Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
rencana tuan sanjaya


__ADS_3

"TIDAK." Teriak seseorang membuat mereka terkejud.


Orang itu mendekat dan menarik Lia dalam pelukannya. "Tidak ayah ku mohon jangan pisahkan kami."ucap Mikael memeluk Lia erat.


"Mikael..."ucap Lia dia merasakan basah di bahunya, pria itu menangis.


"Tidak ayah,jangan pisahkan aku darinya."ucap Mikael memohon dengan air mata.


Tuan Sanjaya tidak tega melihat putranya seperti ini. Sera ibu Mikael datang menghampiri mereka.


"Suami ku, ku mohon. Untuk kali ini saja biarkan putra ku bahagia."ucap Sera memohon pada suaminya.


Tuan sanjaya terdiam menatap Mikael yang tidak mau melepas Lia. Dia melangkah mendekati dua orang itu, Mikael semakin erat memeluk Lia.


"Tidak ayah jangan jauhkan aku darinya aku mohon, aku sangat mencintainya aku tidak mau kehilangannya."ucap Mikael Lia juga ikut menangis di peluknya pria itu erat.


"Mikael dengarkan ayah dulu.."


"TIDAK...AKU MOHON AYAH JANGAN."teriak Mikael semakin menangis.


Lia melepas pelukan itu dan menangkup wajah Mikael. "Hy...hy sayang lihat aku, tatap aku."ucap Lia Mikael menatapnya.


"Tenangkan diri mu dulu,ku mohon. Kau masih terluka, tenangkan diri mu dulu."ucap Lia air mata Mikael semakin mengalir.


"Kau tidak akan meninggalkan ku kan?" Lia menggeleng.


"Tidak....aku tidak akan meninggalkan mu, aku mencintai mu Mikael hanya kau dihati ku. Aku tidak akan meninggalkan mu."ucap Lia Mikael terseyum lalu memeluk Lia erat.


Pria itu kembali tenang, tuan Sanjaya tertegun. Wanita itu berhasil membuat Mikael tenang.


"Baiklah.."ucap tuan Sanjaya membuat mereka semua menatapnya.


"Jika kalian tidak ingin berpisah, kalian harus menuruti ku."ucap tan Sanjaya.


"Apa ayah?"tanya Mikael.


"Kalian harus pergi dari kota ini..."


"Apa?" Lia terkejud mendengar ucapan itu.


"Tapi tuan.."


"Tolong dengarkan aku dulu, ini demi kebaikan Mikael. Kau kenal adik mu seperti apa, kau sudah terlalu banyak mengalah untuknya. Jadi kali ini jika kau tidak ingin pisah dari Lia kalian harus tinggil jauh di kota berbeda."ucap tuan Sanjaya.


"Tapi tuan, jika mereka tinggal bersama tanpa ada ikatan itu akan sulit."ucap Hang.


"Iya aku tau itu, jadi kalian berdua harus menikah."ucap Tuan Sanjaya.


"Menikah?" tanya Mikael dan Lia bersamaan.


"Iya, walau hanya menikah dipengadilan setidaknya kalian punya ikatan dan itu mempermudah kalian untuk tinggal dikota lain."jelas tuan Sanjaya.


"Jadi apa kalian setuju?"tanya tuan Sanjaya.


"Aku setuju ayah, asalkan aku tetap bersamanya."ucap Mikael menatap Lia.


Wanita itu hanya diam, itu membuat mereka semua bingung.  "Sayang kenapa? Apa kau tidak setuju? Apa kau tidak mau menikah dengan ku?"tanya Mikael.


"Bukan...bukan seperti itu, aku setuju dan senang mendengangarnya kita akan menikah. Tapi bagaimana dengan ayah ku, dia harus tau ini."ucap Lia mereka semua terseyum.


"Kau tenang saja, ayah yang akan bicara pada ayah mu."ucap tuan Sanjaya terseyum Lia pun ikut terseyum.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Dimas?"tanya Sera.


"Kita akan berusaha membuat dirinya melupakan Lia."ucap tuan Sanjaya.


"Bagaimana caranya?"tanya Sera.


"Ibu ayah...aku rasa ada satu orang yang bisa, dia sahabat baik ku dan dia tulus mencintai Dimas."ucap Lia.


"Siapa?"tanya tuan Sanjaya.


"Dia Tasyah."jawab Lia.


"Benarkah?, kalau begitu ayah akan bicara padanya."ucap tuan Sanjaya.


Mikael terseyum lalu mencium kening Lia. "Aku mencintai mu."ucap Mikael Lia terseyum.


"Aku juga."ucap Lia lalu memeluk Mikael erat.


Ketiga orang itu bahagia melihat mereka.


"Aku tidak akan melepas milik mu, karena kali ini aku tidak akan mengalah."batin Mikael.


■♤■♤■♤■♤


Semua rencana mereka berjalan dengan baik, Hiro pun setuju setelah mendengar semua penjelasan itu dari tuan Sanjaya.


Sekarang mereka berada dipengadilan untuk menikakan Lia dan Mikael dan bertukar cincin.


"Sekarang kalian resmi suami istri."ucap pengacara Mikael.


"Terimakasih banyak atas bantuannya."ucap tuan Sanjaya.


"Hang...sisa aku serahkan pada mu, tugas mu sekarang megawali mereka sampai tempat tujuan dan menjaga mereka selama berda di sana."ucap tuan Sanjaya.


"Baik tuan,anda bisa percayakan itu pada saya."ucap Hang.


Hiro terseyum pada putrinya. "Walau tidak meriah, setidaknya ayah melihat mu bahagia."ucap Hiro Lia terseyum lalu memeluk ayahnya erat.


"Lia akan merindukan ayah."ucap Lia.


"Ayah juga sayang."ucap Hiro lalu melepas pelukannya.


Hiro beralih pada Mikael. "Ini yang kedua kalinya aku menyerahkan putri ku pada mu, Mikael aku percayakan putri ku pada mu dia permata berharga ku, jaga dan lindungi dia."pinta Hiro.


"Tentu ayah, aku akan sangat menjaganya bahkan jika harus mentaruhkan nyawa Mikael siap."ucap Mikael.


"Jangan seperti itu, aku tidak terima jika putri ku janda lagi. Kau harus terus mendapinginya."ucap Hiro.


"Ayah...."tergur Lia cemberut mereka semua terkekeh.


"Ayah hanya bercanda sayang, kemarilah peluk aku."ucap Hiro Mikael dan Lia memeluknya erat.


Sanjaya terseyum melihatnya. "Mikael jika ada waktu ayah akan berkunjung ketempat kalian, dan jika keadaan di sini aman kalian mungkun bisa kembali."ucap tuan Sanjaya.


"Iya ayah."balas Mikael lalu dia menatap Lia dan terseyum Lia pun membalasnya.


......


Sekarang mereka berada dirumah Lia, besok jadwal keberangkatan mereka.


"Apa ini tidak sakit lagi?"tanya Lia mengusap luka di perut Mikael.

__ADS_1


"Tidak, rasa sakitnya hilang jika melihat mu."ucap Mikael Lia menyipitkan matanya menatap Mikael.


"Gombal."ucap Lia Mikael hanya terkekeh.


Mereka sekarang sedang tidur diatas kasur empuk itu dan saling berpelukan.


"Aku tidak menyangka, kalau kita sudah menikah."ucap Lia.


"Memangnya kenapa? Apa kau tidak terima?"tanya Mikael.


"Aissh kau ini, tentu aku terima jika aku tidak terima kita tidak akan menikah. Maksud ku, aku tidak menyaka kita menikah dengan cara seperti itu."ucap Lia Mikael terkekeh.


"Nanti saja kita adakan resepsinya saat di sudah sampai disana."ucap Mikael.


"Apakah bisa?"tanya Lia menatap Mikael.


"Apa yang tidak bisa dari suami mu ini hmm."ucap Mikael membagakan diri sendiri.


"Cih sombong sekali."ucap Lia melepas pelukannya.


"Hy kau mau kemana?"tanya Mikael menahan tangan Lia.


"Aku haus mau minum."jawab Lia lalu beranjak dari kasur itu melangkah menuju dapur.


Diambilnya gelas putih itu lalu menuangkan air, rasa air itu mengalir ditenggorakannya membuatnya segar. Setelah selesai Lia membilas gelas itu dan meletakannya di meja, saat berbalik Lia terkejud melihat Mikael sudah berdiri dihadapannya dengan tatapannya.


"Sayang...ada apa?"tanya Lia Mikael terseyum miring.


Mikael melangkah semakin dekat membuat Lia terpojok dengan meja di belakangnya. "Sa...sayang."ucap Lia gugub.


Mikael semakin dekat dan bebisik. "Aku merindukan mu."ucap Mikael.


"Bukan kah kita sudah bersama, apa yang kau rindukan?"tanya Lia polos Mikael terseyum.


"Kau ini pura-pura polos atau apa hmm?"tanya Mikael mengecup bibirnya Lia.


Lia paham sekarang apa maksud Mikael. "sa...sayang, nanti saja ya."ucap Lia gugub.


"Kenapa? Apa kau takut?"tanya Mikael menaikan Lia keatas meja.


"Ti..tidak...aku tidak takut."jawab Lia.


"Lalu? Apa?"tanya Mikael sudah bermain dileher putih Lia.


"Uuummm....sa..sayang." Lia meremas bahu Mikael.


Mikael terseyum dan melanjutkan aksinya. "Ayo kita buat Mikael kecil."ucap Mikael lalu membawa Lia kekamar.


Dijatuhkannya tubuh mereka di atas kasur itu, Lia terdiam mematung. Mikael membuka kaos yang iya kenakan lalu menatap Lia.


"Aku ingat semuanya, rasa dari bibir ini, cakaran, pukulan bahka...." Mikael mendekat dan berbisik.


"Suara merdu mu."lanjut Mikael membuat pipi Lia memereah.


Diciumnya bibir ranum itu lembut, Lia perlahan membalas ciuman itu dan memeluk leher Mikael. Lia meremas rambut Mikael sebagai pelampiasannya.


Ciuman itu terlepas, dada Lia naik turun menghirup udara yang ada dengan mata terpejam. Mikael terseyum menatap wajah cantik itu.


"Aku mencintai mu."ucap Mikael lalu kembali mencium bibir itu.


Hanya mereka yang tau apa yang terjadi setelahnya, dan semoga setelah ini hanya ada kebahagiaan antara mereka.

__ADS_1


__ADS_2