Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
113. Kedatangan Angel di Kantor


__ADS_3

Seusai mengerjakan semua pekerjaannya, Rico pun hendak meninggalkan kantor untuk menjemput sang istri. Dia bergegas karena tak ingin membuat istri tercintanya itu menunggu terlalu lama. Apalagi dia sangat takut jika Alina mengalami pusing untuk kesekian kalinya, mengingat kondisinya yang masih on off.


Saat pintu lift yang mengantar Rico ke lantai dasar terbuka, tiba-tiba saja dia melihat sosok wanita cantik yang tak asing. Wanita yang pernah mencampakkannya beberapa tahun lalu saat mengetahui jika dirinya hanyalah seorang anak angkat di keluarga Renaldi. Wanita tersebut tak lain adalah Angel.


"Rico," seru wanita itu dengan wajah yang terlihat murung.


Rico melangkahkan kakinya keluar dari kotak berjalan itu, berdiri tepat dua meter di depan Angel dengan tatapan datar.


"Rico," seru Angel untuk kedua kalinya.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Rico kemudian. Dia sangat heran melihat wanita itu datang ke kantornya di sore hari seperti ini dengan penampilan yang terlihat menyedihkan di mata Rico. Bukan pakaiannya yang lusuh yang membuat Rico merasa menyedihkan, namun raut wajahnya yang seolah menggambarkan jika wanita itu tengah kacau.


Bukannya menjawab pertanyaan Rico, Angel justru menangis dengan menundukkan wajahnya. Membuat Rico mengernyitkan keningnya dengan sangat heran. Dia tidak mengerti dengan wanita di depannya ini, seolah datang hanya ingin membuatnya dalam masalah karena orang-orang yang akan beranggapan beragam pada mereka saat ini.


Karena tak ingin menciptakan gosip di kantornya bersama mantan pacarnya itu, Rico pun segera berlalu dari sana. Berniat untuk meninggalkan Angel dan mengabaikannya. Namun baru dua langkah Rico berjalan, Angel kemudian bersuara dan menghentikannya.


"Ric, maafin aku."


Rico masih dengan posisinya, berdiri membelakangi Angel.


"Aku minta maaf karena selama ini telah salah menilai kamu. Aku memang bodoh telah menyia-nyiakan pria sebaik kamu demi memilih pria kaya yang nggak menghargai aku sebagai seorang wanita. Sekarang aku sadar kalau selama ini pria yang tulus mencintaiku hanya–"


"Aku hanya mencintai tiga orang wanita di dunia ini," ucap Rico cepat dengan menyela ucapan Angel. 


Dia terpaksa berbalik dan menghentikan omong kosong Angel agar perkataannya itu tak sampai didengar para karyawannya yang ada di sana. Rico juga berjalan mendekati Angel dan berdiri satu meter di depannya.


"Ketiga wanita itu adalah, ibu yang telah melahirkanku ke dunia ini, mama yang kini kalian kenal sebagai Nyonya Renaldi, dan Alina yang adalah istriku. Selain itu, aku nggak pernah mencintai wanita manapun … termasuk semua wanita yang pernah berkencan denganku," ucap Rico dengan suara pelan, namun penuh penekanan. Seolah menegaskan pada Angel jika dulu dia tidak pernah mencintainya meski mereka sempat menjalin hubungan.


Angel terdiam mendengar perkataan Rico. Dia cukup terkejut dan sempat tak percaya jika pria itu tak pernah mencintainya sedikitpun. Padahal dia sangat yakin jika Rico sangat mencintainya karena pria itu tak terima saat dia mencampakkannya dulu.


Apa Rico sengaja mengatakan hal itu untuk balas dendam padanya? Ya, Angel pikir demikian, Rico hanya membual mengatakan jika dirinya tak pernah mencintainya karena ingin balas dendam atas semua keegoisannya dulu.


"Kamu bohong, Ric. Jelas-jelas kamu sangat mencintai aku saat itu," ucap Angel dengan percaya diri.


"Angel, sebenarnya apa mau kamu datang ke kantorku? Apa kamu sengaja ingin membuat kacangan di sini? Kamu tahu 'kan kalau aku ini sudah menikah, dan istriku saat ini sedang hamil, jadi jangan sampai semua orang bergosip tentang kita sehingga membuat kehamilan istriku menjadi terganggu."


Angel yang mendengar jika istri Rico sedang hamil lantas terkejut. Sebentar lagi Rico mau punya anak? Apakah kesempatannya untuk mendapatkan pria itu kembali sudah tidak ada lagi?


Angel menggelengkan kepalanya pelan. Tidak, tidak mungkin Alina hamil. Jika wanita itu hamil, maka beritanya pasti sudah kemana-mana. Keluarga Rico dan Alina bukanlah keluarga sembarangan, apapun yang menyangkut mereka pasti akan diketahui publik dan saat ini tidak ada kabar apapun mengenai kehamilan istri dari calon pemilik Rena group itu. Apa Rico hanya asal bicara saja padanya?


"Istri kamu hamil?"


"Ya, istriku saat ini sedang hamil. Aku harap kamu nggak mengganggu rumah tanggaku dengan Alina, jadi kumohon pergilah sebelum aku meminta satpam disini untuk mengusirmu."


Rico kembali berbalik hendak pergi dari sana, namun lagi-lagi Angel menahannya. Namun kali ini wanita itu dengan beraninya memegang tangan Rico sehingga membuat pria itu terkejut. Rico pun menepis kasar tangan Angel dan berbalik menatap ke arahnya.


"Angel, apa yang kamu lakukan?" 


Suara Rico yang sedikit meninggi membuat para karyawan yang berada di sana menatap ke arah mereka. Kini Rico tak bisa mengelak lagi jika saat ini dia dan Angel sedang menjadi pusat perhatian para karyawannya di sana. 


Angel pun yang tak kalah terkejutnya dengan para karyawan di sana terlonjak kaget karena tangannya ditepis dengan kasar oleh pria yang sempat menjalani hubungan dengannya itu. Suaranya yang meninggi pun tak pernah Angel dengar selama ini. Dia mengenal Rico sebagai pria yang tenang, namun siapa sangka jika dirinya saat ini berhasil membuat pria itu meninggikan suaranya. 


"Kenapa kamu berteriak?" tanya Angel seolah tak menyadari kesalahannya.


"Kamu tanya kenapa aku berteriak? Apa kamu nggak sadar kalau kedatangan kamu ini hanya sekedar untuk mencari keributan di kantorku. Ingat ya Angel, kita memang pernah menjalin hubungan, jauh sebelum aku mencintai Alina, tapi semua itu hanyalah masa lalu. Saat itu kamu sendiri yang sudah mencampakkan aku karena statusku yang hanyalah anak angkat di keluarga Renaldi. Apa kamu nggak ingat itu?"


Angel terdiam dengan perkataan Rico.


"Kamu yang memilih pergi sebelum aku sempat mencintaimu. Kamu juga lebih memilih pria yang sudah jelas memilih kekayaan nyata, daripada berjuang bersamaku. Jujur saja, aku nggak menyesal sama sekali dengan keputusanmu itu. Aku justru bersyukur karena dengan begitu aku bisa bertemu dengan Alina yang kini telah menjadi istriku, calon ibu dari anak-anakku."

__ADS_1


"Aku tegaskan sekali lagi sama kamu, jangan pernah dekati aku atau keluargaku lagi. Sekali saja aku melihat kamu menampakan diri di depanku, aku nggak akan segan untuk berbuat sesuatu sama kamu," ucap Rico dengan tegas.


"Tapi, Ric, saat itu kamu memohon untuk tetap bersamaku. Kamu pasti berbohong mengatakan tidak mencintaiku. Aku yakin saat ini pun kamu masih mencintaiku, iya 'kan? Kamu jujur saja denganku, Ric, kalau kamu masih mencintaiku."


Angel berusaha memegang tangan Rico, namun Rico sudah lebih dulu menepisnya.


"Aku nggak pernah berbohong dengan setiap apa yang aku katakan."


Angel menggelengkan kepalanya.


"Nggak, kamu pasti bohong, Ric. Aku tahu kamu pasti masih mencintaiku. Dan istrimu…? Aku yakin istrimu itu pasti hanyalah sebagai pelampiasan atas kesedihanmu karena aku tinggalkan, iya, 'kan? Aku yakin saat ini pun dia tak lain hanyalah sebagai pemuas nafsumu saja"


"Angel!" teriak Rico dengan sangat kencang.


Teriakannya itu juga berhasil membuat semua orang yang ada di sana terkejut bukan main. Kini mereka benar-benar melihat sisi lain Rico yang bertolak belakang dengan sifat aslinya.


Rico bener-bener lepas kendali. Dia tidak bisa menahan emosinya saat istrinya sudah dihina dengan kejam seperti itu oleh wanita yang tidak tahu malu seperti Angel. Mungkin sejak tadi Rico sudah bersabar menghadapi sifat Angel yang tidak tahu malu itu, namun saat mendengar istrinya dihina dengan keji, dia benar-benar tidak bisa menahannya.


Masih bersyukur Rico tidak main tangan atas sikap sewenang-wenang Angel itu. Dan masih untung wanita itu karena yang mendengar hinaannya hanya dirinya saja. Tidak bisa dibayangkan jika keluarga Alina yang mendengarnya, terutama kedua abangnya yang posesif.


"Apa hak kamu menghina istriku seperti itu, hah?"


"Co," seru Angel sembari menelan ludah.


"Sekali lagi kamu mengatakan sesuatu yang buruk tentang istriku, aku nggak akan segan-segan membuat hidup kamu hancur."


"Tapi, Ric–" 


"Stop!" teriak Rico untuk kedua kalinya. Kali ini teriakannya berhasil membuat Angel memejamkan matanya karena terkejut.


Belum sempat membuka matanya dengan sempurna, tiba-tiba saja Angel kembali dikejutkan dengan sebuah tamparan yang begitu keras pada pipi kirinya. Semua orang termasuk Rico pun terkejut melihat itu. 


Begitu pun dengan Rico yang tak percaya jika mamanya saat ini ada di sini, mendengar perkataan Angel sampai berani memberikan layangan pada pipi wanita itu.


"Mama," seru Rico.


'Berani-beraninya kamu mengatakan hal buruk tentang menantuku," ucap Santi dengan suara bergetar.


Sejak tadi mata Santi sudah mulai memerah menahan tangis saat mendengar menantunya dicaci maki oleh wanita yang tidak beradab itu. Emosinya pun akhirnya keluar saat tangannya berhasil melayang pada pipi Angel. 


"Siapa kamu yang berani-berani menghina Alina, hah! Setinggi apa derajat kamu sampai berani berkata seperti itu pada menantu Renaldi. Sekaya apa orang tua kamu hah!" teriak Santi tak terkontrol karena sudah dikuasai emosi.


Rico yang tak tega melihat mamanya itu berteriak dengan begitu lantang, lantas menjauhkannya dari Angel. Meskipun Santi memberontak dengan terus berteriak kencang, namun Rico tetap memeluknya agar mamanya itu tak lepas kendali lebih dari ini.


Ting!


Pintu lift yang ada di belakang Angel terbuka. Dari sana muncullah Irfan beserta asisten pribadinya. Pria paruh baya itu terlihat terkejut saat melihat kehebohan di bawah sana yang di mana istrinya sedang berada dalam pelukan putranya dengan keadaan kacau.


"Sayang, ada apa ini?" tanya Irfan dengan heran.


"Rico, ada keributan apa ini?" tanyanya kemudian kepada putranya.


Dia mendekati istrinya dan mengambil alih untuk memeluknya. 


"Sayang ada apa ini? Kenapa Rico memeluk kanu dan kenapa kamu emosi begini?" tanya Irfan berturut-turut.


"Dia." Santi menunjuk pada Angel. "Wanita itu sudah berani menghina putriku. Mengatakan jika Alina hanyalah pelampiasan dan hanya pemuas nafsu putra kita saja. Mama nggak terima dia mengatakan hal buruk seperti itu kepada menantu kita, Pa. Dia siapa sampai berani berkata seperti itu kepada menantu Renaldi?" teriak Santi kembali, bahkan air mata pun mulai membasahi pipinya.


Irfan yang mendengar teriakan istrinya itu lantas menatap tajam ke arah Angel. 

__ADS_1


Saat ini Angel sudah sangat ketakutan saat dihadapkan dengan tiga orang pemilik Rena group ini. Rasanya ingin segera pergi dari sana, namun tak bisa karena dia saat ini seperti sedang dikepung. 


"Rico bawa Mama kamu ke mobil. Biar ini menjadi urusan Papa," ucap Irfan dengan suara dinginnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Angel.


Rico mengangguk, dia mengambil alih mamanya itu dan segera mengajaknya keluar. Meski Santi memaksa tak ingin pergi sebelum urusannya dengan Angel selesai, namun suami dan putranya memaksa sehingga membuat Santi mau tak mau harus pergi dari sana.


Seperginya Rico dan Santi, Irfan pun berjalan pelan mendekati Angel yang saat ini sudah keringat dingin, tangannya pun mengepal dan berkeringat.


"Apa benar kamu menghina menantuku seperti itu?" tanya Irfan. Nada suaranya terdengar datar dan begitu tajam. Membuat Angel seperti sedang di sidang di depan para algojo yang tengah memegang besi panas untuk menghukumnya.


"Hei, lihat dan jawab pertanyaan saya. Apa benar yang dikatakan istriku tadi, kamu menghina Alina dengan perkataan hina seperti itu?" tanya Irfan untuk kedua kalinya.


Perlahan dan dengan gemetar, Angel menegakkan kepalanya menghadap ke arah Irfan yang saat ini telah menunjukkan raut emosi pada wajahnya.


"Tuan, ma–maafkan aku. Aku tadi hanya asal bicara saja. Aku–"


"Asal bicara?" sela Irfan dengan cepat. "Kamu semudah itu mengatakan kalimat hina kepada menantuku dan sekarang saat kutanya, kamu bilang hanya asal bicara?"


"Asal kamu tahu saja, mengenai apa yang sudah kamu katakan tentang menantuku itu, aku bisa saja memenjarakanmu dalam waktu yang lama. Aku juga bisa membuat hidupmu hancur sehancur-hancurnya kalau mau–"


"Tidak, Tuan," sela Angel dengan cepat. "Jangan  jangan penjarakan aku. Aku mohon jangan penjarakan aku, Tuan." 


Dia sangat ketakutan jika Irfan benar-benar akan memenjarakannya. Sungguh, dia tidak menyangka jika niatnya yang ingin mendekati Rico itu berujung pada malapetaka untuk dirinya. Sungguh di luar dugaan, dia jadi sangat menyesal karena telah datang ke sini dengan niat ingin merebut Rico kembali ke sisinya. Dia pikir akan sangat mudah membujuk Rico untuk kembali padanya  namun ternyata dia salah. Ternyata pria itu juga tidak pernah mencintainya sejak awal. 


Jika tahu akan begini akhirnya, mungkin dulu dia tidak akan melepaskan Rico begitu saja hanya karena statusnya sebagai anak angkat di keluarga Renaldi. Jika akan berakhir begini, mungkin saat itu dia harus percaya kepada Rico dan terus setia padanya. Setidaknya sampai Rico benar-benar membuktikan kesungguhannya sampai di titik apa.


Kini dia sangat menyesali keputusannya yang telah mencampakan Rico begitu saja dan memilih pria kaya di luar sana yang hanya menginginkan tubuhnya saja untuk kenikmatan sesaat.


"Kenapa? Kamu takut dengan ancaman saya?" ucap Irfan saat Angel hanya terdiam. "Kamu masih beruntung bertemu denganku. Jika saja yang kamu hadapi saat ini papa dan kedua abang Alina, saya nggak bisa membayangkan bagaimana jadinya kamu di tangan mereka."


Angel kembali menelan ludahnya untuk kesekian kalinya. Bagaimana ini, dia tak bisa berkutik di depan Irfan. Keluarga Renaldi dan keluarga Wilson tak ada bedanya. Orang yang memiliki kekuasaan seperti mereka sangat sangat menakutkan jika harus dilawan. Apalagi dirinya bukan siapa-siapa.


**


Sejak pulang dari kantor, Santi hanya berdiam di dalam kamar. Dia tidak mau keluar kamar karena takut jika Alina melihat dirinya yang sedang emosi. Untungnya malam ini Alina akan menginap di kediaman orang tuanya, jadi Santi bisa sedikit berakting untuk mengantar kepergian menantunya itu setelah makan malam selesai. 


Saat Alina dan Rico sudah pergi, Santi kembali memasang wajah kesalnya sembari menatap kepada sang suami.


"Papa apakan wanita itu?" tanya Santi. 


Irfan yang mengerti maksud istrinya itu menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum menjawab.


"Hanya memberikannya peringatan."


Mendengar jika suaminya itu tidak bertindak lebih, Santi pun terlihat terkejut. Dia tak terima jika seseorang yang sudah menghina anggota keluarganya dibiarkan begitu saja tanpa hukuman apapun.


"Kenapa hanya peringatan, Pa? Dia sudah menghina Alina, menantu kita. Seharusnya dia diberi hukuman yang setimpal. Setidaknya penjarakan dia atas perkataannya yang tidak bisa dijaga itu."


Ternyata emosi Santi masih bertahan hingga malam tiba. Irfan tidak menyangka jika istrinya yang lemah lembut itu bisa semarah ini karena hinaan yang dilakukan seseorang kepada menantunya.


"Sabar, Ma, tenang. Jangan terbawa emosi saat memutuskan sesuatu."


"Tapi, Pa, dia sudah sangat keterlaluan sekaki terhadap menantu kita."


"Papa tahu, Ma," ucap Irfan dengan cepat. "Tapi kita nggak bisa memenjarakan dia begitu saja. Ada kalanya seseorang melakukan kesalahan karena sebuah kecerobohan. Seperti yang dilakukan wanita itu, mungkin dia berkata-kata seperti itu karena kebutaan pada rasa cinta yang dia rasakan terlalu dalam. Seseorang akan kehilangan akal jika menyangkut cinta dan harta. Kita hanya bisa memberinya peringatan untuk saat ini, jika dia masih melakukan hal yang sama atau lebih, barulah kita bertindak lebih."


Santi belum menanggapi perkataan suaminya itu. Dia terlihat bingung dengan kalimat yang diucapkan suaminya itu mengenai kebutaan rasa, cinta, dan harta.


"Apa maksud Papa?"

__ADS_1


__ADS_2