Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
46. Tidak Bisa Memasak


__ADS_3

Pukul 11.30 Rico sudah berada di apartemen untuk menjemput Alina. Seperti yang dia katakan semalam, dia akan menjemput Alina untuk lunch bersama orang tuanya di rumah.


Rico menunggu Alina di dalam mobil, tak lama kemudian Alina terlihat keluar dari gedung apartemennya sembari tersenyum ramah, menyapa penjaga di sana. Rico tersenyum melihat hal kecil yang dilakukan wanita itu, selain cantik, Alina juga memiliki sifat dan perilaku yang sangat pantas untuk dipuji. Sangat beruntung dia mendapatkan paket lengkap seperti pacarnya ini.


Begitu Alina masuk ke dalam mobil, Rico menyambutnya dengan senyum mengembang. Senyum yang tak semua orang dapatkan kecuali bagi mereka yang spesial di hati Rico.


"Hei," sapa Rico lebih dulu.


"Hei. Kamu dari kantor?" tanya Alina saat melihat pakaian formal yang Rico kenakan.


"Iya," ucap Rico sembari menganggukkan kepalanya. "Kamu sudah makan?"


Pertanyaan Rico membuat Alina seketika mengernyitkan keningnya dengan heran.


"Ngapain makan? Bukannya kita mau makan siang ya?" tanya Alina.


Mendengar itu, Rico seolah tersadar akan pertanyaan bodohnya. Kemudian dia tertawa garing sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya ya, aku lupa. Kamu sih cantik banget, jadinya aku nggak fokus, 'kan."


Seketika Alina tersenyum malu mendengar gombalan Rico. Sudah setengah tahun berpacaran, entah kenapa dia masih saja merasa malu saat Rico memuji atau menggombalinya. Seharusnya dia tidak perlu bertingkah seperti itu dengan gombalan receh Rico yang sudah sering dia dengar.


Sebaiknya dia belajar untuk bersiap santai agar tak lagi merasa malu akan gombalan pria itu.


"Ayo pergi, jangan membuat orang tua kamu menunggu lama," ucap Alina mengalihkan.


Rico terkekeh kecil melihat raut lucu pada wajah Alina, setelah itu dia mengiyakan perkataan pacarnya itu dan mulai melajukan mobilnya menjauhi apartemen.


"Oh ya, Sayang. Semalam aku sudah menelpon Andi dan kita memutuskan untuk pergi liburan minggu depan. Apa kamu keberatan?" tanya Rico kemudian saat mereka dalam perjalanan menuju rumahnya.


"Minggu depan? Apa nggak kecepetan?" tanya Alina.


"Kalau ditunda terlalu lama, takut kamu nanti tiba-tiba sudah mulai masuk kerja. Kita menyesuaikan dengan aktivitas kamu saja sih. Lagian minggu depan jadwal kita sedang longgar semua, jadi pas buat pergi," jelas Rico.


Alina mengangguk mengerti, tak jadi masalah jika harus minggu depan karena sekitar dua minggu lagi dia juga sudah harus pergi untuk menghadiri acara keluarganya.


"Baiklah. Aku akan prepare dari sekarang kalau begitu."


"Jangan sekarang, Sayang."


"Hah?"

__ADS_1


Alina nampak bingung dengan perkataan Rico. Jangan sekarang? Apa maksudnya? Bukankah mereka akan pergi minggu depan, lalu kenapa Rico malah melarangnya untuk prepare sekarang.


"Kenapa? Satu minggu lagi itu nggak lama loh, Co," ucap Alina dengan heran.


"Jangan sekarang pokoknya," ucap Rico dengan kekeh. Membuat Alina penasaran dengan maksud pria itu.


"Iya kenapa, Co? Apa planning-nya belum pasti?" tanya Alina lagi.


"Pasti kok."


"Lalu?"


"Pokoknya jangan sekarang, 'kan sekarang kita mau lunch bareng orang tua aku. Kamu mau membatalkan lunch-nya?" ucap Rico dengan wajah tanpa dosa.


Alina pun yang mendengar itu seketika terdiam dengan mulut terbuka. Itukah alasan Rico? Dia tidak habis pikir dengan candaan pacarnya itu yang diluar nalarnya. Padahal dia sudah sangat serius menanggapi perkataan Rico.


Dengan kesal, Alina memukul lengan Rico yang sedang menyetir. Membuat pria itu mengaduh, lalu tertawa karena sudah tak tahan melihat raut wajah Alina yang menggemaskan.


"Ngeselin banget sih. Orang udah serius juga," ucap Alina sambil memanyunkan bibirnya.


Rico masih tertawa geli akan reaksi pacarnya itu, sangat menyenangkan melihat Alina kesal akan candaannya.


...*...


Setelah berhasil melewati cuaca siang hari yang menyengat, akhirnya kini mobil yang dikendarai Rico tiba di kediaman keluarganya. Mereka segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Rico membawa Alina menuju dapur, di mana mamanya berada. Sementara dia pergi menuju ruang kerja untuk menemui papanya yang sedang berada di sana.


Kebetulan sejak semalam Irfan tiba-tiba tidak enak badan, jadi pagi ini beliau tidak bisa datang ke kantor dan mengerjakan semuanya dari rumah.


"Bibi senang sekali kamu mau datang ke sini. Bagaimana kabarmu?" tanya Santi saat Alina menghampirinya.


Saat ini Santi sedang mencicipi makanan yang sudah dimasak oleh pegawainya untuk dihidangkan saat makan siang ini.


"Alina baik, Bi. Bibi bagaimana kabarnya?" tanya Alina balik.


"Bibi baik kok. Mau coba?"


"Ah?" Alina tampak bingung dengan Santi yang menawarkan dia untuk mencicipi makanan di sana. Namun sedetik kemudian Alina tersenyum dan mengiyakan.


"Gimana? Apa ada yang kurang?" tanya Santi begitu makanan itu masuk ke dalam mulut Alina.


"Kayaknya sudah cukup," ucap Alina.

__ADS_1


Tak sampai situ, Santi meminta Alina untuk mencicipi makanan lainnya untuk menyesuaikan lidahnya. Bagaimanapun juga, Alina adalah tamunya di sini. Semua makanan yang akan dihidangkan memang Santi khususkan untuknya. Jadi, semua makanan di sini harus sesuai dengan lidah tamu spesial mereka yaitu, Alina.


Saat rasa semua masakan telah sempurna, Santi mengajak Alina untuk meninggalkan dapur. Mereka mendudukkan tubuhnya di meja makan dan tak lama dari itu, Rico dan Irfan terlihat keluar dari suatu ruangan yang diyakini sebagai ruang kerja Irfan.


Karena sudah mulai lapar semua, mereka segera menyantap makan siang itu bersama-sama. Sepanjang makan siang, obrolan ringan tercipta dengan didampingi canda dan tawa. Tak ada sedikitpun jeda untuk kesunyian mereka hadirkan karena saking asiknya obrolan tersebut. Mereka benar-benar menikmati makan siang ini dengan sangat khidmat dan penuh rasa bahagia.


"Apa kamu suka semua makanannya, Al?" tanya Irfan saat Alina hendak memasukkan suapan terakhirnya ke dalam mulut.


"Suka Paman. Terima kasih sudah mengundang Alina makan siang di sini," ucapnya terlebih dahulu sebelum memasukkan suapan terakhirnya itu.


"Kalau begitu, kita harus sering-sering mengadakan lunch atau dinner bersama dong," ucap Santi memberi usul.


"Setuju banget, Ma," sahut Rico.


"Kita memang harus sering-sering lunch atau dinner bareng. Kamu nggak keberatan 'kan, Sayang?" tanya Rico kemudian kepada Alina.


"Boleh kok. Nanti kapan-kapan Alina yang mengundang Paman dan Bibi makan di rumah Alina ya," ucap Alina.


"Boleh banget, Al. Oh ya, kamu bisa masak kah?" tanya Santi kemudian.


"Em, nggak jago, Bi. Hanya makanan ringan saja," ucap Alina dengan tersenyum kaku. Dia sedikit menundukkan kepalanya karena malu jika dirinya tak jago dalam bidang memasak.


"Its okay, Al. Nggak perlu jago, sudah bisa masak pun itu merupakan sebuah kebanggaan. Nggak seperti Bibi yang nggak bisa banget memasak," ucap Santi dengan berusaha mengerti akan perasaan Alina.


"Iya, Al. Memasak juga bukanlah sebuah kewajiban bagi seorang wanita, jadi kamu nggak perlu khawatir. Sudah bisa memasak saja pun kamu sudah sangat hebat loh."


Kini Irfan pun ikut bersuara. Dia menambahi perkataan istrinya agar tak membuat Alina merasa direndahkan.  


Alina tersenyum mendengar perkataan Santi dan Irfan.


"Makasih, Bibi, Paman," ucapnya. Kemudian dia menatap ke arah Rico yang sedang tersenyum kepadanya. Raut wajahnya seolah mengatakan jika apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya memang benar.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.


.

__ADS_1


__ADS_2