Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
ada apa


__ADS_3

Mata itu mulai terbuka,memperlihatkan mata yang indah.


Lia menggeliatkan tubuhnya,meregangkan tubuhnya meluruskan setiap otot tubuhnya yang terasa kaku setelah bangun tidur.


Wanita itu memperhatikan sekitar dan tidak menemukan keberadaan suaminya,mungkin pria itu lebih dulu bangun dari pada dirinya.


Lia melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya,setelah selesai dan bersiap lia melangkah keluar kamar dan bertepatan dengan Mikael yang juga keluar dari pintu kamar lainya.


"Menyingkir lah."ucap Mikael sedikit mendorong bahu Lia agar wanita itu menjauh dari pintu kamar dan menutup pintu itu cukup keras membuat Lia tertegun.


Lia menatapnya heran,sedang apa Mikael di kamar itu?.


"Selamat pagi nona." sapa Cika


"Pagi." balas Lia terseyum


"Sarapan sudah saya siapkan." ucap Cika sambil menunduk hormat.


"Benarkah?,kenapa tidak menunggu ku? Aku juga ingin memasak menyiapkan sarapan." ucap Lia.


"Saya hanya menuruti perintah tuan muda nona,nona muda tidak di ijinkan melakukan peketjaan rumah termaksud memasak." ucap Cika membuat Lia terdiam.


"Baiklah,kalau begitu kita keruang makan." ucap Lia melangkah mendahului Cika.


Sesampainya di ruang makan,Cika menarik salah satu kursi untuk Lia duduki.


"Ah...Cika,apa yang di lakukan tuan muda tadi malam?kenapa dia bisa tertidur di kamar lain?" tanya Lia penasaran.


kenapa bisa Mikael tidur dikamar sebelah sedangkan Lia tidur sendiri,dia tidak tau akan hal itu karena Lia lebih dulu tidur dari pada Mikael.


"Tuan muda sedang mengerjakan pekerjaan kantornya nona dan tadi malam sepertinya tuan salah masuk kamar." jawab Cika.


Lia hanya diam,dia berpikir kalau Mikael menolak untuk tidur bersamanya,bukankah bagus seperti itu.

__ADS_1


Pernikahan bodoh ini hanya terjadi karena keterpaksaan saja,jadi tidak mungkin mereka bisa bersama selamanya.


"Selamat pagi tuan muda"ucap Cika menunduk hormat.


Lia mengalihkan pandanganya pada pria yang baru saja duduk dimeja makan.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Mikael menatap Lia.


"Ah...tidak,siapa yang menatap tuan.." jawab Lia mengalihkan pandanganya.


"Sesuai dengan perjanjian kita waktu itu, mulai sekarang perjanjian kita berlaku." ucap Mikael


"Baiklah." balas Lia sambil menikmati makanannya.


"Ingat,setelah tiga bulan maka kotrak kita selesai dan aku yang akan mengajukan perceraian pada mu,dan selama pernikah kita ini kau harus menuruti semua perkataan ku sesuai perjanjian itu,ingat kau hanya barang yang di jual oleh ibu mu,jadi kau harus menurut."ucap Mikael tangan Lia meremas kuat, dia benci mendengar kalimat itu terucap.Lia hanya mengangguk saja.


"Apa kau bisu?"tanya Mikael menatap Lia malas.


"Lalu aku harus menjawab apa?,aku sedang malas berdebat dengan mu tuan Mikael. Coba untuk satu hari saja tuan tidak membuat ku kesal apa itu sulit?" balas Lia kesal.


"Kenapa kau jadi meninggikan suara mu pada ku."bentak Mikael, Lia yang sadar apa yang baru saja dia lakukan pun langsung menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku,"ucap Lia.


"Kau membuat ku muak saja."balas Mikael beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi meninggakan meja makan.


Lia memejamkan matanya,sambil memukul kepalanya sendiri.


"Bodoh.....apa yang baru saja kau lakukan Lia."gumamnya.


+++++


Lia sekarang berada di halaman belakang rumah,menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya dan menerbangkan rambutnya yang panjang hitam mengkilap itu. Sungguh kau sangat cantik Lia tapi kenapa takdir yang di berikan pada mu tidak secantik diri mu.

__ADS_1


"Permisi nona muda,"ucap Cika yang datang menghampirinya di bangku halaman.


"Iya ada apa,Cika?"tanya Lia


"Ibu nona ada diruang tamu."jawab Cika membuat Lia terdiam.


Untuk apa lagi ibunya menemuinya,tidak puaskah dia setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Sekarang wanita itu kembali lagi menemui Lia.


Lia melangkah menuju ruang tamu dimana ibunya menunggu.Cika undur diri setelah mendapingi nona mudanya sampai di ruang tamu. Lia duduk di sofa depan ibunya.


"Ada apa ibu menemui ku?"tanya Lia to the point


"Kau ini tidak pernah ada sopan santunnya pada orang tua, ah tidak masalah yang terpenting kau sudah memenuhi keinginan ibu mu ini. Ibu kemari ingin menemui putri ibu yang baru menikah ini, pasti kau sangat senang sekarang tinggal dirumah semegah dan semewah ini, sampai kau tidak ingin mengunjungi ibu mu ini."ucap Rita Lia menatap ibunya datar.


"Sejak kapan kau menganggap ku putri mu?"tanya Lia sinis.


Rita terseyum miring. "Tentu saja kau putri ku sekarang karena kau sudah mau menuruti keinginan ku, kau tau karena kau mau menikahi tuan muda ibu mendapatakan keuntungan besar, tidak sia-sia ibu memperjuangkan hak asuh mu."ucapa Rita terseyum bahagia, berbeda dengan Lia yang berusaha menahan amarahnya.


"Apa tujuan ibu kemari hanya ingin mengatakan hal tidak berguna itu?"tanya Lia emosi.


"Oh ya ampun....keangkuhan mu semakin bertambah setelah menikah dengan tuan muda. Baik lah kalau begitu ibu pulang dulu sepertinya putri ku ini tidak senang di kunjungi oleh ibu kesayangannya ini, oh iya satu hal lagi, kau jangan nakal ya sayang jangan sampai membuat ibu mu ini mengalami kebangkrutan kerena kecerobohan mu itu."ucap Rita terseyum miring lalu beranjak dari duduknya melangkah pergi dari hadapan Lia.


Tangan Lia terkepal kuat. Ingin sekali rasanya dia menghancurkan benda apa pun di rumah itu tapi tidak bisa, itu bukan miliknya.


"Untuk apa kau mendatangi ku kalau hanya untuk menunjukan hal itu pada ku. Kau memang tidak pernah menghargai perasaan ku, ibu macam apa kau?"gumam Lia, dia ingin marah tapi tidak bisa.


Hatinya sangat sakit sekarang tapi kenapa air mata itu tidak bisa keluar. Lia mengetahui pasti Mikael yang mendengar percakapan antar dia dan ibunya karena pria itu berdiri di samping tembok pembatas ruang tamu.


Pria itu terseyum miring. "Hidup yang penuh kesengsaraan"ucap Mikael bibir itu terseyum.


"Kau baru tau, lalu kau mau menambah kesengsaraan ku lagi tuan mikael yang terhormat. Tidak masalah bagi ku, kau bisa melakukannya, hidup ku sudah penuh dengan kesengsaraan dan keterburukan aku tidak keberatan jika kau ingin menabahkannya, aku dengan senang hati menerimanya."ucap Lia lalu melangkah pergi meninggalkan Mikael yang menatapnya lekat.


"Aku tidak sabar ingin melihat air mata mu keluar."ucap Mikael membuat langkah Lia terhenti.

__ADS_1


wanita itu terseyum miring. "Tuan ingin melihat ku menangis. Kau tidak akan bisa melihat air mata ini karena sampai kapan pun aku tidak akan mengeluarkan air mata ini."ucap Lia lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Mikael yang terseyum melihat kepergiannya.


"Kita lihat saja,"ucap Mikael lalu melangkah menuju ruang kerjanya.


__ADS_2