Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
37. Wajahnya Tak Asing


__ADS_3

Saat Alfian selesai dengan makannya, barulah Rico memberanikan diri untuk berbicara. Rico awalnya ragu ingin membahas hal yang cukup serius ini, namun saat melihat respon Alfian yang positif, Rico jadi semakin percaya diri untuk meneruskan perkataannya.


"Menurut Abang, bagaimana jika aku dan Alina menikah dalam waktu dekat?" tanyanya setelah berbasa-basi mengenai hubungannya bersama Alina.


"Abang selalu mendukung apapun keputusan Alina jika itu baik. Tapi sebelum kalian memutuskan untuk menikah, lebih baik dipikirkan baik-baik terlebih dahulu. Dunia pernikahan tidaklah sama seperti saat kalian berpacaran. Jadi lebih baik kalian pikirkan matang-matang mengenai hal ini sebelum mengambil keputusan."


Rico membenarkan perkataan Alfian. Dia memang harus memikirkan matang-matang tentang hal serius ini. Banyak yang harus dipersiapkan dan juga dibicarakan untuk sebuah pernikahan. Tidak semata seperti mereka berpacaran yang hanya membutuhkan dua persetujuan. Di sini ada banyak orang yang harus diminta persetujuannya, yang salah satunya adalah kedua keluarga mereka.


Rico menatap ke arah sofa, di mana Alina sedang tidur di sana. Dia tersenyum tipis ke arahnya, entah kenapa keinginan untuk mempersunting Alina menjadi istrinya kini semakin kuat. Padahal yang ada di kepalanya selama ini hanyalah sekedar ingin mendapat sosok kekasih yang bisa menerima dia apa adanya. Namun saat dirasa sudah menemukan sosok yang tepat, kenapa justru sekarang dia menginginkan hubungan yang lebih dari sekedar berpacaran. Apakah ini yang selama ini dia inginkan?


...**...


Di kediaman Renaldi.


Saat ini Santi terlihat sedang membantu suaminya melepas pakaian yang ada ditubuhnya. Sambil membicarakan hubungan putranya bersama Alina, tiba-tiba saja Santi teringat dengan sosok pria yang merupakan saudara kandung Alina yaitu, Alfian.


"Pa, Papa sudah pernah bertemu dengan saudara laki-laki Alina belum?" tanya Santi.


"Belum. Memangnya kenapa, Ma?"


"Tadi Mama bertemu dengannya di apartemen, Pa. Melihat wajah dan cara bicaranya, sepertinya Mama nggak asing deh. Seperti mirip seseorang gitu," ucap Santi yang berhasil membuat Irfan heran.


"Oh ya? Siapa, Ma?"


Santi tampak berpikir keras, mencoba mengingat siapakah sosok yang dia rasa memiliki kemiripan dengan Alfian. Namun sampai sang suami selesai membersihkan tubuh dan berganti pakaian pun Santi tak juga menemukan jawaban dari apa yang dia rasakan itu.


Santi merasa belum puas saat apa yang dia pikirkan belum menemukan jawabannya. Seharian ini, di sela aktifitasnya di rumah, Santi terus memikirkan mengenai sosok Alfian yang diyakininya sangat mirip dengan seseorang yang dia kenal.


Saat makan malam tiba, Santi kembali mencari jawaban kepada putranya mengenai sosok Alfian. Entah kenapa dia sebegitunya penasaran akan hal itu, padahal dia sendiri tidak pernah sepenasaran ini mengenai hal sulit apapun. Bahkan sampai memikirkannya seharian.


"Co, apa Abang Alina tinggal di apartemen juga?" tanya Santi.

__ADS_1


"Sepertinya nggak, Ma. Dia hanya menemani Alina yang sedang sakit saja, setelah itu kembali ke rumahnya."


"Dia punya rumah sendiri? Kanap Alina nggak tinggal sama dia?" tanya Santi dengan herannya.


Irfan pun juga sama herannya dengan istrinya. Jika Alfian memiliki rumah di kota ini, lantas kenapa Alina harus mencari rumah kontrakan dan tinggal sendirian?


"Bang Fian baru beberapa bulan di kota ini, Ma. Kata Alina, keluarganya akan pindah ke sini beberapa bulan lagi dan bang Fian saat ini sedang mengurus tempat tinggal mereka. Mungkin rumahnya belum layak untuk ditempati, jadi dia nggak tega jika adiknya ikut tinggal bersamanya di rumah yang baru setengah jadi itu."


"Di mana memangnya rumah mereka?" tanya Irfan kemudian.


"Em, kalau itu Rico belum tahu, Pa. Rico juga nggak kepikiran untuk bertanya ke sana," ucap Rico.


"Bang, apa kamu dekat dengan abang Alina?" tanya Santi yang teringat akan tujuan pertamanya bertanya kepada Rico.


"Nggak terlalu, Ma. Memangnya kenapa?"


"Nggak papa. Mama hanya seperti nggak asing saja dengan wajah dan cara bicara abang Alina itu. Seperti mirip seseorang yang Mama kenal."


Dia pikir istrinya itu sudah melupakan pembicaraan mereka tadi siang, ternyata wanita tercintanya itu masih memikirkannya. Dia jadi curiga karena tidak biasanya sekali Santi memikirkan sesuatu sampai seharian seperti ini. Kini Irfan pun jadi ikut penasaran dengan siapa yang Santi maksud.


"Nggak tahu, Pa. Mama juga heran kenapa bisa seperti ini," ucap Santi yang ikut heran dengan dirinya sendiri.


Rico pun yang tak tahu siapa yang di maksud mamanya hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Astaga, Pa!"


Irfan dan Rico tersontak kaget saat mendengar Santi berteriak.


"Kenapa, Ma?" tanya Rico khawatir.


"Pa, kak Thomas," ucap Santi kepada suaminya tanpa menyahuti pertanyaan Rico.

__ADS_1


"Thomas? Kenapa dengannya?" tanya Irfan bingung.


"Abang Alina, Pa. Dia mirip sekali dengan kak Thomas. Apa Papa masih ingat wajah kak Thomas? Wajah mereka mirip sekali, Pa. Cara bisara mereka juga hampir sama."


Irfan sangat terkejut mendengar perkataan Santi. Thomas? Kakak angkatnya saat di jaman sekolah dulu?  Yang benar saja, pikirnya.


"Mama bicara apa sih? Kenapa jadi membahas Thomas?" ucap Irfan yang sedikit cemburu.


"Pa, Mama nggak bercanda loh. Alfian, abang Alina, dia mirip sekali dengan kak Thomas," ucap Santi lagi dengan excited. Kemudian dia memalingkan pandangannya kepada Rico.


"Bang, apa nama papa Alina adalah Thomas?" tanyanya dengan penuh harap.


Berharap dengan sangat jika Rico mengiyakan pertanyaannya. Namun saat mendengar jawaban Rico, Santi seketika melemaskan tubuhnya.


"Rico nggak tahu, Ma. Keluarga Alina tinggal di desa dan Rico juga belum sempat bertemu dengan mereka. Apa paman Thomas yang Mama maksud juga tinggal di desa?"


"Kak Thomas tinggal di luar negeri," ucap Santi dengan tak bersemangat.


Dia tampak kecewa akan harapannya. Padahal dia sudah sangat berharap jika tebakannya sepenuhnya benar. Dia sangat merindukan sosok kakak angkatnya itu. Kakak angkat yang sangat baik dan berjasa pada dirinya saat dibangku SMP. Yang selalu membelanya saat dia dibully oleh teman-temannya karena terlalu pengecut.


"Ma, sudahlah. Kenapa kamu bersedih hanya karena Thomas? Papa cemburu loh," ucap Irfan kemudian.


Dia mengusap lengan istrinya dengan lembut dan berusaha untuk membuat Santi agar tak bersedih lagi. Thomas memang sosok seorang kakak yang sangat baik bagi istrinya itu. Irfan bahkan sangat cemburu saat Santi terlihat bersemangat membahas sosok seorang Thomas. Namun dia juga mengerti kenapa istrinya itu sampai segitunya memuji Thomas atas semua yang pernah terjadi. Dia yang berteman dengan Thomas pun mengakui kebaikan hati pria itu.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.

__ADS_1


.


__ADS_2