Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
87. Tidak Mau Jadi Obat Nyamuk


__ADS_3

Saat sudah jauh dari toko perhiasan yang mereka masuki tadi, Rena langsung menghentikan jalannya dan melepaskan tangan Alina.


"Dia siapa sih, Al. Kenapa sok asik banget. Geli tau nggak lihatnya," ucap Rena yang masih tersisa rasa kesalnya di hati.


"Dia mantan Rico."


Mendengar jawaban Alina, Rena pun merasa sangat heran. Mantan Rico? 


"Kamu dekat dengan mantan Rico, Al?" tanya Rena.


"Nggak deket kok. Kita malah sempat berdebat saat bertemu di butik minggu lalu."


"Tapi sepertinya dia ramah banget sama kamu tadi."


Alina mengedikkan bahunya tak peduli.


"Entahlah. Manusia memang suka berubah-ubah, bukan?" ucap Alina dengan tak minat.


"Jangan-jangan dia sok asik sama kamu karena mau cari perhatian ya? Huh, pantesan saja kelihatan banget akrab sama kamu, ternyata ada maunya," ucap Rena yang menebak sendiri pemikirannya.


Alina yang malas menanggapi perkataan Renald tentang Rebecca hanya bisa tertawa kecil. Saat itu mereka sudah berada di depan sebuah toko perhiasan yang berbeda dengan yang tadi dan mereka pun langsung masuk ke dalam sana untuk melihat-lihat perhiasan yang menarik perhatiannya sebelum membeli.


...**...


Hari mulai malam, kini Rena dan Alina memutuskan untuk segera pulang. Tak banyak barang yang mereka beli di mall tersebut, hanya beberapa perhiasan dan juga alat make up.


"Rico sudah di mana, Al?" tanya Rena karena mereka akan pulang bersama pasangannya masing-masing.


"Nggak tahu, pesanku belum dibalasnya," ucap Alina.


"Masih di jalan mungkin, Andi juga kayaknya sedang terjebak macet. Kita mau nunggu di mana nih?" tanya Rena.


Alina melihat sekitarnya, tak ada kursi santai di lantai satu mall tersebut yang membuat Alina harus memutuskan untuk menunggu Andi dan Rico di salah satu restoran cepat saji. Mungkin mereka harus membeli cemilan untuk menunggu kedatangan pasangan mereka. Lagi pula perut mereka juga sudah mulai lapar karena hampir empat jam menemani Rena berkeliling mall.


Ddrrttt… ddrrttt…


Baru saja hendak masuk ke dalam restoran, tiba-tiba saja ponsel Alina bergetar. Melihat Rico yang meneleponnya, Alina pun langsung menjawabnya.


"Sayang, kamu di mana?" tanya Rico di sebrang sana.


"Aku di dalam. Kamu sudah sampai?" tanya Alina.

__ADS_1


"Aku di depan halte. Ayo keluar," ucap Rico.


"Tapi Andi belum datang, Sayang. Gimana dengan Rena? Kita makan dulu yuk sambil nunggu Andi."


"Posisi mobilku sudah melewati pintu parkir, Sayang. Aku harus putar balik lagi kalau mau masuk, gimana kalau kita makan di luar saja. Nanti tunggu Andi di sana."


Karena tak mungkin memintak Rico memutar balik mobilnya dengan jarak dan kemacetan yang sedang terjadi, jadi Alina mengiyakannya dan mengajak Rena untuk ikut dengan mereka.


"Yasudah, ayo aku sudah lapar banget," ucap Rena menyetujui.


Mereka yang baru saja mendudukkan tubuhnya di dalam restoran itu kini bangkit kembali dan berjalan keluar mall. Begitu melihat mobil Rico yang berhenti di depan halte, mereka langsung menuju ke sana.


Begitu melihat Alina sudah dekat dengannya, Rico membuka kaca jendela samping kirinya. Saat pacarnya itu melihat ke arahnya dari jendela, dia langsung memamerkan senyum manisnya.


"Ayo masuk," ucap Rico dan dijawab anggukan kepala oleh Alina.


Baru saja Alina hendak membuka pintu mobil, Rena lebih dulu menahannya. Membuat Alina menoleh ke arahnya dengan heran.


"Ada apa, Ren?" tanyanya.


"Duduk belakang aja sama aku. Aku nggak mau jadi obat nyamuknya kalian," ucap Rena dengan sedikit memajukan bibirnya.


Alina menaikkan alisnya beberapa detik, kemudian dia melirik ke arah Rico.


"Its okay," ucap Rico dengan tersenyum.


Setelah Rico mengiyakan, kedua wanita itu langsung masuk ke dalam mobil.


"Siap, Nona-Nona?" ucap Rico yang cosplay menjadi seorang sopir.


Alina dan Rena hanya tertawa melihat tingkah aneh Rico. Ada apa dengan pria itu, tak biasanya sekali bersikap aneh seperti itu, pikir mereka.


...**...


Setengah jam diperjalanan, akhirnya Rico menghentikan kendaraannya di depan sebuah restoran yang bernuansa jepang. Restoran jepang menjadi pilihan mereka karena Rena dan Alina yang sangat ingin memakan Sushi.


"Di mana Andi?" tanya Rico kepada Rena saat dia baru saja mematikan mesin mobilnya.


"Sebentar lagi sampai kok. Kita duluan saja, aku sudah lapar banget."


Rico dan Alina mengiyakan, setelah itu mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran.

__ADS_1


Perut yang telah lapar membuat mereka dengan segera memesan makanan. Begitu banyak yang Rena pesan sehingga membuat Alina dan Rico melongo tak percaya.


Ya, bukan Rena jika tak mengedepankan nafsunya. Wanita itu selalu saja melakukan sesuatu berlebihan meskipun barang yang dia beli nanti tak akan terpakai, ataupun makanan yang dipesannya akan terbuang sia-sia. Bahkan Alina yang juga lapar saja saat mendengar banyaknya pesanan temannya itu hanya bisa menahan mual. Dia membayangkan betapa banyaknya makanan yang masuk ke dalam mulutnya sampai tak bisa bernapas.


"Ren, aku nggak yakin kalau kamu akan menghabiskan semua makanan itu," ucap Alina.


"Kita 'kan berempat, kenapa harus aku sendiri yang memakannya? Memangnya kalian nggak mau makan?" tanya Rena dengan wajah polosnya.


"Tapi itu terlalu banyak. Kita hanya berempat, sedangkan kamu memesan dengan porsi orang sepuluh."


"Apa begitu?" tanya Rena lagi yang membuat Alina mengusap leher belakangnya.


Tak lama dari itu, saat minuman baru saja diantar oleh pelayan, terlihat Andi datang dengan tergesa. Ketiga orang di sana melihatnya dengan sangat heran, apalagi pria itu terlihat berkeringat.


"Kamu kenapa?" tanya Rico.


"Sayang, kenapa kamu seperti terburu-buru?" tanya Rena pula.


"Macet banget, parah. AC mobil benar-benar nggak ngebantu sama sekali," ucapnya disela mengatur nafas.


Melihat itu, Rena langsung memberi minumannya kepada Andi. Dan pria itu pun langsung meneguk minuman itu dalam waktu singkat.


"Kamu dari mana sih memangnya?" tanya Alina kemudian saat Andi telah duduk normal.


"Bertemu klien menyebalkan. Sudah minta bertemu di hari libur, kerjaannya bacot saja, anaknya nyebelin banget, ngajakin bertemu di hotel tempatnya menginap pula. Mana tuh hotel jauh banget lagi. Sial banget aku hari ini."


Perkataan Andi terhenti tatkala seorang pelayan mengantarkan makanan pesanan mereka. Rasa lelah dan lapar yang menjadi satu membuat Andi menelan salivanya, air liurnya hampir saja tumpah akibat makanan yang ada di sana. Apagi kuah berwarna merah dari ramen yang disajikan dengan telur setengah matang, membuatnya sangat tak sabar untuk menyantapnya.


"Waah, kayaknya enak nih. Ayo makan."


Mendengar suara dari Rena, tanpa menunggu lama Andi lebih dulu meraih sumpit dan langsung menyantap makanan yang membuat air liurnya itu hampir tumpah. Gerakan cepat serta ekspresi dia saat menikmati makanan itu membuat ketiga orang di sana melongo. Mereka saling pandang dengan wajah bingungnya, kemudian ikut menikmati makanan di atas meja karena mulai tergoda dengan raut wajah Andi yang menunjukkan seolah makanan itu sangat enak.


Dua puluh menit kemudian, kini makanan di atas meja sudah mulai tandas. Hanya tersisa satu mangkuk ramen dan juga beberapa sushi yang tak habis dimakan. Mereka menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi, mengistirahatkan perutnya yang terasa begah akibat terlalu banyak makanan yang masuk ke dalam sana.


"Sudah mau pulang belum?" tanya Alina.


Ketiga temannya menatap ke arahnya dengan posisi yang tak berubah.


"Nanti dong, perutku masih kenyang banget," ucap Andi. Dia benar-benar tidak kuat jika harus pulang sekarang, perutnya benar-benar terasa begah karena dia yang paling banyak menghabiskan makanan di sana.


"Ya sudah, kalau begitu aku bayar dulu ya," ucap Alina kemudian.

__ADS_1


Mendengar kalimat tersebut, Andi pun yang semula malas bergerak kini sedikit menegakkan duduknya.


__ADS_2