
Hari sudah terlihat gelap dan Lia masih sibuk memperbaiki berkasnya.
"Kau masih belum mau pulang?"tanya Dimas yang menghampirinya.
"Perkerjaan ku masih banyak."jawab Lia.
"Apa perlu aku bantu?"tanya Dimas.
"Tidak, jangan...kau bosnya tidak enak jika kau yang membantu."ucap Lia Dimas terseyum lalu mendekatinya dan mendorong kursi Lia untuk bergeser.
"Apa yang kau lakukan?"tanya Lia Dimas menarik kursi lain dan duduk disebelah Lia.
"Biarkan aku yang mengerjakannya."ucap Dimas mengambil alih perkerjaan Lia.
"Apa? Jangan....biarkan aku saja yang mengyelesaikannya."cegak Lia tapi Dimas tetap menolaknya.
"Kau diam saja dan liat aku berkerja."ucap Dimas sambil mencolek pucuk hidung Lia.
Lia terdiam dan membiarkan Dimas menyelesaikan perkerjaannya. Lia terus memeperhatikan bagaimana Dimas berkerja sampai katanya benar-benar terasa berat.
Tanpa sadar Lia tertidur dimeja dengan lenganya sebagai tumpuannya. Ditatapnya wajah damai Lia membuatnya terpukau.
"Jadi seperti ini melihat wajah damai mu saat tidur."gumam Dimas.
Dimas melanjutkan perkerjaannya sampai selesai. "Akhirnya selesai."ucap Dimas lalu melihat kearah jam yang menunjukan jam 11 malam.
"Wah aku seperti lembur saja, apa aku juga mendapatkan bonus."gumam Dimas lalu terkekeh.
Perlahan dia melihat kearah Lia yang masih tertidur. "Kau cantik sekali, kenapa kau menjadi kakak ipar ku. Aku lebih suka kau menjadi kekasih ku."gumam Dimas tanganya perlahan merapikan anak rambut Lia yang sedikit menutupi wajah wanita itu.
Alis yang rapi, bulu mata yang lentik dan tebal, hidung mancung dan bibir yang ranum membuat Lia bergitu cantik dimata Dimas.
"Andai kau menjadi miliki ku, aku pasti menjadikan mu seperti ratu."gumam Dimas ditatapnya bibir ranum itu.
Keinginannya memiliki Lia semakin besar, tapi sayang wanita itu adalah kakak iparnya. "Sadarkan diri mu Dimas, dia kakak ipar mu."gumam Dimas tapi matanya masih menatap wajah damai Lia.
Wajah Dimas mulai mendekat memperhatikan wajah itu dengan lekat. "Aku menyukai mu."gumam Dimas.
Perlahan mata Lia terbuka membuat Dimas terkejud, dengan cepat pria itu menjauhkan tubuhnya dan menatap kearah komputer itu.
"Ya ampun maaf aku ketiduran."ucap Lia menegakan tubuhnya sambil mengucek matanya.
"Tidak papa, ini sudah selesai."ucap Dimas.
"Wahhh benarkah, maaf aku tidak membantu mu."ucap Lia merasa bersalah.
"Tidak masalah, ayo kita pulang ini sudah sangat larut."ajak Dimas lalu beranjak dari duduknya dan melangkah mendahului Lia.
"Aaa...tunggu aku."ucap Lia meraih tasnya dan mengejar Dimas pria itu menahan pintu lift untuk Lia.
Lift itu mengantar mereka sampai kelantai bawah, Dimas dan Lia melangkah menuju parkiran mobil. Tapi mata Lia menatap kearah lain dimana seseorang berdiri disana dengan tangan terlipat didadanya.
"Mikael."gumam Lia mengalihkan perhatian Dimas.
Mikael mendekat pada mereka dan menggenggam tangan Lia. "Sudah selesai?"tanya Mikael Lia tertegun lalu menjawab.
"I...iya sudah selesai."jawab Lia.
"Kalau begitu ayo pulang."ucap Mikael lalu menarik Lia menuju mobil.
Dimas hanya menatap mereka sampai Lia masuk kedalam mobil. Mikael menatap Dimas tajam, lalu memutar mobil itu dan masuk kepintu satunya mobil itu pun pergi meninggalkan parkiran.
__ADS_1
"Cih...kau terlalu banyak muka."gumam Dimas.
Sepanjang jalan Mikael hanya diam begitu juga Lia tapi wanita itu merasa ada hal aneh dari pria itu.
"Kenapa lama sekali?"tanya Mikael tiba-tiba.
"Hah? Lama apa?"tanya Lia.
"Kenapa lama sekali turunnya, apa yang kau lakukan denganya?"tanya Mikael.
"Kami tidak melakukan apa pun, aku awalnya sedang mengerjakan perkerjaan ku. Tapi tiba-tiba dia datang dan membatu ku menyelesaikannya."jawab Lia jujur.
"Lalu."
"Lalu, tidak ada yang terjadi. Kami langsung turun saat sudah selesai."jawab Lia.
"Ooh." Lia terdiam, tumben sekali Mikael seperti itu. Biasanya pria itu akan marah saat Dimas bersamanya tapi apa ini kenapa pria itu hanya menanyakan hal itu saja.
Sesampainya dirumah mereka turun dari mobil dan melangkah memasuki rumah.
"Ini sudah terlalu malam, istirahatlah. Besok kau liburkan?"tanya Mikael Lia mengangguk.
"Baguslah kalau begitu."ucap Mikael lalu melangkah pergi Lia hanya menatapnya heran.
"Ada apa denganya."gumam Lia dia hanya mengangkat bahunya acuh lalu melangkah menuju kamar.
》》》》》
Hari ini, hari libur jadi Lia hnaya diam dirumah mengerjakan apa pun yang bisa dia kerjakan. Lia melangkah menuju tangga saat melewati pintu kamar Mikael tiba-tiba pintu itu terbuka membuat Lia terkejud.
"Hah ya ampun." Lia mengusap dadanya.
"Kau lebih mengerikan dari pada hantu."jawab Lia lalu melanjutkan langkahnya tapi Mikael menahanya dan menariknya masuk kedalam kamar.
"Apa yang kau lakukan?"tanya Lia saat Mikael menunci pintu kamar itu.
Mikael mendekat padanya membuat Lia melangkah mundur.
"Mikael..." Lia terus melangkah mundur sampai kakinya bersentuhan dengan tepian ranjang.
Mikael menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Mikael menatap Lia lekat dan mendekatkan wajahnya, Lia memejamkan matanya sambil menjauhkan wajahnya.
"Kenapa kau menutup mata mu? Apa kau pikir aku akan mencium mu?"tanya Mikael membuat mata Lia terbuka.
"Najis...siapa juga yang berpikir seperti itu, aku hanya takut kau mengingit ku. Hewan buas seperti mu sangat berbahaya."ucap Lia Mikael terseyum miring.
"Kenapa mulut mu itu mulai pandai berbicara kasar."ucap Mikael mantap bibir ranum Lia.
"Ka.....kau yang mengajarkan ku seperti itu."ucap Lia.
Mikael terseyum lalu sedikit menjauh dari Lia. "Aku ingin minta tolong pada mu."ucap Mikael membuat Lia terdiam.
"Apa tadi...kau meminta tolong pada ku? Apa aku tidak salah dengar?"tanya Lia tidak percaya.
Mikael memutar matanya. "Aku ingin keramas tapi aku tidak bisa."ucap Mikael membuat kening Lia mengkerut.
"Memangnya ada apa dengan tangan mu?"tanya Lia menatap tangan Mikael yang terbalut perban membuat terheran.
"Kau kenapa?"tanya Lia menarik tangan Miakel untuk melihatnya tapi membuat pria itu meringis.
"Aw..aww."
__ADS_1
"Maafkan aku, apa masih sakit? Ada apa dengan tangan mu? Bukan kah tadi malam tangan mu terlihat baik-baik saja."tanya Lia wajahnya terlihat khawatir.
"Uuumm tidak papa, hanya kecelakaan kecil saja."jawab Mikael.
"Hah...kecelakaan kecil apa yang sampai bisa membuat tangan mu diperban seperti ini?"tanya Lia.
"Aku hanya,....hanya tidak sengaja memegan pecahan kaca tadi malam."jawab Mikael Lia saja yang tidak tau tadi malam pria itu begitu marah padanya tapi tidak ingin melampaiaskan amarahnya pada Lia dan dia melampiaskannya dengan menghancurkan barang yang ada dikamar itu.
"Ya ampun, baiklah aku akan mencucikan rambut mu."ucap Lia.
"Benarkah?"tanya Mikael senang.
"hhhmm."balas Lia Mikael dengan cepat menariknya kedalam kamar mandi.
Lia dengan telaten mencucikan rambut Mikael, memijitnya bahkan mengusapnya pelan. Pria itu begitu menikmatinya.
"Kau pintar sekali memijit kepala ku."ucap Mikael.
"Tumben sekali kalimat pintar itu keluar dari mulut mu."ucap Lia.
"Hah...kenapa kau terus saja sinis pada ku, aku sudah berusaha baik pada mu apa kau tidak percaya?"tanya Mikael.
"Tidak. Pria angkuh seperti mu tidak bisa berubah secepat itu. Aku tau pasti ada niat terseyumbunyi dari perubahan mu itu."jawab Lia.
"Terserah kau saja ingin menilai ku seperti apa."ucap Mikael mengalah.
Lia menatap prai itu aneh, kenapa Mikael tidak membantah ucapannya.
.....
Selesai dari mencuci rambut Mikael, Lia membantu mengeringkannya dengan mengusap rambut Miakel memakai handuk.
Mikael duduk ditepian ranjang dan Lia berdiri didepannya. Mikael bisa melihat wajah cantik Lia yang begitu telaten merawatnya.
Saat sadar Mikael menatapnya Lia pun menunduk menatap pria itu. "Kenapa menatap ku seperti itu?"tanya Lia.
"Tidak...aku tidak menatap mu, aku menatap langit-langit kamar ku. Warna biru itu sangat bagus."elak Mikael.
"Apa kau tidak pernah TK? Warna langit-langit kamar mu itu putih bukan biru, yang biru itu baju ku." ucap Lia lalu wanita itu tersadar dan menyilangkan tangannya didada.
"Kau mesuk sekali."teriak Lia menatap Mukael kesal.
"Siapa yang mesum, aku menatap wajah mu tadi bukan dada mu. Dada kecil seperti itu, siapa yang menyukainya."ucap Mikael.
"YAKKK...jaga ucapan mu tuan."teriak Lia lebih keras membuat Mikael meringis.
"Iiissshhh suara mu itu keras sekali."ucap Mikael mengusap kupingnya.
"Itu salah mu. Awas saja kau berani seperti itu pada ku, aku akan..."ucap Lia sambil menunjuk wajah Mikael.
"Akan apa?"tanya Mikae.
"Aku akan melaporkan mu kepada polisi atas pelecehan."ucap Lia Mikael terseyum miring.
Dengan cepat pria itu menarik tangan Lia dan menjatuhkannya diranjang dengan dirinya diatas Lia.
Wanita itu terdiam menatap Mikael yang begitu dekat denganya.
"Percuma kau melapor, tidak ada yang peduli. Aku suami mu, aku berhak atas diri mu."ucap Mikael membuat dada Lia berdegub kencang.
Wajah Mikael perlahan mendekat, wanita itu membeku. Mata Lia membualat saat Mikael mencium bibirnya, Mikael mencium bibir itu dengan lembut, tangannya perlahan mengusap pipi itu dan menekan tekuk wanita itu untuk memperdalam ciumannya.
__ADS_1