Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
salah paham


__ADS_3

Setelah kejadian itu sifat tuan muda Mikael sedikit berubah, membuat Lia bingung akan hal itu.


"Lia,aku akan kekantor siang ini." ucap Mikael tapi wanita itu sepertinya tidak mendengarnya.


"Hy kau melamun." tegur Mikael membuat Lia tersadar dari lamunannya.


"Ya..tuan mengatakan sesuatu?" tanya Lia.


Mikael menghelakan nafasnya. "Ya aku mengatakan untuk berhenti memanggil ku tuan, apa kau lupa?" tanya balik Mikael.


"Maafkan aku." ucap Lia Mikael duduk di samping Lia dan menarik wanita itu mendekat padanya.


"Kau masih memikirkan tentang ucapan ku malam itu?" tanya Mikael.


"Tidak..iya..entahlah aku merasa aneh saja tuan tiba-tiba meminta hal itu." jawab Lia Mikael terseyum.


"Jangan kau pikirkan lagi, aku memang ingin berbaikan dengan mu. Kita harus menjalani kehidupan pernikahan kita seperti pasangan lainnya jadi jangan memikirkan hal itu lagi." ucap Mikael sambil mengelus pucuk kepala Lia lembut membuat jantung wanita itu berdegup.


"Aku kekantor dulu ya, kau baik-baiklah di rumah" ucap Mikael beranjak dari duduknya di susul dengan Lia.


Mereka melangkah beriringan menuju pintu depan rumah, Lia mengantar Mikael sampai di samping mobil.


"Aku berangkat dulu." pamit Mikael Lia mengangguk.


Mikael memasuki mobilnya dan pergi dari pekarangan rumah. Lai masih terus menatap mobil itu.


"Apa dia sungguh-sungguh dengan ucapannya?" gumam Lia.


Jujur dia masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan pria itu, Lia yakin ada maksud lain dari tujuan tuan muda itu.


"Aku tidak boleh percaya begitu saja." gumam Lia lalu melangkah memasuki rumah.


×××××××


Didalam kamar Lia terus membolak-balikan setiap lembaran koran yang dia baca dan juga buku-buku pengumumam pencarian pekerjaan.


"Kenapa sulit sekali menemukan pekerjaan yang sesuai dengan ku." ucap Lia melempar koran itu kelantai.


Dddrrrr


Ponsel Lia bergetar membuat perhatian Lia teralihkan. Bibirnya membentuk lengkungan indah saat nama seseorang yang dia rindukan menghubunginya.


"Hallo tasyah." sapa Lia semangat.


"Hy pengantin baru kau masih ingat pada ku rupanya. Kau tau Lia aku sangat merindukan mu,setelah kau menikah kau begitu sulit di hubungi." ucap Tasyah di sebrang telpon.


"Maafkan aku, aku baru saja memegang ponsel sekarang dari kemarin ponsel ku di simpan oleh tuan muda." ucap Lia.


"Dia menyimpan ponsel mu? Ada apa?" tanya Tasyah.


"Ceritanya panjang, bagaimana kalau kita bertemu saja? Aku bosan berada dirumah terus." ucap Lia.

__ADS_1


"Tentu saja nona muda, aku tunggu kau di kafe tempat biasa." balas Tasyah Lia terseyum.


"Baiklah,sampai bertemu." ucap Lia, lalu Lia beranjak dari duduknya dan pergi bersiap.


\=\=\=\=\=


Lia melangkah memasuki sebuah kafe mewah tempat biasa dia dan temannya bertemu.


"Lia.." panggil seorang wanita cantik yang melambai padanya, Lia terseyum lalu melangkah mendekati meja yang di tempati oleh sahabatnya itu.


"Kau sudah lama menunggu?" tanya Lia saat sudah duduk di hadappan sahabatnya.


"Tidak juga." jawab Tasyah terseyum manis.


"Bagaimana rasanya jadi istri tuan muda?" goda Tasyah sambil menaik turunkan alisnya.


"Rasa apanya? Tidak ada yang spesial bagi ku setelah menikah dengannya." jawab Lia malas.


Tasyah menatapnya malas. "Kau ini, tuhan sudah memberikan kebaikan untuk mu dengan mengirimkan pangeran setampan tuan muda, tapi apa kau sama sekali tidak menyukainya?" tanya Tasyah.


"Apa yang perlu aku sukai dari pernikahan ini? Tidak ada hal penting yang perlu di banggakan." jawab Lia malas.


"Kau sungguh wanita yang aneh." ucap Tasyah.


"Terimakasih." balas Lia terseyum manis.


"Ini bukan pujian." balas Tasyah malas.


"Tapi bagi ku, itu pujian." ucap Lia.


Seseorang melangkah mendekati mereka dan menepuk bahu Lia.


"Hy kakak ipar." sapa orang itu membuat Lia menoleh lalu terseyum.


"Dimas, kapan kau pulang?." Tanya Lia, pria itu terseyum membuat matanya berbentuk bulan sabit.


"Kemarin, urusanku di sana sudah selesai jadi aku pulang. Sedang apa kakak ipar di sini?" tanya Dimas duduk di samping Lia.


"Sedang bertemu dengan Tasyah." jawab Lia.


"Hy Dimas, apa kabar." sapa Tasyah terseyum.


"Hy juga, baik...selalu baik." balas Dimas.


Dimas menatap Lia. "Dimana kak Mikael?" tanya Dimas.


"Di dikantornya." jawab Lia malas.


"Kantor? Bukan kah ini masih hari cuti pernikahannya kenapa dia kekantor?"tanya Dimas bingung.


"Entahlah dia, aku tidak banyak bertanya."jawab Lia. Dimas hanya mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Aku membawakan oleh-oleh untuk kakak ipar, tapi aku lupa membawanya." ucap Dimas.


"Tidak papa, kau bisa mengantarnya nanti."ucap Lia.


"Baiklah aku akan mengantarnya nanti."


Mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol, Dimas tidak ada habisnya menatap wanita di sampingnya itu. Lia terlihat begitu cantik saat terseyum atau pun tertawa saat bercanda dengan Tasyah.


Seyum Dimas memudar saat dia mengingat satu hal. "Jika saja kau bukan kakak ipar ku, aku pasti sudah memiliki mu. Aku tau pasti kak Mikael tidak memperlakukan mu dengan baik Lia." batin Dimas menatap Lia dari samping yang sedang asik mengobrol.


"Ekhm." deheman seseorang membuat perhatian ketiga orang itu teralihkan.


Lia terkejud melihat pria yang berdiri disampingnya.


"Aku pulang dan tidak menemukan mu di rumah. Kau begitu senang ya saat berada di luar?" tanya pria itu menatap Lia tajam.


"Kak Mikael."panggil Dimas mengalihkan tatapan tajam itu.


"Kau sudah pulang? Kenapa tidak memberi tahu ayah dan ibu?" tanya Mikael.


"Aku ingin menemui seseorang terlebih dahulu, baru aku akan pulang kerumah."jawab Dimas.


"Rupanya kau punya wanita juga."ucap Mikael.


"Hahaha bukan wanita ku, tapi dia berharga bagi ku."balas Dimas melirik Lia yang sedang terdiam.


Mungkin wanita itu sedang takut, karena ketahuan keluar rumah tanpa pamit pada tuan muda.


"Lia, ini kah tuan muda itu?" tanya Tasyah Lia mengangguk.


"Wahh dia tampan sekali." ucap Tasyah Lia hanya menatap malas sahabatnya itu.


Tiba-tiba Mikael menggenggam tangan Lia kuat membuat wanita itu meringis. "Ayo pulang." ajak Mikael lalu menarik Lia untuk berdiri.


"Tapi tuan aku.." Lia mendapatkan tatapan tajam membuatnya menutup mulut. Dia salah berucap.


Dimas juga ikut berdiri saat Mikael menarik tangan Lia keluar dari kafe, dia tidak suka melihat kakaknya memperlakukan Lia seperti itu.


"Kak Mikael." panggil Dimas menghentikan langkah kaki itu.


Mikael berbalik menatap adiknya itu. Tinggi yang sama dan sama-sama memiliki wajah tampan.


"Bisakah kakak sedikit lebih lembut pada Lia? Kakak tidak bisa menariknya begitu saja lihatlah tangannya memerah."ucap Dimas.


"Apa peduli mu? Dia istri ku jadi aku berhak atas dirinya." balas Mikael menatap Dimas.


"Maaf jika aku mencampuri urusan kakak, tapi aku hanya minta kakak sedikit lebih lembut pada Lia."ucap Dimas.


Wajah Mikael berubah dingin dan mendekat pada Dimas.


"Dia istri ku dan aku berhak atas dirinya. Jadi, buang jauh-jauh perasaan mu." bisik Mikael membuat Dimas terdiam.

__ADS_1


Pria itu terseyum miring lalu kembali menarik Lia menuju mobil dan memaksanya untuk masuk. Dimas menatap kepergian mereka, tangannya terkepal.


"Tidak akan." gumam Dimas.


__ADS_2