Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
68. Rahasia Alina


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan siangnya, Morgan pun segera pergi dari sana dan membiarkan adiknya berdua bersama Rico. Memang adiknya itu sekarang sudah dewasa dan dia harus memberi kebebasan untuknya bersama pacarnya. Apalagi selama ini Alina sudah terbiasa hidup sendiri, dia percaya jika Alina bisa menjaga dirinya baik-baik. Rico juga sepertinya bukan tipe pria yang banyak tingkah. Semoga saja apa yang dia percayakan kepada Rico tidak membuatnya kecewa dengan menyakiti adiknya.


"Kalau mau pulang telepon saja ya, Al, nanti Abang jemput," ucap Morgan sebelum melangkahkan kakinya pergi dari sana."


"Biar aku yang antar Alina pulang, Gan."


"Iya, Bang, biar Rico saja yang antar Alina pulang. Abang pulang saja sana." 


Mendengar Alina yang ikut menambahi perkataan Rico, Morgan pun menatap ke arah adiknya itu.


"Mentang-mentang lagi sama pacar, Abangnya diusir. Padahal sudah lama kita nggak bertemu," ucapnya yang terdengar cemburu.


Alina terkekeh mendengar ucapan Morgan, dia tahu jika abangnya itu hanya bercanda dan dia tidak mau menyahutinya karena nanti akan panjang urusannya.


"Ya sudah, kalau begitu Abang pulang ya. Rico, tolong jaga adikku. Awas saja kalau Alina sampai kenapa-kenapa."


"Kamu tenang saja, Alina aman denganku," ucap Rico dengan percaya dirinya. 


Morgan menganggukan kepalanya dan setelah itu dia segera pergi dari sana.


Melihat kepergian Morgan, Alina pun menatap ke arah Rico.


"Maaf ya, bang Morgan jadi ikut makan siang bersama kita."


Semalam Rico mengatakan jika dia ingin membicarakan sesuatu dengannya. Alina tahu jika Rico sedang mempertanyaan tentang semua yang dia tutupi selama ini, jadi dia pun langsung mengiyakan ajakan pacarnya itu untuk bertemu siang ini. Namun siapa sangka jika tiba-tiba Morgan ingin ikut dengannya untuk menemui Rico. 

__ADS_1


Alina tidak bisa melarang abangnya itu untuk ikut karena dia juga ingin Rico lebih mengenal keluarganya. Namun saat melihat raut wajah Rico yang seolah sedang menahan sesuatu, Alina pun memutuskan untuk meminta abangnya segera pulang. Dia pikir jika Rico merasa kurang nyaman jika membahas hal ini di depan abangnya.


"Nggak papa kok. Morgan mungkin bosan di rumah setelah seharian beristirahat, jadi wajar saja kalau dia mau ikut keluar," ucap Rico mencoba mengerti.


"Makasih ya. Oh ya, kamu mau ngomong apa?" tanya Alina kemudian.


Mendengar pertanyaan Alina, Rico pun menghela nafasnya. 


"Kamu kenapa nggak ada kabar selama seminggu ini? Aku nyariin kamu banget loh," ucap Rico. Wajahnya kini berubah tak seceria sebelumnya, melainkan terkesan penasaran dan membutuhkan jawaban.


"Maaf, Sayang, ponselku tertinggal di rumah bang Fian, jadi aku nggak bisa menghubungi kamu."


"Terus, kenapa kamu tiba-tiba ganti nomor? Kamu bohong sama aku ya, Al?" tanya Rico lagi dengan wajah sendunya. Dia merasa jika Alina berbohong dan tidak mau jujur padanya.


Alina menghela nafasnya panjang, sepertinya sudah waktunya untuk dia berkata jujur tentang dirinya yang sebenarnya kepada Rico.


Rico diam menatap pacarnya itu, menunggu apa yang akan diceritakan Alina padanya. 


"Aku memang bukan anak seorang petani. Maaf kalau selama ini aku membohongimu. Keluargaku selama ini berada di London dan aku memiliki dua orang abang dan satu kakak perempuan yang sudah meninggal. Keluargaku memang bukan orang biasa. Sebelum mereka hijrah ke London, mereka tinggal di kota ini juga, kota kelahiran mereka. Mereka pergi ke London karena sebuah insiden yang dialami orang tuaku yang membuat kakak pertamaku meninggal."


Alina menghela nafasnya sejenak.


"Aku nggak punya hak untuk menceritakan kisah kedua orang tuaku dan kak Aura pada orang lain, tapi karena kejadian itu sampai membuat mama sangat bersedih dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke London. Tinggal bersama nenek dari papa dan melanjutkan bisnisnya di sana. Saat tamat sekolah, aku memutuskan untuk kuliah di Inggris, mengikuti jejak bang Fian saat berkuliah dulu. Meski berat untuk keluargaku untuk aku tinggal sendiri di sana, tapi aku memaksa dan sampai akhirnya mereka mengizinkan dengan syarat tertentu."


"Singkat cerita, aku memutuskan untuk melanjutkan S2 ku di sini. Mengingat mama yang masih trauma dengan kejadian puluhan tahun silam, membuat aku ingin membuktikan pada mama kalau masa lalu hanyalah masa lalu. Aku nggak mau mama melupakan tanah kelahirannya dan membuatnya pergi selamanya dari sini. Apalagi bang Fian selalu mengatakan kalau mama sangat merindukan kak Aura dan selalu merasa bersalah, membuat aku benar-benar nggak tega dan ingin membuat mama berdamai dengan masa lalunya. Meskipun sulit, tapi akhirnya sekarang aku bisa membawa keluargaku kembali ke kota ini."

__ADS_1


Sepanjang Alina bercerita, Rico hanya diam saja sembari menatap lurus pada mata cantik wanita di depannya. Begitukah cobaan keluarga Alina selama ini, apakah kedua orang tuanya tahu akan masalah yang dialami orang tua Alina dan juga kakak perempuannya? Dia jadi turut bersedih akan musibah yang menimpa keluarga pacarnya itu. 


"Kamu begitu berani tinggal sendirian di kota ini tanpa pendamping," ucap Rico dengan tak langsung memuji keberanian Alina.


"Aku nggak benar-benar sendiri kok di sini. Masih ada nenek kakek dan juga omaku," ucap Alina dengan tersenyum tipis. "Kamu tahu restoran tempatku bekerja selama ini?"


"Jangan bilang kalau…?"


Alina menganggukkan kepalanya. "Sebenarnya itu bukan restoran temanku tapi, restoran milikku yang diberikan oleh omahku, Ibu dari papa."


Mendengar kenyataan tersebut, Rico pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Pantas saja Alina bisa sesuka hati mengatur jadwal kerjanya, ternyata itu restoran miliknya sendiri. 


Perkerjaannya di restoran sebagai seorang pegawai ternyata hanya alibi Alina agar orang-orang mengira jika dirinya hidup di kota ini dengan pekerjaan sampingannya itu.


"Lalu cafe itu? Apa punya kamu juga?" tanya Rico.


Alina terkekeh kecil. "Itu punya orang. Aku bekerja di sana karena menyukai bernyanyi saja, hitung-hitung juga mencari hiburan untuk diri sendiri."


"Lalu kenapa bang Fian selalu memakai topi dan masker saat keluar rumah?" tanya Riko yang sejak lama sangat penasaran akan hal itu. 


"Wajah bang Fan sangat mirip dengan papa. Aku hanya nggak mau kedekatan kami membuat orang-orang mengenal siapa aku sebenarnya."


Jawaban Alina membuat Rico mengernyitkan keningnya dengan heran.


"Kenapa kamu merahasiakan siapa diri kamu sebenarnya?" tanya Rico. 

__ADS_1


"Kejadian yang dialami mama membuat aku takut untuk menunjukkan siapa aku sebenarnya. Aku takut jika orang yang membuat anggota keluargaku terluka mengenaliku dan mengetahui keberadaan mama. Selain itu, di zaman sekarang ini, semua orang hanya akan menilai kita dari jabatan dan anak siapa kita sebenarnya. Saat mereka tahu kalau orang tuaku memiliki segalanya, mereka akan berlomba datang untuk menjalin pertemanan ataupun hubungan yang lebih dari itu. Aku hanya ingin dipertemukan dengan orang yang benar-benar tulus mau berteman denganku, Co, itu saja. Sejak aku di Oxford sampai saat ini, hanya Andi lah yang benar-benar mau menjadi teman baikku dengan semua kekuranganku. Dan hal itu menyadarkan aku kalau memang benar jika hanya sedikit orang yang mau menjalin hubungan dengan tulus."


"Apa kamu menganggap aku seperti itu juga?"


__ADS_2