Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
36. Menikah di Usia Muda?


__ADS_3

Santi dan Irfan yang mendengar jeritan Rico sangat terkejut. Mereka segera berlari masuk ke dalam untuk melihat apa yang sedang terjadi. Saat melihat Alina yang tengah menahan mual dengan Rico yang mencoba membantunya berjalan, Santi dengan cepat mengambil Alih Alina dan meminta Rico untuk nengambil air hangat.


Santi membawa Alina ke kamar mandi, di sana dia mengusap tengkuk Alina yang sedang berusaha memuntahkan isi perutnya. Cukup lama mereka berada di dalam sana dan Alina hanya bisa memuntahkan sedikit cairan pekat dari mulutnyamulutnya. Santi mengajak Alina kembali ke ruang tamu dan setelah Alina mendudukkan tubuhnya di atas sofa, Santi mengambil alih gelas yang berisi air hangat dari Rico dan meminta Alina untuk meminumnya.


"Co, tolong panaskan air jahe yang Mama bawa tadi ya," ucap Santi kepada Rico.


"Di mana air jahe nya, Ma?"


"Di dalam botol itu," ucap Santi sembari menunjuk sebuah botol yang ada di atas meja makan.


Rico mengiyakan dan segera memanasi air jahe tersebut. Tak butuh waktu lama, sekitar dua menit Rico sudah kembali dengan segelas air jahe di tangannya. Dia segera memberikannya kepada mamanya yang saat itu masih duduk menemani Alina.


"Ayo diminum air jahenya ya, Sayang," ucap Santi kepada Alina.


Alina menurut dan meneguk air jahe itu langsung dari gelasnya dengan perlahan.


"Bibi buatkan makanan ya. Kamu mau makan apa?" tanya Santi kemudian setelah Alina menjeda minumnya.


"Alina nggak nafsu makan, Bi," ucap Alina menolak.


"Sayang, Bibi tahu perut kamu masih mual, tapi kamu harus tetap makan. Sedikit saja sudah cukup, yang penting perut kamu ada isinya. Bibi lihat ke kulkas dulu ya, siapa tahu Bibi bisa masak sekalian untuk makan siang kita."


"Ma," seru Rico sebelum Santi beranjak dari duduknya. "Di kulkas nggak ada bahan makanan apa-apa. Alina 'kan baru pindah kemarin siang."


Mendengar itu Santi menghela nafasnya. Dia lupa jika Alina baru kemarin menempati apartemen ini. Jelas saja jika tidak ada bahan makanan apapun di sana.


Karena tidak ada pilihan lain dan tidak memungkinkan Alina pergi keluar untuk sekedar makan siang, akhirnya mereka memesan makanan via online.


Hampir satu jam menunggu, akhirnya makanan pesanan mereka datang. Mereka menikmati makanannya masing-masing di atas meja makan. Saat itu mual pada perut Alina sudah mulai berkurang dan dia sudah bisa menikmati makanannya meski hanya sedikit.


Mereka menikmati makan siangnya sembari berbincang santai. Mencoba untuk lebih akrab satu sama lain, terkhusus bagi Alina. Meski ini adalah pertemuan kedua mereka, tapi bisa dilihat dari interaksinya jika Alina dan kedua orang tua Rico terlihat sudah jauh lebih santai dari sebelumnya.


"Co, saran Papa, jangan terlalu lama berpacaran. Kalau sudah yakin satu sama lain, lebih baik disegerakan," ucap Irfan yang mulai membuka obrolan dengan sedikit serius.


Rico sejenak menatap ke arah Alina yang tersipu saat mendengar perkataan papanya.


"Em, kita belum membicarakan itu, Pa," ucap Rico.

__ADS_1


Dia tak tahu harus menjawab apa dari perkataan papanya. Jujur saja, dia sangat mau dengan segera melamar Alina, namun dia masih ragu karena tak tahu apakah Alina mau menikah dengannya dalam waktu dekat. Apalagi saat ini Alina masih fokus pada kuliahnya yang berada pada akhir semester.


"Benar kata Papa, Sayang. Kalau kalian sudah yakin satu sama lain, lebih baik disegerakan saja. Apa lagi yang kalian tunggu."


Kini Santi pun ikut menimpali ucapan suaminya. Dia juga sangat tidak sabar untuk menjadikan sosok Alina sebagai menantunya.


...*...


Merasa sudah cukup lama berada di sini, Irfan mengajak Santi untuk pulang ke rumahnya. Sementara Rico masih berada di apartemen untuk menemani Alina sampai Alfian kembali. Dia tidak mungkin meninggalkan Alina sendirian di sini dengan kondisi tubuhnya yang masih belum sehat.


Saat ini Alina masih berbaring di atas sofa. Rico tak berani membawa Alina ke kamarnya dengan situasi yang hanya ada mereka berdua saja di sana.


"Kamu nggak tidur, Al?" tanya Rico saat melihat Alina yang hanya diam saja dengan mata terbuka.


"Nyanyikan aku lagu penghantar tidur," seru Alina asal.


"Hah, lagu penghantar tidur?" ucap Rico dengan wajah bingungnya. Dan seketika membuat Alina tertawa kecil melihat wajah bodohnya.


"Bercanda, Co. Jangan terlalu serius dong."


Rico menggelengkan kepalanya akan keisengan pacarnya itu.


Alina mengernyitkan keningnya dan menatap ke arah pria itu.


"Usul? Usul apaan?" tanya Alina yang belum mengerti.


"Mengenai hubungan kita. Apa kamu siap menikah di usia muda?"


Mendengar hal itu Alina terdiam sejenak. Menikah muda? Sebenarnya dia sangat ingin menikah muda, namun….


"Kenapa, Al?" Kini Rico yang terlihat heran saat melihat Alina yang hanya diam saja dengan wajah yang seperti sedang memikirkan sesuatu. "Apa kamu nggak mau nikah sama aku?"


"Em, bukan begitu, Co. Aku mau … aku mau menikah dengan kamu, tapi… aku belum siap untuk saat ini. Aku bahkan belum memberi tahu orang tuaku akan hubungan kita."


Meski jawaban Alina tak membuatnya puas, tapi setidaknya Alina tidak menolaknya secara terang-terangan. Dia mencoba untuk mengerti maksud dari pacarnya itu. Memang hubungan mereka bisa dibilang masih terlalu awal untuk membicarakan sebuah pernikahan, apalagi dia juga belum berkesempatan untuk bertemu anggota keluarga Alina. Rico memaklumi itu, namun dia tetap berharap agar hubungan mereka bisa segera upgrade ke level yang lebih tinggi yaitu, pernikahan.


Di tengah perbincangan yang sedikit serius itu, tiba-tiba saja Alina mengoam. Sepertinya wanita itu sudah mulai mengantuk.

__ADS_1


"Tidurlah. Bang Fian akan membawamu ke kamar kalau dia sudah pulang nanti."


Tanpa menjawab perkataan Rico, Alina menganggukkan kepalanya dan segera memejamkan matanya. Hanya butuh beberapa menit untuk Alina tertidur, dan saat dia sudah tertidur, Rico beranjak menuju kamar yang ada di lantai satu untuk mengambil selimut. Meski udara tidak terlalu dingin, tapi Rico tetap menyelimuti Alina agar tubuhnya tetap tertutup. Dia juga memilih selimut yang berserat tipis agar Alina tidak merasa gerah.


Sekitar lima menit dari Alina tertidur, suara bel apartemen itu berbunyi. Rico beranjak dari posisinya untuk melihat siapa yang datang ke apartemannya itu. Saat melihat kedatang Alfian, Rico tersenyum tipis ke arahnya dan membuka pintu untuk pria itu masuk.


"Rico?" ucap Alfian terkejut. "Kamu di sini?"


"Iya, Bang. Mamaku baru saja pulang setengah jam lalu."


Alfian menganggukkan kepalanya sembari masuk ke dalam.


"Alina tidur?" tanyanya ketika melihat adiknya tertidur di atas sofa.


"Baru saja tidur, Bang," ucap Rico.


"Terima kasih ya, Co, sudah mau menemani Alina. Kamu sudah makan siang? Ini aku belikan makanan kalau belum makan."


Alfian meletakkan bungkus makanan ke atas meja makan.


"Kita tadi sudah makan siang, Bang. Oh ya, tadi mama juga membelikan Abang makanan. Aku letakkan di dalam lemari es, nanti tinggal Abang panaskan saja kalau mau makan," ucap Rico memberitahu.


"Repot-repot banget, Co. Makasih ya."


"Sama-sama, Bang."


Karena Alfian memang belum makan siang, dia membuka makanan yang dia beli dan memakannya di meja makan. Dia juga mengajak Rico untuk duduk di sana untuk mengobrol santai agar suasana tidak terlalu sunyi.


Di tengah obrolan ringan mereka, entah kenapa Rico tiba-tiba teringat akan obrolan terakhirnya bersama Alina mengenai pernikahan. Yang awalnya Rico memang belum memikirkan hal itu, kini dia jadi sedikit tertarik untuk membahas hal tersebut. Semuanya terjadi begitu saja begitu kedua orang tuanya membahas pernikahan. 


Rico sangat ingin membahas hal ini bersama Alfian selaku saudara kandung Alina yang dia kenal. Dia ingin tahu pendapat pria itu mengenai hubungannya bersama adiknya. Namun sebelum itu, Rico harus sabar menunggu hingga Alfian menyelesaikan makannya terlebih dahulu. Dia tidak mau mengganggu makan siang pria itu dengan pembahasannya.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰

__ADS_1


.


.


__ADS_2