Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
128. Bahagia dan Duka


__ADS_3

Hooeekk… hooeekk…


Jerit tangis seorang bayi terdengar dari sebuah ruang persalinan. Saat itu anak pertama dari pasangan Rico dan Alina telah lahir ke dunia. Setelah perjuangannya selama sembilan bulan mengandung, dan kurang lebih delapan jam menahan rasa sakit yang luar biasa, kini Alina berhasil memperjuangkan buahan hatinya untuk lahir ke dunia ini.


Melihat perjuangan istrinya itu, wajah tampan Rico tak henti dibanjiri oleh air mata. Entah itu air mata sedih karena tak kuasa melihat kesakitan yang dialami istrinya, ataupun air mata bahagia karena suara merdu dari jeritan seorang bayi mungil yang terdengar jelas di telinganya.


Seorang bayi yang berjenis kelamin wanita membuat orang tua baru itu sedikit kaget, pasalnya saat mengecek gender anaknya sekitar 3 bulan lalu, Dokter telah memperkirakan jika anak mereka itu bergender laki-laki. Namun siapa sangka jika yang lahir saat ini ternyata seorang bayi perempuan? Mereka kini jadi bertanya-tanya apakah Dokter yang menangani mereka tersebut berbohong dengan mengatakan gender yang berbeda, atau justru Dokter itu justru salah menerkah?


Rico yang saat itu tak bisa menahan rasa penasarannya, setelah mengadzani putrinya, dia langsung bertanya kepada salah satu Dokter yang menangani istrinya lahiran tersebut. Dia masih tidak percaya jika saat ini anaknya yang lahir adalah seorang perempuan.


"Dok, kenapa anak saya perempuan? Saat USG kemarin, Dokter Siska mengatakan kalau perkiraan anak kita adalah laki-laki."


"Maaf Pak, saya hanya menjalankan pekerjaan saya saja untuk membantu ibu Alina melahirkan. Untuk masalah jenis kelamin, kita nggak bisa mengaturnya karena itu sudah menjadi takdir Yang Di Atas. Kalau menurut perkiraan Dokter Siska saat USG kemarin anak kalian laki-laki, maka kalian mungkin bisa tanyakan langsung kepada beliau," jawaban Dokter tersebut yang tak membuat kelegaan hati pada Rico dan Alina.


Kedua orang itu saat ini masih dipenuhi dengan rasa bingungnya. Bagaimana bisa Dokter Siska salah menerkah, sementara dia adalah Dokter kandungan yang telah lama bertugas di rumah sakit itu.


Sebenarnya bukannya mereka tak menerima kehadiran putrinya itu. Mereka sangat menerimanya, mereka juga tak pernah mempermasalahkan tentang gender anaknya sejak lama, hanya saja mereka sangat terkejut karena ini diluar nalarnya. Semua sudah dipersiapkan dengan matang oleh keluarganya untuk menyambut kehadiran baby boy hari ini, namun siapa sangka jika Allah berkehendak lain.


Karena belum memikirkan nama untuk anak perempuannya itu, akhirnya Rico meminta beberapa saran dari keluarganya yang saat ini sedang berada di luar ruangan. Sejak Alina masuk rumah sakit sekitar sembilan jam lalu, semua keluarganya tak henti menunggu putrinya yang akan lahiran itu secara bergantian. Dan saat Alina mengalami bukaan terakhir, semua keluarga pun mulai berkumpul untuk menunggu proses lahiran hingga selesai.


"Yasudah, nggak papa, Bang. Laki-laki dan perempuan sama saja, lagi pula bukannya lebih menyenangkan memiliki anak perempuan?" ucap Santi dengan tak mempermasalahkan hal itu.


"Tapi semua barang yang sudah kita beli selama ini 'kan untuk anak lelaki. Apa harus membeli lagi?" tanya Zara kemudian.


"Nggak papa, Ma. Anaknya 'kan masih bayi juga, pakai apa saja juga nggak masalah kok," ucap Rico.


"Baiklah, jadi mau dinamakan apa cucuku itu?"

__ADS_1


Pertanyaan dari Thomas membuat semua orang kini kembali fokus untuk memberikan nama pada baby girl yang baru saja lahir itu. Kini semua orang yang ada di sana mulai berpikir, mencari sebuah nama yang indah yang akan dipakai oleh seorang bayi mungil yang kini masih berada di tangan Dokter.


"Bagaimana dengan Balqis? Dia akan menjadi seperti ratu Balqis yang kaya raya, pemimpin yang dihormati, dan kelak akan mendapatkan pria sempurna seperti Sulaiman," ucap Morgan setelah dua menit mereka tak ada suara.


Semua menatap ke arahnya. Terlihat wajah-wajah heran di sana karena Morgan yang begitu cepat memberi saran, dengan makna yang sangat indah juga. Terlebih setiap kata yang keluar dari mulut pria itu terdengar sangat mengagumkan. Membuat mereka tak bisa untuk tidak memberinya pujian.


"Tumen," seru Thomas kemudian yang memecah keadaan.


"Bagaimana kamu bisa berpikir secepat itu, Sayang? Memberi nama dengan arti yang sangat indah," ucap Zara kemudian memuji. Baru kali ini putranya itu berbicara serius dan membuat mereka sampai memujinya secara langsung seperti ini.


Namun bukan Morgan yang bisa seperti Alfian ataupun orang tuanya dengan sebuah keseriusan. Setelah dipuji oleh orang tuanya, pria itu menunjukkan layar ponselnya dan berkata kepada mereka sehingga membuat semua orang menghela nafasnya dengan kesal.


"Aku searching google," ucapnya.


"Dari awal Papa sudah curiga," gumam Thomas.


Semua orang mengernyit mendengar nama belakang yang disebutkan oleh Rico.


"Kenapa Fabian, Sayang?" tanya Santi heran yang sekaligus mewakili rasa bingung yang lainnya.


"Mama pernah memperlihatkan Rico barang-barang peninggalan orang tua Rico beberapa tahun lalu. Di salah satu buku kecil, Rico melihat nama tersebut dituliskan di belakang nama Rico. Rico yakin jika itu adalah nama asli Rico sebelum Papa dan Mama memberikan nama Renaldi ini. Rico hanya ingin anak Rico nanti nggak lupa dengan siapa Rico sebelum bertemu kalian."


Semua yang mendengarnya tersenyum haru. Segitunya pemikiran pria itu yang tidak ingin melupakan dirinya yang sesungguhnya sebelum menjadi siapa dirinya yang sekarang.


Santi dan Irfan yang tadinya ingin memberikan nama Renaldi pada cucu mereka itu kini dengan lapang hati mengikhlaskan Rico untuk memberikan namanya pada buah hatinya itu. Dia memang berhak melakukan itu karena itulah nama Rico yang sesungguhnya dan mereka tak ada hak untuk meminta lebih.


"Baiklah. Nama cucuku adalah, Balqis Aizia Fabian."

__ADS_1


Saran terakhir dari Irfan itu akhirnya menjadi penutup dari keputusan pada malam hari ini. Balqis Aizia Fabian akan menjadi nama untuk anak dari pasangan Alina dan Rico.


**


Semua orang begitu terpanah melihat bayi mungil yang masih berwarna merah itu. Meski wajahnya masih sama seperti wajah para bayi pada umumnya, namun mereka semua bisa menilai jika Balqis kecil itu akan menjadi seorang wanita yang sangat cantik kelak. Terlebih bulu matanya yang lentik, bibirnya yang kecil, dan hidungnya yang mancung, membuat semua orang tak sabar untuk menanti tumbuhnya bayi mungil itu.


Setelah mendapatkan kesempatan untuk menggendong Balqis kecil, semua anggota keluarga pun berpamitan untuk pulang. Waktu yang terbatas karena jam yang mulai mendekati angka sebelas, membuat mereka tak bisa berlama-lama berada di sana. Meski belum puas melihat cucunya yang menggemaskan itu, tapi mereka harus segera pergi agar Alina dan baby-nya bisa segera beristirahat. Besok mereka akan kembali datang untuk menuntaskan ketidakpuasannya melihat dan menggendong Balqis kecil.


**


Keesokan hari, seluruh keluarga Alina dan Rico mendatangi rumah sakit untuk melihat keadaan anak dan cucunya, sekaligus untuk menjemputnya pulang. Alina sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter dan dia akan menginap di kediaman orang tuanya terlebih dahulu, sebelum kembali ke kediaman Renaldi.


Setiba mereka di rumah, anggota keluarga yang lainnya pun ternyata telah berada di kediaman Wilson. Pagi ini mereka berkumpul besar di kediaman Wilson untuk menyambut kehadiran baby Balqis, sekaligus bersilaturahmi antar dua keluarga besar.


Di kamar tamu yang berada di lantai satu, bergantian para anggota keluarga masuk ke dalam untuk melihat baby Balqis bersama sang ibu yang kini tengah duduk di atas kasur. Sebagian ada yang fokus dengan bayi mungil itu, dan sebagai lagi ada yang mengajak Alina mengobrol santai. Alina sangat senang keluarganya bisa berkumpul seperti ini untuk menjenguk dirinya yang baru saja melahirkan anak pertamanya. Dia tidak menyangka jika seluruh keluarganya yang ada di Indonesia dan seluruh keluarga Rico akan berkumpul di kediaman orang tuanya seperti ini. 


Namun di tengah rasa bahagianya itu, di tempat lain di sebuah kamar rawat yang berada di salah satu rumah sakit kota itu, terlihat Rena yang tengah menangis terisak di dalam pelukan suaminya. 


Semalam saat Rena hendak keluar dari kamar mandi, wanita itu tak sengaja menginjak lantai yang licin sehingga membuatnya jatuh terduduk di atas lantai dengan darah yang membanjiri kakinya. Pagi ini Rena sudah dua kali tak sadarkan diri semenjak mengetahui jika anak yang ada di dalam kandungannya sudah tidak ada lagi. Dia begitu terpukul dengan musibah yang menimpanya ini, tak menyangka jika kandungannya yang telah dia jaga sebaik mungkin selama kurang lebih 3 bulan ini harus pergi begitu saja meninggalkannya.


Meski sebelumnya dokter sudah mengatakan jika sangat sulit untuk mempertahankan kandungannya yang lemah ini, namun dia tetap tidak menyangka jika hal itu benar-benar akan terjadi. Dan betapa kecewanya Rena saat mengetahui jika yang membuat calon anaknya itu pergi tak lain karena kecerobohannya sendiri. Hal itu juga yang membuat Rena sangat terpukul dan sangat merasa bersalah. 


Andi dan kedua orang tua Rena yang juga bersedih atas musibah ini semakin merasa sesak saat melihat tangis Rena yang begitu pilu. Bahkan mereka harus pasrah saat Rena diberi obat penenang agar dirinya tidak lagi terus-terusan mengamuk yang akan membuat dirinya terluka dan kesehatannya menurun.


Alina masih belum mengetahui musibah yang menimpa temannya itu. Dia baru mengetahuinya satu hari setelah kejadian tersebut dan itupun melalui suaminya yang mendapat kabar dari Andi langsung.


Andi sengaja mengabari Rico karena tak bisa datang menjenguk anaknya karena istrinya yang baru saja mengalami keguguran. Saat mengetahui itu, Rico sangat menyayangkannya, namun juga tak bisa melakukan apa-apa selain mendoakannya.

__ADS_1


Saat Alina mendapat kabar duka itu, dia segera meraih ponselnya untuk menghapus beberapa postingan tentang kehamilannya ini. Dia melakukan itu semata hanya untuk menjaga perasaan temannya yang sedang berduka. Dia tidak mau Rena menjadi semakin bersedih karena melihat kebahagiaan dirinya dari postingannya.


__ADS_2