Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
123. Ditinggal ke Luar Kota


__ADS_3

Sore itu dalam perjalanan menuju kediaman Renaldi, Alina tampak memberengutkan wajahnya. Wanita itu terlihat sangat kesal saat mengetahui jika suaminya besok akan melakukan dinas di luar kota, menggantikan papa mertuanya yang tiba-tiba jatuh sakit sore ini.


Alina tidak menyalahkan papa mertuanya akan kepergian suaminya ke luar kota itu, namun Alina kesal saja karena Rico akan meninggalkannya selama 3 hari lamanya. Dia yang semasa kehamilannya selalu dimanja oleh suaminya itu, merasa sangat kehilangan saat mengetahui jika suaminya itu akan pergi selama 3 hari. 


Rico pun tak bisa berbuat apa-apa atas rasa kesal istrinya. Dia juga baru saja mendapat kabar tadi siang jika harus menggantikan papanya keluar kota besok pagi. 


Irfan memang sejak pagi sudah terlihat di enak badan, dan setelah dibawa ke rumah sakit, ternyata dokter menyarankan pria paruh baya itu untuk beristirahat selama beberapa hari kedepan karena kondisinya yang saat ini sedang menurun. Irfan memang kecapean karena beberapa hari ini mengurus pekerjaan yang cukup penting di kantor bersama Rico. Namun karena usianya yang tak lagi muda, dia tidak menyangka akan tumbang seperti ini. 


Rico sangat tidak nyaman melihat istrinya itu yang terus mendiamkannya.


"Sayang, ayolah jangan marah seperti ini. Aku juga sebenarnya berat meninggalkan kamu selama 3 hari, tapi mau bagaimana lagi? Papa sedang jatuh sakit, aku nggak mungkin memaksa papa pergi dengan keadaannya yang seperti itu. Di sini hanya aku yang bisa menggantikan papa untuk pergi."


Alina masih diam, tak menjawab perkataannya. 


"Sayang, aku mohon bicaralah. Jangan mendiamkanku seperti ini. Aku 'kan hanya pergi 3 hari, nggak lebih kok."


"Tapi aku nggak bisa jauh dari kamu," ucap Alina tanpa menatap ke arah suaminya itu. 


"Sayang, aku pergi hanya tiga hari. Aku janji, setelah kerjaan selesai, aku akan langsung pulang. Kita juga akan selalu melakukan panggilan video kalau aku sedang nggak bersama klien."


Rico mengelus pipi istrinya dengan lembut, membuat Alina menatap ke arahnya.


"Kamu janji akan terus meneleponku?. Terus kabari aku di manapun kamu berada?"


"Iya, Sayang. Kamu tenang saja."


"Pokoknya, awas aja kalau kamu sampai nggak ngabarin aku sekalipun. Aku akan minta bang Morgan untuk melacak lokasi kamu untuk memastikan kalau kamu nggak bohong."


Rico tersenyum geli mendengar perkataan istrinya itu. Apa segitu cemburunya istrinya padanya?


"Iya, Sayangku. Kamu tenang saja, aku nggak akan mungkin bohong sama kamu. Aku akan selalu menelpon kamu dan mengirimi kamu pesan. Saat aku tiba di hotel, atau saat aku sedang makan, saat aku mau tidur, ataupun saat aku selesai dengan pekerjaanku," ucap Rico dengan sangat yakin.


Meskipun tahu jika suaminya tak mungkin berbohong padanya, namun Alina tetap tidak rela melepas kepergian suaminya itu selama lebih dari satu hari. Namun mau bagaimana lagi, dia juga tidak bisa melakukan apapun dan terpaksa harus mengizinkan suaminya itu pergi meskipun dengan berat hati.


*


Malam hari sebelum terlelap, Alina memeluk suaminya dengan erat sembari menatap wajah tampannya itu dengan seksama. Entah kenapa saat ini Alina menginginkan waktu berhenti agar tak ada hari esok yang akan membuatnya berpisah dengan suaminya itu. 


 


Rico yang menyadari jika istrinya itu belum tertidur, lantas membuka matanya. Dia melihat istrinya itu yang sedang menatap ke arahnya dalam diam. 

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa belum tidur?" tanya Rico sembari berusaha menyelipkan rambut istrinya ke belakang telinga.


"Aku nggak bisa tidur," ucap Alina pelan.


"Kenapa? Apa perutnya nggak nyaman?" tanya Rico. 


Alina menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak bisa tidur, karena dengan aku tidur, waktu pasti akan cepat sekali berlalu. Saat bangun nanti, kamu pasti sudah pergi untuk dinas ke luar kota."


Mendengar perkataan istrinya itu, Rico pun menghela nafasnya dengan tersenyum tipis.


"Sayang, kamu harus tidur ya. Kamu saat ini sedang hamil, jangan kebanyakan begadang. Aku nggak mau terjadi sesuatu yang buruk dengan kamu dan juga anak kita," ucap Rico menasehati.


"Tapi aku juga nggak mau kamu pergi dengan begitu lama."


Rico kembali tersenyum.


"Sayang, aku 'kan sudah bilang, kalau aku hanya pergi 3 hari dan lagi pula, kita 'kan akan selalu melakukan panggilan video, jadi kamu nggak usah khawatir. Sekarang ayo tutup mata kamu, kita tidur."


Dua detik terdiam, kemudian Alina pun memejamkan matanya tanpa berniat menyahuti perkataan suaminya.


**


Keesokan hari Alina diantar sopir pribadi Irfan untuk berangkat ke kantor. Rico tidak bisa mengantarnya bekerja karena pria itu sudah harus pergi pagi-pagi sekali untuk mengejar penerbangan. 


Di dalam perjalanan menuju kantor, ponsel Alina selalu menyala yang saat ini sedang menayangkan sebuah panggilan video bersama sang suami. Rico saat itu masih berada di bandara karena pesawatnya baru akan terbang sekitar 20 menit lagi. 


"Sayang, kamu jangan seperti itu dong wajahnya. Tersenyumlah, agar rasa bahagia terus mengalir pada anak kita yang saat ini ada dalam perut kamu."


"Bagaimana aku bisa bahagia, sementara suamiku pergi jauh dariku."


"Sayang, aku 'kan hanya pergi sebentar. Ayolah, jangan membuat aku khawatir dengan berkata seperti itu. Di sini aku ingin melakukan pekerjaan dengan tenang agar bisa semuanya bisa selesai lebih cepat dan bisa pulang untuk menemui kamu."


"Baiklah, maafkan aku. Aku nggak tahu kenapa bisa sensitif sekali seperti ini. Sebelumnya aku nggak pernah seperti ini, padahal dulu aku sudah terbiasa jauh dari keluarga."


Rico tersenyum mendengar perkataan istrinya itu. 


"Tentu saja berbeda, Sayang. Saat ini kamu sedang hamil. Hormon seorang ibu hamil itu memang suka membuat suasana hati berubah-ubah. Aku nggak menyalahkan kamu yang memiliki perasaan seperti ini, tapi kamu nggak boleh kalah dengan perasaan kamu yang sekarang. Kamu harus bisa mengontrol perasaan kamu dan terus bahagia untuk anak kita dan diri kamu sendiri."


Alina menghela nafasnya. Benar apa yang dikatakan suaminya itu. Hormon kehamilan ini memang sering membuat suasana hatinya suka berubah-ubah, bahkan hal yang tak pernah dikhawatirkannya selama ini pun kini dia rasakan. Seperti kata Rico, dia tidak boleh terus-menerus mengikuti perasaannya dan mengabaikan kebahagiaannya. Karena apa yang dia ketahui dari orang tuanya, segala yang dia rasakan saat hamil, semua itu akan dirasakan pula oleh calon anaknya yang saat ini ada di dalam perutnya.

__ADS_1


Karena tak ingin anaknya kenapa-napa, Alina pun berusaha untuk melawan perasaan sedihnya ini dan mencoba untuk tetap berbahagia dengan apapun kondisinya.


**


Selama Rico di luar kota, Alina sengaja menginap di kediaman orang tuanya karena merasa kesepian jika berada di kediaman suaminya. Di kedalaman Renaldi hanya terdapat Irfan dan Santi saja, yang mungkin terkadang mereka suka berpergian. Sementara di rumahnya, setidaknya dia bisa pergi bekerja bersama Morgan ataupun bermain bersama keponakannya saat Marissa datang ke rumah. 


Namun sayang sekali malam ini kakak iparnya itu tidak bisa menginap di rumah orang tuanya karena besok pagi dia harus menyambut tamu pentingnya yaitu, sahabat lamanya.


Marisa sebenarnya memang warga asli Indonesia. Hanya saja dia tidak tinggal di kota ini. Dia bertemu dengan Alfian saat liburan bersama temannya di London dan menjalin hubungan hingga menikah. Marissa juga tak pernah lagi datang ke kota asalnya karena memang di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Kedua orang tuanya sudah bercerai dan hidup dengan pasangannya masing-masing. Sementara Marissa sendiri mengikuti Alfian menetap di London dan akhirnya pindah ke kota ini. 


Kebetulan hari ini teman lama Marissa sedang ada kerjaan di kota ini, jadi Marissa memintanya untuk datang ke rumahnya sebelum pulang. Membuat Marissa tak bisa menginap di kediaman mertuanya karena harus menyambut kedatangan teman baiknya itu di pagi hari.


**


Sore itu nomor Rico belum juga bisa dihubungi. Alina pikir suaminya itu masih bersama dengan kliennya, jadi itu kenapa pria itu belum juga menelponnya.


Saat dalam perjalanan pulang, Alina yang sangat merindukan suaminya lantas membuka galeri foto yang ada di ponselnya. Dia men-scroll dari atas hingga bawah foto-foto mereka berdua, mulai dari berpacaran hingga dirinya mengandung. Alina tersenyum lebar memandang foto dia dan suaminya, namun senyuman itu seketika mereda saat layar ponselnya tiba-tiba berganti menjadi notif panggilan suara. Melihat Rena yang menelponnya, Alina pun segera menjawab panggilan temannya itu.


"Halo, Ren," sapa Alina lebih dulu.


"Al, kata Andi, Rico lagi di luar kota ya?" tanya Rena.


"Sudah dua hari dia pergi. Mungkin besok sudah bisa pulang. Kenapa memangnya?" tanya Alina.


"Kamu di rumah mama kamu atau mertua kamu malam ini? Kebetulan malam ini Andi harus pergi ke luar kota karena besok pagi dia harus bertemu klien penting."


"Aku di rumah mama. Kamu mau menginap di sini?" tanya Alina dengan penuh semangat karena merasa akan mendapatkan teman tidur untuk malam hari ini. Meskipun bukanlah suaminya, setidaknya malam ini dia tidak akan sendirian.


"Apa boleh?" tanya Rena.


"Tentu saja. Kepergian Rico ke luar kota, aku jadi sangat kesepian."


"Al, kamu nggak bermaksud untuk menjadikan aku pengganti Rico, 'kan?" tanya Rena dengan penuh arti dan kewaspadaan. 


Alina pun terkekeh begitu mendengar pernyataan temannya itu.


"Apa aku sudah gila? Nggak mungkin lah. Aku hanya butuh teman agar nggak sendirian saja, Ren. Ya sudah, kamu langsung ke rumah saja ya nanti."


"Baiklah. Setelah mandi, aku akan langsung ke rumah kamu."


Alina mengiyakan dan setelah itu mereka menutup panggilannya masing-masing. Meskipun tak ada suaminya yang menemaninya tidur, setidaknya malam ini dia memiliki Ren untuk menjadi teman ngobrolnya. Lagi pula sudah lama mereka tidak menginap bersama, dia jadi rindu mengobrol panjang dengan temannya yang cerewet itu.

__ADS_1


__ADS_2