
Malam itu setelah meninggalkan ballroom hotel, Thomas mengajak keluarga Alina untuk mengobrol di salah satu ruangan privat yang ada di sebuah restoran. Malam itu mereka terlihat serius membicarakan tentang kelanjutan dari hubungan kedua anaknya. Semangat dari kedua keluarga membuat mereka dengan mudah menentukan tanggal pernikahan yang akan di lakukan dua bulan mendatang.
Untuk konsep acara, Zara dan Santi yang terlihat antusias di sana, membuat anggota keluarga lainnya tersenyum geli dengan tingkah heboh kedua wanita itu. Sementara Rico sendiri yang mendengar rencana pernikahan yang sangat mewah dari mulut kedua wanita di sana merasa ragu untuk mengiyakannya.
Sejak awal dia sudah memiliki rencana sendiri untuk konsep pernikahannya yang tidak terlalu mewah, namun tidak juga sesederhana yang dipikirkan orang-orang. Dia juga sejak awal berniat untuk membiayai sendiri pernikahannya tanpa melibatkan harta orang tuanya. Selain karena tahu diri akan posisinya, Rico pun ingin berkontribusi penuh pada acaranya yang akan terjadi sekali seumur hidup dari hasil keringatnya sendiri.
Dia juga ingin Alina merasakan kebahagiaan dari hasil kerja kerasnya selama ini. Meskipun tidak semewah yang direncanakan Zara dan Santi, namun Rico berjanji jika acara pernikahan mereka tidak akan membuat Alina dan keluarganya kecewa.
Dan karena sudah sangat yakin dengan keputusannya, akhirnya Rico pun membuka suara yang membuat kedua wanita yang tampak bersemangat itu menghela nafasnya.
"Bibi Zara, Mama, maaf kalau Rico menyela pembicaraan kalian. Untuk konsep pernikahan bisa kalian serahkan semuanya kepada Rico saja? Rico ingin konsep pernikahannya sesuai keinginan Rico dan juga Alina."
"Betul apa kata Rico, biarkan mereka yang memilih konsepnya. Ini 'kan pernikahan mereka, jadi biarkan pernikahan ini menjadi yang paling berkesan untuk mereka dengan mewujudkan wedding dream mereka."
"Yah, padahal Mama sudah bersemangat sekali, tapi ya sudahlah demi kebahagiaan Rico dan Alina kita ikut saja ya 'kan, Zar?" ucap Santi kepada Zara.
"Iya, kalau begitu kita serahkan semuanya pada kalian, tapi sisanya serahkan pada kami ya. Kalian jangan terlalu repot mengurus semuanya, serahkan saja pada kami."
Rico kembali menghela nafasnya, namun kali ini dia sambil menerbitkan senyumnya. Sepertinya semua harus dibicarakan lagi secara pribadi kepada orang tua masing-masing, akhirnya Alina dan Rico hanya mengiyakan saja perkataan kedua orang tuanya. Karena waktu sudah semakin larut, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang dan akan melanjutkan bincangan mereka di lain kesempatan.
...**...
Di lain hari, pagi itu keluarga Alina sedang menikmati sarapannya bersama. Suasana pagi itu tampak ramai dengan candaan Morgan kepada keponakannya, serta keusilan Morgan kepada adiknya Alina. Meski mereka sedang menikmati makanannya, namun kedua orang tua mereka tak melarang anaknya untuk bercanda. Justru mereka sangat senang karena kini meja makan bisa kembali ramai, tidak seperti beberapa tahun belakangan ini yang hanya diisi 4 orang saja. Bahkan jika tidak ada Morgan di sana, mungkin acara makan bersama mereka akan terlihat sunyi.
__ADS_1
"Morgan, bercandanya jangan kelewatan," ucap Alfian mengingatkan saat melihat adiknya itu membuat Alina memasang wajah cemberut.
"Marahin saja, Bang, memang Bang Morgan suka kelewatan bercandanya," ucap Alina yang menambahi. Kemudian wanita itu menjulurkan lidahnya kepada Morgan, dia terlihat senang karena Alfian selalu membelanya.
"Abang nggak asik banget sih, masak Alina di belain terus, sedangkan aku nggak pernah tuh dibela sama Bang Fian," ucap Morgan seolah cemburu.
"Kamu itu laki-laki, ngapain harus dibela. Kamu 'kan bisa jaga diri sendiri," ucap Alfian.
"Ya nggak gitu juga dong, Bang. Walaupun aku lelaki, tapi pengen juga sih sekali-kali dibela sama Bang Fian. Jangan Alina terus yang dibelain."
"Kalau nggak mau diomelin sama abangnya, makanya jangan kelewatan bercandain adiknya." Kini Thonas ikut angkat bicara kepada putranya yang menyebalkan itu.
Morgan hendak menyehuti perkataan papanya, namun saat itu Zara sudah lebih dulu berucap untuk menghentikan perdebatan di antara anak-anak dan suaminya.
"Sudah-sudah, kenapa kalian jadi berdebat sih, ayo lanjutkan makannya."
"Mama memang the best." Morgan memberi jempol kepada mamanya. "Nggak kayak Bang Fian sama Papa yang suka memojokanku," ucapnya kemudian dengan wajah yang dibuat cemberut. Membuat keluarganya yang ada di sana tertawa geli.
Sarapan kembali berlangsung, namun kini tidak seramai sebelumnya. Saat makanan yang ada di atas meja mulai habis, Alina meminta kedua orang tuanya untuk pergi ke ruang keluarga untuk membicarakan sesuatu. Setiba di sana, Alina langsung mengutarakan niatnya yang ingin membahas tentang pernikahannya.
"Ada apa, Al? Apa kalian mau memajukan tanggal pernikahannya?" tanya Zara penasaran.
"Bukan begitu, Ma, sebenarnya Alina mau minta pengertian dari Mama dan Papa."
__ADS_1
"Pengertian gimana, Sayang?" tanya Zara lagi yang kini menjadi herannya.
"Em, begini, Ma. Selama ini Rico selalu nggak percaya diri dengan statusnya sebagai anak angkat di keluarga Renaldi,dan sejak itu dia memutuskan untuk nggak menggunakan fasilitas dari orang tua angkatnya secara berlebihan. Saat memutuskan untuk menikah pun Rico berniat untuk membiayai semuanya dengan uangnya sendiri."
"Maksud kamu gimana, Sayang?" tanya Thomas dengan tidak mengerti.
"Ya seperti yang Alina bilang tadi, Pa. Rico nggak mau menggunakan fasilitas orang tuanya secara berlebihan, jadi dia mau membiayai seluruh urusan pernikahannya dengan sendiri tanpa campur tangan orang tuanya."
Alina menggigit bibir bawahnya, matanya menatap kedua orang tuanya itu dengan ragu, takut jika mama dan papanya akan salah paham dengan maksudnya. Jujur saja dia juga tidak tahu bagaimana cara menyampaikan maksudnya ini kepada mereka.
"Apa Rico sudah membicarakan hal ini dengan orang tuanya?" tanya Thomas.
Alina menggelengkan kepalanya.
"Belum, Pa, tapi dia akan mengatakannya secepatnya kok."
Thomas menghela nafasnya mendengar jawaban putrinya itu.
"Sayang, Papa nggak masalah sama sekali dengan kemauan Rico, karena apa yang dia lakukan semata karena dia nggak mau menyulitkan keluarganya. Dia begitu dewasa dan mandiri untuk dirinya sendiri, tapi yang Papa tahu, Mama Rico itu sudah menganggap Rico seperti anak kandungnya sendiri. Semua yang mereka lakukan selama ini tak lain untuk membahagiakan Rico. Walaupun Rico bukan anak kandung mereka, tapi kasih sayang Santi dan Irfan sangatlah besar pada dia. Papa nggak mau menghakimi Rico, tapi Papa bisa menjamin jika kedua orang tua Rico pasti akan kecewa dengan keputusannya ini. Terlebih untuk mamanya yang begitu menyayangi putra satu-satunya ini, dia pasti akan sangat bersedih karena merasa jika Rico tidak membutuhkannya."
Alina terdiam dengan peringatan papanya.
"Apa yang Papa kamu katakan itu benar, Sayang. Papa kamu sudah sangat lama mengenal mama Rico. Dia tahu bagaimana jika Santi sudah sayang dengan seseorang."
__ADS_1
"Jadi Alina harus bagaimana, Ma?" tanya Alina dengan bingung.
"Kamu bicara lagi dengan Rico tentang semua ini ya. Katakan juga padanya untuk menurunkan egonya itu di depan kedua orang tuanya."