Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
hanya Lia


__ADS_3

Perlahan mata itu terbuka, pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah seorang pria yang begitu tampan. Hari ternyata sudah pagi.


Bibirnya melengkung indah dan tangannya bergerak mengelus pipi pria itu lembut. Mikael yang merasakan sentuhan lembut itu perlahan membuka matanya.


"Selamat pagi bidadari." Ucap Mikael membuat Lia terkekeh.


Tangan Mikael juga ikut mengelus pipi Lia, mereka saling berbagi usapan di pipi. Mata mereka saling tatap memberikan isyarat cinta dari sorot mata.


"Kau ingin sesuatu hari ini?" Tanya Mikael Lia terseyum.


"Aku mau jalan-jalan." Ucap Lia Mikael terdiam.


"Jika aku bilang tidak boleh, kau akan marah?" Tanya Mikael.


"Ada alasan apa hingga kau tidak mengijinkan ku untuk jalan-jalan?" Tanya Lia.


"Ini demi keselamatan mu sayang, kau harus tau Dimas sudah berada di kota ini. Ini yang selalu aku pikirkan bagaimana caranya agar kau tetap aman berada didekat ku dan kita untuk sementara waktu tidak boleh keluar rumah sampai Hang berhasil menemukan di mana Dimas. Kami sedang melacaknya agar kami tau pergerakan Dimas." Jelas Mikael.


"Jadi itu yang membuat mu kepikiran?" Tanya Lia, Mikael mengangguk.


"Bagaimana aku tidak memikirkannya, istri ku adalah hal terpenting bagi ku dan aku tidak mau kau kenapa-kenapa, tidak papa kan jika untuk 1 kali ini keinginan mu tidak terpenuhi sayang? Aku hanya takut...takut jika dia menemukan kita dia mengambil mu dari ku?" Ucap Mikael Lia terseyum.


"Iya sayang, tidak papa. Lagi pulang aku masih bisa menghabiskan waktu bersama mu kan." Ucap Lia mendekat pada Mikael dan memeluk suaminya erat.


Mikael terseyum. "Maaf tidak bisa mengajak mu jalan-jalan." Ucap Mikael.


"Tidak papa sayang, aku memahaminya. Aku juga tidak ingin jauh dari suami ku." Ucap Lia Mikael memeluk Lia erat mencium kepala itu lembut.


"Aku akan terus menjaga mu dan si kecil. Aku tidak mau kalian terluka." Ucap Mikael Lia mengangguk.


'*'*'*'**'*'*'


"Kalian menemukannya?" Tanya Dimas.


"Belum tuan, mereka sungguh pintar untuk bersembunyi." Jawab orang suruhannya.


"Dimana mereka sebenarnya." Gumam Dimas.

__ADS_1


"Lanjutkan pencarian, curigai rumah elit di kota ini. Aku tidak mau tau pasti ada Lia di sana." Ucap Dimas.


"Baik tuan." orang itu pergi dari rumah sewaan Dimas.


Pria itu melangkah menuju kamar, saat membuka pintu pemandangan pertama adalah seorang wanita yang tertidur.


Dimas menatap wanita itu. "Kenapa aku menjadi ragu, kata-katanya terus terngiyang di otak ku." Batinnya terus menatap wanita cantik yang tertidur pulas di ranjang itu.


Flashback on


"Dimas hentikan semuanya." Ucap wanita pada Dimas.


"Kau ingin aku menghentikan apa Tasyah? Aku sangat mencintai Lia, aku ingin dia menjadi milik ku." Ucap Dimas.


"Dim kau tidak akan bisa memilikinya, Lia punya kak Mikael, Lia kebahagiaan kak Mikael. Kau seharusnya bisa mencari kebahagiaan mu sendiri, tidak bisa mengambil kebahagian orang lain." Ucap Tasyah.


"Aku sampai kapan pun ingin Lia bersama ku." Ucap Dimas menatap Tasyah tajam bahkan wajahnya begitu dekat dengan Tasyah.


"Kau bodoh Dim...kau seharusnya bisa berpikir bahwa kau tidak bisa merebut hak yang bukan milik mu." Ucap Tasyah.


"Lalu apa hak ku? Aku tetap punya hak untuk bahagia kan?"


Dimas meremas kedua bahu Tasyah kuat. "Kau itu bukan siapa-siapa ku, jangan bergaya ingin menasehati ku. Bahkan hidup mu saja dalam kesulitan." Ucap Dimas mendorong Tasyah sampai terduduk di sofa ruangan Dimas.


"Ya kau benar, hidup ku sengsara. Aku di acuhkan dan dia buang oleh keluarga ku sendiri dan adik ku dia mendapatkan semua yang dia inginkan bahkan milik ku pun dia ambil. Tapi...apa kau pikir aku akan membalas perbuatan mereka, tidak Dim. Jika aku melakukan itu apa bedanya aku dengan mereka yang tidak bisa menghargai ku, jika hidup ku memang seperti ini aku akan terus menjalaninya." Ucap Tasyah.


Dimas memandangnya remeh. "Dasar lemah, melawan keluarga mu sendiri saja kau takut."


Tasyah terseyum miring. "Ya aku lemah, bahkan tidak mampu untuk mengungkapkan perasaan ku pada mu. Pastinya aku juga tidak bisa mengatakan apa yang ku mau pada keluarga ku sendiri. Tapi aku tidak bodoh, melakukan segala cara demi mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan itu di bentuk di cari bukan merebut." Ucap Tasyah Dimas hanya diam.


"Dim ku mohon, biarkan aku bersama mu. Walau kau tidak mencintai ku setidaknya aku bisa berada di dekat mu." Mohon Tasyah Dimas menatap mata wanita itu yang terlihat tulus.


Dimas mengalihkan wajahnya. "Dasar pengemis. Terserah kau saja." ucap Dimas lalu melangkah pergi dari ruangannya.


Tasyah terdiam. Tidak papa setidaknya Dimas mau menerimanya untuk berada di sisi pria itu.


Flashback off

__ADS_1


"Hah.....menjengkelkan sekali." Gumam Dimas memijit keningnya sambil duduk di sofa kamar.


"Dim..kau sakit?" Tanya Tasyah yang terbangun dari tidurnya.


"Tidak." Jawab Dimas, Tasyah beranjak turun dari ranjang itu dan mendekati Dimas.


Wanita itu ikut duduk di samping Dimas. "Sini biar aku pijitin." Ucap Tasyah Dimas menatapnya.


Tangan Tasyah perlahan memegang kepala Dimas dan memijitnya. Dimas terus menatap wajah Tasyah.


"Bisa aku tidur di paha mu?" Tanya Dimas tiba-tiba.


"Ah..oh..ya sepertinya lebih baik seperti itu." Ucap Tasyah mengijinkannya Dimas tidur di pahanya.


Dimas merebahkan tubuhnya di sofa dan meletakan kepalanya di paha Tasyah. Tangan lembut itu mulai memijit kepala Dimas.


Sedangkan pria itu terus memperhatikan wajah Tasyah. "Kenapa Dim? Aku tau wajah ku sedang kucel karena baru bangun tidur." Ucap Tasyah.


"Tidak." Balas Dimas.


"Tidak apa?" Tanya Tasyah tangan Dimas menarik tekuknya membuat wajah mereka begitu dekat.


Tasyah terdiam. "Kau tidak kucel, wajah mu cantik seperti itu." Ucap Dimas.


Tasyah terdiam mendengar ucapan Dimas, perlahan bibir itu  menyatu membuat mata Tasyah melebar.


Dimas beranjak dari tidurnya masih dengan ciuman itu menyatu, menarik tekuk Tasyah memperdalam ciuman mereka.


"Dim..." Dimas masih terus mencium bibir itu lembut.


Dimas melepas ciumannya dan menatap Tasyah yang masih terdiam. "Biasa saja." Ucap Dimas lalu beranjak dari duduknya melangkah menuju kamar mandi.


Apa maksudnya biasa saja. Rasa ciuman itu atau perasaan Dimas yang biasa saja.


Dimas terseyum dan menyentuh bibirnya. "Sama-sama ciuman pertama...." gumam Dimas.


Walau dia tau Tasyah tulus mencintainya tapi hatinya tetap ingin Lia bersamanya, siapa yang bisa bohong tentang perasaan.

__ADS_1


"Aku harus tetap mencari Lia, hanya dia yang bisa membuat ku tenang dari keterpurukan ini, dan akan ku pastikan dia akan menjadi milik ku." batin Dimas terseyum miring.


__ADS_2