
Semenjak pembicaraannya bersama Alina di mobil kemarin, Rico terus memikirkan bagaimana caranya membuat momen lamaran sederhana namun berkesan seperti permintaan Alina. Dia belum ada pengalaman melamar seseorang, jadi dia tidak tahu harus mengisi momen indah itu seperti apa.
Apa dia harus bertanya kepada kedua orang tuanya? Karena bagaimanapun mereka pernah merasakan masa muda seperti dirinya saat ini dulu. Tapi setelah dipikir-pikir, sebaiknya tidak perlu. Dia tidak mungkin bertanya kepada kedua orang tuanya, sementara dia sendiri ingin memberi kejutan kepada mereka setelah berhasil melamar Alina nantinya.
Malam itu Rico tidak bisa tidur karena memikirkan bagaimana cara membuat lamaran yang sederhana namun berkesan. Setelah hampir 30 menit memejamkan matanya dengan pikiran yang bekerja, akhirnya Rico memutuskan untuk menghubungi Andi. Sebaiknya dia bertanya kepada temannya itu untuk meminta pendapat. Walaupun Andi juga belum pernah melamar seseorang, setidaknya pria itu lebih pintar darinya jika membahas soal percintaan.
Rico membuka matanya, meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Begitu benda pipih tersebut didapat, Rico segera mencari kontak Andi dan melakukan panggilan suara. Semoga saja Andi belum tidur, pikirnya.
Cukup lama Andi menjawab panggilannya dan setelah panggilan terhubung, suara dentuman musik yang keras membuat Rico seketika menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Astaga nih anak," gumam Rico.
Karena masih sayang dengan gendang telinganya, akhirnya Rico mengaktifkan mode speaker pada panggilannya. Suara musik yang sangat kencang kembali terdengar, Rico hanya bisa menggelengkan kepalanya dan fokus pada tujuan awalnya menelpon Andi.
"Halo."
Panggilan pertama tak ada sahutan dari Andi.
"Ndi?"
Panggilan kedua pun masih dengan respon yang sama.
Rico mengernyitkan keningnya sembari menatap layar ponselnya yang masih terhubung.
"Andi? Woy?" ucap Rico untuk ketiga kalinya dengan volume yang sedikit kencang.
"Eemm."
Suara deheman seorang pria kini terdengar di telinga Rico dan dia meyakini jika suara tersebut berasal dari temannya yaitu, Andi. Rico kembali memanggil nama temannya itu beberapa kali sampai Andi menyahuti panggilannya.
"Co, itu suara kamu?"
Mendengar pertanyaan temannya itu, Rico pun mulai menebak jika temannya itu pasti saat ini sedang tidak sadar, alias mabuk. Karena tak mungkin mengobrol hal serius di situasi seperti ini, akhirnya Rico memutuskan panggilannya begitu saja. Dia tidak berminat mendengar bacotan Andi yang tidak jelas di saat mabuk. Lebih baik dia menghampiri pria itu besok saat waktu makan siang saja.
__ADS_1
Rico meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas. Matanya menatap ke arah langit-langit kamar dalam diam hingga beberapa menit berlalu akhirnya kantuk pun mulai datang. Tak ingin membuang kesempatan, Rico pun memejamkan matanya. Memaksa untuk tidur sampai kesadarannya benar-benar tenggelam ke alam mimpi.
...**...
Keesokan pagi setelah membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk pergi bekerja, Rico segera turun ke lantai satu untuk menikmati sarapan pagi bersama kedua orang tuanya. Di bawah sana Santi dan Irfan sudah mulai memakan makanannya lebih dulu karena Rico yang terlambat bangun.
"Hai, Ma, Pa," sapa Rico setiba di sana.
Dia mendudukkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Santi.
"Hai, Bang. Kenapa terlambat bangunnya?" tanya Santi.
"Maaf, Ma. Rico semalam baru bisa tidur jam 2 pagi, jadi bangunnya terlambat," ucap Rico sembari mulai memasukkan makanan ke dalam piringnya.
"Kenapa, Bang? Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Santi lagi. Tak biasanya putranya itu kesulitan tidur.
"Hanya masalah kecil, Ma. Mama nggak perlu khawatir kok," ucap Rico dengan tersenyum. Berusaha meyakinkan mamanya agar tidak khawatir atas apa yang sedang dia pikirkan.
Kini giliran Irfan yang mengajukan pertanyaan padanya.
"Bukan, Pa. Pekerjaan Rico aman kok," ucapnya dengan yakin.
"Lalu apa, Bang? Apa kamu sedang bertengkar dengan Alina?" tanya Santi lagi yang kini mulai penasaran. Apa putranya itu sedang ada masalah pada percintaannya, pikrinya.
Rico yang saat itu baru saja hendak memakan makanannya lantas mengurungkan niatnya dan meletakkan sendok yang dia pegang ke atas piring.
"Rico dan Alina baik-baik saja, Ma. Mama nggak perlu mengkhawatirkan Rico, ya. Benar-benar masalah kecil kok, jadi Mama tenang saja oke."
Rico kembali berusaha meyakinkan mamanya jika semua baik-baik saja. Sepertinya dia salah memberi alasan mengenai keterlambatannya. Sebaiknya tadi dia berbohong saja karena jika sudah begini, mamanya itu pasti akan memikirkan dirinya dan dia tidak bisa melihat mamanya khawatir atas dirinya.
"Bang, kalau kamu ada masalah, cerita sama Mama ya, Nak. Jangan memendamnya sendirian. Kita di sini sangat menyayangi kamu, kita nggak mau kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk sama kamu," ucap Santi yang terdengar sangat tulus. Membuat hati Rico bergetar mendengarnya.
Kenapa wanita sebaik ini harus menjadi ibu angkatnya sih? Kenapa tidak sebagai ibu kandungnya saja?
__ADS_1
Rico selalu memikirkan hal itu, namun sedetik kemudian dia selalu mengusir perasaan berandainya itu. Dia tidak boleh berandai-andai dengan sesuatu yang tidak ditakdirkan untuknya. Dia selalu percaya jika apapun yang Tuhan berikan kepadanya adalah yang terbaik dari semua andai yang pernah dia pikirkan. Justru dengan berandai-andai seperti ini, dia merasa jika dirinya saat ini sedang tidak bersyukur atas apa yang Tuhan berikan padanya.
"Benar kata Mamamu, Bang. Kalau ada masalah, cerita sama kita. Jangan memendamnya sendiri."
Irfan pun ikut menimpali perkataan istrinya. Membuat Rico seketika tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara pria itu.
Rico tersenyum kepada kedua orang tuanya.
"Rico pasti akan cerita kalau ada masalah, Ma, Pa. Tapi untuk saat ini Rico belum bisa cerita karena memang ini bukanlah masalah besar kok."
Karena Rico yang sejak tadi terus meyakinkan mereka jika yang dia pikirkan hanyalah masalah kecil, akhirnya Santi maupun Irfan percaya kepadanya dan membiarkan putranya itu menyelesaikan sendiri masalah pribadinya. Mereka juga harus memberi ruang kepada Rico untuk bergerak sendiri agar tak selalu bergantung kepada orang lain. Hal yang selalu Irfan lakukan saat dia muda dulu.
Sarapan pun kembali berlanjut. Tak lagi membahas obrolan yang sudah ditutup dengan saling percaya satu sama lain.
Sedetik kemudian, Santi tiba-tiba terpikir akan hubungan putranya bersama Alina.
"Oh ya, Bang. Bagaimana dengan hubungan kamu dan Alina?"
"Kita baik-baik saja kok, Ma" jawab Rico disela kunyahannya.
"Maksud Mama, hubungan kalian bagaimana kedepannya? Apa kalian sudah ada keinginan untuk menseriusi hubungan kalian?"
Mendengar pertanyaan mamanya, Rico pun memperlambat ritme makannya. Dia bingung harus menjawab apa karena sebenarnya dia memang belum bisa mengatakan kepada mamanya atas apa yang sedang dia sembunyikan mengenai dirinya yang akan melamar Alina. Sementara dia juga nggak mungkin berbohong kepasa mamanya itu.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.
__ADS_1