
Satu minggu lagi acara peresmian ZW Corps akan digelar di sebuah hotel. Sebelum hari itu tiba, Alina dan Rico berencana untuk mempertemukan kedua orang tuanya dalam sebuah acara makan malam.
Hari ini di kediaman Alfian, Alina mendekati kedua orang tuanya yang sedang berada di ruang keluarga untuk mengutarakan niatnya yang ingin mengajak mereka dinner bersama di sebuah restoran.
"Ma, Pa, besok kalian sibuk nggak?" tanya Alina lebih dulu.
"Nggak ada, Sayang. Palingan Bang Fian sama bang Morgan saja yang mau melihat tempat tinggal baru kita," ucap Thomas.
"Apa progresnya masih jauh?" tanya Alina.
"Papa kurang tahu juga, sepertinya nggak lama lagi. Memangnya ada apa?"
"Em, Alina rencananya mau ngajak Mama sama Papa dinner di luar besok. Maksudnya kita sekeluarga gitu," ucap Alina.
"Boleh tuh. Mau dinner di mana?" tanya Thomas.
"Di restoran saja, Pa. Nanti Alina booking tempatnya ya."
"Boleh banget, Sayang."
Alina tersenyum senang mendengar jawaban kedua orang tuanya. Memang mereka sedang tidak sibuk karena urusan perusahaan dan rumah yang akan mereka tempati nanti telah diurus oleh Alfian dan juga Morgan. Papa dan mamanya itu sudah cukup usia dan anak-anaknya memang lebih mengutamakan waktu istirahat orang tuanya dibandingkan harus melihat mereka mengurusi kesibukan yang sebenarnya bisa anak-anaknya lakukan.
*
Sementara di kediaman Rico, pria tampan satu itu pun saat ini terlihat mendekati kedua orang tuanya yang sedang berada di taman samping rumahnya. Kedua orang tuanya itu terlihat sedang menikmati malam indah yang menyejukkan.
Saat menyadari putranya berjalan ke arahnya, mereka lantas saling lempar senyuman.
"Ada apa, Sayang? Ayo duduk sini," ucap Santi kepada putranya.
"Mama sama Papa kenapa masih di luar? Angin malam semakin kencang loh, nggak baik buat kesehatan," ucap Rico perhatian.
"Sebentar lagi kita masuk kok, Bang. Kamu tumben ke sini, nggak ada pekerjaan kantor yang diurus atau pergi sama Alina gitu?" tanya Santi.
"Urusan kantor sudah selesai dan Alina juga sepertinya sedang istirahat karena tadi siang mereka baru saja dari rumah oma Alina sekaligus berkeliling kota."
"Kapan kita bisa bertemu dengan keluarga Alina, Bang? Mama sudah nggak sabar mau bertemu dengan orang tuanya."
Rico tersenyum tipis mendengar pertanyaan Santi.
"Nanti kita cari waktu yang tepat ya, Ma. Mungkin saat ini mereka masih istirahat atau berkeliling kota untuk menikmati suasana yang sudah lama mereka tinggali."
"Benar apa kata Rico, Ma. Sabar saja, nanti jika saatnya tiba kita akan bertemu kok dengan mereka. Lagi pula satu minggu lagi kita 'kan akan menghadiri acara mereka juga. Pasti akan bertemu juga kok dengan mereka," ucap Irfan pula kepada istrinya itu.
"Satu minggu lagi itu sangat lama, Pa. Mama sudah nggak sabar mau ketemu kak Thomas dan juga Zara. Sekaligus membahas pernikahan putra kita dengan Alina."
"Sabar ya, Ma. Nanti Rico tanyakan sama Alina kapan orang tuanya bisa bertemu dengan kita."
"Boleh, Sayang. Makasih ya sebelumnya."
Rico tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, kemudian dia teringat dengan niatnya yang ingin bertemu dengan kedua orang tuanya itu.
"Oh ya, Ma, besok malam Mama sama Papa sibuk nggak?"
"Kalau Mama sih nggak ada, nggak tahu kalau Papa kamu."
"Papa juga nggak ada kalau malam. Ada apa Bang?"
"Rico mau ngajak Mama sama Papa dinner di luar, kalian mau nggak?" tanya Rico.
"Tumben banget. Ada acara apa?" tanya Santi dengan heran.
__ADS_1
Putranya itu bukan tipe orang yang suka makan di luar jika tidak bersama pacarnya atau saat ada momen penting. Jadi jelas saja mereka heran dengan ajakan Rico yang ingin dinner di luar dengan tiba-tiba itu.
"Nggak ada acara apa-apa kok, Ma. Cuma mau ngajak Mama sama Papa makan di luar saja, sudah lama banget loh kita nggak dinner di luar bertiga," ucap Rico dengan tersenyum manis.
"Boleh banget dong, Sayang. Kita memang sudah lama nggak dinner di luar. Baiklah, nanti Mama booking restoran tempat biasa saja ya," ucap Santi.
"Em, nggak usah, Ma. Nanti Rico saja yang booking tempatnya. Mama sama Papa nggak usah repot-repot."
Santi dan Irfan pun semakin heran mendengar perkataan Rico. Tumben banget putranya itu mau berinisiatif dengan effort yang sangat jarang mereka lihat. Namun karena tak ingin berpikir macam-macam, akhirnya mereka pun mengiyakan saja ajakan Rico.
**
Keesokan harinya tepatnya pukul 7 malam, Rico terlihat sudah siap dengan pakaiannya yang melekat di tubuh. Kemeja hitam dengan lengan panjang yang digulung hingga siku, wajahnya yang terlihat segar setelah mandi, dan juga wangi harum dari parfum yang menjadi kesukaan Alina membuat pria itu 100% siap untuk melakukan dinner bersama keluarga Alina.
Santi dan Irfan yang melihat penampilan Rico yang tampak memukau lantas mengernyitkan keningnya. Walaupun penampilan putranya itu selalu tampak memukau setiap harinya, namun entah kenapa malam ini Rico terlihat sangat berbeda. Seperti ada sesuatu yang spesial pada putranya itu malam ini, namun mereka tidak tahu apa yang telah berbeda dari putranya itu malam ini.
"Kamu kok aneh banget malam ini, Bang. Hem, Mama jadi curiga deh," ucap Santi kepada putranya.
Dia sangat penasaran karena sejak kemarin Rico seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya, seolah ada surprise yang akan diberikan kepadanya. Bukannya bermaksud untuk percaya diri, namun naluri Santi sebagai seorang ibu yang telah membesarkan Rico sejak kecil membuatnya sangat mudah menebak jika ada sesuatu yang dirahasiakan putranya itu.
"Nggak ada apa-apa kok, Ma. Rico hanya senang saja bisa makan malam sama Mama dan Papa di luar malam ini," ucapnya yang justru terdengar semakin aneh di telinga Santi dan Irfan.
"Kamu benar-benar aneh banget sih, Bang."
"Sudahlah, Ma. Mungkin Rico sedang bahagia hari ini, jadi auranya begitu terpancar sampai kita ikut merasakannya," ucap Irfan yang berusaha untuk menghentikan rasa curiga istrinya. Meskipun dia juga penasaran dengan raut bahagia putranya itu, namun dia tidak mau menuntut jawaban dari Rico yang mungkin belum siap menceritakan hal bahagianya itu pada mereka.
Sementara Rico dan keluarganya yang sedang membicarakan keanehannya, kini di kediaman Alina, wanita itu tampak heboh karena kebingungan memilih pakaian yang akan dia pakai pada malam hari ini. Keluarganya yang saat itu hampir siap untuk pergi terlihat heran saat tak mendapati Alina sejak 1 jam lalu. Karena merasa heran dengan anak bungsunya itu, akhirnya Zara meminta Marisa untuk memanggil Alina ke kamarnya.
Saat itu pintu kamar Alina diketuk dan dari dalam sana Alina berteriak untuk mempersilahkan Marisa masuk ke dalam kamarnya. Saat pintu terbuka, Marisa melihat begitu banyak tumpukan baju di atas kasur dan juga Alina yang masih mengenakan tank top serta celana pendeknya. Pemandangan itu berhasil membuat Marisa menggelengkan kepalanya.
"Astaga, Al. Kenapa kamu belum siap-siap, yang lain sudah pada menunggu di bawah loh," ucap Marisa kepada adik iparnya tersebut.
"Astaga, baju sebanyak ini kenapa harus pusing, Al? Kamu itu cocok memakai semua jenjs pakaian loh," " ucap Marisa dengan heran.
"Aku beneran bingung, Kak, mau pakai baju yang mana. Tolong pilihin dong," ucap Alina sambil membanting tubuhnya ke atas kasur. Dia benar-benar pusing karena hampir 1 jam memilah baju, namun tak juga menemukan yang pas untuknya dipakai pada malam hari ini.
"Ya udah nih, pakai baju ini saja," ucap Marisa sambil menyerahkan sebuah dress berwarna hitam lengan panjang kepada Alina.
Alina yang melihat dress itu, teringat jika dress itu sudah pernah dia pakai dinner bersama Rico beberapa bulan lalu dan sepertinya dia tidak mungkin memakai pakaian itu di acara dinner keluarga mereka.
"Nggak mau, bajunya sudah pernah aku pakai sebelumnya."
"Ya memang kenapa kalau sudah pernah dipakai? Memangnya kamu mau pakai baju sekali pakai gitu?" ucap Marissa dengan sangat heran.
Selama ini Alina bukan tipe orang yang ribet dalam berpakaian. Namun entah kenapa malam ini adik iparnya itu sangat mempersulit dirinya sendiri dalam memilih pakaian.
Sebelum kembali memilihkan pakaian untuk Alina, Marissa mendudukkan tubuhnya di samping Alina dan menatap curiga ke arahnya Alina.
"Katakan pada Kakak, apa yang kamu rencanakan, Al? Kamu nggak biasanya loh pusing mikirin pakaian saja."
Alina menggigit bibir bawahnya, dia terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan dari Marissa. Karena merasa jika dia sedang membutuhkan pertolongan Marissa untuk memilihkan pakaiannya malam ini, akhirnya mau tidak mau Alina menceritakan rencananya malam hari ini yang akan melakukan dinner bersama keluarga Rico.
Alina mendudukkan tubuhnya, menetap Marissa dengan ragu.
"Kakak jangan cerita sama mama dan papa ya, ataupun bang Morgan dan bang Fian."
Menengah perkataan adik iparnya tersebut, Marisa pun tersenyum tipis. Sudah bisa dia tebak jika Alina menyimpan rahasia untuk makan malam mereka malam ini.
"Baiklah, ceritakan pada Kakak, apa yang kamu rencanaka" ucap Marissa.
"Sebenarnya aku mau ngajak mama sama papa bertemu dengan keluarga pacarku."
__ADS_1
Marisa mengernyitkan keningnya, tak mengerti akan maksud Alina. Hanya itu saja? Kenapa harus dirahasiakan, pikirnya. Namun dia tak mau berucap sampai Alina mengatakan semuanya.
"Mama dan papa ternyata teman lama orang tua Rico, jadi rencananya kita mau memberikan surprise buat mereka di acara malam ini. Nggak mungkin 'kan aku memakai pakaian sudah pernah aku pakai dinner bersama Rico dulu. Sekarang pilihankan aku baju Kak, please," ucap Alina kemudian.
"Mama sama papa temenan sama orang tua Rico?" tanya Marissa yang mengabaikan perkataan adiknya itu.
"Iya, Kak. Udahlah nanti saja ceritanya, ayo pilihkan aku baju dulu. Sudah hampir jam tujuh nih, nanti takutnya Rico sudah jalan ke restoran lebih dulu.
Karena merasa jika waktu pun semakin cepat berjalan, akhirnya Marisa berhenti untuk bertanya lebih jauh dan segera memilihkan pakaian untuk adik iparnya itu. Di antara semua pakaian yang ada di atas kasur dan juga beberapa yang masih tergantung di dalam lemari, Marissa memilihkan sebuah dress selutut berwarna hitam dengan lengan pendek. Dress itu sangat cocok untuk tubuh Alina yang putih langsat yang akan digunakan pada malam hari ini.
Alina pun yang melihat dress tersebut terdiam sejenak. Dia nampak berpikir, kemudian langsung meraih dress tersebut dari tangan Marisa untuk dipakainya.
"Kakak tunggulah di bawah, nanti lima belas menit lagi aku turun," ucap Alina sembari masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
"Baiklah, tapi jangan jangan lama-lama ya," ucap Marissa.
Alina mengiyakan dari dalam kamar mandi dan Marisa pun saat itu beranjak keluar dari kamar adik iparnya untuk menemui yang lainnya di bawah. Lima belas menit kemudian terlihat Alina menghampiri keluarganya yang ada di ruang tamu. Saat itu semua keluarganya sudah berkumpul di sana dan tinggal menunggu kedatangannya. Begitu mereka melihat kedatangan Alina mereka langsung menatap heran kepada putrinya itu.
Penampilan Alina tidaklah jelek, melainkan sangatlah cantik. Tubuhnya yang ideal serta dress yang terlihat pas di tubuhnya itu, membuat penampilannya malam ini sangat sempurna. Namun dibalik semua itu, mereka sangat heran kenapa Alina memakai pakaian seperti itu untuk makan malam mereka malam ini.
Alina memakai pakaian itu seolah seperti sedang menghadiri acara yang sangat penting, padahal 'kan mereka hanya akan makan malam saja di luar. Apalagi selama ini Alina tidak pernah memakai pakaian yang seperti itu jika bukan di acara besar keluarganya. Sama seperti Marissa sebelumnya, semua keluarga Alina menatap heran ke arahnya.
"Wow, biduan dari mana nih."
Perkataan yang ternyata berasal dari Morgan membuat semua orang yang berada di ruang tamu itu menatap ke arahnya.
"Morgan, jaga mulut kamu," ucap Alfian yang lebih dulu memperingati adiknya itu untuk tidak mengusili Alina.
Morgan tersenyum lebar kepada abangnya itu, lalu dia mengunci mulutnya rapat-rapat agar tidak mendapat amukan dari abangnya itu.
Alina yang sudah terlanjur mendengar perkataan Morgan, lantas memajukan bibirnya.
"Bang Fian, apa aku seperti biduan?" tanyanya dengan wajah bingung.
"Nggak kok, kamu cantik."
"Apa benar, tapi kata Bang Morgan–"
"Sudah, jangan hiraukan Abang kamu itu. Kamu seperti nggak tahu dia saja."
Kini Thomas pun ikut membela Alina.
"Sayang, tumben banget kamu memakai pakaian seperti ini. Biasanya ini outfit kamu di acara besar, sedangkan kita 'kan cuma mau makan malam saja," ucap Zara pula kepada putrinya itu.
Alina terlihat bingung mau menjawab apa pertanyaan mamanya itu. Jika tadi dia bisa berbicara jujur kepada Marisa, namun tidak untuk kedua orang tuanya yang akan diberi kejutan itu.
"Em, kalian juga pakaiannya bagus-bagus banget. Kenapa Alina nggak boleh?" ucap Alina yang berusaha menjawab pertanyaan mamanya.
"Kita mah pakainya memang seperti ini sejak dulu. Nggak kayak kamu yang memakai pakaian seadanya saja, kalau nggak dipaksa pakai dress dan perhiasan kamu nggak akan mau," ucap Morgan yang menyahuti perkataan Alina.
"Morgan, bisa diam nggak?" ucap Alfian lagi yang kini kembali menegur adik laki-lakinya itu untuk tidak berbicara yang akan membuat Alina tersinggung.
"Alina hanya menyesuaikan saja dengan kalian kok, apa nggak boleh?" ucap Alina kemudian.
"Boleh banget dong, Sayang. Mama justru senang kalau kamu mau berpakaian seperti ini," ucap Zara kepada putrinya itu.
Sejak dulu sudah banyak pakaian mahal yang dia belikan untuk Alina, namun semenjak Alina memutuskan kuliah di Inggris hingga sampai saat ini, putrinya itu selalu menolak untuk memakai pakaian mahal yang dia belikan. Justru putrinya itu malah selalu suka memakai pakaian seadanya yang bahkan terkesan murah.
"Ya sudah, ayo kita pergi sekarang. Ini sudah jam tujuh lewat, papa sudah lapar sekali ini," ucap Thomas yang menengahi.
Dia bangkit dari duduknya dan diikuti yang lain untuk segera masuk ke dalam mobil dan pergi menuju restoran yang telah Alina pesan sebelumnya.
__ADS_1