Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
86. Sikap Ramah Rebecca


__ADS_3

Sembari menikmati makan siangnya yang terlambat, mereka mengobrol santai sambil sesakali membalas chat dari pasangan masing-masing. Tak ketinggalan Rena juga menyelipkan beberapa pertanyaan yang masih mengganjal di hatinya tentang Alina.


"Al, kamu bisa banget ya hidup seadanya. Padahal selama ini kamu hidup bergelimang harta loh."


"Awalnya memang sulit, tapi lama-lama juga terbiasa kok."


"Berapa lama kamu bisa menyesuaikan diri dengan keadaan?" tanya Rena penasaran.


"Kenapa? Kamu mau coba juga?" ucap Alina dan langsung dijawab Rena dengan gelengan kepala yang cepat. Mana mau dia hidup susah, meskipun hanya berpura-pura. Cukup temannya itu saja yang melakukan hal gila seperti itu.


"Empat bulanan deh kayaknya. Tapi aku mulai enjoy setelah satu tahun."


"Satu tahun waktu yang lama, Al. Kalau aku jadi kamu, mungkin aku sudah gila kali ya."


Alina tertawa mendengar perkataan Rena. Memang satu tahun waktu yang cukup lama, dia pun saat itu hampir tidak bisa bertahan dengan uang seadanya di kota besar seperti Inggris. Namun karena tekadnya, akhirnya dia bisa melewati ujian itu, meski sebuah penyakit harus dia dapatkan untuk bertahan hidup di sana.


Saat itu makanan di piring mereka sudah habis. Sebelum pergi dari sana, mereka mengistirahatkan perutnya yang kekenyangan itu terlebih dahulu.


"Oh ya, kata Andi, kalian akan menikah dalam dua bulan ini?" ucap Rena yang teringat akan perkataan pacarnya itu beberapa hari lalu.


Andi juga sudah bertanya hal itu kepada Rico dan dibenarkannya. Namun Rena ingin bertanya langsung kepada Alina akan hal tersebut.


"Seperti yang kamu dengar," sahut Alina.


"Kenapa cepat banget dua bulan lagi? Apa persiapannya sudah matang?" tanya Rena.


"Tentu. Rico sudah menghubungi pihak gedung dan semuanya beres, tinggal menunggu H-3 saja untuk pengecekannya. Gaun pengantin dan keluarga juga sudah diambil alih oleh mamaku dan mama Rico. Sisanya bisa diatur," ujar Alina menjelaskan sedikit detailnya.


"Kalian mau kado pernikahan apa dariku dan Andi?" tanya Rena kemudian.


"Seikhlasnya saja. Kamu sama Andi kapan nyusul?" tanya Alina.


Rena yang mendengar temannya itu berkata seperti itu lantas menghela nafasnya.


"Entahlah. Dia nggak ada pembicaraan ke sana," ucap Rena dengan tak semangat.


"Mungkin saja Andi akan memberi surprise seperti saat lamaran kemarin. Sepertinya dia suka memberi kejutan untuk kamu deh."

__ADS_1


"Nggak mungkin, Al. Lamaran sama nikah mah beda, nggak bisa disamaain."


"Yasudah, kalau begitu tunggu saja."


Lagi-lagi Rena harus menghela nafasnya mendengar perkataan Alina. Menunggu? Hah, sepertinya dia sudah sejak lama menunggu hal baik tersebut yang tak pernah diwujudkan pacarnya itu.


...*...


Karena merasa cukup berada di sana, Rena mengajak Alina keluar dari restoran itu. Tak punya tujuan, Rena pun berinisiatif mengajak Alina untuk berbelanja. Temannya itu kini adalah orang kaya, jadi dia ingin mengajak Alina menghamburkan uang di setiap toko yang ada di dalam mall itu.


"Al, kita shoping yuk. Kamu 'kan sekarang sudah sudah kembali ke setelan pabriknya nih, orang kaya gitu. Jadi hari ini kita bisa puas belanja dong?" ucap Rena dengan menarik turunkan alisnya.


"Aku 'kan sudah bilang sama kamu, kalau aku nggak suka belanja, Ren."


Rena mendecakkan lidahnya mendengar jawaban Alina. Dia menggenggam tangan Alina dengan kedua tangannya, memasang wajah imutnya untuk membujuk Alina agar mau diajak belanja. Dia sangat ingin berbelanja bersama Alina dan bersenang-senang dengan barang-barang keluaran terbaru.


"Aku nggak mau, Ren. Kita pulang saja ya," ucap Alina menolak untuk kesekian kalinya.


"Nggak asik banget sih. Ayolah, Al. Please," ucap Rena lagi dengan nada memohon. Membuat Alina memutar bola matanya malas dan terpaksa mengiyakan ajakan temannya yang super boros itu.


Menyusuri beberapa tokoh di sana, Rena menarik tangan Alina menuju sebuah toko perhiasan. Sudah lama tidak membeli perhiasan, dia jadi ingin menambah beberapa koleksi perhiasannya.


"Kita ngapain ke sini sih, Ren," ucapan Alina dengan heran. Jangan bilang jika Rena ingin membeli perhiasan.


"Ya mau lihat-lihat perhiasan lah, mau ngapain lagi," jawab Rena yang masih menarik tangan Alina memasuki toko tersebut.


Dan saat dugaannya benar, Alina pun menghela nafasnya sembari memutar bola matanya malas.


Meskipun jarang belanja, tapi Alina juga sering menemani kakak iparnya dulu berbelanja. Dan sepertinya Marissa tidak seboros Rena yang selalu menghamburkan uangnya untuk sebuah barang yang tidak terlalu penting. Namun karena Rena yang tidak bisa ditolak, akhirnya Alina pun mengikuti saja ke mana kaki wanita itu melangkah. 


"Selamat datang, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" sapa pelayan di sana menghampiri Alina dan Rena.


"Kita mau lihat-lihat dulu," sahut Rena.


Pelayan itu pun mengiyakan, dia membiarkan Rena dan Alina melihat-lihat perhiasan di sana sambil mengawasinya dari jarak tertentu.


"Apa ada yang menarik perhatian kamu, Al?" tanya Rena yang matanya fokus kepada etalase di sana.

__ADS_1


"Aku nggak tertarik dengan perhiasan. Kamu tahu sendiri 'kan kalau aku jarang memakai perhiasan. Perhiasanku di rumah masih banyak dan itu juga digunakan hanya untuk acara formal saja," ucap Alina.


Rena pun mengalihkan pandangannya kepada Alina saat mendengar perkataan temannya itu. Dia melirik Alina dari atas hingga ke bawah, dan benar saja jika tidak ada satupun perhiasan ditubuhnya, kecuali anting di telinganya. 


Rena menelan salivanya, dia tahu jika penampilan Alina sudah terlihat berkelas tanpa perhiasan di tubuhnya. Namun dia masih sangat heran kenapa ada orang kaya seperti Alina yang tidak mau berpenampilan hedon, di saat banyak orang yang berlomba-lomba ingin menunjukkan kekayaannya di depan umum.


"Dasar orang kaya aneh," gumam Rena dengan menaikkan salah satu sudut bibirnya.


Rena pun kembali melihat-lihat perhiasan di sana dengan ditemani Alina, namun belum lama dari itu, terdengar suara seorang wanita memanggil nama Alina dari belakang mereka.


"Alina."


Rena dan Alina menoleh kepada sumber suara. Saat melihat siapa yang datang, Rena yang tak mengenalnya hanya diam saja, sementara Alina terlihat mengerutkan keningnya.


"Hai, Al," sapa wanita itu yang adalah Rebecca.


"Kenapa ketemu sama dia terus sih. Nih orang ngikutin aku atau gimana," gumam Alina dalam hati.


"Kamu di sini juga, Al.Mau beli perhiasan untuk siapa?" tanya Rebecca dengan suara ramahnya. Nada suara yang berbeda dari terakhir mereka bertemu, membuat Alina sangat heran. 


"Hanya menemani temanku," jawab Alina dengan tak minat.


"Kamu nggak mau cari perhiasan juga? Atau mau aku bantu carikan? Aku tahu loh berlian yang baru saja launching kemarin malam. Stoknya terbatas, tapi aku pikir masih ada satu di toko ini. Ayo kita cari," ucap Rebecca. Dia hendak menarik tangan Alina, namun dengan cepat Alina menghindar dari wanita itu. 


"Makasih sebelumnya, tapi kamu nggak perlu repot-repot membantuku karena aku nggak minat untuk membeli perhiasan di sini," ucap Alina dengan suara datarnya.


Rebecca menggulung bibirnya ke dalam, merasa malu akan penolakan Alina. Namun dia berusaha untuk mengabaikan hal itu dan terus bersikap ramah kepada Alina agar bisa dekat dengan wanita itu. Selama ini dugaannya tentang Alina ternyata benar, Alina terbukti bukan orang sembarangan dan dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini untuk dekat dengan Alina.


"Kamu serius nggak mau beli perhiasan di sini? Aku beneran tahu loh–"


"Heh." Rena menyela perkataan Rebecca. Dia maju dua langkah untuk berdiri tepat di depan wanita itu dengan wajah sombongnya. "Kamu nggak dengar Alina bilang apa? Dia nggak butuh bantuan kamu, lagi pula jika dia mau kamu nggak perlu repot-repot membantunya karena aku lebih mengerti perhiasan lebih dari dirimu. Kalau kamu mau cari perhiasan, ya cari saja sendiri, jangan ajak-ajak temanku."


Seakan dibantai habis oleh Rena, Rebecca pun terlihat sangat malu. Dia tidak percaya jika Alina dan temannya mempermalukannya di depan umum.


"Ayo, Al, kita pergi dari sini. Masih ada toko tokoh yang lain kok yang lebih bagus dari tokoh ini," ucap Rena kemudian sembari melirik tajam kepada Rebecca. 


Dia pun menarik tangan Alina dan langsung membawa temannya itu keluar dari sana. Rasanya kesal sekali melihat Rebecca yang seolah sok ramah kepada Alina. Apa wanita itu pikir dia tidak mengerti mengenai perhiasan? Rena membuang nafasnya kasar, dia benar-benar terlihat kesel dengan wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2