
"Makanya jangan rese jadi orang. Ngeselin banget, mau aku laporin ke bang Fian hah?" ucap Alina mengancam abangnya.
Morgan pun terkekeh. Jika sudah bawa-bawa Alfian, sekejap saja dia akan menyerah.
"Iya, Adik abang sayang. Maaf ya, Abang hanya bercanda kok."
Setelah itu Morgan menatap kearah Rico.
"Maaf ya, Co, aku hanya bercanda. Kenalin, aku Morgan, Abangnya Alina."
"Aku Rico, Bang," ucap Rico sembari menerima jabat tangan Morgan.
"Nggak usah panggil abang, panggil saja Morgan. Usia kita cuman beda bulan pasti," ucap Morgan.
"Abang beda setahun sama Alina ya?"
"Kita cuma beda setahun, tapi Alina baru lulus S2 dan aku sudah S3."
Alina yang mendengar perkataan sombong abangnya tersebut langsung memutar bola matanya malas.
"Sombong banget," gumamnya.
Morgan memang berusia 1 tahun di atas Alina, namun karena kejeniusan dari Thomas dan Zara yang turun langsung padanya, membuat Morgan bisa menyelesaikan S3 nya lebih cepat dari mahasiswa pada umumnya. Meski Morgan memiliki kejeniusan sama persis seperti Thomas dan Zara, tapi pria itu memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan kedua orang tuanya, yang di mana sang papa memiliki sifat asli seperti Alfian yang terlihat sedikit cool, sementara sang mama sedikitlebih mirip dengan Alina sifatnya.
Di sini sifat receh Morgan kadang lebih sering membuat rasa kesal pada papanya muncul, menjadikan sang papa seperti terlihat bodoh. Mungkin jika orang yang baru mengenal Thomas, akan mengira jika pria itu sedikit receh, namun untuk orang yang sudah lama mengenal Thomas jauh dari sebelum anaknya lahir, mereka akan sangat terkejut melihat perubahan sifat Thomas yang jauh berbeda itu.
Kembali pada Morgan, pria yang sangat suka bercanda dan mengusili orang-orang itu kini terlihat berbincang bersama Rico di ruang tamu. Sementara Alina izin pergi ke kamar abangnya untuk menemani keponakannya yang sedang tidur bersama kakak iparnya. Dia sengaja membiarkan Rico berdua dengan abangnya agar pria itu bisa beradaptasi mengenal keluarganya.
Saat sedang asyik mengobrol bersama Morgan, sepasang paruh baya saat itu terlihat berjalan menghampiri mereka. Pasangan yang tak asing di pandangan Rico membuatnya menembak jika pria dan wanita tersebut adalah orang tua Alina. Dari foto yang dilihatnya pada pernikahan Alfian di sosial medianya, dia bisa mengenali wajah Thomas dan Zara karena wajah mereka saat difoto dan aslinya saat ini tidak terlalu jauh berbeda. Yang membedakan hanya terdapat sedikit kerutan pada wajah paruh baya tersebut, mungkin karena faktor usia yang mempengaruhi. Namun itupun jika dilihat dari dekat, karena jika dilihat dari jauh maka pasangan paruhbaya tersebut terlihat seperti baru berusia 37 tahun.
Rico yang melihat kedatangan dua orang tersebut lantas bangkit dari duduknya dan tersenyum ramah.
"Selamat pagi, Paman, Bibi," ucapnya. Kemudian dia menyalami kedua orang tua Alina tersebut.
__ADS_1
"Selamat pagi. Rico ya?" tanya Thomas dan langsung diiyakan oleh Rico.
Di sana dia pun kembali heran karena papa Alina yang mengenalinya. Sebenarnya Alina menceritakan tentang hubungan mereka atau tidak kepada keluarganya? Kenapa keluarga mereka semua mengenal dirinya, sementara saat di depan tadi Alina mengatakan jika dia adalah temannya. Dia jadi bingung dengan pacarnya itu, apakah Alina hanya bercanda mengatakan jika dia temannya dan hanya ingin membuatnya kesal saja? Jika itu benar, maka tunggu saja nanti wanita itu, dia akan membalas keisengan pacarnya tersebut.
"Wah, ternyata ini yang namanya Rico. Paman sudah sejak lama ingin bertemu dengan pacar pertama Alina."
Pacar pertama? Apakah sebelumnya Alina tidak pernah berpacaran? Rico terlihat heran dengan perkataan Thomas kala itu.
"Apa Alina sering menceritakan tentang Rico, Paman?" tanya Rico.
"Nggak. Alina nggak cerita apa-apa, dia itu orangnya sedikit tertutup untuk urusan pribadinya, apalagi percintaan."
Rico mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Thomas. Jadi Alina tidak menceritakan hubungannya kepada keluarganya, lalu bagaimana mereka semua mengenalnya?
"Abangnya yang menceritakan semua kegiatan Alina selama di sini, termasuk dengan hubungan kalian berdua. Alina bukannya tidak mau memberitahu akan hubungan kalian, hanya saja sepertinya dia kebingungan bagaimana caranya menceritakan hubungan yang belum pernah dia jalanin ini kepada kita. Alina sudah terbiasa hidup mandiri sejak tamat sekolah, mungkin sulit untuknya menceritakan kisah cintanya, tapi bukan berarti dia nggak mau memperkenalkan kamu kepada kami," sambung Zara agar Rico tak salah paham kepada putri mereka.
Rico pun yang mendengar itu tersenyum mengiyakan. Dia mengerti maksud kedua orang tua Alina. Jika pacarnya itu tidak serius dengannya atau tidak berminat memperkenalkannya kepada keluarganya, maka dia pasti tidak akan mengizinkannya untuk datang ke sini dan menerimanya secara terbuka.
"Nggak papa, Bibi, Paman, Rico ngerti kok," ucap Rico dengan tersenyum tipis.
"Nggak perlu minta maaf, Bibi. Rico nggak masalah kok, Rico ngerti maksud Alina," ucap Rico meyakinian jika dirinya benar-benar tidak mempermasalahkan hal itu.
"Jadi, kapan kalian menikah?"
Pertanyaan tersebut berasal dari Morgan. Sejak orang tuanya berbicara bersama Rico, dia hanya diam saja dan kini dia berniat untuk mencairkan suasana.
Kedua orang tuanya menatap ke arah pria itu, begitupun dengan Rico yang terkejut akan pertanyaan tersebut.
"Nggak sopan banget sih nanya sama orang kayak gitu. Rico ke sini mau silaturahim, bukan mau melamar adik kamu," omel Thomas kepada putra keduanya tersebut. Dia hendak melayangkan pukulannya kepada Morgan, namun dengan cepat Zara menahan tangannya.
"Sudahlah, Pa, jangan diladenin. Morgan, bicara yang sopan, Rico di sini tamu kita."
"Maaf, Mam," ucap Morgan dengan lembut.
__ADS_1
Jika berbicara dengan papanya dia bisa seusil mungkin, namun jika dengan mamanya, dia akan kembali menjadi seorang family man yang penurut.
"Maafkan Morgan ya, Rico, kita nggak bermaksud kok bertanya seperti itu," ucap Zara kemudian kepada Rico.
"Nggak papa, Bibi, ucap Rico yang kembali dengan senyum tipisnya.
Tak lama dari itu terlihat Alfian berjalan menghampiri mereka dan menundukkan tubuhnya di samping Rico.
"Hei, kamu sudah lama di sini?" tanya Aldian sembari menepuk pelan bahu Rico.
"Belum lama, Bang."
"Tahu dari mana rumah Abang?" tanya Alfian.
Rico terlihat berpikir untuk menjawab pertanyaan dari Alfian, dia sepertinya bingung ingin menjawab apa karena tidak mungkin dia berkata jujur bahwa dia dan Andi telah melacak ponsel Alina yang berada di rumah itu.
Alfian pun yang merasa jika Rico tak bisa menjawab pertanyaannya langsung melayangkan pertanyaan lain agar tak membuat pria itu merasa tertekan akan pertanyaannya.
Tertekan? Sepertinya dia terlalu berlebihan memikirkan kata tersebut.
Cukup lama Rico berbincang bersama keluarga Arlina yang menjadi pertemuan pertama mereka hari ini. Saat ini juga hari sudah semakin siang dan Rico pun hendak berpamitan untuk segera pulang. Keluarga Alina baru saja tiba di sini dan dia yakin jika mereka ingin beristirahat karena perjalanan yang sangat jauh. Dia tidak mau mengganggu waktu istirahat mereka, meskipun sebenarnya dia merasa bahwa waktu 2 jam yang dia habiskan untuk mengobrol di ruang tamu itu telah mengganggu waktu istirahat mereka.
"Kalau begitu Rico pamit dulu, Paman, Bibi."
"Terima kasih ya, Rico, sudah mampir ke sini. Maaf kita nggak bisa menjamu dengan baik."
"Nggak papa, Bi. Rico justru minta maaf karena sudah merepotkan dan mengganggu waktu istirahat Bibi dan keluarga."
"Nggak papa, Rico. Maaf ya Alina nggak bisa menemani kamu karena sepertinya dia capek banget dan sampai ketiduran di kamar abangnya."
Ya, sejak masuk ke kamar abangnya untuk meniduri keponakannya, sampai sekarang Alina tak kunjung keluar dari kamar itu karena dia ketiduran. Jauhnya perjalanan membuat wanita cantik itu tak bisa menahan rasa lelahnya, apalagi saat bersama keponakannya yang cantik dan menggemaskan itu dia akan lupa waktu.
Rico tak mempermasalahkan ketidakhadiran Alina, sudah dijamu dengan ramah oleh kedua orang tua serta abang-abangnya saja Rico sudah sangat senang sekali.
__ADS_1
Setelah berpamitan kepada keluarga Alina, Rico pun segera pergi dari sana dan bergegas untuk pulang ke rumahnya. Tak lupa dia akan memberikan kabar baik ini kepada kedua orang tuanya dan juga melakukan pertemuan sesegera mungkin jika keluarga Alina tidak sibuk nantinya.