Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
tidak suka


__ADS_3

Tatapan tajam itu saling bertabrakan. Mikael tidak mau melepas tangan Lia begitu juga Dimas yang meminta Lia masuk bersamanya.


"Kalian ini kenapa?"tanya Lia heran.


Mikael menatapnya lalu mendekat padanya. "Kenapa kau menanyakan lagi, aku sudah menjelaskannya pada mu."ucap Mikael.


"Aku bos mu jadi kau berhak menurutiku."ucap Dimas menatap Lia.


"Aku suaminya kau ingin apa?"tanya Mikael.


"Tapi ini perusahaan ku jadi dia harus menuruti ku."balas Dimas.


Lia menatap mereka berdua bergantian, kedua pria itu berdebat dan saling membalas.


"HENTIKAN."


Teriak Lia terbangun dari tidurnya. "Apa ini? Aku diruangan ku?....hah...ternyata cuman mimpi."gumam Lia mengusap wajahnya.


"Kau kenapa?"


"Ya ampun kau mengejutkan ku."ucap Lia menyentuh dadanya Dimas terseyum.


"Kenapa kau berteriak tadi?"tanya Dimas.


"Tidak...tidak papa aku hanya bermimpi aneh saja."jawab Lia melihat kearah lain.


"Begitu. Oh iya siang ini aku ada jadwal bertemu dengan cleant kan, tolong kau siapkan semuanya."pinta Dimas lalu masuk kedalam ruanganya.


Lia bernafas panjang, mimpi apa itu kenapa seperti nyata. Dua kakak beradik itu seperti merebutkan dirinya.


Ting


Suara pesan masuk kedalam ponsel Lia mengalihkan perhatianya. Diraihnya ponsel itu lalu membaca pesannya betapa terherannya dia membaca isi pesan itu.


"Kau sedang apa sayang? Jangan lupa makan siang."isi pesan itu dari Mikael.


"Ternyata itu bukan mimpi."ucap Lia meremas rambutnya.


"Aaaaa kenapa jadi seperti ini."ucap Lia.


Dimas yang memperhatikannya dari dalam ruangan terseyum melihat tingkah Lia.


"Bolehkah aku merebut mu dari kakak ku, aku sangat mengukai mu."gumam Dimas.


□<□>□<□>□<□>□


Lia beranjak dari duduknya lalu nelangkah menuju ruangan Dimas. Diketoknya pintu itu tapi tidak mendapatkan balasan jadi dia membuka pintu itu dan melihat Dimas yang tertidur disofa ruanganya.


"Ternyata CEO pun bisa tertidur saat jam kerja seperti ini."gumam Lia mendekati Dimas dan meletakan berkas yang ada ditanganya diatas meja.


Lia perlahan menyentuh bahu Dimas dan membangunkannya. "Tuan.."panggil Lia tapi pria itu tidak membuka matanya.


"Tuan..."panggil Lia lagi.

__ADS_1


Tapi masih belum ada balasan, Lia menambah goyangan bahu itu sedikit keras. Tapi Dimas tidak juga bangun dari tidurnya. Lia terus memperhatikan wajah Dimas, seperti ada sesuatu dikening pria itu. Lia bertumpu dengan lututnya.


Lia mendekatkan wajahnya dan meniup kening Dimas yang terdapat sedikit serutan pensil, sepertinya pria itu habis meraut pensil dan tidak sengaja menyentuh keningnya.


"Hhhuuuu..."


Rasa dingin dikeningnya membuat mata Dimas perlahan terbuka dan pemandangan pertamanya adalah wajah Lia yang begitu dekat denganya.


Dimas memperhatikan wajah itu membuat jatungnya bedegub kencang. Sampai mata Lia pun menatapnya membuat wanita itu terkejud dan membulatkan matanya, dengan cepat Lia menjauh dari Dimas membuatnya terduduk dilantai dengan kaki bersipuh.


"Maafkan aku, dikening mu ada sedikit serutan pensil."ucap Lia Dimas hanya diam dan menegakakn tubuhnya duduk diatas sofa itu.


"Iya tidak papa."balas Dimas sambil merapikan dasinya.


"Aa...ini udah jamnya kita bertemu dengan cleant."ucap Lia.


"Oh iya kau benar, ayo kita berangkat."ucap Dimas lalu beranjak dari duduknya dan mengulurkan tanganya pada Lia.


Wanita itu menatapnya. "Kau pasti susah untuk beranjak dengan rok sempit itu, biar aku bantu."ucap Dimas mengerti kebingung Lia.


Lia menyambut uluran itu dan Dimas dengan mudahnya menarik Lia, wanita itu berdiri dari duduknya membuat Lia menempel didadanya.


Mata mereka saling bertatapan, Dimas terus memperhatikan wajah cantik Lia. "Kau cantik."ucap Dimas membuat pipi Lia bersemu.


"Be...benarkah? Terimakasih."ucap Lia menunduk malu.


Lia menjauhkan dirinya lalu merapikan anak rambutnya. "Aku sudah menyiapkan semuanya."ucap Lia menunjuk berkas yang ada diatas meja.


"Bagus....kalau begitu ayo kita berangkat sekarang."ucap Dimas mengambil berkas itu dan membawanya pergi.


"Biarkan aku saja, kau ambil tas mu dan ponsel mu saja dan jangan lupa milik ku juga aku tunggu dilift."ucap Dimas lalu melanjutkan langkahnya.


Lia bergerak cepat mengambil tas dan ponselnya begitu juga milik Dimas lalu sedikit berlari menuju lift dan masuk kedalam lift itu sebelum pintunya tertutup, ternyata Dimas menahan dengan kakinya tapi pria itu fokus dengan berkasnya.


Lia menunduk lalu terseyum kecil, Dimas begitu perhatian padanya.


"Kenapa?"tanya Dimas Lia menatap lalu menggeleng.


"Tidak papa."jawab Lia sambil terseyum Dimas pun membalas seyumnya.


Lift itu mengantar mereka sampai dilantai bawah. Sesampainya dimobil Dimas membukakan pintu untuk Lia.


"Masuklah."ucap Dimas.


"Terimakasih."ucap Lia lalu masuk kedalam mobil.


Beberapa karyawan menatap mereka aneh, kenapa Lia begitu terlihat dekat dengan CEO perusahaan itu. Bahkan Dimas bersikap manis padanya.


"Apa mereka punya hubungan?"tanya salah satu karyawan yang melihat itu.


"Sepertinya tidak, tapi apakah mereka sahabat. Tuan Dimas begitu perhatian pada karyawan baru itu."ucap Karyawan satunya.


"Kau benar juga, tapi bukankah tuan muda sangat propesional dalam berkerja. Walau mereka bersahabat bukan berarti tuan muda bisa seperhatian itu pada wanita itu."balas temannya.

__ADS_1


"Ah sudahlah biarkan saja."ucap temannya.


_____


Dimas dan Lia sampai direstoran ternama di kota itu, restoran yang terkenal dengan makanannya yang khas dan sudah memiliki tingkat cita rasa tinggi dari yang lainnya.


"Wah pasti tempat ini mahal."gumam Lia.


"Ayo turun."ucap Dimas Lia mengangguk lalu turun dari mobol itu.


Dimas melangkah mendekatinya lalu membawanya masuk kedalam restoran itu. Saat mereka masuk beberapa pelayan restoran menyambut mereka dengan ramah.


"Sihlakan tuan, anda sudah ditunggu dilantai dua ruang vvip."ucap pelayan itu.


"Kiki."baca Lia pada tagname dibaju pelayan itu.


"Baiklah terimakasih."ucap Dimas lalu menatap Lia.


"Ayo.."ucap Dimas lalu melangkah diikuti Lia dibelakangnya.


Mereka menaiki tangga dan melangkah menuju ruang vvip yang disebut pelayan tadi. Dimas membuka pintu itu dan dua orang didalamnya langsung berdiri saat melihat Dimas masuk.


"Selamat siang tuan muda."ucap claennya itu.


Lia menunduk memberi hormat. "Ini sekretaris mu, dia cantik sekali."ucap orang itu.


"Terimakasih, untuk pujiannya."balas Dimas kenapa pria itu yang membalasnya.


"Selamat siang nona, saya Dino."ucap pria itu Dino, menyulurkan tanganya pada Lia tapi Dimas yang menyambutnya.


"Namanya Lia, tidak perlu berjabat tangan."ucap Dimas membuat Lia tertegun ada apa dengan Dimas, pria itu hanya mengajaknya kenalan dan wajar jika ingin menjabar tanganya.


"Ahh baiklah aku paham, silahkan duduk."ucap Dino memperkenankan Dimas untuk duduk.


Diskusi itu dimulai, Lia tidak ada hentinya mencatat apa pun yang dijelaskan dalam diskusi itu ditabletnya, telinga dan mata Lia tidak boleh lengah.


"Jadi bagaimana tuan, apa kerja sama ini bisa terjalin?"tanya Dino lalu melirik Lia sebentar dan itu disadari oleh Dimas.


"Saya butuh waktu untuk memikirkannya."jawab Dimas.


"Baiklah kalau begitu,kami akan menunggu dan apa boleh saya meminta nomor sekretaris anda jika ada sesuatu yang penting bisa dikabarin melaluinya."pinta Dino.


"Menurut saya itu tidak perlu, saya sendiri yang akan menghubungi anda jika saya menerima perjanjian bisnis ini."jawab Dimas menatap Dino dingin.


"Aaa baiklah kalau begitu, saya akan menunggu kabar dari anda."ucap Dino lalu bernajak dari duduknya dan pamit pada Dimas dan Lia.


"Hah...mengesalkan sekali mata keranjang itu."ucap Diams.


"Hah? Memangnya ada apa kau kesal?"tanya Lia Dimas menatapnya.


"Dia teman SMA ku dan dia terkenal sebagai julukan mata keranjang bahkan satu sekolah mengenalnya. Banyak wanita yang sudah menjadi korbannya dan sekarang dia terus saja melirik ku, itu membuat ku kesal."jawab Dimas.


Lia hanya tampak berpikir. "Apa yang kau kesal kan?"tanya Lia menatap Dimas.

__ADS_1


"Aku tidak suka wanita yang ku sukai ditatap seperti itu."batin Dimas, "Ahh tidak papa, hanya kesal saja. Sifatnya tidak ada berubahnya." jawab Dimas Lia mengangguk mengerti.


"Kita makan siang dulu, baru kembali. Aku lapar sekali."ucap Dimas lalu memanggil pelayan dengan menekan tombol dimeja itu.


__ADS_2