Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
95. Insomnia


__ADS_3

Tidak terasa besok adalah hari pernikahan Alina dan Rico. Ternyata waktu cepat sekali berlalu dan sebentar lagi Alina dan Rico akan segera menjadi sepasang suami istri. Mereka masih tidak menyangka jika pertemuannya yang dipaksa oleh Andi akan membuat mereka menjadi sepasang kekasih dalam hitungan jam. Selain berterima kasih, sepertinya mereka harus memberikan hadiah spesial kepada Andi karena sudah mempertemukan mereka.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, namun mata Alina tak juga kunjung terkejam. Dia kesulitan untuk tidur karena memikirkan hari esok yang sudah tak sabar dia nantikan. Alina terlihat bingung mau melakukan apa di tengah insomnia-nya. Karena sudah lama tidak mengobrol dengan teman dekatnya, Alina pun memiliki niat untuk menghubungi Andi. Dia yakin jika temannya satu itu belum tidur saat ini. 


Dan benar saja, saat Alina mencoba menghubunginya, pada dering kedua panggilannya temannya itu langsung menjawab panggilannya.


"Hei calon pengantin, ngapain nelpon malam-malam," ucap Andi pada kalimat pertamanya saat panggilan terhubung. 


"Kamu di mana? Kenapa belum tidur?" tanya Alina.


Andi tertawa geli mendengar pertanyaannya.


"Kamu sedang bertanya dengan aku atau sama Rico? Perhatian banget," ucap Andi.


"Aku bosan, nggak bisa tidur. Temenin aku ngobrol ya," ucap Alina.


"Kenapa nggak minta temenin Rico saja, dia 'kan calon suami kamu."


"Biarin dia istirahat, besok kita akan ada banyak acara."


"Terus kamu sendiri kenapa nggak istirahat, katanya banyak acara besok?"


"Aku nggak bisa tidur. Kamu temenin aku ngobrol sampai aku tertidur."


"Kamu nggak takut Rico cemburu telponan sama aku?" tanya Andi.


Alina menyebikkan bibirnya. "Ngapain cemburu sama kamu. Yang ada Rena yang akan cemburu sama aku."


"Aisshh. Kamu mau buat Rena cemburu?"


"Memangnya mau? Aku sih bisa saja, lagipula kamu 'kan nggak ada gerakan mau halalin dia. Lebih baik kalian berantem dan putus, biar Rena bertemu pria yang lebih dewasa dan mau menghalalkannya."


"Apaan sih, Al. Kamu kok jadi serius ngomongnya."


"Kenapa? Takut?"


Andi di sebrang dana memutar bola matanya malas. "Nggak. Siapa yang takut," jawabnya dusta.


"Yasudah. Apa aku jodohkan Rena dengan bang Morgan saja ya?"


Andi yang mendengar perkataan Alina pun lantas bangkit dari rebahannya. Meski tahu jika Alina tak serius dengan perkataannya, tapi dia tetap terkejut mendengar ucapannya itu.


Banyak hal yang terjadi karena sebuah candaan dan ketidaksengajaan. Jangan sampai apa yang Alina katakan dengan bercanda itu menjadi kenyataan sekaligus bencana untuknya.


"Kalau sampai macam-macam dengan Rena, aku nggak akan tinggal diam ya, Al. Awas saja kamu."


Alina menahan tawa. Mengobrol dengan Andi bukannya membuat dia jadi mengantuk, justru membuatnya semakin tak bisa tidur karena kebodohan temannya itu.

__ADS_1


Saat itu ponsel Alina berbunyi aneh, dia melihat layar ponselnya yang ternyata Rico meneleponnya. 


"Sudah dulu, Ndi, Rico nelpon. Bye."


Tanpa menunggu sahutan dari Andi, Alina menutup panggilannya dan segera menjawab panggilan dari calon suaminya itu.


"Halo, Al," ucap Rico lebih dulu.


"Co, kamu belum tidur?" tanya Alina dengan heran. Dia pikir pria itu sudah tidur sejak satu jam lalu.


"Aku terbangun karena telpon dari Morgan. Nggak sengaja lihat status whatsapp kamu sedang online. Kamu lagi ngapain jam segini belum tidur. Lagi telponan sama siapa?"


"Sama Andi. Ngapain bang Morgan nelpon kamu?" tanya Alina penasaran.


"Bukan hal serius. Dia hanya mengisengiku saja. Kamu ngapain teleponan sama Andi, tumben banget?"


"Kenapa, kamu cemburu ya?" tanya Alina. Dia menahan tawa akan pertanyaannya itu.


"Iya, aku cemburu. Memangnya kenapa, nggak boleh?" tanya Rico.


"Kamu seriusan cemburu dengan Andi?" tanya Alina. 


Kini dia sedikit serius dengan pertanyaannya. Yang benar saja jika Rico benar-benar cemburu dengan temannya sendiri.


"Selain dari pada keluarga kita, aku pasti akanbcemburu. Apalagi dengan Andi, dia penakluk wanita, Al, bisa saja kamu tergoda olehnya." 


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Rico heran.


"Kamu lucu sih. Andi 'kan yang sudah memperkenalkan kita berdua, Co, kenapa kamu harus cemburu padanya? Lagi pula Andi juga sudah punya Rena, apa yang harus ditakutkan?" ucap Alina seolah aneh jika Rico l mencemburuinya dengan Andi. 


"Sayang, walaupun dia sudah menikah sekalipun, tapi kalian bukan saudara, akan ada masa di mana setan menggoda dan kalian akan saling menyukai satu sama lain." 


Alina terdiam mendengar perkataan Rico. Baiklah, sepertinya pria itu sedang tidak  bercanda dengan perkataannya.


"Oke-oke. Sorry kalau sudah membuat kamu cemburu. Janji aku nggak akan teleponan sama Andi lagi," ucap Alina yang berusaha mengalah.


"Kamu berjanji?" Atanya Rico dan Alina pun mengiyakan. 


"Saat aku sudah menjadi istri kamu nanti, semua hal yang aku lakukan pasti akan kamu ketahui. Begitu pun sebaliknya. Nggak akan ada rahasia di antara kita berdua sampai kapanpun," ucap Alina.


Perkataan itu sering sekali mereka ucapkan karena mereka berdua berusaha untuk meminimalisir rahasia di antara satu sama lain. Apalagi setelah menikah nanti Rico dan Alina sepakat untuk saling terbuka satu sama lain dan tidak menyimpan rahasia apapun. 


"Kamu belum mau tidur?" tanya Alina kepada Rico.


"Kamu tidurlah lebih dulu, setelah itu baru aku akan tidur," ucap Rico.


"Aku belum bisa tidur." 

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Rico lagi.


"Insomnia. Besok adalah hari penting kita, aku terlalu memikirkannya sampai nggak bisa tidur," ucap Alina.


"Kalau begitu jangan dipikirkan," ucap Rico dengan santainya.


"Siapa yang mau memikirkan sampai nggak tidur, Co? Aku mau tidur, tapi aku nggak bisa."


"Kalau begitu pejamkan matamu."


"Pejamkan mata?" ucap Alina dengan heran.


"Ya. Pejamkan matamu dan jangan dibuka sampai kamu benar-benar terlelap."


Alina menghela nafasnya. Dia mencoba seperti apa yang Rico katakan, meminjamkan matanya dan memaksakan dirinya untuk tertidur. Namun sampai satu jam berlaluvpun rasa kantuk tak kunjung datang dan Alina masih tersadar sampai waktu menunjukkan hampir setengah satu pagi.


Alina menatap layar ponselnya, melihat panggilan yang masih terhubung. Dia berpikir jika Rico telah tidur, namun saat dirinya bersuara Rico pun menyahut, yang menandakan jika pria itu belum tidur.


"Kenapa masih belum tidur?" tanya Rico di seberang sana.


"Aku nggak bisa tidur. Sudah 1 jam aku meminjamkan mata, tapi aku nggak bisa tidur juga."


"Al, besok adalah hari penting kita, aku nggak mau kamu kelelahan sebelum acara selesai. Aku bisa saja meminta kamu untuk pergi lebih dulu sebelum acara selesai, tapi aku yakin kamu nggak akan mau melakukan itu."


"Ya kamu benar, aku nggak mungkin mengecewakan orang tua kita yang sudah sangat menantikan hari esok. Tapi mau bagaimana lagi? Aku benar-benar enggak bisa tidur, Co."


Rico menghela nafasnya, dia mulai berpikir bagaimana caranya untuk membuat calon istrinya itu tertidur. 


Setelah hampir 2 menit berpikir, akhirnya Rico pun menemukan jawabannya. 


"Apa yang membuat kamu merasa bosan?" tanya Rico.


"Bosan?" 


Alina tampak memikirkan pertanyaan Rico. Apa yang membuatnya bosan?


"Sepertinya bermain game. Kenapa memangnya?" tanya Alina. 


"Apa kamu mempunyai game di ponselmu?" tanya Rico.


"Ada dua, bawaan dari ponsel."


"Kalau begitu mainkan salah satunya yang paling membosankan. Melakukan hal yang membosankan akan cepat membuat kamu merasa ngantuk," ucap Rico menjelaskan.


Alina masih tak mengerti maksud Rico, namun dia tetap mengikuti saja rules dari pria itu. Memainkan game yang menurutnya sangat membosankan dan tak sampai setengah jam dari itu Alina terlihat mengoam. Dia bahkan tak sadar jika matanya mulai mengantuk.


Alina terus memainkan game itu sambil rebahan dan tak lama kemudian dia sudah kehilangan kesadarannya, terlelap dengan ponsel yang menyala.

__ADS_1


Rico yang tak lagi mendengar suara Alina hingga pukul 02.00 segera menutup panggilannya. Dia pikir Alina sudah tertidur dan kini waktunya untuk dia yang mengistirahatkan tubuhnya agar besok bisa menjalani satu hari yang penuh dengan begitu banyaknya acara.


__ADS_2