
Sejak sore Alina sudah berada di kediaman Santi. Hari ini dia diminta Santi untuk menemaninya berkumpul bersama teman-teman arisannya. Santi sengaja mengajak Alina pada perkumpulannya karena ingin memperkenalkan calon menantunya itu kepada teman-temannya. Dia yang sangat senang Alina akan menjadi menantunya jadi sangat tidak sabar untuk memperkenalkan Alina.
Berhubung Santi dan Alina sama-sama tidak bisa memasak, jadi mereka berdua hanya membantu sedikit dari pekerjaan pembantu rumah tangga di sana.
Saat suara Adzan berkumandang, Santi mengajak Alina untuk beribadah terlebih dahulu sebelum melakukan makan malam bersama. Karena semua kamar tamu sedang tidak bisa digunakan untuk Alina sholat, jadi Santi menyarankan Alina untuk sholat di kamar Rico.
Awalnya Alina menolak karena tidak enak jika Rico pulang dan dia berada di kamarnya. Namun saat Santi mengatakan jika Rico masih berada di kantor, Alina pun akhirnya mengiyakan ucapan wanita itu. Setelah mendapatkan mukenah dari Santi, dengan segera Alina memasuki kamar Rico dan bergegas untuk melaksanakan ibadahnya. Sebelum Rico pulang ke rumah, Alina harus sudah keluar dari sana, dia tidak mau ketahuan jika sudah masuk ke sana oleh pacarnya itu.
Sejak memasuki kamar itu, Alina tidak berniat sama sekali melirik isi kamar Rico karena dia ingin cepat-cepat keluar dari sana. Namun saat selesai shalat, saat itu pandangan Alina tak sengaja menatap figur yang berada di atas meja kecil, yang sepertinya biasa digunakan Rico membaca buku.
Di atas meja, Alina melihat figur yang menampakkan gambar sepasang pria dan wanita. Karena penasaran, Alina mendekati meja tersebut dan setelah berada di sana, dia melihat gambar tersebut ternyata adalah foto dirinya bersama Rico yang sedang tersenyum lebar. Foto tersebut diambil saat mereka sedang dinner di salah satu restoran hotel beberapa bulan lalu.
Tanpa sadar, Alina tersenyum melihat figur tersebut. Dia hendak meraih figur tersebut, namun belum sempat memegangnya tiba-tiba suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Alina dan dia spontan menghadap ke arah pintu. Saat pintu terbuka, Alina terkejut ketika melihat sosok Rico yang berada di sana dan berjalan masuk ke dalam kamar sembari menenteng jas kerjanya.
"Alina," ucap Rico saat menyadari wanita itu berada di dalam kamarnya.
Alina pun yang seperti sedang dipergok oleh Rico lantas terdiam tak bisa berkutik.
"Sayang, kamu ngapain di kamar aku?" tanya Rico sembari menghampiri wanita itu. Kemudian dia melihat figure foto dirinya bersama Alina yang ada di atas meja, lalu mengabaikannya.
"Tadi Mama kamu suruh aku shalat di sini. Katanya kamar tamu dibawah sedang dipakai untuk saudara kamu yang baru datang dan kamar tamu di atas sedang dibersihkan," ucapannya dengan salah tingkah. Dia mengingat bibir bawahnya dengan kaku.
Alina berniat untuk pergi dari sana, namun langkahnya terhenti saat Rico menggenggam tangannya.
"Kenapa?" tanya Alina.
"Nggak papa. Kalau begitu aku mandi dulu ya."
Tanpa basa-basi Rico mengusap kepala hingga pipi Alina dengan lembut, lalu melewati wanita itu begitu saja dan masuk ke dalam kamar mandi tanpa pamit.
Alina pun yang terlihat salah tingkah lantas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Beberapa detik kemudian dia tersadar dan segera keluar dari kamar pacarnya itu sebelum ada yang memergokinya sedang berduaan bersama Rico di dalam kamar yang akan menimbulkan fitnah.
Saat itu di ruang tamu terlihat sudah mulai ramai orang berdatangan. Alina menuruni tangga dengan ragu karena dia tidak melihat satu orang pun yang dikenalnya di bawah sana, bahkan saudara Santi yang sempat bertemu dengannya sebelum shalat tadi tak tahu kemana. Karena bingung mau melakukan apa, akhirnya Alina memutuskan untuk pergi ke dapur dan membantu pembantu di sana untuk mempersiapkan makan malam mereka yang akan dilakukan di taman samping rumah.
Tak ada yang menegur Alina sama sekali selain pekerja di sana. Mungkin karena tidak ada yang mengenalnya juga, namun hal itu justru membuat Alina senang karena dia bisa lebih leluasa melakukan pekerjaannya tanpa ada yang bertanya siapa dirinya. Saat semua makanan sudah hampir tersedia di atas meja, tiba-tiba Santi yang tak sengaja melihat Alina sedang menata piring makanan langsung berjalan menghampirinya.
__ADS_1
"Sayang, kamu ngapain?" tanya Santi sembari menyentuh pundak Alina.
Alina pun yang merasa sentuhan tersebut lantas menoleh ke arah wanita itu dan tersenyum manis.
"Mama, Alina hanya membantu kok," ucap Alina.
"Astaga Sayang, kamu nggak perlu membantu. Sudah cukup, ayo kita duduk. Makan malam sebentar lagi akan dimulai, tinggal menunggu Rico dan juga papanya."
Alina mengangguk dan mengikuti Santi untuk duduk di meja makan bundar yang sangat lebar itu.
Melihat Alina yang duduk di samping Santi, lantas semua teman-teman arisan Santi bersama salah satu saudaranya yang baru datang terlihat bertanya-tanya akan diri wanita itu. Ada beberapa dari mereka yang berbisik kepada temannya yang lain dan ada juga beberapa yang hanya diam dengan pemikirannya sendiri.
Santi sangat paham maksud tatapan dan bisikan dari teman-temannya di sana. Sambil menunggu kedatangan anak dan suaminya, akhirnya Santi memperkenalkan Alina terlebih dahulu kepada semua yang berada di sana. Mereka sudah saling bergumam mendengar pernyataan Santi tentang Alina yang akan menjadi menantunya. Begitu banyak gumaman yang tak Santi ketahui, tapi dia merasa cuek saja akan hal itu. Dia hanya merespon beberapa tanggapan baik dari sebagian teman-temannya di sana.
Beberapa menit kemudian terlihat Rico dan Irfan berjalan menghampiri meja makan secara bersamaan. Wajahnya yang tampan dan cara jalan yang terlihat begitu gagah membuat beberapa orang yang ada di sana –khususnya wanita– terlihat memuji, namun ada beberapa juga yang terlihat biasa saja karena mengetahui jika Rico hanya anak angkat di keluarga Renaldi.
Saat semua sudah berkumpul di meja makan, makan malam pun segera dimulai. Semua orang menikmati hidangan yang ada di atas meja dengan sangat khidmat. Rasa makanan yang sangat lezat pun membuat mereka semua enjoy menikmati makan malam mereka malam itu.
Setelah makan malam, para pria berkumpul di ruang tamu bersama Irfan dan Rico, sementara para wanita menetap di taman itu untuk melakukan kegiatan arisan mereka dengan ditemani berbagai cemilan dan minuman yang telah disediakan oleh tuan rumah.
Di sana Alina yang tidak mengenal siapa pun kecuali Santi, berusaha untuk berbaur kepada orang-orang yang ada di sana. Meski lebih banyak diam dan mendengarkan, tapi setidaknya Alina tidak mempermalukan wanita yang sudah mau mengajaknya ke acara ini.
"Aisshh, begini banget sih nasibku," gumam Alina dengan memanyunkan bibirnya.
Kebingungan Alina terhenti saat seseorang wanita cantik yang diyakini adalah anak dari salah satu teman Santi menghampirinya.
"Hai," sapanya dan dibalas oleh Alina dengan senyuman manis dan anggukan kepala.
"Rebecca," ucap wanita itu mengenalkan diri sembari mengulurkan tangannya. Bermaksud untuk bersalaman kepada Alina.
Alina yang melihat itu pun langsung menerima uluran tangan wanita itu sambil menyebutkan namanya.
"Kamu pacar Rico?" tanya wanita itu yang kini sembari meraih gelas minuman di atas meja.
"Ya," jawab Alina sambil memperhatikan tingkah Rebecca yang terlihat berkelas namun angkuh.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum simpul dan menghadap ke arah Alina. Dia memasati tubuh Alina dari atas hingga bawah, seperti sedang menilai penampilannya.
"Apa kamu tahu siapa Rico?"
Alina mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan wanita itu
"Maksud kamu apa?" tanya Alina. Dia tidak mengerti maksud wanita itu, namun Alina juga memiliki filling akan sesuatu yang tidak baik.
"Ow, jadi kamu belum tahu kalau sebenarnya Rico itu…" Rebecca mendekatkan bibirnya ke telinga Alina, "anak angkat keluarga Renaldi."
Rebecca menarik tubuhnya dari Alina dan tersenyum miring. "Bukan anak kandung," lanjutnya sambil menggelengkan kepala.
Alina pun yang mendengar itu hanya diam saja sembari menatap ke arah Rebecca.
"Kamu tahu?" ucap Rebecca setelah beberapa detik mereka saling diam. "Dulu aku dan Rico sempat dekat. Kita hampir saja menjalin hubungan, tapi aku lebih dulu mengetahui rahasianya ini. Karena merasa dibohongi, akhirnya aku meninggalkannya."
Rebecca berjalan dari sisi kanan ke sisi kiri Alina dengan perlahan sambil memegang gelas minumnya.
"Alina, aku sudah berbaik hati karena sudah memberitahu rahasia Rico denganmu. Jadi, lebih baik kamu ambil keputusan sebelum semuanya terlambat. Kamu tenang saja, aku nggak akan minta imbalan kok. Aku hanya membantu sesama wanita saja," ucapnya lagi dengan kalimat yang terdengar sangat lembut namun penuh maksud.
Alina masih dengan diamnya. Bahkan dia terlihat tersenyum setelah Rebecca selesai mengutarakan semua kebenaran itu. Dan dengan senyuman itu, tentunya membuat Rebecca menjadi heran.
"Kenapa kamu tersenyum?"
"Aku sudah tahu semua yang kamu katakan tadi. Tentang siapa Rico dan bagaimana statusnya di keluarga Renaldi. Seharusnya kamu nggak perlu repot-repot memberitahuku, Rebecca. Dan asal kamu kamu tahu, aku nggak keberatan sama sekali dengan semua itu. Aku menerima Rico apa adanya."
Rebecca tertawa mendengar perkataan Alina, membuat Alina terheran. Kemudian Rebecca menghentikan tawanya, seolah takut jika tawanya dapat mengundang perhatian orang-orang di sana.
"Apa aku nggak salah dengar? Kamu menerima dia apa adanya?"
Rebecca memutar bola matanya malas.
"Lalu bagaimana dengan keluarga kamu? Mereka pasti nggak akan bisa menerima Rico seperti kebodohan yang kamu lakukan, Alina."
"Mereka menerima Rico. Nggak ada yang perlu dicemaskan dari statusnya sebagai anak angkat. Lagi pula siapa diriku yang berharap lebih untuk pria kaya."
__ADS_1
Rebecca tersenyum mengejek mendengar jawaban Alina. Kemudian dia kembali menatap Alina dari atas hingga bawah. Kali ini Rebecca benar-benar seperti sedang menilai setiap inci dari tubuh dan pakaian yang dia pakai. Setelah pandangannya cukup lama tertuju pada heels murahan Alina, Rebecca langsung menatap kembali pada Alina.
"Ya, kamu memang nggak berhak berharap lebih kepada seorang pria kaya. Kamu memang cocok untuk Rico, karena kalian berdua berada pada level yang sama. Sama-sama rendah," ucapnya tanpa ragu.