Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
26. Lingkungan Yang Tidak Baik


__ADS_3

"Em, Rico minta aku pindah dari sini, Bang," ucap Alina dengan ragu.


"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan rumah ini?" tanya Alfian heran.


"Em…" Alina terlihat semakin ragu untuk menceritakan apa yang dikhawatirkan Rico padanya. Dia takut jika abangnya itu juga akan khawatir seperti Rico jika mengetahui apa yang sedang terjadi pada lingkungan tinggalnya ini.


Karena tak ingin membahasnya saat ini, akhirnya Alina mengalihkan pertanyaan abangnya itu dengan alasan jika dia harus segera bersiap untuk pergi kuliah. Alfian tahu jika Alina sedang menghindar dari pertanyaannya, namun dia tak bisa memaksanya apalagi waktu juga sudah menunjukkan pukul delapan lewat. Yang di mana kurang dari satu jam lagi waktu kuliah adiknya itu akan segera dimulai.


Seperginya Alina, Rena pun ikut menyusul Alina ke kamarnya. Dia juga harus bersiap untuk pergi dari sana menuju kantor pacarnya untuk segera menyelesaikan masalahnya satu persatu, yang akan dimulai dengan berkata jujur kepada Andi.


Baru saja Rena bangkit dari duduknya, tiba-tiba saja punggungnya terasa sakit. Dia mengaduh sehingga membuat Alfian menatap ke arahnya dengan heran.


"Kamu kenapa?" tanyanya.


"Em, nggak papa."


"Kamu yakin?" tanya Alfian memastikan karena apa yang dia lihat sepertinya Rena sedang tidak baik-baik saja dengan tubuhnya.


"Tolong katakan pada Alina untuk mengganti kasurnya. Tubuhku sakit semua tidur di kasurnya yang sudah berusia lebih dari tiga tahun itu."


Setelah berkata seperti itu, Rena tersenyum tipis dan segera berlalu dari sana. Sebenarnya dia tidak bermaksud berkata seperti itu kepada Alfian, namun entah kenapa mulutnya begitu lancang mengatakan apa yang sedang otaknya ini pikirkan.


*


Setelah selesai bersiap dan taksi pesanan Rena juga sudah tiba di depan kediaman Alina, mereka segera keluar dari rumah kontrakan itu.


"Bukannya kemarin mobil yang dibawa Abangmu beda merek ya, Al?" tanya Rena begitu menyadari jika mobil yang dibawa Alfian ternyata berbeda dari yang terakhir dia lihat.


"Ini mobil rental, jelas saja berbeda-beda," ucap Alfian mendahului Alina.


Mendengar jawaban Alfian, Rena mengernyitkan keningnya heran. Namun dia memilih untuk mengiyakan ucapannya karena tak berani bertanya kembali.


Rena berjalan mendekati taksi pesanannya dan diikuti oleh Alina. Sementara Alfian memilih masuk ke dalam mobil lebih dulu.

__ADS_1


"Hati-hati ya, Ren. Bicaralah yang jujur dengan Andi. Dia akan mengerti jika kamu menjelaskan semuanya dengan jujur," ucap Alina sebelum mereka berpisah.


Rena menganggukkan kepalanya mengerti, setelah itu dia segera masuk ke dalam taksi pesanannya. Begitu mobil yang membawa Rena pergi, Alina pun masuk ke dalam mobil dan Alfian pun segera melajukan mobilnya menuju kampus sang adik.


Dalam perjalanan menuju kampus adiknya, tiba-tiba Alfian teringat dengan percakapan sang adik bersama pacarnya saat di rumah beberapa menit lalu. Di sangat penasaran kenapa Rico menginginkan Alina pindah dari tempat tinggalnya yang sekarang. Tidak mungkin jika Rico meminta Alina yang sudah tinggal bertahun-tahun di sana untuk pindah tanpa alasan yang masuk akal.


Alfian melirik ke arah adiknya sejenak.


"Al."


Alina yang saat itu sedang fokus pada laptop miliknya segera menoleh kepada Alfian begitu abangnya itu memanggil.


"Kenapa, Bang?" tanya Alina.


"Kamu belum menjelaskan sama Abang tentang kepindahan kamu loh, Al. Apa yang kamu sembunyikan dari Abang?" tanya Alfian tanpa basa-basi.


Mendengar perkataan abangnya, Alina tidak memiliki pilihan lain selain menceritakan semuanya kepada abangnya itu. Karena bagaimanapun juga, dia tidak akan bisa menyimpan sesuatu dari abang kesayangannya itu. Dari pada Alfian tahu semua itu dari orang lain, lebih baik dia yang memberitahunya sejak awal.


"Kemarin Rico bilang ingin mencarikan tempat tinggal untuk Alina, Bang. Alina sudah menolaknya, tapi Rico tetap saja memaksa. Alina juga nggak nyangka kalau dia akan secepat ini menemukan tempat tinggal untuk Alina."


Alina menggigit bibir bawahnya, dia menghela nafasnya sejenak sebelum menceritakan semuanya kepada Alfian. Tentang para tetangganya yang suka bergosip tentang dirinya yang sering membawa abangnya itu masuk ke dalam rumah kontrakannya. Apalagi Alfian sering menggunakan jenis mobil yang berbeda, hal itu jelas membuat tetangganya mengira jika dia sering mengajak para pria lebih dari satu masuk ke dalam rumahnya. Bahkan Alina tak ragu menceritakan jika Rico pun pernah menjadi bahan gosip para tetangganya di sana. Hingga sampai orang tua Rico yang difitnah sebagai pria hidung belang karena pernah mengantarnya pulang.


Alfian yang mendengar cerita adiknya itu terlihat sangat terkejut. Bagaimana bisa orang-orang di sana berpikir buruk mengenai adiknya?


"Sejak kapan mereka bergosip tentang kamu, Al? Kenapa kamu nggak bilang sama Abang?"


"Maaf, Bang. Alina juga baru tahu berita itu dari Rico beberapa minggu lalu. Dia yang mengatakan pada Alina kalau papanya pernah dituduh oleh orang-orang di sana sebagai pria hidung belang."


"Astaga, Al. Kenapa kamu nggak langsung katakan sama Abang sih, Sayang. Kamu memendamnya sendirian dan itu membuat Abang merasa nggak berguna tahu nggak. Bagaimana jika mama dan papa sampai tahu semua ini? Mereka pasti akan sedih, Sayang," ucap Alfian dengan emosi. Namun tak ada nada membentak ataupun suara bervolume yang keluar dari mulutnya. Dia hanya emosi karena kesal dengan orang-orang yang sudah memfitnah adiknya itu.


"Bang, please jangan kasih tahu mama sama papa ya. Alina nggak mau kalau mama sampai kepikiran dengan masalah kecil ini. Alina mohon ya, Bang," ucap Alina dengan nada memohon. Membuat Alfian merasa tak tega.


Sebenarnya tanpa dimintapun dia tidak akan memberitahu siapapun tentang hal ini. Dia tidak sebodoh itu untuk mengatakan semuanya kepada kedua orang tuanya mengenai kabar adiknya di sini.

__ADS_1


"Tenang saja, Abang nggak akan cerita sama mama papa kok. Lalu, bagaimana respon Rico dan orang tuanya tentang gosip itu?" tanya Rico.


"Aku nggak tahu bagaimana dengan papanya, tapi Rico minta Alina untuk menjelaskan semuanya. Itu kenapa Alina mengenalkan Abang dengannya waktu itu."


"Dan sekarang dia minta kamu pindah dari sana?" tanya Alfian lagi.


"Alina sudah menolaknya, Bang, tapi Rico memaksa. Dia bilang lingkungan di sana tidak baik untuk Alina."


"Ya, itu benar," ucap Alfian dengan cepat. Sehingga membuat Alina terheran mendengarnya.


"Maksud Abang?"


"Lingkungan seperti itu memang tidak baik untuk kamu, Al. Mereka terlalu ikut campur dengan menuduh kamu seperti itu."


"Tapi ini salah Alina juga, Bang, karena nggak pernah memperkenalkan Abang dengan tetangga di sana. Akhirnya mereka berprasangka buruk deh."


"Kalau mereka ingin tahu, seharusnya mereka bertanya, Al, bukan malah menuduh yang tidak-tidak seperti itu. Pokoknya kamu harus segera pindah dari sana, Abang akan carikan tempat tinggal sementara untukmu secepatnya."


"Tapi, Bang...?"


"Kenapa lagi, Al?" tanya Alfian dengan heran.


"Rico sudah menemukan kontrakan di dekat kampus Alina. Apa itu artinya Alina harus menolaknya?"


Alfian baru teringat jika adiknya sudah mengatakan jika pacarnya sudah mendapatkan tempat tinggal untuknya. Dengan begitu dia harus lebih dulu melihat seperti apa kontrakan yang Rico carikan untuk adiknya. Kali ini dia harus benar-benar memastikan semuanya aman untuk adiknya itu tinggali meski hanya sementara. Bagaimanapun juga, kenyamanan dan keamanan adalah prioritas utama yang harus dia berikan kepada sang adik tercinta.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.

__ADS_1


.


__ADS_2