Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
takut


__ADS_3

Lia baru saja keluar kamar mandi dengan tangan yang menepuk rambutnya dengan handuk, bertepatan dengan itu Mikael yang baru datang dari ruang kerjanya melihat Lia yang masih menggunakan kimono mandi memperlihatkan kulit putihnya membuat Mikael terdiam.


Lia yang sadar dengan keberadaan Mikael pun menoleh menatap mata hitam pekat itu yang juga menatapnya. Lalu Lia mengalihkan pandangnya dan melangkah menuju kamar meja rias.


Mikael hanya diam melihat Lia. "Aku ingin berkerja"ucap Lia tiba-tiba.


"Untuk apa?, apa kau kurang bersyukur memiliki suami kaya seperti ku?"tanya Mikael sambil tertawa kecil.


"Bukankah, pernikahan ini hanya sementara?, jadi uang yang kau miliki bukan lah milik ku. Buat apa aku mensyukuri memiliki suami yang kaya raya seperti mu."balas Lia tajam. Mikael menatapnya tajam walau hanya punggung yang dia liat.


"Kau memang wanita yang tidak tau bersyukur, bukannya menikmati waktu sementara ini untuk menghabiskan uang ku, tapi kau memilih berkerja sendiri."ucap Mikael dingin.


Lia terseyum miring. "Aku memang tidak bisa bersyukur, bahkan aku tidak mensyukuri kehidupan ku yang menyedihkan ini. Lalu apa mau tuan? Apa aku harus terlihat bahagia dengan pernikahan bodoh ini dan menikmati setiap hartamu?. Maaf tuan, aku bukanlah wanita yang gila harta."ucap Lia lalu beranjak dari duduknya melangkah menuju lemari mengambil piyama tidurnya lalu melangkah menuju kamar mandi.


Mikael hanya diam. Mendengar ucapan wanita itu membuatnya sakit kepala. "Tidak mungkin wanita tidak gila harta, lalu apa tujuannya berkerja jika bukan untuk mencari uang. Bukan kah dia sudah memiliki suami seperti ku, lalu untuk apa lagi dia berkerja."ucap Mikael, kenapa dia tiba-tiba kesal dengan ucapan Lia. Bukankah itu bagus jika wanita itu tidak menginginkan hartanya, karena bagaimana pun dia menikahi wanita itu dengan alasan terpaksa.


"Wanita yang aneh."ucap Mikael


□□□□□□□□


Lia terbangun dari tidur saat mendengar suara gaduh dari lantai bawah. Matanya yang masih mengantuk berusaha terbuka dan melihat jam dinding yang menunjukan jam 11 malam.


Siapa yang masih membuka mata semalam ini. Lia menuruni ranjang dan melangkah menuju pintu kamar, keluar dari kamar dan pergi menuju lantai bawah.


Lampu lantai bawah yang mati membuat Lia sulit untuk melihat sekitar rumahnya. Lia menuruni tangga dan sekarang dia tepat di lantai bawah.


Brak


Lia terkejud saat mendengar lagi suara itu, tapi kali ini dari arah dapur. Dengan berani Lia melangkah menuju dapur lalu menekan tombol lampu membuat cahaya menerangi ruang dapur.


Tidak ada apa pun kecuali toples jatuh di lantai membuat isinya berserakan.


"Siapa,malam-malam seperti ini bermain di rumah ini."gumamnya merapikan toples dan isinya yang berserakan.


Tanpa Lia sadari ada seseorang yang diam-diam mengendap-endap mendekatinya. Sampai orang itu bernar-benar berada dibelakangnya dan...


"Buuu"

__ADS_1


"Aaakh" Lia yang terkejud pun berlari dan berteriak menghindari orang itu


"Hahahaha wajah mu lucu sekali saat terkejud seperti itu." Mikael tertawa puas melihat Lia yang berteriak histeris.


"Apa kau gila, kau ingin membuat ku jantungan."ucap Lia marah Mikael hanya asik tertawa


"Hy nona jaga bicara mu, lagi pula sedang apa kau disini malam-malam?" tanya Mikael masih dengan rasa geli di perutnya


"Maafkan aku, aku tadi sedang tertidur lalu mendengar suara gaduh di lantai bawah jadi aku ingin mengeceknya."jawab Lia.


"Kau juga mendengarnya,aku pikir kau yang tadi membuat gaduh itu," ucap Mikael.


"Bagaimana cara ku membuat suara gaduh di lantai bawah jika aku sedang tertidur di kamar. Atau mungkin tuan yang membuat suara gaduh itu?"ucap Lia menatap Mikael.


"Untuk apa ku melakukan hal tidak berguna itu, aku memiliki pekerjaan yang lebih penting"jawab Mikael.


Brak


Lia dan Mikael sama-sama menoleh ke sumber suara. Lia merasakan takut lalu melangkah mendekati Mikael dan memeluk lengan pria itu.


Mikael diam-diam terseyum. "Bukan kah tadi kau berani mengecek kemari, lalu kenapa sekarang kau takut hah?" tanya Mikael sambil menyentil kening Lia membuat wanita itu meringis.


Lia mengusap keningnya. "Aku berani karena aku pikir itu mungkin kau yang melakukannya jadi aku mau mendatangi mu, tapi ternyata bukan,"jawab Lia.


"Untuk apa kau mau mendatangi ku? Aku sedang di ruangan kerja, lagi pula ruang kerja ku berada di lantai atas bukan di bawah."ucap Mikael membuat pelukan itu semakin erat.


"Lalu siapa yang melakukannya?"tanya Lia takut, wajahnya terlihat lucu saat takut seperti itu.


"Mana aku tau."jawab Mikael, Lia memukul lengannya keras.


"Kalau begitu periksa kenapa hanya diam."ucap Lia kesal.


"Bagaimana aku bisa memerikasanya jika kau memeluk ku erat seperti ini, aku tau diri ku sangat nyaman di peluk." ucap Mikael dengan cepat Lia melepas pelukannya.


"Percaya diri sekali." ucap Lia mengalihkan wajahnya melihat kearah lain.


Mikael terseyum melihat tingkah Lia "Ternyata manis juga" batin Mikael

__ADS_1


Mikael melangkah menuju tombol lampu dan klik lampu di lantai bawah menyala, tapi mereka tidak melihat apa pun.


"Tidak ada apa pun."ucap Mikael.


"Apa hantu yang melakukannya?"tanya Lia,Mikael menatapnya jengah.


"Apa isi kepala mu itu hanya di isikan tentang hal bodoh, mana mungkin ada hantu di dunia ini."ucap Mikael.


"Tidak bisakah kau bicara yang baik sakali saja, kau terus saja mengatai ku bodoh. Aku yang bodoh atau kau? Karena kau tidak percaya dengan keberadaan hantu."ucap Lia kesal.


"Kau yang bodoh karena percaya dengan hal tidak berguna itu."ucap Mikael Lia mengepalkan tanganya lalu mendekati Mikael.


"Kau itu ya tidak bisa sadar diri."ucap Lia menatap Mikael tajam.


"Kau berani dengan ku?"tanya Mikael yang memajukan langkahnya membuat Lia melangkah mundur tapi Mikael menahan tubuhnya.


Lia terdiam, dia sudah salah bicara. Kenapa dia bisa berani bicara seperti itu pada suaminya sendiri.


"Kenapa diam? Tidak mau menjawab?"tanya Mikael Lia hanya diam sambil menundukkan kepalanya.


"hy aku bicara pada mu."ucap Mikael menarik dagu Lia membuat wanita itu menatapnya.


Mata mereka saling bertemu, Mikael menatap mata cokalt itu lekat. "Kau wanita yang cantik, kenapa nasip mu malang sekali" batin Mikael.


Lia menatap wajah Mikael. Pria ini tampan hanya saja pria itu sangat angkuh.


"Lia."ucap Mikael pertama kalinya pria itu memanggil namanya membuat Lia tertegun.


"Ada apa?"tanya Lia gugub.


"Bisakah kita berbaikan?"tanya Mikael membuat alis Lia mengkerut.


"Apa maksud tuan?"tanya balik Lia tiba-tiba Mikael memeluknya membuat Lia terkejud.


Pelukan itu terasa hangat dan nyaman. "Tuan ada apa?"tanya Lia.


"Berhenti memanggil ku tuan, aku suami mu. Tidak bisakah kita seperti pasangan lainnya?"tanya Mikael membuat Lia terdiam

__ADS_1


__ADS_2