Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
aku tidak akan mengganggu mu


__ADS_3

Kaki itu melangkah keluar dari bandara internasional di kota yang baru dia datangi, bibirnya melengkung dengan indah.


"Kita akan bertemu Lia." Gumamnya.


\={\={\={\={\={\={


"Sayang...ayolah, jangan marah terus." Ucap Mikael membujuk Lia yang masih tidak mau bicara padanya.


Lia hanya membuang muka, tidak mau melihat kearah Mikael. Mulutnya masih sibuk mengunyah buah yang dia potong-potong tadi, mereka duduk di sofa ruang tengah.


"Sayang.." panggil Mikael lagi sambil menggenggam tangan Lia.


Lia menarik tanganya dan mengambil selembar tissue untuk mengelap bibirnya. Mikael menghelakan nafasnya, Lia sama sekali tidak ingin bicara padanya.


"Terserah kau saja, aku sudah berusaha membujuk mu tapi kau tidak menghiraukan  ku. Aku sedang banyak pikiran." Ucap Mikael beranjak pergi begitu saja.


Lia menatapnya. "Selalu saja, saat aku ingin bersama mu kau selalu seperti itu. Saat aku ingin terus di dekat mu, kau selalu ada saja alasan untuk jauh dari ku." Ucap Lia.


Mikael menghelakan nafasnya dan berbalik. "Lalu kau ingin apa? Aku sudah mengajak mu bicara dari tadi tapi kau yang tidak menghiraukan ku, aku sudah berusaha meminta maaf dan bertanya kau ingin apa tapi kau hanya diam. Aku banyak pikiran Lia kau seharusnya bisa mengerti aku." Ucap Mikael marah.


"Baiklah, aku tidak akan mengganggu mu. Kau lanjutkan saja pekerjaan mu." Ucap Lia lalu beranjak pergi menuju kamar.


Mikael menatap istrinya. "Hah....aku yang tidak peka atau dia yang terlalu sensitif." Gumam Mikael memijit pelipisnya.


.....


Mikael masuk kedalam kamar, dia baru saja dari ruang kerjanya membahas hal penting dengan Hang.


Dilihatnya Lia yang duduk di kursi balkon sambil membaca majalah, sambil menikmati jus melon yang dibuat oleh Cika.


Mikael menatap istrinya. "Sayang.." panggil Mikael Lia hanya menoleh lalu kembali membaca majalahnya.


Mikael melangkah mendekati Lia, ikut duduk di kursi sebelah Lia. "Sedang apa?" Tanya Mikael.


"Kau tidak lihat." Jawab Lia.


Mikael diam, lihat istrinya masih saja cuek padanya. "Sayang maafkan aku."


"Sudahlah tidak ada yang salah dari mu, aku yang salah mengganggu waktu mu." Ucap Lia lalu menutup majalahnya dan beranjak pergi.


Mikael lagi-lagi menghelakan nafasnya sambil memijit pelipisnya, dia sedang banyak pikiran Dimas sudah berada di kota ini dan kemungkinan akan mencari keberadaan mereka, dan sekarang Mikael harus menghadapi istrinya yang sedang seperti itu.


"Hah....entah siapa yang salah." Gumam Mikael dia sudah berusaha minta maaf tapi Lia tidak menghiraukannya.


Hari sudah terlihat gelap, Lia keluar dari kamar mandi, lalu melangkah menuju meja rias. Mikael terus menatapnya.

__ADS_1


Lia mengeringkan rambutnya, dan setelah itu mengoleskan vitamin rambut. Mikael yang duduk di sofa kamar itu terus memperhatikannya.


Setelah selesai Lia beranjak dari meja rias saat melangkah tidak sengaja kakinya terbentur dengan kaki meja rias.


"Akhh." Mikael dengan cepat datang menghampirinya.


"Kenapa?" Tanya Mikael berjongkok depan Lia dan melihat ibu jari kaki Lia yang memerah.


"Hanya terbentur, tidak perlu khawatir." Ucap Lia dingin melepas kakinya dari Mikael lalu beranjak pergi.


Lia melangkah keluar kamar meninggalkan Mikael yang terdiam, dia tidak suka situasi ini.


"Cika kau memasak apa untuk makan malam?" Tanya Lia yang sudah berada di dapur.


"Sup ayam dan saya membuat salad untuk nona." Jawab Cika yang masak bersama tata.


"Oohh baiklah kalau begitu." Ucap Lia lalu melangkah pergi.


"Nona terlihat tidak bersemangat, wajah juga pucat." Ucap Tata.


"Iya kau benar, aku jadi khawatir." Ucap Cika.


Mikael yang berdiri tidak jauh dari mereka mendengar hal itu. Dia melangkah pergi mencari keberadaan istrinya.


Sampai mata Mikael melihat Lia yang berdiri di tepian kolam ikan menatap ikan-ikan yang berenang di dalam air itu.


"Maafkan aku." Ucap Mikael.


"Kau tidak salah, aku yang salah menganggu waktu mu." Ucap Lia.


"Tidak seperti itu sayang, kau tidak mengganggu waktu ku sama sekali." Ucap Mikael membenamkan wajahnya di bahu Lia.


"Kau bilang sibuk kan? Aku yang salah meminta waktu mu, aku juga salah tidak mengerti keadaan mu. Kau sedang banyak pikiran tapi aku malah semakin membuat mu pusing. Tidak papa, aku paham. Aku tidak akan mengganggu mu lagi. Aku akan berusaha menahan keinginan ku."


"Sayang jangan seperti itu, jika kau ingin sesuatu jelas aku harus memenuhi keinginan mu kau sedang hamil. Aku yang salah tidak peka dengan diri mu." Ucap Mikael Lia melepas pelukannya.


"Sudahlah, aku tidak masalah. Besok-besok aku tidak akan mengganggu mu." Ucap Lia berniat pergi tadi Mikael menahannya.


"Sayang ku mohon jangan seperti ini." Ucap Mikael menatap Lia lirih tapi wanita itu tidak mau melihatnya.


"Sayang ku mohon maafkan aku."


"Sudah aku bilang kau tidak salah, aku yang salah mengganggu waktu mu kan. Kau sibuk dan seharusnya aku bisa memahami kesibukan mu, aku memang salah tidak bisa menahan diri ku, tapi aku hanya mengikuti apa yang hati dan anak mu inginkan apa itu salah?"


"Sudahlah Mikael, kau lanjutkan saja kesibukan mu." Ucap Lia melepas genggaman itu lalu melangkah pergi.

__ADS_1


Mikael memejamkan matanya, tanganya terkepal. "Bodohhhh...kau yang salah Mikael...istri mu sedang hamil jelas dia selalu ingin dekat dengan." Gumam Mikael meremas rambutnya sendiri.


....


Makan malam pun tiba, sungguh hening tanpa suara. Hiro dan Tania pun merasa tidak enak melihat keheningan itu.


Mikael terus memperhatikan istrinya yang lahap makan.


"Uhuk uhku.." batuk Lia karena terlalu cepat memakan makanannya.


Tania dan Mikael sama-sama memberikan air, Lia menatap dua gelas itu. Tapi yang dia ambil adalah pemberian Tania bukan pemberian Mikael.


Hiro dan Tania terdiam, mereka bisa menebak bahwa Lia dan Mikael sedang bertengkar. Mikael meletakan lagi gelas itu, menatap kelain arah. Lia sungguh-sungguh dengan ucapannya, wanita itu tidak akan menghiraukan Mikael.


"Aku selesai. Selamat malam." Ucap Lia lalu beranjak pergi.


"Nona.." panggil Cika Lia menoleh.


"Nona lupa meminum vitamin nona." Ucap Cika.


"Oh maaf aku lupa." Ucap Lia menerima vitamin yang diberikan Cika dan meminumnya.


"Sayang kau jangan sering lupa meminumnya." Ucap Mikael.


"Benar Lia,kau jangan lupa meminumnya itu baik untuk kau dan janin mu." Ucap Tania menambahkan ucapan Mikael..


"Iya mah Lia tau." Balas Lia tidak membalas ucapan Mikael.


Tangan Mikael terkepal, Lia menatap kepalan itu lalu pergi begitu saja.


"Mikael.."


Pria itu menoleh pada Hiro. "Kalian sedang bertengkar?" Tanya Hiro.


"Iya ayah, Lia marah pada ku. Aku tidak bisa peka dengan dirinya....Hah..aku yang salah ayah, Lia pantas menghukum ku." Ucap Mikael.


"Cobalah bicara baik-baik dengan Lia Mikael." Ucap Tania.


"Sudah mah, tapi Lia tetap tidak mau bicara pada ku. Bakan dia menghindar dari ku." Ucap Mikael memijit pelipisnya.


"Ayah paham, kau pasti banyak pikiran sampai kau tidak bisa menahan marah mu pada Lia. Ayah sempat melihat perdebatan kalian diruang tengah, suasana ibu hamil memang seperti itu Mikael kau harus bisa memahaminya. Ayah tau kau sibuk tapi Lia juga butuh perhatian mu." Ucap Hiro.


"Mikael tau ayah, Mikael yang salah tidak bisa menahan diri dan langsung marah begitu saja pada Lia." Ucap Mikael.


Hiro mengelus bahu Mikael. "Coba untuk mengajaknya bicara lagi. Lia pasti bisa mengerti." Ucap Hiro.

__ADS_1


"Baik ayah." Ucap Mikael.


__ADS_2