Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
kebenaran


__ADS_3

Lia terdiam. "Apa?"


"Rita bukan lah ibu kandung mu sayang." Ulang Mikael.


"Lulucon apa ini Mikael." Ucap Lia.


"Aku akan menceritakan semuanya pada mu, tapi ku mohon kita pulang dulu sayang. Aku mengkhawatirkan mu." Ucap Mikael.


"Hubungi ayah ku." Ucap Lia tidak menghiraukan perkataan Mikael.


"Sayang.."


"Hubungi ayah ku." Ulang Lia penuh penekanan.


Mikael menghelakan nafasnya lalu meraih ponselnya, menelpon Hiro.


"Hallo Mikael, kenapa kau menghubungi ayah? Apa terjadi sesuatu."


Lia langsung mengambil alih ponsel itu. "Ayah jujur pada ku, siapa ibu ku sebenarnya?" Tanya Lia membuat Hiro diseberang sana terdiam.


"Lia.."


"Jawab aku ayah." Ucap Lia Mikael memijit pelipisnya ini yang dia takutkan, jika Lia mengetahui hal ini istrinya akan sangat tertekan.


"Dia..."


"Aku minta hari ini ayah datang kesini, aku tidak mau tau ayah harus datang kesini. Jika tidak aku akan sangat kecewa pada ayah." Ucap Lia lalu mematikan sambungan telpon itu.


Lia melangkah pergi begitu saja, Mikael menyusulnya. "Sayang.."


"Kita pulang, aku tidak mau tau ayah harus datang kesini." Ucap Lia terus melangkah.




Lia duduk di sofa ruang tengah, dia masih terus diam tidak ingin bicara. Dia berusaha menerima kenyataan ini tapi tidak bisa, dia butuh penjelasan dari ayahnya sendiri.



Mikael sudah menceritakan semuanya, setelah perceraian mereka Mikael memang mencari tau semua tentang Lia sampai akhirnya dia tau bahwa Rita bukanlah ibu kandung Lia dan yang lebih mengejutkannya lagi Rita memiliki riwayat kanker otak dan di vonis tidak bisa memiliki keturunan.



Mikael menatap istrinya yang hanya diam, Lia tidak membuka suara lagi saat mendengar cerita darinya.



"Sayang maafkan aku yang merahasiakan hal ini dari mu." Ucap Mikael.



"Aku tidak menyalahkan mu, aku menyalahkan keadaan ku. Kenapa aku selama ini hidup dengan wanita yang bukan ibu kandung ku dan ayah, dia yang mengetahui segalanya dia tetap membiarkan ibu memenangkan hak asuh ku seharusnya dia bisa memperjuangkan ku dengan mengatakan yang sebenarnya pada hakim." Ucap Lia menatap Mikael dengan air mata.



"Kenapa aku selalu di buat seperti ini, apa aku tidak pantas untuk bahagia." Ucap Lia Mikael menangkup wajah Lia.



"Tidak sayang...tidak seperti itu. Kau berhak bahagia." Ucap Mikael.



"Tapi kenapa ayah ku membiarkan ku, hidup selama 24 tahun bersama wanita itu. Kau tau betapa tersiksanya aku selama hidup bersamanya dan ayah dengan gampangnya merahasiakan itu semua dari ku...hiks..siapa ibu kandung ku sebenarnya." Ucap Lia tangisnya pecah Mikael langsung memeluknya.



"Sssttt tenangkan diri mu sayang...ku mohon tenangkan diri mu. Pikirkan keadaan mu kau sedang hamil aku tidak mau kau tertekan." Ucap Mikael memeluk Lia erat.



"Kenapa ayah tega membohongi ku." Ucap Lia memeluk Mikael erat menumpahkan semua tangisnya.


__ADS_1


Mikael memejamkan matanya. Dia tidak suka melihat Lia seperti ini, dia tidak mau istrinya kenapa-kenapa. "Sayang kumohon tenangkan diri mu...sssssttttt.." ucap Mikael Hang Cika dan yang lainnya hanya mampu terdiam.



Mereka bingung harus berbuat apa, mereka pun tidak kalah terkejudnya mendengar hal itu kecuali Hang, dia yang sudah mencari tau tentang hal itu.



Cukup lama Lia menangis sampai tangisnya tidak terdengar lagi. "Sayang.." panggil Mikael tapi tidak ada balasan ternyata Lia tertidur.



Mikael mengelus pipi istrinya. "Maafkan aku, seharusnya aku bisa menjaga mu. Kenapa aku tidak tau jika wanita itu berada dikota ini juga." Ucap Mikael, pelan-pelan Mikael mengangkat tubuh Lia dan membawanya lantai atas.



"Nona Lia pasti sangat tertekan." Ucap Cika menatap Lia iba.



"Siapa yang tidak tertekan mendengar kabar itu, nona Lia selama ini hidup bersama wanita yang bukan ibu kandungnya bahkan hidup nona Lia begitu tidak enaknya. Siapa yang bisa menerima hal itu." Ucap Hang.



"Tuan benar, jika saya yang berada di posisi nona mungkin saya sudah sangat tertekan. Bahkan nona Lia sedang hamil, saya sangat mengkhawatirkan keadaan nona Lia." Ucap Cika.



"Kau tenang saja, nona pasti baik-baik saja. Nona hanya membutuhkan kebenaran, selama dia tidak mendapatkan penjelasan itu maka selama itu juga nona akan tertekan memikirkan masalah ini. Semoga saja tuan Hiro bisa cepat datang dan tanpa ketahuan oleh tuan Dimas." Ucap Hang.



\*:\*:\*:\*:\*:\*:



Tuan Hiro bersama istrinya sudah sampai di kota itu dan mereka dalam perjalanan ke rumah Mikael.




"Kau tenang saja, kita aman tuan Sanjaya yang sudah mengatur semuanya." Jawab Hiro, tapi bukan itu yang dia pikirkan tapi putrinya.



"Kau yakin Lia akan menerima hal ini?" Tanya Tania.



"Dia pasti bisa mengerti." Ucap Hiro mengelus pucuk kepala istrinya.



Sesampainya di rumah Mikael, Cika yang membukakan pintu untuk mereka.



"Silahkan masuk tuan, nyonya." Ucap Cika.



Hiro dan Tania masuk kedalam rumah itu, sungguh rumah itu begitu megah.



"Tuan muda, tuan Hiro dan nyonya Tania sudah sampai." Ucap Cika yang masuk kedalam ruang kerja Mikael.



Mikael menoleh. "Minta merek tunggu di ruang keluarga." Ucap Mikael.



"Baik tuan." Balas Cika lalu melangkah pergi.

__ADS_1



Minho menghelakan nafasnya. "Aku takut istri ku kenapa-kenapa Hang." Ucap Mikael memijit pelipisnya.



"Tuan harus bisa membantu nona mengerti tentang hal ini." Ucap Hang.



"Bagaimana istri ku bisa mengerti, jika dia tau yang sebenarnya Lia akan sangat marah pada mereka." Ucap Mikael.



"Tuan.." belum sempat Hang berucap Cika datang dengan terburu.



"Tuan nona Lia sudah bangun dan sekarang dia menyusul ke ruang keluarga tuan." Ucap Cika terburu.



Mikael langsung beranjak dan melangkah pergi di susul dengan Hang dan Cika.



Saat sampai di ruang keluarga Mikael melihat Lia yang hanya diam melihat Heri dan Tania.



"Lia.."



"Aku meminta ayah kesini untuk menjelaskan semuanya. Aku tidak ingin mendengar basa basi." Ucap Lia datar.



Mikael Hang dan Cika hanya diam menonton. Lia terlihat tidak seperti biasanya.



"Sayang ayah.."



"Ayah ku mohon, jelaskan...siapa Rita sebenarnya dan siapa ibu kandung ku." Ucap Lia Hiro menghelakan nafasnya.



"Ya...Rita bukan ibu kandung mu, kami menikah karena perjodohan. Setelah 2 bulan pernikahan kami ayah mengetahui semuanya, bahwa ibu mu tidak bisa memberikan ayah keturunan, ibu mu Rita di nyatakan mandul. Karena kami menginginkan seorang anak kami terpaksa membayar wanita lain untuk memberikan kami keturunan." Ucap Hiro Lia memejamkan matanya.



"Kau anak kandung ayah sayang, tapi Rita bukan ibu kandung mu. Setelah mengetahui hal itu ibu mu Rita juga divonis memiliki penyakit kanker otak." Lanjut Hiro.



"Lalu siapa ibu kandung ku?" Tanya Lia menatap ayahnya.



"Ayah takut kau tidak akan menerimanya sayang."



"Ayah ku mohon KATAKAN SAJA SIAPA IBU KANDUNG KU." Teriak Lia.



"Ibu kandung mu...adalah ibu tiri mu yang sekarang." Ucap Hiro.



Lia terdiam mematung, menatap Tania yang menunduk tidak berani menatapnya kearahnya.

__ADS_1


__ADS_2