Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
45. Di Terima Kerja


__ADS_3

Di malam berikutnya, Rico sedang makan malam berdua bersama Alina. Karena aktifitas sudah tak sesibuk sebelumnya, akhirnya mereka memiliki banyak waktu luang untuk bertemu, tak lagi menunggu malam minggu hanya untuk sekedar bertemu.


"Setelah ini kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Rico disela makan mereka.


"Pulanglah. Sudah malam, Co."


"Astaga, bukan itu maksudnya. Maksudku, setelah lulus kuliah, kamu mau lanjut ke mana? Atau mau lanjut S3?"


Alina terkekeh mendengarnya. "Udah cukup. Mau fokus kerja aja," jawab Alina.


"Kamu masih mau kerja di restoran? Nggak ada niatan mencari pekerjaan baru gitu?"


"Sudah dapat kok."


Rico mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Alina. Sudah dapat? Kenapa dia tidak tahu?


"Di mana, Sayang? Kenapa aku nggak tahu?" tanyanya dengan heran.


"Di kantor. Nanti kamu juga tahu sendiri kok," ucap Alina dengan tersenyum.


"Sayang, kenapa kamu jadi main rahasia begini sama aku?" tanya Rico yang masih dengan herannya.


Dia jadi curiga, kenapa Alina banyak sekali menyembunyikan sesuatu darinya. Mulai dari orang tua yang belum mau Alina kenalkan padanya, rahasia yang bahkan Rico sendiri tak tahu tentang apa, kini Alina juga menyembunyikan pekerjaan barunya darinya. Wanita ini jadi semakin misterius baginya.


Alina pun kembali terkekeh mendengarnya.


"Aku akan bekerja di ZW corps, Co," ucap Alina yang akhirnya memberitahu di mana dia akan bekerja.


Bukannya tenang karena sudah berhasil mengetahui lokasi kerja pacarnya, Rico justru dibuat terkejut mendengarnya.


"ZW corps?" gumamnya pelan dan diiyakan Alina.


"Bagaimana bisa, Sayang?" tanya Rico yang seolah tak percaya atas apa yang pacarnya itu katakan.


ZW corps adalah sebuah perusahaan internasional yang akan didirikan di kota ini. Perusahan itu milik orang Indonesia asli, hanya saja keluarga mereka menetap di luar negeri dan akan kembali ke kota ini dalam waktu dekat. Anak pertama mereka yang akan mengambil alih sepenuhnya atas cabang baru yang mereka dirikan di sini.


Perusahaan itu memang belum beroperasi sama sekali, mereka masih dalam masa pemilihan karyawan sejak dua bulan lalu. Menurut informasi yang dia dapatkan, untuk menjadi karyawan di ZW corps juga tidak semudah yang dibayangkan jika tidak memiliki nilai akademi yang tinggi.

__ADS_1


Rico jelas saja terlihat heran saat Alina mengatakan jika dirinya diterima bekerja di sana, apalagi saat ijazah nya saja belum keluar. Bahkan wanita itu belum genap satu minggu lulus kuliah. Hebat sekali, pikirnya. Apa Alina selalu melakukan semuanya dengan cepat dan tenang seperti ini? Sampai-sampai dia menyangka jika wanita itu sudah berusaha mencari pekerjaan disela waktu sibuknya.


"Jangan dipikirin deh. Sebaiknya kamu lanjutkan saja makannya, makananmu masih banyak tuh," ucap Alina mengalihkan.


"Tapi aku–"


"Co, kamu nggak yakin ya kalau aku bisa bekerja di sana?" tanya Alina menyela perkataan Rico.


"Bukan begitu, Sayang. Aku yakin banget dengan kemampuan kamu, kamu pasti bisa bekerja di perusahaan besar manapun. Tapi aku hanya penasaran saja, soalnya kamu 'kan baru lulus kuliah, nilai kamu saja belum keluar saat melamar pekerjaan di sana, bukan?"


"Anggap saja sebuah keberuntungan. Sudah ah jangan dibahas lagi, ada waktunya nanti kita membahas itu semua. Sekarang kita nikmati saja semua makanan ini. Khusus malam ini, aku yang traktir kamu oke?" ucap Alina dengan dengan menaik turunkan alisnya.


Andi yang tadi sangat penasaran dengan keberuntungan pacarnya itu lantas tersenyum melihat ekspresi Alina yang sangat menggemaskan. Lebih baik dia lupakan rasa penasarannya yang tidak jelas itu, lagi pula Alina memang sangat pantas bekerja di tempat yang terbaik seperti ZW corps.


"Baiklah. Traktiran dari calon karyawan ZW corps ya," ucap Rico dengan nada menggoda. Membuat Alina tertawa mendengarnya.


Mereka kembali menikmati makan malamnya dengan tawa kecil sembari berbincang santai agar suasana tak terlalu membosankan. Setelah hampir satu jam lamanya di dalam restoran itu, kini mereka memutuskan untuk segera pulang.


Dalam perjalanan pulang, Rico baru teringat akan rencana liburan mereka yang sempat dia bicarakan kepada Andi kemarin. Dia harus segera bicara kepada Alina dan menanyakan kapan waktu yang pas untuk mereka pergi berlibur.


"Sayang."


"Kamu masih ingat 'kan kalau Andi pernah ngajakin kita liburan berempat?" tanya Rico.


"Ya, kenapa? Apa rencananya jadi?"


"Tentu. Kemarin aku dan Andi sudah membicarakannya."


"Kapan?"


"Kamu bisanya kapan?"


"Kenapa tanya aku? Yang sibuk 'kan kalian, seharusnya kalian yang menentukan waktunya," ucap Alina.


"Loh, memangnya kamu nggak kerja?" tanya Rico dengan heran.


"Aku sudah mengajukan resign kemarin dan minggu depan aku sudah nggak kerja lagi. Maaf aku baru beritahu kamu, aku juga baru ingat," ucap Alina kemudian dengan sedikit menyengir. 

__ADS_1


Sebelum Rico protes karena dia yang tidak cerita tentang pengunduran dirinya itu, lebih baik dia meminta maaf terlebih dahulu. Dan karena dia sudah meminta maaf dan memberikan alasannya, Rico pun hanya menggelengkan kepalanya saja. Pacarnya itu benar-benar tidak terduga, pikirnya.


"Jadi minggu depan kamu sudah nggak bekerja lagi ya?" tanya Rico memastikan kembali dan diiyakan Alina.


"Terus, kapan kamu mulai bekerja di ZW corps?"


"Belum tahu, tapi yang pasti tidak dibulan ini."


"Yasudah, kalau begitu nanti aku tanya ke Andi dan Rena dulu ya. Kita samakan jadwal dulu."


"Siap, Bos," ucap Alina dengan tersenyum senang.


Tak lama mobil yang Rico kendarai telah tiba di apartemen yang ditinggali Alina. Kebetulan lokasi restoran yang mereka kunjungi tak jauh dari apartemen itu berada. Sebelum Alina keluar dari mobil, Rico menyampaikan pesan orang tuanya terlebih dahulu kepada Alina yang dititipkan padanya sore tadi.


"Sayang, besok Mama ngajak lunch bareng di rumah. Kamu ada kesibukan nggak besok siang?"


Sudah sangat lama sejak Alina sakit Santi tak bertemu dengan pacar putranya itu dan kini dia sangat rindu berinteraksi dengan Alina.


"Boleh. Aku juga sudah lama nggak bertemu dengan mama kamu."


"Yaudah, sekarang kamu masuklah ke dalam, ini sudah malam. Besok sebelum makan siang aku jemput kamu di sini ya."


Alina menganggukkan kepalanya, setelah itu dia segera turun dari mobil dan melambaikan tangannya hingga mobil yang dikendarai Rico pergi menjauh. Dengan senyum mengembang, Alina masuk ke dalam dengan sesekali menyapa petugas di sana.


Hari ini dia sangat senang sekali.


Em, no!


Bukan hanya hari ini, tapi sejak dia memutuskan untuk mempercayai Rico sepenuhnya dan mau menerima ajakan menikah pria itu, entah kenapa perasaannya jauh lebih lega. Seolah ada sesuatu yang selama ini dia nantikan terpenuhi.


Entahlah, semoga saja perasaan bahagia ini bukanlah sesuatu yang semu.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰

__ADS_1


.


.


__ADS_2