
Baru saja keluar dari ruang meeting, seorang wanita cantik yang merupakan anak dari kliennya memanggil Alina.
"Abang duluan ya, Al," ucap Morgan kepada adiknya itu. Setelah Alina mengiyakan, Morgan pun berpamitan kepada wanita yang memanggil Alina dan segera pergi dari sana.
"Ada apa Nona Sonya?" tanya Alina dengan tersenyum ramah.
"Alina, bisa panggil Sonya saja, biar terlihat lebih akrab," ucap Sonya.
Alina pun tersenyum mengiyakan.
"Ada apa Sonya?" tanyanya untuk kedua kali.
"Apa kamu ada waktu luang malam ini?"
Alina mengernyitkan keningnya. "Kenapa?" tanyanya.
"Kalau kamu ada waktu kosong, aku mau ngajak kamu makan malam bersama keluargaku di rumahku," ucap Sonya.
"Aku?" ucap Alina heran sembari menunjuk dirinya sendiri.
Sonya menganggukan kepalanya membenarkan.
"Aku sendirian?" tanya Alina lagi dan lagi-lagi Sonya membenarkannya.
"Kenapa harus aku? Maaf, sebelumnya bukankah kita tidak sedekat itu untuk makan malam di kediaman kamu?" ucap Alina.
Dia sangat heran kenapa wanita yang baru dijumpainya itu ingin mengajaknya makan malam di kediamannya. Jika pun untuk urusan bisnis kenapa harus dia, bukankah orang tuanya memiliki hubungan pekerjaan dengan abangnya. Sementara dia hanya asisten abangnya saja yang tidak memiliki peran penting antara hubungan mereka. Alina jadi penasaran dengan niat baik wanita yang ada di depannya itu. Apakah ada udang di balik batu dari ajakan baik Sonya padanya?
"Aku hanya ingin berteman dengan kamu saja. Mungkin dengan dinner bersama keluargaku, kita bisa memulai pertemanan dengan baik."
Pertemanan? Apa dia tidak salah dengar, pikir Alina. Karena merasa ada yang aneh dari niat Sonya, akhirnya Alina pun menolaknya tanpa ragu. Namun dia tetap mengeluarkan kalimat yang sekiranya tidak akan melukai hati Sonya terluka karenanya.
"Maaf, Sonya, sepertinya aku nggak bisa. Sebentar lagi hari pernikahanku, selain banyak yang harus diurus, aku juga harus banyak beristirahat."
Sonya pun yang ditolak lantas hanya bisa tersenyum mengiyakan.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, mungkin next time kita bisa lunch bareng atau double date."
"Double date?" ucap Alina yang terdengar aneh di telinganya.
Kenapa wanita ini seperti sok akrab sekali padanya, padahal mereka baru bertemu hari ini, tapi Sonya seolah sudah mengenalnya cukup lama dengan ingin mengajaknya double date.
"Ya, double date, kamu bersama suami kamu dan aku bersama Morgan."
Perkataan Sonya yang tiba-tiba tersebut berhasil membuat Alina menatapnya dengan terkejut dan tak percaya. Morgan? siapa Morgan yang wanita itu maksud?
"Morgan?"
"Ya, Morgan abang kamu."
"Hah?" Alina terlihat bingung dengan perkataan Sonya. "Kamu pacaran dengan abangku?"
Setahu Alina, Morgan tidak memiliki pacar. Abangnya satu itu memang terlihat dekat dengan banyak wanita, namun tak ada satupun yang dikenalkannya kepada keluarganya meskipun hanya sekedar teman. Alina juga yakin jika Morgan saat ini memang belum punya pacar, apalagi orang Indonesia karena Ini pertama kalinya Morgan ke Indonesia setelah 3 tahun lalu saat liburan bersama teman-teman kampusnya.
Apa Morgan sebelumnya pernah bertemu Sonya saat dia berlibur ke sini? Tapi rasanya tidak mungkin sekali karena Alina sangat mengenal abangnya satu itu. Meskipun sering berantem, tapi dia sangat tahu bagaimana dan siapa saja yang dekat dengan abangnya itu walaupun Morgan tidak bercerita terus terang padanya.
"Apa kamu mau membantuku untuk jadian dengan Morgan?" tanya Sonya lagi yang membuat Alina semakin terkejut.
Apa dia tidak salah dengar? Ternyata Sonya sedang mendekati abangnya. Jadi niat baiknya yang ingin mengajak dia dinner bersama keluarganya tak lain hanya untuk mencari Morgan.
Alina benar-benar tidak percaya ada orang semacam Sonya di dunia ini. Baginya, apa yang Sonya lakukan saat ini benar-benar tidak tahu malu. Seharusnya sebagai seorang wanita, Sonya menjaga dirinya untuk mengejar-ngejar seorang pria. Namun yang dia lakukan justru sebaliknya, dia yang mengejar-ngejar seorang pria bahkan sampai rela mencari muka padanya untuk minta didekatkan kepada abangnya itu.
*
Setelah perbincangannya bersama Sonya, Alina pun masuk ke dalam ruangan Morgan. Dia berdiri di depan meja kerja abangnya itu dengan tangan yang bersedekap di dada.
Morgan yang melihat adiknya masuk tanpa mengetuk pintu dan kini berdiri di hadapannya dengan tatapan tak biasa terlihat heran.
"Kamu kenapa?" tanya Morgan.
"Abang lagi dekatin Sonya ya?" tanya Alina lebih dulu.
__ADS_1
"Sonya?"
"Ya, Sonya, anak pak Bernan."
"Nggak. Abang lagi nggak dekat dengan siapa-siapa kok. Kenapa memangnya?"
"Abang nggak usah bohong. Wanita-wanita abang 'kan banyak, apa Sonya termasuk salah satunya di antaranya?" tanya Alina lagi.
"Kamu kenapa sih, Al, datang-datang kok nanyain Sonya. Abang 'kan baru datang ke kota ini, mana mungkin Abang secepat itu dekat dengan seorang wanita. Memangnya kenapa dengan Sonya?" tanya Morgan yang mulai penasaran.
"Tadi dia ngajak aku untuk dinner bersama keluarganya. Katanya sih untuk menjalin pertemanan, tapi setelah ku tanya ternyata dia melakukan itu untuk mendapatkan hati Abang. Dia suka sama Abang," ucap Alina.
Morgan pun yang mendengar perkataan adiknya itu lantas tersenyum geli. Sudah bisa dia tebak jika Sonya menyukainya karena saat di ruang meeting tadi, beberapa kali dia sempat menangkap basah Sonya mencuri pandang padanya. Namun dia tidak terkejut lagi akan hal itu karena sudah terbiasa menghadapi wanita seperti itu.
"Ternyata kharisma abang begitu terpancar ya. Sampai-sampai wanita yang baru Abang temui dua kali saja sudah menyukai Abang," ucap Morgan dengan diiringi kekehan kecil.
"Kharisma apaan. Kharisma dari hongkong," ucap Alina dengan malas.
"Hongkong? Jauh banget sampai ke Hongkong, Al."
Alina memutar bola matanya jengah mendengar sahutan abangnya yahg tak ada habisnya itu.
"Bang, Alina mohon, berhentilah bermain-main dengan banyak wanita. Usia Abang itu sudah cukup matang, sudah pantas untuk menikah, carilah wanita baik-baik dan kenalkan pada mama dan papa."
Morgan bangkit dari duduknya dan mendekati adiknya itu. Dia merangkul bahu Alina dan mengajaknya berjalan menuju pintu keluar. Saat Alina sudah berada di luar ruangannya, Morgan pun melepas rangkulannya.
"Alina, adik Abang tersayang. Kamu fokus sama pernikahan kamu dulu saja ya, untuk urusan pernikahan Abang, nanti kita bicarakan setelah urusan kamu selesai, Oke."
"Tapi Abang harus mencari wanita baik-baik ya. Jangan–"
"Iya cerewet," sela Morgan. "Abang nanti akan cari wanita yang baik-baik, nggak kayak kamu yang sukanya ngomel mulu."
Alina pun yang disebut cerewet hendak protes, namun Morgan lebih dulu masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintu rapat-rapat.
"Dasar gila. Masak adiknya sendiri dikatain cerewet," gumam Alina sembari menatap pintu ruangan abangnya itu. Dia menyebikkan bibirnya, kemudian segera pergi dari sana menuju ruangannya.
__ADS_1