Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
32. Pindahan


__ADS_3

Mendengar cerita dari Alina, Rena sangat menyayangkan apa yang telah dilakukan wanita itu. Meski dalam porsi kecil, tapi dua box kue sangatlah banyak untuk dikonsumsi seorang diri. Baginya, Alina terlalu ceroboh dalam menjaga kesehatannya. Entahlah, dia tidak mau menjudge Alina begitu saja karena kekhilafan seseorang tidak akan ada yang tahu.


Rena sangat bersyukur karena dia selalu menjaga pola makannya dengan baik selama ini, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan akan kondisi kesehatannya.


"Lain kali kamu harus menjaga pola makanmu dengan baik. Kalau bisa, hindari memakan makanan manis. Kesehatan lebih panting dari segalanya, Al. Jangan sampai membuat orang terdekat kamu bersedih dengan kondisi kesehatan kamu yang menurun."


Alina tersenyum mendengar nasehat dari Rena. Satu tahun terakhir ini dia memang berusaha menjaga kesehatannya. Apalagi melihat keluarganya yang cemas saat penyakit yang sama terjadi untuk ketiga kalinya di satu tahun terakhir, membuat Alina benar-benar tidak tega melihat orang-orang mengkhawatirkan dirinya saat itu.


Sejak itu juga Alfian jadi hampir setiap hari mengunjunginya hanya untuk melihat kondisi dan pola makannya. Dan hari ini dia melakukan kesalahan yang sama sehingga membuat abangnya itu mengkhawatirkan dirinya yang terkulai lemah akibat terlalu banyak memakan makanan manis.


*


Setelah hampir satu jam memindahkan semua barang-barang Alina yang telah dikemas ke dalam mobil, kini Alfian menghampiri Alina dan menggendongnya untuk masuk ke dalam mobil. Memang tidak banyak yang akan dipindahkan, hanya beberapa barang pribadi berupa pakaian, kebutuhan pekerjaan dan kuliah, serta beberapa boneka dan piguran yang dibawa Alina menuju tempat tinggal barunya. Sementara barang-barang berat lainnya seperti lemar, kipas atau AC dan kulkas tidak dibawa oleh Alina karena Rico mengatakan jika semua barang-barang itu telah tersedia di kediamannya yang baru.


Barang-barang yang tidak dibawa itu juga akan Alina donasikan kepada yang lebih membutuhkannya beserta barang-barang lainnya yang telah dia kemas kemarin malam. Semua barang itu memang sudah tidak dia butuhkan lagi karena setelah lulus kuliah nanti Alina akan tinggal bersama keluarganya yang akan menatap di kota itu.


Setelah semuanya telah masuk ke dalam mobil, mereka segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu menuju kediaman Alina yang baru. Dengan Rico yang memimpin jalan, dua mobil lainnya mengikutinya dari belakang dengan kecepatan sedang.


Beberapa warga yang melihat aktivitas mereka sejak memindahkan barang sampai pergi, hanya bertanya sekali kepada Andi. Dan setelah itu mereka terlihat berkumpul di salah satu warung yang ada di sana. Rico dan yang lainnya tidak tahu apa yang dibicarakan mereka dan sebenarnya juga mereka sudah tidak peduli lagi karena ini adalah terakhir mareka bertemu dengan para tetangga yang suka bergosip itu.


Di dalam mobil yang dibawa Alfian, Alina terlihat memejamkan matanya. Membuat Alfian yang melihat itu merasa tidak tega dan bersedih. Jika saja saat itu dia tidak sibuk berpacaran dan lebih perhatian lagi dengan Alina, mungkin saat ini Alina tidak akan memiliki penyakit lambung seperti ini, pikirnya.


Saat kecil dulu, kue coklat adalah makanan kesukaan Alina selain tahu crispy buatan mama. Namun karena kelalaiannya yang tidak bisa menjaga adik tersayangnya itu dengan baik, Alina jadi tidak bisa sebebas dulu memakan makanan manis, khusunya kue coklat.


Alina menggeliat, memutar tubuhnya yang terasa tak nyaman. Sedetik kemudian dia kembali merasakan mual pada perutnya, membuat Alfian terpaksa harus menghentikan mobilnya sejenak.

__ADS_1


Rico dan Andi yang melihat itu pun ikut menghentikan mobilnya tak jauh dari posisi Alfian berada.


"Kenapa, Al? Perutnya mual lagi?" tanya Alfian dan dibalas anggukan kepala oleh Alina. Dia meraih kantong kreask yang telah dipersiapkan sejak di kontrakan Alina tadi dan mendekatkannya kepada Alina.


"Muntahkan saja," ucapnya kemudian.


Alina meraih kantong kresek itu dan hendak memuntahkan isi perutnya. Namun hampir lima menit tak ada sedikitpun yang keluar dari mulutnya selain air liur.


"Kita ke rumah sakit saja ya, Sayang. Abang nggak tega melihat kamu seperti ini," ucap Alfian dengan raut cemas.


Alina menggelengkan kepalanya.


"Nggak usah, Bang. Besok juga sudah baikan kok, mualnya juga nggak separah satu tahun lalu."


"Tapi Abang khawatir, Al."


Suara ketukan pada jendela kaca mobil membuat kakak beradik itu menoleh. Terlihat Rico yang di susul Andi berada di samping mobilnya. Alfian segera membuka kaca mobilnya agar memudahkannya berbicara dengan kedua pria itu.


"Kenapa berhenti, Bang?" Rico menatap ke arah Alina yang menahan mual. "Alina kenapa?"


"Mualnya kambuh. Kalian masuklah ke dalam mobil, kita nggak lama kok," ucap Alfian kepada Andi dan Rico.


"Tapi Alina nggak papa 'kan, Bang? Apa perlu dibawa ke rumah sakit saja? Aku takut nanti sakitnya tambah parah," ucap Rico dengan cemasnya.


"Nggak perlu. Kalian kembalilah ke mobil, kita lanjutkan perjalanan. Alina harus segera beristirahat dengan benar."

__ADS_1


Mendengar itu Rico dan Andi langsung mengiyakan, mereka segera kembali ke mobilnya masing-masing. Namun sebelum itu, Rico kembali menatap kearah Alina dengan perasaan yang sangat kacau. Jika saja dia tahu lebih dulu jika Alina tidak boleh memakan makanan manis, mungkin saja kemarin dia sudah membawa box kue itu pergi darinya. Dia menyesal karena baru mengetahui berita penting itu setelah semuanya terjadi.


Perjalanan kembali dilanjutkan, Alina pun sudah mulai tenang kembali meski rasa tak nyaman pada perutnya masih dirasakannya. Setelah kurang lebih setengah jam di perjalanan, akhirnya mereka tiba di lokasi tujuan.


Rico turun lebih dulu dari mobilnya dan disusul oleh Andi dan Rena. Sementara Alfian masih berdiam di dalam mobilnya sambil menatap heran ke arah sekelilingnya. Keningnya mengkerut, dia merasa aneh kenapa Rico berhenti di sebuah apartemen.


Alfian masih memperhatikan Rico yang sedang berbicara dengan petugas yang ada di depan sana, tak lama dari itu Rico berjalan menghampirinya. Sebelum Rico tiba di samping mobilnya, Alfian sudah lebih dulu membuka kaca mobilnya.


"Kenapa, Co?" tanya Alfian. "Kenapa kamu berhenti di sini?"


"Kita sudah sampai, Bang. Alina tidur?" tanya Rico kemudian.


Alfian menatap ke arah adiknya sejenak sebelum mengiyakan pertanyaan Rico.


"Apa maksud kamu kita sudah sampai, Co? Kamu mau bawa Alina ke apartemen?" tanya Alfian kemudian.


"Nanti Rico ceritakan semuanya, Bang. Sekarang kita bawa Alina masuk dulu saja. Dia pasti nggak nyaman tidur di dalam mobil."


Rico memang sengaja belum memberitahu Alina dan Alfian mengenai apartemen yang akan menjadi tempat tinggal Alina yang baru. Dan Rico juga tidak memiliki kesempatan untuk menceritakan alasannya kepada Alfian sekarang karena dia tidak tega melihat Alina yang tidur di kursi mobil meskipun punggung kursi tersebut telah dibuat senyaman mungkin.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰

__ADS_1


.


.


__ADS_2