Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
108. Kejutan l


__ADS_3

Siang itu saat mendapatkan kabar jika Alina meminta keluarganya untuk berkumpul karena ada hal penting yang ingin disampaikannya, Morgan masih terlihat cuek. Dia hanya mengiyakan dan fokus kembali pada pekerjaannya karena saat itu dia sedang mengerjakan sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.


Sore hari saat semua pekerjaannya telah selesai, barulah Morgan kepikiran tentang hal ini. Dia bahkan sangat penasaran kenapa Alina dan Rico ingin mereka berkumpul hanya karena ingin mengatakan sesuatu. Jika benar itu sangat penting untuk dikatakan, kenapa harus menunggu malam dan tidak dikatakan dengan segera saja ketika orang suruhan papanya menelpon. 


Morgan mungkin bukan satu-satunya orang yang memiliki kecurigaan terhadap adiknya itu, namun karena waktunya saat ini sedang luang, Morgan pun mencoba untuk melacak lokasi adiknya itu berada. Dia curiga jika Alina dan Rico saat ini sudah tidak berada di Norwegia lagi. Karena menurutnya, jika hanya ingin mengatakan sesuatu saja mereka bisa melakukannya melalui panggilan video pada ponsel masing-masing, tidak perlu meminta untuk berkumpul. 


Ya, Morgan membenarkan pemikirannya itu. Dia sangat curiga jika Alina saat ini sudah tidak berada di Norwegia lagi dan akan memberikan kejutan kepada mereka dengan kepulangannya. 


Laptop sudah berada di depan mata dan Morgan mulai mengotak-atik benda tersebut untuk mencari lokasi adik serta adik iparnya itu berada. Setengah jam lebih fokus pada layar laptopnya, kini Morgan menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Seperti dugaannya beberapa menit lalu, saat itu Morgan melihat lokasi ponsel Alila berada di salah satu hotel yang tak jauh dari bandara kota ini berada. 


"Tuh 'kan benar dugaanku. Alina dan Rico pasti sudah tidak ada di Norwegia lagi. Apa ini hal penting yang membuat dua keluarga harus berkumpul?"


Karena merasa ingin membuat kesel adik bungsunya itu, dengan licik Morgan meraih ponselnya untuk menghubungi Alina ataupun Rico.


Tut… tut… tut… tut…


Tiga panggilan yang dia lakukan tak mendapat jawaban dari Alina maupun Rico. Morgan merasa jika adiknya itu sengaja tidak menjawab panggilannya karena ingin menyempurnakan kejutannya.


"Dasar ya kalian berdua. Kalian pikir hanya kalian saja yang punya kejutan, aku juga punya kali," gumam Morgan pelan.


Tanpa kehilangan ide, Morgen pun mulai mengetikkan sebuah pesan yang akan dia kirimkan ke ponsel Alina dan Rico secara bersamaan. 


'Aku tahu kalian sudah nggak di Norwegia lagi.'


Setelah pesan singkat tersebut berhasil terkirim, Morgan pun mengirimkan hasil screenshot foto hotel yang menjadi tempat istirahat Alina dan Rico melalui pencariannya internet. Dia sengaja mengirimkan itu agar adik dan adik iparnya itu menyadari jika dirinya sudah mengetahui keberadaan mereka. 


Dan benar saja, tak sampai 10 menit dari itu Alina dan Rico sudah membaca pesannya. Saat itu Morgan terlihat excited untuk melihat balasan dari kedua orang itu. Dia sangat penasaran apakah Alina dan Rico terkejut dengan pesannya itu. Tapi sepertinya dugaannya pasti benar, adiknya itu pasti sangat terkejut.


Mata Morgan masih tertuju kepada layar ponselnya, menanti balasan dari adiknya yang saat ini masih mengetik. Hampir 1 menit tulisan mengetik pada pesan chat adiknya itu, namun Alina tak juga mengirimkan balasannya. Hal membuat Morgan saat heran, apa yang sedang diketik adiknya itu, pikirnya.


Karena bosan menunggu, Morgan pun melempar ponselnya ke atas meja dan saat itu juga ponsel Morgan berdering kencang yang menandakan adanya panggilan suara. Dengan cepat Morgan melihat layar ponselnya. 


Di sana terlihat Alina yang menelponnya, membuat senyum Morgan mengembang sempurna. Tanpa menunggu lama Morgan segera menjawab panggilan adiknya itu.


"Hai, adik Abang tersayang."


"Abang apaan sih. Kenapa bisa tahu kalau kita sudah di sini," ucap Alina dengan suara yang tidak ramah sama sekali. Membuat Morgan terkekeh geli karenanya. Dia sangat yakin jika saat ini adiknya itu sedang memajukan bibirnya karena merajuk.


"Abang, please berhenti tertawa?"


Morgan pun menghentikan tawanya mendengar suara adiknya itu.


"Abang tahu dari mana kalau aku dan Rico sudah pulang?" tanya Alina lagi yang belum mendapat jawaban dari abangnya itu. "Apa Louis dan Sasha memberitahu papa tentang kepulangan kami?"


"Nggak kok. Hanya Abang yang tahu kalau kamu sudah ada di sini," sahut Morgan.


"Abang tahu dari mana?" tanya Alina dengan penasaran. 


"Kepo ya?" ucap Morgan dengan isengnya.


"Ih Abang, serius loh. Abang tahu dari mana? Jujur saja, pasti Louis 'kan yang memberitahu Abang?"


"Nggak, Sayang. Beneran."


"Terus?"


"Louis dan Sasha nggak memberitahu kita tentang kepulauan kalian. Lagian kalian kenapa pulang tiba-tiba dan meminta kami untuk berkumpul?"


"Jawab dulu pertanyaanku. Abang tahu dari mana kalau kami sudah pulang?" tanya Alina lagi yang kini terkesan memaksa. 


Dan Morgan pun yang tak berniat menyembunyikan ke isengannya itu lantas menjawab pertanyaan Alina dengan jujur.


"Abang melacak lokasi ponsel kalian dan siapa sangka kalau kamu mengaktifkan GPS sehingga Abang bisa tahu sedang di mana kamu berada saat ini."


"GPS?"


Alina pun langsung mengecek ponselnya dan ternyata benar, GPS yang ada di ponselnya ternyata aktif, itu kenapa Morgan bisa melacak lokasinya melalui ponselnya. 


"Abang, apa Abang memberitahu mama dan papa kalau aku sudah pulang?" tanya Alina dengan hati-hati.


"Nggak, Al. Abang baru saja mengecek lokasi kalian dan langsung menelpon kalian. Sengaja ya nggak angkat telepon Abang?" tanya Morgan.


"Ya iyalah, 'kan rencananya kita mau memberi kejutan, tapi siapa sangka kalau Abang ternyata lebih dulu yang memberi kejutan kepada kita," ucap Alina.


Morgan kembali terkekeh, ternyata adiknya itu benar-benar merasa terkejut dengan pesannya. Itu artinya rencananya untuk membuat Alina kesal ternyata berhasil. 


"Kalian tenang saja, Abang akan merahasiakan kepulauan kalian kok. Oh ya, kalian kenapa cepat sekali pulangnya. Bukannya kamu sedang menikmati Aurora di sana? Itu 'kan pemandangan yang sangat ingin kamu lihat sejak lama, Al. Apa sudah puas melihatnya?"


"Belum," jawab Alina singkat yang membuat Morgan mengernyitkan keningnya dengan heran.


"Lalu?"


"Ya…" Alina tampak memikirkan jawaban yang sekiranya tidak akan membuat abangnya itu tahu kebenaran akan kepulangannya ini. Meskipun Morgan tahu jika dia sudah berada di Indonesia, namun abangnya itu tidak boleh tahu alasan dari kepulangannya ini. "Cuma pengen pulang saja. Aku rindu dengan mama, soalnya mama nggak menjawab telepon kita sejak kita berada di Eropa."


Alasan yang sangat masuk akal, membuat Morgan percaya begitu saja dengan ucapan adiknya. Mungkin Alina benar-benar merindukan kedua orang tuanya, apalagi mereka baru saja bertemu setelah sekian lama Alina merantau dan tinggal jauh dari orang tuanya. Ditambah lagi komunikasi yang benar-benar terputus selama satu bulan ini, mungkin saja Alina benar-benar merindukan mereka. 


"Baiklah-baiklah. Kalau begitu Abang mau pulang dulu ya, mau siap-siap untuk dinner nanti malam."


"Abang masih di kantor?" tanya Alina.


"Tentu saja. Pekerjaan di kantor sangat menumpuk, apalagi asisten kedua abang sedang cuti."


"Iya-iya, sorry deh. Sekarang 'kan asisten abang udah pulang, lusa sudah bisa masuk kerja."


"Bagus deh kalau begitu," sahut Morgan yang saat itu sambil mengemas barang-barangnya ke dalam tas kerjanya.


"Oh ya, ngomong-ngomong kalian mau makan di mana nanti malam?"


"Abang belum tahu berkumpul di mana. Nanti abang shareloc saja kalau sudah mengetahui lokasinya ya."


Alina meninggalkannya dan setelah itu mereka mengakhiri panggilannya masing-masing. 


"Bagaimana?" tanya Rico kepada istrinya setelah panggilan terputus.


"Bang Morgan sudah tahu kalau kita di sini. Dia melacak ponselku  ternyata GPS aku tidak dinonaktifkan."


"Terus, siapa lagi yang tahu selain Morgan?" 

__ADS_1


"Sepertinya nggak ada deh. Katanya sih dia baru mengetahui lokasi kita dan langsung menelpon."


"Kalau gitu kita masih bisa memberi kejutan kepada mama dan papa dong,, ucap Rico dan diiyakan oleh Alina. 


"Ya sudah kalau begitu. Oh ya, kamu mau mandi sekarang?" tanya Rico kepada istrinya


Rico takut jika istrinya itu masih mengantuk. Dia ingin istrinya itu segera mandi untuk mengusir kantuk karena saat ini mereka sudah tidak boleh tidur kembali karena waktu telah menjelang petang.


Saat Morgan menelpon tadi, mereka memang masih tertidur. Bukan hanya sekedar sengaja tidak mau menjawab panggilannya karena ingin memberi kejutan, namun mereka juga tidak mau diganggu dengan waktu istirahatnya yang singkat itu. Namun pada panggilan ketiga Morgan, membuat mereka benar-benar terusik. Saat ingin menonaktifkan ponselnya, mereka sangat terkejut ketika melihat pesan dari pria itu yang mengatakan jika dirinya mengetahui bahwa mereka sudah berada di Indonesia. 


Mengetahui itu Alina dan Rico langsung membuka matanya dengan lebar. Mereka bergegas menghubungi Morgan karena mereka takut jika orang tua mereka juga sudah mengetahui kepulangannya itu. Jika benar begitu, maka rencana kejutan mereka akan gagal total.


Setelah mengetahui jika hanya Morgan yang tahu kepulangan mereka, Alina bisa sedikit bernafas lega. Meskipun Morgan sudah mengetahui keberadaan mereka saat ini, setidaknya keluarga mereka yang lain, terutama orang tua mereka tidak mengetahui itu. Sehingga mereka bisa melanjutkan rencana kejutannya yang akan dilakukan nanti malam.


**


Setelah menyelesaikan ibadah maghribnya, Alina dan Rico segera bersiap untuk pergi ke sebuah restoran untuk memberi kejutan kepada orang tuanya. Tiga puluh menit lalu, Morgan sudah mendapatkan lokasi restoran yang akan mereka datangi dan dia juga sudah mengirimkan lokasinya kepada Rico dan Alina 


Dengan saling membantu memperbaiki penampilannya, tak sampai satu jam sepasang suami istri itu kini telah siap dengan penampilannya yang akan memberi kejutan kepada keluarga mereka. Bukan hanya kepada orang tuanya saja, Morgan yang telah mengetahui keberadaan mereka pun juga akan mendapatkan kejutan tentang kehamilan Alina saat ini, karena pria itu memang belum mengetahui tentang kehamilannya


Setelah taksi yang dipesan Rico telah tiba di depan hotel, kini Rico mengajak istrinya untuk turun. Dalam perjalanan menuju restoran, saat itu ponsel Alina berdering. Dia melihat pesan masuk dari abangnya yang menanyakan keberadaannya saat ini. 


"Siapa, Sayang?" tanya Rico.


"Bang Morgan. Dia nanya kita di mana."


"Mereka sudah tiba?" 


"Iya."


"Yasudah, bilang saja sedang di jalan."


Alina mengangguk dan segera membalas pesan abangnya itu seperti apa yang suaminya katakan. Setelah pesan berhasil terkirim, Alina meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas, sementara dia menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya.


"Sayang" panggil Rico yang berhasil membuat Alina menoleh.


"Ada apa?" tanya Alina.


"Apa kamu menginginkan sesuatu?"


"Menginginkan sesuatu? Maksud kamu mengidam?" tanya Alina dan dijawab Rico dengan anggukan kepala. 


Alina terdiam sejenak, kemudian dia menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya nggak deh. Aku belum merasakan apa-apa, paling hanya pusing seperti biasa saja."


"Apa saat ini masih pusing?" tanya Rico dengan sedikit khawatir. 


"Nggak kok."


"Kamu yakin?" tanya Rico memastikan.


Dia tidak mau istrinya itu berpura-pura strong dengan memaksakan dirinya dan mengabaikan kesehatannya meski hanya pusing ringan yang dirasakannya. 


"Iya, Sayang. Kalau pusing 'kan aku pasti bilang sama kamu. Saat ini aku sudah nggak pusing, kamu tenang saja ya," ucap Alina lagi dengan tersenyum, meyakinkan suaminya jika dia benar-benar sedang baik-baik saja saat ini. 


Kali ini dia tidak akan egois, dia akan mengatakan kepada suaminya itu jika sedang merasakan keluhan yang membuat tubuhnya tidak enak.


Setelah hampir 2 jam di perjalanan karena saat ini jalanan malam sangat padat, kini akhirnya mobil yang ditumpangi Rico dan Alina sudah tiba di depan sebuah restoran bintang lima. Alina yang saat itu tertidur lantas dibangunkan oleh sang suaminya. Rico sengaja meminta istrinya untuk tidur selama di perjalanan karena dia takut jika Alina kelelahan.


"Sayang, ayo bangun, kita sudah sampai," ucap Rico sembari menyentuh lembut pipi istrinya itu. 


Alina menggeliat. Karena saat itu posisi tidurnya yang tidak nyaman, tak sulit untuknya membuka mata. Dalam hitungan detik pun Alina sudah tersadar dari tidurnya dan mendudukkan tubuhnya dengan dibantu sang suami.


"Apa kita sudah sampai? Kenapa cepat sekali," ucap Alina yang tidak sadar jika mereka sudah hampir dua jam di perjalanan.


"Cepat apanya, kita sudah hampir 2 jam loh di perjalanan. Kamu nyenyak banget ya tidurnya," ucap Rico.


"Hah, dua jam? Kenapa lama sekali, aku pikir baru beberapa menit."


"Itu karena tidurmu terlalu nyenyak. Apa kamu masih mau tertidur?" tanya Rico kemudian.


"Nggak. Ya sudah, ayo kita masuk. Mereka pasti sudah menunggu kita sejak tadi."


Rico tersenyum mengiyakan, kemudian mereka langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran. Seorang pelayan yang menjaga pintu masuk menyambut kedatangan mereka dengan sangat ramah. Pelayan itu memanggil rekan kerjanya untuk mengantarkan Alina dan Rico ke ruangan yang telah dipesan oleh orang tua mereka. 


Saat melewati beberapa meja makan yang ada di sana, seorang pelayan yang saat itu sedang membawa makanan di tangannya tiba-tiba terpeleset karena lantai yang licin. Makanan yang saat itu masih mengepulkan asap panasnya hampir saja membasahi tubuh Alina jika saja Rico tak cepat menghalanginya dengan tubuhnya.


Dengan posisi memeluk istrinya, Rico merasakan panas yang cukup menyakitkan pada punggung belakangnya. Dia menyatukan gigi atas dan bawahnya dengan kencang sembari menahan perih.


"Astaga, Tuan, Nona," seru pelayan yang hendak membawa Rico dan Alina menuju ruangan tempat keluarga mereka berada dengan terkejut.


Seketika saat itu suasana di dalam restoran menjadi riuh karena kejadian yang tidak disengaja itu. Seluruh pengunjung restoran yang ada di sana menatap ke arah Rico dan Alina, bahkan beberapa pelayan yang ada di sana pun berbondong menghampiri mereka untuk melihat apa yang sedang terjadi dan juga membantu. 


"Sayang, astaga," ucap Alina dengan terkejut.


Desisan dalam yang keluar dari mulut suaminya itu membuat Alina merasakan apa yang saat ini sedang Rico rasakan juga.


"Kamu nggak papa?" tanya Rico kepada Alina. Dia sangat takut jika Alina juga ikut merasakan perih pada bagian tubuhnya akibat terkena makanan panas itu.


Dengan raut sedih, Alina menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak papa. Punggung kamu…?"


"It's oke, yang penting kamu nggak papa," ucapnya seolah tak terjadi apapun pada dirinya.


Namun Alina sangat tahu, dari raut wajahnya Rico saat ini pasti sedang menahan sakit.


"Tuan, Nona, maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja."


Seruan dari belakang tubuh Rico membuat kedua orang itu menatap arahnya. Tak seperti rata-rata orang yang mendapatkan musibah akan marah kepada yang menyebabkan musibah tersebut, kini Rico justru menganggukan kepalanya tanpa menunjukkan raut emosi sedikitpun pada pelayan itu.


"Nggak papa, mungkin lantainya memang licin  tapi lain kali kamu harus hati-hati. Bagaimana jika tadi istri saya yang terkena makanan panas ini?"


"Baik, Tuan. Sekali lagi maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar sengaja. Maafkan saya," ucap pelayan tersebut untuk kesekian kalinya kepada Rico dan Alina.


"Ya, nggak papa."

__ADS_1


Melihat Rico dan Alina yang tidak marah padanya, pelayan itu justru merasa sangat bersalah. Bahkan maaf dari Rico itu yang membuat dia merasa sangat tertampar dan sangat tak enak hati. 


"Tuan, Nona, apa kalian tidak apa-apa?"


Seruan dari seseorang yang saat ini baru saja menghampiri mereka membuat ketiga orang itu menatap ke arahnya. Suara tersebut berasal dari seorang pria yang diyakini sebagai manajer restoran itu. Tertera jelas pada name tag yang ada di dadanya.


"Saya nggak papa. Lain kali lantainya harus lebih diperhatikan lagi. Hal seperti tadi bisa saja terjadi kembali jika kalian masih lalai dalam hal kecil."


"Baik, Tuan, kita akan memperbaiki kelalaian yang telah kami lakukan. Sekali lagi maafkan kami. Ayo minta maaf dengan Tuan dan Nona ini," ucap manajer restoran tersebut kepada pelayan yang menumpahkan makanan panas itu pada Rico.


"Baik, Pak," ucapnya dengan takut. Kemudian dia menatap kembali ke arah Rico. "Tuan, sekali lagi maafkan saya."


Rico pun kembali mengangguk dengan pelan. 


"Tidak masalah." Dia menatap manager restoran itu. "Jangan hanya salahkan dia, seharusnya kalian bekerja secara tim, jadi yang patut disalahkan bukan hanya dia, tapi semua yang bekerja pada malam hari ini," ucap Rico yang mengingatkan manajer restoran tersebut untuk tidak menyalahkan satu orang di sana.


"Baik, Tuan." 


Meskipun tak setuju dengan apa yang Rico katakan, namun hanya itu yang bisa manajer restoran itu katakan padanya. Saat ini bukan waktunya untuk memberikan kebenaran kepada seseorang yang telah menjadi korban kelalaian pegawainya. Dia harus mengiyakan apa kata Rico agar masalah cepat selesai. 


Rico pun saat itu hendak pergi dari sana, namun pelayan restoran yang ada di sana kembali memanggilnya hingga membuatnya menghentikan langkahnya.


"Tuan, apa Anda membutuhkan pakaian ganti? Kebetulan saya membawa kemeja yang belum dipakai. Walaupun hanya kemeja bekas, tapi kemeja itu masih layak untuk dipakai."


Rico berpikir sejenak. Karena merasa tak mungkin memakai pakaian basah itu terus sampai pulang, akhirnya dia mengiyakan perkataan pelayan itu. Lagipula dia tidak aka pakaian ganti dan pakaiannya yang ada di dalam koper sudah dia antarkan ke rumah melalui taksi yang tadi membawanya ke restoran ini.


Sambil menunggu pelayan tersebut membawakan kemeja untuknya, Rico dan Alina pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan yang saat ini ditempati oleh keluarga mereka.


Sembari menahan panas, Rico dan Alina masuk ke ruangan yang saat ini sedang keluarga mereka tempati. Saat pintu ruangan dibuka, terlihat seluruh keluarga mereka berkumpul di dalam sana sedang menikmati makanan yang tersedia di atas meja. 


Terlihat dari makanan yang hampir habis, sepertinya Rico dan Alina datang terlambat karena jalanan yang sangat padat malam itu. 


Keluarga mereka berdua pun yang saat itu sedang menikmati makan malamnya sangat terkejut saat melihat pintu ruangan mereka yang terbuka dengan tiba-tiba sembari memunculkan sosok dua orang yang saat ini sedang mereka tunggu panggilan teleponnya. 


Ya, sejak satu jam lalu mereka sudah sangat menanti panggilan telepon dari kedua anaknya itu, namun hingga saat ini mereka tak juga mendapatkan panggilan dari Rico dan Alina maupun Louis yang ada di Norwegia. Mereka akhirnya sabar menanti sambil menikmati makan malamnya, namun tanpa diduga bukannya panggilan telepon yang mereka terima, tapi sosok fisik kedua anaknya yang mereka rindukan itu kini muncul di hadapannya dengan sangat tiba-tiba. Mereka semua yang ada di ruangan itu berdiri dari duduknya kecuali Morgan yang telah mengetahui kehadiran adiknya di sana. 


"Alina."


"Alina."


"Alina, Rico."


"Abang."


"Alina, Abang."


Semua orang sangat terkejut melihat kehadiran mereka berdua. Seolah hanya mimpi karena tak menyangka jika Alina dan Rico berada di hadapannya saat ini, karena setahun mereka, kedua anaknya itu saat ini masih berada di Norwegia dan baru akan pulang satu hari lagi.


Alina dan Rico tersenyum melihat raut terkejut keluarganya yang dari sana. Mereka berjalan mendekati keluarganya, begitupun dengan para keluarganya yang berjalan mendekati mereka. 


"Sayang, kalian sudah pulang?" ucap Santi dan Zara secara bersamaan. Kedua wanita paruh baya itu dengan cepat berada di sisi Alina sembari memeluknya dengan rasa rindu. 


"Iya, Ma, kita sudah pulang," sahut Alina.


Kemudian Santi dan Zara beralih kepada Rico yang ada di sebelah Alina dan memeluknya secara bersamaan. Namun mereka sangat terkejut saat melihat Rico berdesis menahan perih pada pelukan mereka. 


Santi dan Zara pun yang terkejut melepas pelukannya dengan cepat dan menatap heran ke arah anaknya itu.


"Kenapa, Bang? Kenapa kamu seperti kesakitan?" tanya Santi. 


"Ma, punggung Mas Rico baru saja terkena makanan panas di luar tadi. Sepertinya masih menimbulkan rasa perih."


Perkataan Alina saat itu berhasil membuat kedua wanita paruh baya itu terkejut. Bahkan anggota keluarganya yang lain pun tak kalah terkejutnya mendengar jika Rico baru saja terkena tumpahan makanan yang masih panas pada punggung belakangnya.


"Astaga, kenapa bisa, Sayang? Ya ampun,"


Santi dengan khawatir memutari tubuh putranya itu untuk melihat punggung bagian belakangnya yang terkena makanan panas. Dan benar saja, baju bagian belakang Rico terlihat basah dengan noda makanan yang masih menempel di sana. Dia menyentuh punggung putranya itu dan saat itu Rico tak sengaja berdesis karena merasa sedikit perih pada punggungnya yang disentuh itu. 


"Maaf, Sayang," ucap Santi yang merasa jika sentuhannya membuat putranya kesakitan.


"Ya, Allah, kenapa bisa begini," ucapnya lagi dengan raut wajah yang sangat khawatir melihat putranya yang terluka. 


"Bagaimana bisa terkena makanan panas, Sayang? Apa yang telah terjadi pada kalian?" tanya Irfan yang saat itu juga merasa kasihan melihat putranya. 


Mereka baru saja pulang dari liburannya, namun Rico sudah terkena musibah pada punggung belakangnya. 


"Pelayan restoran nggak sengaja menumpahkan makanan yang masih panas ke arah kami, Ma Pa. Kebetulan saat itu lantainya mungkin sedang licin, jadi dia terpeleset dan nggak sengaja menumpahkannya. Lagipula dia juga sudah minta maaf dan sebentar lagi dia akan datang untuk membawakan pakaian ganti untuk Mas Rico."


"Ya Allah, Sayang, kenapa bisa terjadi seperti ini sih," ucap Santi yang masih dengan raut terkejutnya. "Ayo duduk, kamu pasti merasa perih banget 'kan punggungnya." 


Santimengajak putranya itu untuk duduk ke atas sofa dan mulai membantu membukakan kancing kemeja yang dipakai Rico. Meski kemejanya sudah tidak panas lagi, namun tubuh putranya itu pasti terasa perih karena tersenggol oleh kemejanya yang menempel.


Alina yang melihat Santi begitu khawatir kepada putranya itu lantas terlihat tidak enak hati. Dia merasa bersalah karena Rico mengalami kecelakaan kecil ini gara-gara melindungi dirinya. Jika saja Rivo tidak memasang badan padanya, mungkin saat ini yang terkena luka bakar tersebut adalah dirinya. 


Alina benar-benar tidak enak hati, apalagi dia tahu jika Santi begitu sangat menyayangi Rico lebih dari apapun. 


"Ma, maafin Alina ya."


Semua orang yang ada di sana menatap ke arah Alina begitu mendengar perkataan maafnya. Mereka semua terlihat bingung karena Alina mengatakan hal itu dengan tiba-tiba.


"kenapa kamu minta maaf, Sayang? Apa yang terjadi?" tanya Zara dengan heran dan juga penasaran.


"Sebenarnya, Mas Rico bisa terluka seperti itu gara-gara Alina. Dia sengaja melindungi Alina dari insiden kecil itu. Jika saja tadi Mas Rico nggak memasang badannya untuk Alina, mungkin saja saat ini Mas Rico akan baik-baik saja dan Alina yang akan terkena makanan panas itu."


"Sayang, kenapa kamu minta maaf? Bukankah sudah seharusnya aku melindungi kamu dari segala macam bahaya sekecil apapun. Lagipula hanya terkena makanan panas saja, aku nggak papa kok. Kamu jangan minta maaf seperti itu ya," ucap Rico yang tidak setuju dengan perkataan istrinya itu. 


Bahkan dia akan sangat merasa bersalah jika tidak melakukan hal ini tadinya. 


"Benar, Sayang. Rico itu seorang pria sekaligus suami untuk kamu, sudah sepantasnya dia melakukan hal ini ke kamu. Kamu nggak pernah minta maaf, lagi pula semua yang terjadi sudah menjadi takdir," ucap Thomas kepada putrinya.


"Iya Alina, hanya luka bakar kecil saja, Rico pasti bisa menahannya kok. Kamu jangan merasa bersalah lagi ya."


Kini Irfan pun angkat bicara. Putranya itu adalah seorang lelaki sejati, hanya karena terkena makanan mana saja tak akan membuat putranya itu terluka parah. Mungkin hanya diberi olesan salep untuk meredakan perih pada luka bakarnya sudah cukup untuk membuat putranya lebih baik. Dia bahkan bangga kepada putranya yang telah melakukan hal benar kepada istrinya. 


Santi juga yang tidak setuju dengan perkataan adalah Alina lantas beralih kepada wanita itu setelah berhasil membuka kemeja putranya.


"Sayang, kenapa kamu minta maaf? Kita semua memang khawatir dengan keadaan Rico saat ini, tapi itu nggak akan membuat kami menyalahkan kamu karena yang dilakukan Rico ini sudah benar. Sudah sangat benar. Maaf ya kalau reaksi Mama terlalu berlebihan mengenai hal ini sehingga membuat kamu tersinggung."

__ADS_1


.


(3600 kata loh🥴)


__ADS_2