yang aneh loh."


Ya, Rico bahkan sampai lupa untuk mempercayai istrinya. Saking cemasnya dengan kondisi Alina, dia bahkan tidak mempercayai istrinya itu untuk mengurus dirinya sendiri. 


"Baiklah-baiklah, maafkan aku ya sekali lagi."


Rico yang tak ingin terus membahas hal ini yang akan membuat mood istrinya semakin memburuk, lantas mengalihkan obrolan sembari kembali menemai istrinya yang masih mengerjakan pekerjaannya di depan komputer.


Setelah dua jam berlalu, kini pekerjaan Alina pun selesai lebih dulu. Sebelum Rico menjemputnya, Rico meminta Alina untuk mengistirahatkan tubuhnya di dalam ruangannya. Dia juga meminta Alina untuk tak lupa meminum air putih dan memakan cemilan agar perutnya selalu terisi, meski sedikit yang masuk ke dalam perutnya.


"Oh ya, Sayang. Aku kok tiba-tiba pengen kue matcha ya," ucap Alina kemudian.

__ADS_1


"Kue? Kamu mau makan kue?" tanya Rico dan diiyakan oleh Alina.


"Sayang, kamu ngidam?" tanya Rico dengan berbinar. Dia bahkan mengabaikan layar komputernya demi menanti jawaban istrinya itu.


Sejak awal kehamilannya, baru kali ini Alina meminta sesuatu darinya. Sesuatu yang dia nati-nati yang tak lain adalah ngidamnya orang hamil.


Jika para suami diluar sana lebih banyak mengeluh karena istrinya yang menyulitkan untuk dibelikan sesuatu, maka Rico justru sebaliknya. Dia sangat menanti hari itu tiba dan terlihat excited untuk direpotkan oleh istrinya itu.


"Siapa yang ngidam?" tanya Alina dengan heran.


"Itu kamu tiba-tiba mau kue matcha. Itu ngidam, 'kan?"


"Nggak, Sayang. Aku nggak ngidam kok, aku hanya ingin kue matcha saja."


"Sama saja, Sayang. Kamu menginginkan kue matcha di saat sedang hamil, itu tandanya kamu sedang ngidam."


"Apa seperti itu?" Rico menganggukkan kepalanya dengan percaya diri. "Kayaknya nggak deh. Aku 'kan memang menyukai makanan manis, walaupun nggak boleh memakannya terlalu banyak, Sayang."


Alina merasa aneh dengan tingkah suaminya itu. Dia sangat heran kenapa Rico sangat ngotot sekali jika dirinya sedang mengidam kue matcha. Dia memang pencinta kue coklat, namun bukan berarti dia tidak menyukai varian kue lainnya.


"Sayang, kamu mau kue matcha-nya sekarang? Aku belikan ya," ucap Rico dengan semangatnya.


Rico hendak menutup panggilannya untuk segera pergi menuju toko kue terdekat. Namun belum juga tangannya menyentuh tombol merah untuk menutup panggilannya, pria itu terdiam dengan tiba-tiba. Membuat Alin menaikkan kedua alisnya dengan heran. Dia pikir Rico baru tersadar akan dirinya yang tidak diperbolehkan memakan makanan manis terlalu sering dan ingin mengurungkan niatnya untuk pergi ke toko kue.


"Kenapa, Sayang?" tanya Alina.


"Sayang, aku lupa."


"Lupa apa?" tanya Alina dengan penasaran. Jangan bilang jika Rico benar-benar akan mengurungkan niatnya untuk membeli kue matcha untuknya.

__ADS_1


"Kerjaanku belum selesai. Bagaimana jika aku menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu, barulah setelah itu kita bisa pergi ke toko kue bersama?"


Mendengar perkataan suaminya itu, Alina pun bernafas lega. Hampir saja dia tidak bisa memakan kue coklat.


Karena merasa jika saat ini suaminya itu sedang sibuk, Alina pun mencoba mengerti untuk menunggunya selesai bekerja, barulah setelah itu mereka pergi ke toko kue untuk membeli kue matcha keinginan Alina.


"Sayang, aku mau yang itu," tunjuk Alina pada sebuah kue matcha berukuran sedang pada etalase di dalam toko kue yang mereka datangi saat ini.


Sebelum mengiyakan permintaan istrinya itu, Rico bertanya terlebih dahulu kepada pelayan di sana.


"Permisi, apa kue matcha yang itu ada ukuran mininya?" ucap Rico sembari menunjuk kue yang istrinya inginkan.


Pelayan itu melihat kue yang ditunjuk Rico, kemudian mengiyakannya. Dia berjalan menghampiri salah satu etalase yang berada di tengah dan memberikan kepada Rico sepotong kue matcha yang persis seperti apa yang Rico tunjuk tadi.


"Ini, Tuan."


Rico meraih kue tersebut dan menyerahkannya kepada Alina.


Alina terdiam melihat kue matcha ditangan suaminya itu yang berukuran satu potong. Apa suaminya itu sudah jatuh miskin, sampai-sampai tak mampu untuk membeli kue berukuran sedang.


"Sayang?" ucap Rico yang membuyarkan lamunan istrinya itu.


"Ah?"


"Kamu kenapa melamun?" tanya Rico dengan heran.


"Em, sorry. Sayang, kamu kenapa membeli kue ini hanya sepotong?" tanya Alina kemudian. Dia masih belum menerima kue itu dari tangan Rico karena meras jika suaminya itu tak serius dengan kue ditangannya.


"Sayang, kamu 'kan nggak boleh makan makanan manis banyak-banyak, jadi aku sengaja membeli yang berukuran kecil. Kamu juga sedang hamil saat ini, bagaimana jika penyakit kamu kambuh dalam keadaan seperti ini? Aku nggak mau cari gara-gara hanya karena menuruti ngidam kamu ini," ucap Rico menjelaskan.

__ADS_1


Alina pun yang sejak tadi mengira jika Rico telah lupa akan penyakitnya kini terpaksa harus menuruti kemauan suaminya itu. Padahal sedikit lagi dia bisa memakan kue matcha sepuasnya di rumah. Namun lagi-lagi semua hal tak selalu berjalan sesuai kemauannya. Dia yang berencana, tapi Tuhan yang menentukan jalannya.


Tapi tak apa, Alina berusaha berpikir positif dengan apa yang terjadi. Mungkin dengan begini Tuhan ingin dirinya selalu dalam lindungannya, dengan Rico di sampingnya sebagai perantara, sebagai pengingat akan keegoisannya ini. Egois karena tak memikirkan janin di dalam perutnya demi n4psunya yang membuatnya lupa diri.


__ADS_2