Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
126. Seorang Lelaki


__ADS_3

Pagi ini Alina sudah bersiap bersama Santi dan Zara untuk pergi ke rumah sakit. Mereka akan melakukan cek kandungan sekaligus untuk mengetahui gender dari cucu mereka. Santi dan Zara sudah tidak sabar ingin menanti kedatangan cucunya itu ke dunia ini, terlebih itu adalah cucu pertama untuk Santi dan Irfan.


Meski bukan cucu kandung keluarga Renaldi, namun dia dan Irfan akan tetap menganggap bayi yang akan lahir itu adalah cucu kandungnya, seperti halnya dia menganggap Rico sebagai putra kandung mereka selama ini.


Pagi itu Santi telah tiba di kediaman Wilson, mereka akan pergi bersama-sama dengan Rico yang akan menjadi sopir ketiga wanita itu. Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, Santi dan Zara mulai menebak-nebak akan gender cucu mereka. Meskipun tak mempermasalahkan apapun gender cucunya itu, namun sangat menyenangkan bagi mereka untuk melakukan tebak-tebakan seperti ini. 


"Kalau dilihat dari perut Alina yang bulat, sepertinya anaknya perempuan deh," ucap Zara.


"Mana bisa menebak seperti itu. Perut Alina bulat karena memang dia sedang hamil, bukan berarti anaknya perempuan. Justru aku pikir anak Alina lelaki deh, soalnya akhir-akhir ini dia senang sekali makan sayur," ucap Santi pula.


"Lah, memang apa bedanya makan sayur, daging, seafood, dan buah?" tanya Zara dengan heran.


"Menurut apa yang aku dengar, kalau ibu hamil lebih banyak memakan sayur dan ayahnya memakan daging, itu tandanya anak mereka laki-laki. Begitupun sebaliknya," ucap Santi menjelaskan.


Dia pernah mendengar hal tersebut melalui salah satu channel YouTube yang menjelaskan tentang seputar kehamilan. Tak tahu benar atau salah, namun Santi meyakinkan itu karena yang mengatakannya tak lain adalah seorang dokter. 


"Sepertinya dokter itu keliru, buktinya saat aku mengandung Alfian, aku nggak terlalu suka makan sayur. Bahkan aku lebih banyak makan seafood," ucap Zara membantah.


Kedua wanita itu terus memperdebatkan gender cucu mereka, dan tanpa sadar mobil yang dibawa Rico telah tiba di sebuah halaman rumah sakit, tempat mereka melakukan janji temu dengan seorang dokter kandungan di sana. Saat mobil telah berhasil diparkirkan dan mesinnya pun telah mati, mereka segera keluar dari mobil. Rico pun bergegas membantu istrinya untuk turun dari mobil. 


"Hati-hati," seru Rico dan dibalas Alina dengan anggukan kepala dan sedikit senyuman manis di antara kedua pipinya yang cabi itu.


Ya, pipi Alina kini memang mulai terlihat membesar. Bukan hanya pipinya saja, melainkan beberapa bagian tubuhnya juga ikut membengkak. Namun Rico dan Alina tak mempermasalahkan semua itu selagi hal itu tidak berpengaruh buruk kepada kesehatan dan juga kandungan Alina. 


Kini mereka memasuki rumah sakit dengan Santi dan Zara yang berada di sisi Alina. Rico berjalan mengiringi mereka dari belakang seolah pria itu seorang bodyguard ketiga wanita di sana. Setiba di depan ruangan obgyn, mereka langsung dipersilahkan untuk masuk ke dalam. Tak perlu melakukan antri lagi karena sebelumnya memang Santi sudah melakukan janji temu dengan dokter tersebut. Dia melakukan hal itu karena tak ingin membuat menuntunnya menunggu lama untuk sekedar mengantri. 

__ADS_1


Memang terkesan tidak adil karena banyak di luar sana yang rela meluangkan waktu lebihnya hanya untuk melakukan pemeriksaan yang berlangsung selama beberapa menit. Namun tak bisa disalahkan juga karena segala sesuatu jika mengandalkan kekuatan uang maka tidak akan ada yang bisa menolaknya.


"Selamat pagi, Bu Alina. Lama nggak jumpa ya," sapa Dokter Siska saat Alina baru saja masuk dalam ruangannya. 


"Alhamdulillah baik, Dok," sahut Alina dengan tersenyum ramah. 


"Bagaimana, apa belakangan ini mengalami keluhan dengan kandungannya?" tanya Dokter Siska lagi.


"Hanya kaki saja yang membengkak, Dok. Lumayan sulit berjalan karena nggak biasa seperti ini," ucap alina yang membuat dokter tersebut tersenyum.


"It's oke. Hal seperti ini wajar dialami ibu hamil. Nanti perlahan bengkaknya akan berkurang kalau sudah melahirkan. Baiklah, langsung saja kita intip dedek bayinya yah," ucap Dokter tersebut sembari mempersilahkan Alina untuk berbaring dia ranjang yang telah tersedia.


Tak mau berlama-lama, setelah Dokter Siska mengecek kondisi kandungan Alina, dia langsung memberitahu Alina dan keluarganya tentang gender anaknya. Saat Dokter menyatakan jika gender anak yang saat ini sedang dikandung Alina diperkirakan seorang lelaki, Zara dan Santi pun langsung menatap layar yang menampakkan calon cucu mereka dengan pelaut haru. Sekian lama menunggu, akhirnya hari ini tiba juga saatnya mereka mengetahui gender cucu mereka, yang tak lain adalah seorang lelaki.


"Dia akan menjadi pria yang hebat seperti mama dan papanya," seru Santi dengan suara bergetar menahan haru.


Alina dan Rico pun tak kalah bahagianya dengan orang tua mereka. Mereka bahkan sangat senang ketika menyadari akan mendapatkan seorang anak lelaki. Meski sebenarnya lelaki dan perempuan tak ada bedanya, namun setidaknya anak pertama mereka itu akan menjadi pemimpin di keluarga mereka kelak. Setelah urusannya di rumah sakit telah selesai, kini Alina dan kedua orang tuanya bersiap untuk segera pulang.


Dalam perjalanan menuju mobil, Santi dan Zara terlihat melebarkan senyumnya dengan pandangan yang berfokus pada gambar hasil USG yang memperlihatkan calon cuci mereka. Sementara Alina yang saat ini berjalan dengan beraama suaminya itu hanya tersenyum bahagia melihat kedua orang tua mereka bahagia dengan kehamilannya ini. 


"Sayang, kamu mau kita menamakan apa anak kita ini nanti?" tanya Rico kepada istrinya itu.


Alina menatap kepada Rico.


"Aku belum kepikiran, Mas. Mungkin kita harus mulai memikirkannya satu bulan sebelum anak kita lahir nanti."

__ADS_1


"Kenapa nggak dari sekarang saja?" tanya Rico heran.


"Kelamaan, Mas. Kalau kita memikirkannya sekarang, saat anak kita lahir nanti maka nama itu nggak akan spesial lagi untuknya."


Rico terdiam memikirkan perkataan istrinya itu. Ada benarnya juga jika nama anak mereka ditentukan sekarang, maka hal itu akan lumrah saat anak mereka lahir nanti. Baiklah, sepertinya mereka harus memikirkannya saat satu bulan sebelum anak mereka lahir.


**


Baru saja keluar dari area rumah sakit, Santi dan Zara langsung mengusulkan anak dan menantu mereka untuk pergi ke mall dan mencari pakaian untuk calon bayi yang akan lahir sekitar 3 bulan lagi nanti. Karena sudah tahu apa gender cucu mereka, kedua wanita itu kini tak sabar ingin membelikan segala sesuatu untuk bayi laki-laki putra-putrinya itu. 


Rico sebenarnya begitu sangat mengiyakan saran orang tuanya itu, namun dia terlihat tak tega saat membiarkan istrinya itu bepergian dengan kondisinya yang seperti ini. Dia takut Alina akan kelelahan karena banyak berjalan. 


"Apa bisa kita belanjanya nanti saja, Ma. Rico takut Alina akan kelelahan."


"Sayang, nggak apa-apa. Aku nggak lelah kok, kalau aku lelah nanti kita bisa istirahat di restoran," ucap Alina dengan meyakinkan suaminya.


Sebenarnya memang dia mudah lelah dengan kondisinya saat ini. Namun karena juga tidak bisa menolak ajakan orang tuanya yang sedang bahagia itu, Alina pun berusaha untuk mengiyakannya. Meski dia tahu jika tak bisa berjalan terlalu lama, namun akan ada banyak restoran yang akan menjadi tempatnya beristirahat, sekaligus menikmati makanan di sana. 


"Apa kamu yakin, Sayang?" tanya Rico memastikan.


"Tentu. Ayo kita ke mall, aku juga pengen banget makan es krim," ucap Alina kemudian. 


"Sayang, apa kamu benar-benar nggak papa? Kalau kamu capek, biar kita berdua saja yang pergi. Kalian bisa memberhentikan kita di depan  kita akan naik taksi ke mall," ucap Zara yang memberi saran. 


Jika benar Alina lelah  maka dia tidak akan tega membiarkan putrinya ikut bersama mereka. 

__ADS_1


"Alina nggak apa-apa, Ma. Kalau Alina lelah, Alina janji akan bilang dan istirahat."


Karena Alina yang memaksa dan terus memastikan jika dirinya baik-baik saja, maka mereka pun segera pergi menuju mall terdekat untuk membeli beberapa keperluan untuk anak Alina nanti.


__ADS_2