
Hari sudah menunjukan cahaya rembulan, Lia sudah membersihkan semua meja. Jam menunjukan pukul 8 malam.
"Hah...sepertinya tidak ada lagi yang datang aku rasa bisa tutup sekarang."gumam Lia saat ingin melangkah menuju meja kasir suara lonceng dipintu masuk berbunyi.
Lia sedikit melihat dan melihat sepatu hitam dan mentel hitam.
"Maaf tuan, kafenya sudah mau tutup. Datanglah lagi besok."ucap Lia tanpa melihat orang itu.
Kafe miliknya memang buka dari siang jam 1, dan akan tutup jika kafe dalam keadaan sepi.
"Apa aku tidak bisa memesan makanan, hanya sebentar."ucap pria itu membuat Lia terdiam.
Suara itu, Lia melihat kearah orang itu lalu terseyum.
"Hiko, kenapa tidak bilang jika ingin kesini."ucap Lia melangkah mendekati adiknya.
"Aku ingin membuat kejutan untuk kakak ku tersayang."ucap Hiko memeluk Lia erat.
"Kakak merindukan mu."ucap Lia.
"Hiko juga."balas Hiko.
"Kau ingin makan apa biar kakak siapkan, karena kafe sudah sepi sebaiknya diatas saja."ucap Lia.
"Baiklah kalau begitu, kakak bawa kue saja. Aku sudah membawa minumanny."ucap Hiko menunjukan plastik putih yang dibawanya.
"Cihhh dasar nakal, ya sudah naik sana."ucap Lia Hiko terseyum lalu keluar dari kafe dan melangkah menuju tangga samping kafe yang menghubung kelantai atas dimana rumah Lia berada.
Lia mengambilkan dua potong kue dan setoples keripik untuk mereka nikmati diteras rumah Lia. Wanita itu melangkah menyusul Hiko tapi sebelum itu dia memutar tanda buka lebih dahulu menjadi tutup lalu mengunci pintunya.
Dilantai atas ada tempat kosong dan dilengkapi dengan meja dan kursi yang memang dikuhuskan bagi yang ingin meroko dan sebagainya, karena Lia sangat menjaga kenyamanan para pengunjung di kafenya.
"Kau ini nakal sekali membawa minuman ini."ucap Lia.
"Hehe...tenang saja kak dosis yang ini kecil saja, Hiko juga masih memikirkan umur Hiko."ucap Hiko.
"Cih...siapa yang mengajari mu seperti ini?"tanya Lia.
"Ayah.."
"Ukuhkk....apa? Ayah? Ya ampun ayah....ada-ada saja."ucap Lia.
"Hahaha tenang saja kak, ayah juga melarang Hiko untuk meminumnya sebelum umur Hiko tepat untuk meminumnya."ucap Hiko.
"Awas saja jika kau berani macam-macam aku yang akan menghukum mu."acam Lia.
"Iya iya kakak tenang saja."ucap Hiko.
Mereka menikmati malam itu dengan tenang.
__ADS_1
"Hah....rasanya lega sekali setelah meneguk ini, bulan cuaca dingin sekali ya."ucap Lia.
"Iya maka dari itu kakak jangan lupa memakai mantel kakak."ucap Hiko sambil memakan kripik.
"Iya kakak tau itu, lagi pula kakak jarang keluar biasanya hanya keluar jika bahan di kafe habis."ucap Lia.
"Bagaimana kabar ayah dan ibu mu.?"tanya Lia.
"Ibu ku juga ibu mu kak."ucap Hiko.
Lia terseyum.."Ya maafkan kakak, aku hanya berlum terbiasa memanggilnya ibu."ucap Lia.
Hiko terseyum. "Mereka baik, dan mereka juga merindukan kakak."ucap Hiko.
"Lain kali jika ada waktu kakak akan berkunjung."ucap Lia Hiko mengangguk.
"Ya sudah kakak, malam semakin larut aku harus pulang sekarang."ucap Hiko.
"Baiklaj kakak akan mengantar mu kebawah."ucap Lia.
Mereka melangkah menuruni tangga, Hika menaiki motornya lalu pergi dari depan kafe itu. Lia terus menatapnya sampai motor itu sudah tidak terlihat.
Lia melangkah kembali menaiki tangga, tanpa Lia sadari ada seseorang yang berdiri tak jauh dari kafenya. Menatap Lia dengan mata hitamnya.
"Aku merindukan mu."
{♤}{♤}{♤}{♤}
Lia memakai mantel cokalat, baju tebat berwarna hitam dan celana kulot panjang menutupi kaki jenjangnya dan sepatu hels yang menutupi sampai atas mata kakinya , Lia hanya memakai make up tipis yang membuatnya cantik natural.
Wanita itu melangkah turun dan melangkah menuju mobil milikny, oh iya ayahnya yang memberikan semua itu. Lia pun ingin merasakan pemberian orang tuanya walau hanya sebatas barang dan jika Lia ingin memintanya.
Saat ingin mebuka pintu seseorang menahan tanganya membuat Lia terkejud. "Dimas...kau mengejutkan ku saja."ucap Lia kesal pria itu shanya terseyum lebar menunjukan giginya.
"Kau ingin belanja bukan? Ayo aku yang akan menemani mu."ucap Dimas menarik tangan Lia menuju mobil.
"Dari mana kau tau jika aku ingin belanja?"tanya Lia Dimas membukana pintu mobil samping untuknya.
"Tentu saja aku bisa menebaknya dari gaya berpakaian mu dan ya...kau cantik hari ini."jawab Dimas Lia berdecih.
"Cih...aku tua itu."ucap Lia lalu masuk kedalam mobil Dimas.
Pria itu terseyum lalu melangkah memutari mobil dan masuk duduk dikursi pengemudi.
"Kau ingin belanja kemana?"tanya Dimas.
"Ke supermarket saja."jawab Lia.
"Bailah nona cantik."ucap Dimas lalu melajukan mobilnya.
__ADS_1
Beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai disebuah supermarket. Dimas lebih dulu turun dan membukakan pintu untuk Lia.
"Berlebihan sekali."ucap Lia Dimas hanya terseyum.
Mereka melangkah mesuk dan Dimas mengambil ketanjang dorong yang cukup untuk belanjaan mereka nanti dan tentunya Lia bertugas hanya memilih barang yang akan dia beli.
Lia sudah memilih beberapa buah dan sayuran. "Yang ini saja terlihat masih segar."saran Dimas.
"Aku lihat sama saja, sepertinya ini baru mereka isi."ucap Lia memperhatikan sayuran itu.
"Lihat,ini tidak baik ada daun yang berlubang."ucap Dimas.
"Mata mu jeli sekali seperti wanita saja."ucap Lia sambil memasukan sayuran pilihan Dimas.
"Hehe ini keturunan dari ibu ku."ucap Dimas Lia hanya terkekeh lalu melanjutkan langkahnya.
Sedangkan Dimas sibuk membututinya dengan mendorong troli. Lia berhenti di deretan buah, tanganya mengambil buah sirsak yang berukuran besar. Wanita itu menekan pelan dan mencium baunya.
"Coba kau cium apa ini wangi, hidung ku sedikit tersumbat."ucap Lia mengarahkan buah itu pada Dimas.
"Iya ini wangi, itu saja ukurannya juga besar. Seperti mu."ucap Dimas membuat Lia menatapnya tajam.
"Maksudnya ukuran tubuh mu Lia."ucap Dimas Lia menyipitkan matanya.
"Awas saja kau."ucap Lia melanjutkan langkahnya Dimas hanya terseyum.
Apa seperti ini rasanya menemani istri berbelanja, Dimas memang sudah pernah menemani Lia berbenlanja tapi jika dia tidak sibuk.
Dimas terus memeperhatikan wanita didepannya. "Kau sudah cocok menjadi istri ku."batin Dimas.
"Dimas, kau ingin ini?"tanya Lia menunjukan jamur kesukaan Dimas.
"Tentu saja, apa kau ingin memasakan ku itu?"tanya Dimas.
"Iya aku akan membuatkan masakan untuk mu."jawab Lia lalu memasukan 3 bungkus jamur yang sudah dikemas itu dalam troli.
"Kau baik sekali. Tau saja jika aku merindukan masakan mu."ucap Dimas menyamakan jalannya dengan Lia.
"Kepan aku tidak pernah baik pada mu, kau sering berbuat baik pada ku jelas aku akan membalasnya."balas Lia sambil memilih beberapa daging.
Dimas terseyum. "Lia.."
"Aku tiba-tiba ingin masaka sup ayam kentang, apa kau mau? Nanti sekalian saja dengan memasak jamur kesukaan mu."potong Lia menatap Dimas.
Dimas mengangguk. "aku akan memakan apa pun yang kau masak."ucap Dimas Lia terseyum.
"Kau tadi memanggil ku? Kenapa?"tanya Lia.
"Tidak...tidak ada apa-apa."jawab Dimas Lia hanya mengangguk mengerti lalu melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Mungkin nanti saja aku mengataknnya."batin Dimas lalu menyusul Lia.