Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
suami tidak peka


__ADS_3

Di sebuah perusahaan, terlihat seorang pria duduk di kursi kepemimpinannya. Matanya terus menatap foto yang berada di tanganya.


"Lia kau dimana? Aku merindukan mu." Ucapnya.


Tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka. "Tuan."


Orang itu menatap orang itu. "Kami menemukannya."


*+*+*+*+*+


Lia menuruni tangga rumah itu, mencari keberadaan suaminya. Saat sampai di lantai bawah bertepatan dengan Tania yang keluar dari kamar tamu lantai bawah.


"Lia sayang, kau mau kemana?" Tanya Tania Lia hanya meliriknya lalu melangkah pergi menuju ruangan suaminya.


Tania hanya diam menghelakan nafasnya, Lia tidak mungkin dengan cepat memaafkannya.


Lia membuka pintu raungan itu tapi tidak menemukan suaminya. Wajah Lia berubah cemberut. "Kemana dia pergi." Gumam Lia.


"Tadi Mikael titip pesan dengan mamah, dia pergi ke perusahaan cabang miliknya karena ada yang harus dia urus." Ucap Tania yang mendengar gumaman Lia.


Wanita itu hanya diam tidak menghiraukan Lia. "Uumm kau ingin sesuatu, mamah bisa membuatkannya untuk mu atau kau ingin beli makanan lainnya?" Tanya Tania masih berusaha mengajak Lia bicara.


"Tidak perlu, urus saja urusan mu." Ucap Lia lalu kembali melangkah menuju tangga dan pergi ke kamarnya.


Tania menunduk, putrinya sendiri tidak menganggapnya. "Maafkan mamah sayang, mamah salah. Tapi mamah tidak bisa berbuat apa-apa, wanita itu melakukan apa pun untuk mendapatkan mu." Gumam Tania.


Didalam kamar Lia duduk di sofa kamar itu, menatap lurus ke depan. "Kalian yang membuat ku seperti ini." Ucap Lia.


....


Mikael masuk kedalam rumahnya bersama Hang. "Kita harus memperketat penjagaan, Dimas mengetahui lokasi kita." Ucap Mikael pada Hang.


"Baik tuan." Balas Hang.


"Apa Mikael Dimas mengetahuinya?" Tanya Hiro yang mendengar percakapan mereka saat melewati ruang tamu.


"Iya ayah, Dimas mengetahuinya. Anak buahnya memantau anggota keluarga kita kemana pun kalian pergi." Jawab Mikael.


"Ini salah ayah ya, maafkan ayah Mikael."


"Tidak ayah, ini bukan salah ayah. Ayah kesini juga karena keinginan Lia, kita saja yang lengah tidak mengetahui hal itu." Ucap Mikael.


"Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Hiro.


"Ayah tenang saja, kami sudah mempersiapkan semuanya. Aku bisa menjamin kalau Lia aman, aku tidak mungkin membiarkan Dimas mengambilnya dari ku." Ucap Mikael.


"Sayang." Panggil Lia dari tangga Mikael menolah dan terseyum.


"Iya sayang ada apa?" Tanya Mikael.


Lia mendekatinya dan memeluk suaminya. "Dari mana? Aku tadi mencari mu." Ucap Lia.


"Maaf tidak memberitahu mu, tadi di perusahaan ada urusan mendadak. Kau ingin apa?" Tanya Mikael membalas pelukan itu.


Lia menggeleng. "Aku hanya ingin bersama mu." Ucap Lia Mikael terseyum melihat tingkah manja istrinya.

__ADS_1


"Hang kau lanjutkan pekerjaan kita." Ucap Mikael.


"Baik tuan."


"Ayah kami ke kamar dulu." Ucap Mikael Hiro mengangguk.


Hiro menatap Lia yang tidak mau menatapnya. Mikael membawa Lia kembali ke kamar.


"Maafkan ayah sayang." Gumam Hiro.


Sesampainya di kamar Lia masih memeluk Mikael.


"Sayang aku mau ganti baju dan membersihkan diri ku dulu, aku habis dari luar penuh dengan debu dan kotoran." Ucap Mikael Lia menggeleng tidak mau melepas suaminya.


"Kau ingin apa sayang?" Tanya Mikael mengelus kepala istrinya.


"Aku mau meluk kamu." Jawab Lia.


Mikael terseyum. "Kau yakin memeluk ku terus, badan aku bau sayang aku dari luar. aku mau mandi dulu baru nanti peluk lagi." Ucap Mikael.


"Ya udah mandinya sama aku saja." Ucap Lia menatap Mikael.


"Kau yakin?" Tanya Mikael menatap istrinya dengan menyipitkan matanya.


Lia mengangguk. "Aku tidak mau jauh dari mu." Ucap Lia Mikael gemas dengan istrinya.


"Kau ini menggemaskan sekali." Ucap Mikael mencubit kedua pipi Lia pelan sambil menggoyangkannya.


"Aku mandi sendiri saja ya, aku ingin benar-benar mandi sayang, jika kau ikut aku tidak bisa mandi dengan benar." Ucap Mikael.


"Bukan seperti itu sayang, jika kita mandi berdua. Aku tidak bisa fokus dengan mandi ku." Ucap Mikael bagaimana dia bisa fokus dengan mandinya jika tergoda melihat tubuh istrinya.


Lia melepas pelukannya dan berjalan menuju ranjang menidurkan dirinya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Mikael menghelakan nafasnya.


"Sayang.."


"Pergi mandi saja sana." Ucap Lia suara terdengar bergetar.


Mikael mendekatinya dan duduk ditepian ranjang sebelah Lia. "Sayang..hy buka selimutnya." Ucap Mikael menarik selimut itu tapi Lia menahannya.


"Sayang jangan seperti ini, kau bisa sesak nafas sayang." Ucap Mikael tapi Lia tidak peduli.


"Sayang hy...ayo lah buka selimutnya sayang." Ucap Mikael.


"Hiks..." Mikael semakin tidak tega mendengar suara tangis Lia.


"Hy...baiklah-baiklah..ayo kita mandi berdua." Ucap Mikael.


"Tidak mau, kau jahat." Tolak Lia Mikael memijit pelipisnya.


"Sayang..baiklah maafkan aku. Ayo kita mandi bersama." Bujuk Mikael.


"Tidak...kau pergi saja sana, aku tidak mau melihat mu. Kau jahat anak mu ingin berada didekat mu terus tapi kau menolaknya...hiks...kau ayah yang jahat." Ucap Lia manangis.


"Hy hy...baiklah maafkan aku sayang, jangan menangis. Buka selimutnya dulu. Maafkan aku." Ucap Mikael panik tangis Lia semakin keras.

__ADS_1


"Sayang...ayo lah." Ucap Mikael berusaha membuka selimutnya tapi Lia terus menahan.ya.


"Tidak mau..hiks..."


"Sayang maafkan aku..ayo lah buka selimutnya." Ucap Mikael Lia masih terus menahannya sampai selimut itu berhasil Mikael buka dan melihat wajah istrinya yang sudah basah.


"Sayang.." Mikael menangkup wajah Lia.


Lia mengerucutkan bibirnya tidak mau melihat Mikael. Pria itu mengecup bibirnya. "Maafnya..ayo kita mandi bersama." Ucap Mikael lalu mengelus perut Lia.


"Ayo sayang."


"Tidak mau, mandi saja sana sendiri. Kau menolak mandi bersama ku dan anak mu, kau memang tidak sayang pada kami." Ucap Lia.


"Tidak seperti itu sayang...hy sayang tatap aku." Ucap Mikael mencium pipi Lia yang membesar.


Lia hanya diam. "Sayang...baiklah jika kau tidak mau aku pergi mandi saja." Ucap Mikael beranjak tapi Lia masih diam saja.


Lia juga beranjak dari ranjang dan pergi dari kamar, Mikael terdiam melihat istrinya. "Oh ya ampun...sudah tau istri mu sedang sensitif kau menolak keinginannya Mikael." Ucap Mikael memijit pelipisnya.


"NONA LIA."


Mikael terkejud mendengar teriak Cika langsung pergi keluar kamar  Di lantai bawah Mikael melihat Lia yang terduduk di lantai.


"Sayang." Mikael berlari mendekati Lia dan mengangkat


istrinya.


Hiro Tania dan Hang juga baru saja datang menghampiri.


Lia hanya meringis sambil mengelus pantatnya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Mikael mantap Cika.


"Maaf tuan saya sedang membersihkan air yang tumpah karena tata, nona Lia tadi melewatinya saya kira nona melihat saya sedang membersihkan lantai itu." Jawab Cika.


"Kau tidak papa sayang?"


"Pantat ku sakit." Jawab Lia Mikael mengerutkan alisnya.


"Perut mu tidak sakit?" Tanya Mikael khawatir.


"Yang terbentur itu pantat ku bukan perut ku, sakit tau." Ucap Lia kesal dia masih marah pada suaminya.


"Kenapa hanya pantat yang sakit." Ucap Mikael.


"Ooohh jadi kau ingin perut ku yang sakit dan kau mau anak kita kenapa-kenapa, begitu?" Tanya Lia mantap Mikael tajam.


"Bukan sayang...bukan seperti itu aku mengkhawatirkan kalian berdua, takut jika terjadi sesuatu dengan anak kita juga." Jawab Mikael takut melihat tatapan istrinya.


"Cihh...dasar suami tidak peka." Ucap Lia lalu melangkah pergi sambil mengelus pantatnya yang masih sakit.


Mikael menatap bingung. "Cika sebenarnya kejadiannya seperti apa?" Tanya Mikael.


"Nona Lia menuruni tangga dengan wajah kesalnya tuan, saat melewati lantai basah itu nona hampir terjatuh untung saja saya sempat menahannya, sepertinya pantat nona Lia masih mengenai lantai karena saya karang kuat menahannya." Jelas Cika Mikael memijit pelipisnya.

__ADS_1


Jantungnya sudah seperti lari maraton dan ternyata istrinya baik-baik saja walau sakit pantatnya. "Lama-lama aku bisa sakit jantung." Batin Mikael.


__ADS_2