
Sepulang dari rumah Alfian, Rico segera mencari keberadaan kedua orang tuanya di rumah. Santi dan Irfan yang saat itu berada di kamar segera keluar saat mendengar putranya memanggil. Mereka terlihat heran saat melihat Rico yang tampak antusias menemuinya.
"Ada apa, Bang. Kenapa kamu terburu-buru begitu?" tanya Santi dengan heran.
"Ma, Alina sudah balik dari London."
"Oh ya? Di mana dia sekarang, Bang?"
"Di rumah bang Fian bersama keluarganya, Ma."
"Keluarganya? Maksud kamu…?"
"Iya, Ma. Alina bersama keluarganya, paman Thomas dan bibi Zara di sini," ucap Rico.
Santi menatap ke arah Irfan dengan tanda tanya di kepalanya.
"Abang, kamu nggak salah orang, 'kan? Thomas mana yang kamu maksud?" tanya Irfan kemudian kepada putranya.
"Rico nggak salah lihat, Pa. Paman Thomas yang waktu itu fotonya Rico tunjukkan sama Mama dan Papa beberapa hari lalu loh. Bahkan Rico sempat mengobrol dengan mereka."
Santi dan Irfan saling pandang dengan wajah terkejut.
"Pa, Thomas ada di sini?"
Santi membuka lebar senyum senangnya, dia tak menyangka jika teman lama mereka telah kembali setelah sekian lama. Santi maupun Irfan pun terlihat sangat antusias mendengar berita tersebut, mereka jadi tidak sabar ingin bertemu dengan teman lama mereka sekaligus keluarga Alina.
"Di mana mereka tinggal, Bang?" tanya Santi.
"Di komplek perumahan dekat Hotel Amanda, Ma," ucap Rico.
"Pa, mereka ada di sini, Ayo kita kunjungi mereka, Pa. Mama sudah sangat rindu sekali dengan kak Thomas dan Zara," ucap Santi dengan excited.
"Sabar, Ma. mereka baru sampai pagi ini, sebaiknya kita atur waktu yang tepat untuk bertemu."
"Benar apa kata Rico, Ma. Biarkan mereka istirahat terlebih dahulu, nanti kita atur waktu untuk bertemu. Tenang saja, sepertinya mereka akan menetap di sini karena mereka baru saja mendirikan perusahaannya di sini."
__ADS_1
"Oh ya? tanya Santi tak percaya dan langsung diiyakan Irfan.
"Perusahaannya sudah jalan beberapa hari ini dan minggu depan mereka akan mengadakan acara peresmian perusahaannya di salah satu hotel. Kita diundang mereka kok," ucap Irfan.
Santi menatap ke arah suaminya dengan terkejut.
"Papa serius? Kenapa nggak bilang-bilang sama Mama kalau kita diundang mereka, Pa?" tanya Santi yang seolah tak terima jika berita gembira ini tidak dia ketahui.
"Papa baru mendapat undangannya kemarin dan belum sempat memberitahu Mama. Rencananya sih mau surprise saja, tapi Rico ternyata sudah memberitahu kedatangannya hari ini."
Santi memajukan bibirnya, dia terlihat kesal akan suaminya itu, namun Irfan hanya menyengir melihat wajah lucu istrinya.
"Apa nama perusahaan mereka, Pa?" tanya Rico kemudian
"ZW corps."
Mendengar nama tersebut, Rico pun tampak mengernyitkan keningnya. Dia seperti tidak asing akan nama perusahaan itu dan setelah beberapa saat berpikir, akhirnya dia menyadari jika ZW corps adalah perusahaan di mana Alina akan bekerja.
"ZW corps? Alina bilang dia diterima kerja di sana, Pa."
"Hah?" Rico yang semula ngeblank kini seketika tersadar jika ZW corps tersebut adalah perusahaan milik keluarga Alina. Pantas saja Alina terlihat santai saja setelah kelulusannya, ternyata dia akan bekerja di perusahaan milik keluarganya sendiri. Mengingat jika ZW corps adalah perusahaan keluarga Alina, itu berarti Alina benar anak orang kaya.
Setelah perbincangan singkat bersama kedua orang tuanya, Rico masuk dalam kamar. Dia terlihat merenung memikirkan kenyataan jika Alina sebenarnya anak orang kaya. Entah kenapa dia memikirkan hal itu, tapi di hatinya ada yang sedikit mengganjal mengenai status mereka yang mungkin berbeda.
Jelas saja berbeda, di mana Alina berasal dari keluarga kaya raya, sementara dirinya hanya anak angkat di keluarga ini. Setelah semua ini hilang, maka dia akan kembali pada dirinya yang sebenarnya yaitu, orang biasa. Jika semua kekayaan ini telah berakhir, apakah Alina masih mau berhubungan dengannya? Hal itu yang sangat Rico takutka karena mengingat pengalaman percintaannya yang selalu gagal hanya karena materi. Apakah Alina akan meninggalkannya seperti mantan-mantannya yang sebelumnya?
...**...
Keesokan hari, Rico mengajak Alina untuk bertemu. Seharian memikirkan hal yang membuatnya pusing, membuat Rico ingin segera meluruskan pikiran negatifnya itu. mungkin dengan bertanya dan mendiskusikannya, bisa membuat overthinking Rico berkurang.
Entahlah dia sendiri tidak tahu kenapa saat mengetahui kenyataan tentang Alina membuatnya jadi overthinking seperti ini.
Saat ini Rico sudah berada di sebuah restoran, dia sengaja mengajak Alina bertemu siang hari karena sekaligus ingin mengajak pacarnya itu makan siang bersama. Hampir setengah jam menunggu dan makanan yang dipesan Rico pun telah sampai, namun dia tak melihat tanda-tanda kehadiran Alina di sana.
Karena merasa sudah terlalu lama menunggu, Rico akhirnya memilih untuk menghubungi Alina. Siapa tahu pacarnya itu sedang ada kesibukan yang membuatnya terlambat datang dan lupa untuk menghubunginya, namun baru saja Rico hendak menekan tombol panggil pada layar ponselnya, saat itu juga dia melihat Alina turun dari mobil bersama Morgan.
__ADS_1
Dia yang berniat bertemu Alina karena ingin membicarakan hal serius, kini terlihat ragu karena Morgan hadir di sana. Dia sempat berharap jika Morgan segera pergi setelah mengantar Alina dan meninggalkan adiknya itu sendirian masuk ke dalam restoran, namun saat melihat pria itu mengikuti Alina dari belakang, dia hanya bisa menghela nafasnya. Jika Morgan ikut bersama mereka, itu artinya dia tidak bisa bertanya dengan leluasa kepada Alina.
Sepertinya dia harus menunggu waktu yang pas di lain hari untuk membicarakan hal ini.
Rico yang tidak bisa melakukan apa-apa hanya bisa pasrah dan tersenyum saat melihat pacarnya itu berjalan menghampirinya.
"Hai, Co, sudah lama ya? Maaf ya aku terlambat, soalnya nunggu bang Morgan dulu tadi. Dia maksa banget mau ikut," ucap Alina dengan tidak enak hati karena sudah terlambat hampir setengah jam.
*Nggak apa-apa kok, makanannya juga baru datang. Ayo kita langsung makan saja."
"Hei, Co," sapa Morgan kepada Rico.
"Hai, Bang. Apa kabar," sapa Rico balik mencoba untuk basa-basi.
"Baik. Sorry ya kalau ganggu waktu kencan kalian, aku bosen di rumah," ucap Morgan.
"Nggak papa kok. Belum makan 'kan? Ayo makan dulu."
Rico kembali memanggil pelayan restoran yang ada di sana untuk memesan makanan karena makanan yang dipesannya hanya cukup untuk porsi berdua. Lagi pula dia tidak ekspek jika Morgan akan ikut bersama mereka.
"Bang, setelah makan nanti Abang pulang ya. Aku pulang sama Rico saja," ucap Alina saat pelayan yang Rico panggil telah selesai mencatat pesanan mereka dan pergi dari sana.
"Dih, kenapa jadi ngusir," ucap Morgan yang seolah tidak mau pergi dari sana.
*Abang, aku 'kan butuh–"
"Butuh apa?" sela Morgan dengan cepat sebelum Alina menyelesaikan perkataannya.
"Butuh privasi untuk ngobrol dengan pacarku ," jawab Alina dengan sedikit mendelikkan matanya. Membuat Morgan dengan cepat meraup muka adiknya itu dengan telapak tangannya.
"Sudah centil ya kamu sekarang, pakai privasi-privasi segala lagi. Abang bilangin sama papa lo," ancam Morgan yang ternyata tak berpengaruh kepada Alina.
"Adukan saja, Alina nggak takut kok. Papa juga pasti ngerti kalau anak gadisnya juga punya privasi. Justru Abang yang akan aku laporkan sama bang Fian, mau? Biar tahu rasa karena sudah mengganggu waktu pacaran adik kesayangannya," ucap Alina yang balik mengancam.
Kemudian dia menjulurkan lidahnya kepada Morgan sebagai ejekan.
__ADS_1
"Iya deh adik kesayangan bang Fian," ucap Morgan dengan malas.