Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
pesta bisnis


__ADS_3

Hari ini Lia sudah bersiap untuk datang keacara ibunya, ternyata ibunya mengundang semua pembisnis yang ada dikota ini.


"Pasti dia terkenal setelah pernikahan ini terjadi, wanita itu sungguh licik."gumam Lia disela merias wajahnya.


Tidak lama Lia sudah selesai dari beriasnya, make up tipis itu begitu sempurna diwajahnya. Pintu kamarnya terbuka membuat Lia menatap kearah pintu.


"Kau sudah selesai?"tanya Mikael Lia mengangguk wanita itu seperti tidak ingin bicara padanya.


"Aku tunggu dibawah, cepatlah sebelum ibu mu kesal pada mu yang datang terlambat."ucap Mikael lalu melangkah pergi lihatlah bahkan pria itu dingin padanya.


Benar dugaan Lia pria itu pasti tidak akan terima atas kejadian itu. "Sudahlah, biarkan saja."gumam Lia lalu bernajak dari duduknya merai tas selempangnya dan melangkah keluar kamar.


Mikael yang sedang asik bermain dengan ponselnya menoleh saat mengdengar suara ketukan dari hels yang Lia gunakan. Pria itu menolah menatap Lia yang terlihat cantik hari ini, Mikael begitu terpukau dengan kecantikan Lia.


"Apa yang kau ragukan Mikael, bahkan kau tidak bisa tidak melihatnya sehari saja. Bahkan kau terus memikirkannya, apa lagi itu kalau kau tidak tertarik padanya. Kau termakan permainan mu sendiri."batin Mikael.


Lia mendekatinya. "Kenapa?"tanya Lia karena Mikael terus menatapnya.


"Ah...tidak, ayo kita berangkat. Hari ini sekretaris ku yang akan mengantar kita."ucap Mikael mengalihkan wajahnya Lia mengangguk paham.


Mikael mengulurkan tangannya membuat Lia bingung. "Ayo kita berangkat."ucap Mikael Lia dengan ragu menerima uluran itu.


Mikael menggenggamnya erat seperti tidak ingin lepas darinya. Mereka melangkah bersama menuju pintu dan tangga teras lalu melangkah menuju mobil.


Mikael membukakan pintu untuk Lia membuat wanita itu tertegun. "Masuklah." Lia masuk begitu saja Mikael memutar mobil itu dan sekretarisnya membukakan pintu untuk Mikael.


"Kau sudah menyiapkannya?"tanya Mikael.


"Sudah tuan sesuai perintah tuan."jawab Hang sekretaris Mikael. Dia seorang pria kelahirkan China hanya saja dibersarkan diindonesia.


Mikael masuk kedalam mobil lalu menoleh kearah Lia yang melihat kearah lain.


"Saat kita sampai nanti kau harus terus bersama ku."ucap Mikael.


"Kenapa?"tanya Lia heran.


"Ikuti saja perkataan ku, jika kau ingin selamat."jawab Mikael Lia hanya diam, apa maksud Mikael dia akan selamat.


Sepanjang jalan Lia dan Mikael hanya ada keheningan, tidak ada yang ingin memulai pembicaraan.


"Oh iya nona."panggil Hang.


"Ya ada apa?"tanya Lia Mikael menyipitkan matanya.


"Kita belum pernah bertemu, perkenalkan nama saya Hangkuan saya sekretaris sekaligus tangan kanan tuan muda Mikael."ucap Hang.

__ADS_1


Lia terseyum. "Senang bertemu dengan mu, nama ku Sesilia Natasy Mila."ucap Lia.


"Sesilia Natasy Sugastia lebih tepatnya."ucap Mikael membenarkan ucapan Lia. Wanita itu hanya diam.


"Tuan dan Nona terlihat serasi, cantik dan tampan sengat sempurna. Nona sangat cantik."ucap Hang.


"Terimakasih."ucap Lia. Mikael terseyum melihat Lia.


"Jika suka dipuji seperti itu, bilang saja. Nanti aku akan terus memuji mu."ucap Mikael.


"Siapa yang suka."ucap Lia melihat keluar kaca mobil.


Sesampai mereka di tempat acara, Lia keluar dari mobil dan melihat rumah yang dulu menjadi tempat tinggalnya berubah drastis.


Mikael mendekat padanya dan menyiapkanntangan kirinya untuk digandeng oleh Lia. "ayo."ucap Mikael Lia mengaitkan lengannya dilengan Mikael.dan mereka melangkah masuk kedalam rumah itu.


Didepan pintu sidah banyak wartawan yang mengambil potret mereka selama melangkah memasuki rumah itu.


"Tuan muda apa benar anda menikahi putri yang dibuang dari nona Rita?"pertanya in membuat Lia terkejud.


"Tuan muda apa benar istri anda adalah anak yang tidak diinginkan dari keluar Nyonya Rita?" Lia meremas tangan Mikael.


Pria itu tau ini akannterjadi wanita tua itu tidak akan membuar kan anaknya bahagia."Kau tenang saja, anggap saja pertanyaan itu hanya angin lewat." bisik Mikael lalu membawa Lia melewati wartawan itu begitu saja.


Didalam rumah itu sudah banyak tamu-tamu undangan teman-teman bisnis dari ibunya Lia. Wanita itu melihat sekeliling sampai matanya menatap wajah ibunya yang sudah lama tidak dia lihat.


"Ayo datangi ibu mu."ajak Mikael tapi Lia menolak.


"Tidak...biarkan saja, aku tidak ingin melihatnya."ucap Lia.


Ibunya itu sudah mengumbar tentang pernikahannya yang seharusnya dirahasiakan. Sungguh wanita itu hanya mencari ketenaran melalui berita itu.


"Setidaknya dia tau kita ada disini."ucap Mikael.


"Tapi aku tidak mau melihatnya."ucap Lia measih menolak ajakan Mikael.


"Ada aku disamping mu kau tenang saja."ucap Mikael menyakinkan Lia menatapnya pria itu terseyum padanya.


Mereka mendekati wanita yang sedang asik berbincanh dengan teman-teman bisnisnya.


"Ibu."panggil Lia mengalihkan perhatian wamita itu.


"Ini dia putri ku."ucap Rita lalu menarik tangan Lia untuk mendekat.


"Oh tuan muda, selama siang."sapa mereka Mikael hanya mengangguk.

__ADS_1


"Ternyata benar, kau menikahi putri mu dengan pengusaha hebat dari keluarga Sugastia. Tuan muda sangat cocok dengan putri mu yang cantik ini."ucap seorang wanita yang sepertinya teman ibunya.


Rita menyenggol lengan Lia. "Terimakasih Nyonya."ucap Lia Rita hanya terseyum.


Mikael yang menatap hal itu sungguh muak, ingin sekali Mikael menyelesaikannya sekarang juga tapi nanti tunggu acara ini selesai.


"Tapi bukan kah, tuan muda Mikael anak tiri dari tuan Sanjaya?"tanya seorang pria membuat Lia terkejud.


Jadi Mikael anak tiri, tapi kenapa pria itu seperti lebih memiliki kekuasaan. Itu artinya Dimas bukan adik kandung dari Miakel.


Mikael terseyum. "Walau saya hanya anak tiri dari ayah saya, setidaknya saya tidak bernuka dua. Saya jujur menjalankan bisnis siapa yang menghianati saya maka akan saya habiskan hari itu juga. Benarkan ibu mertua?"tanya Mikael membuat orang-orang itu terdiam.


Rita terseyum canggung. "I..iya menatu ku, kau orang yang terhebat dikota ini."puji Rita.


"Cih penjilat."batin Mikael.


"Ah...a...bagaimana kalau menikmati hidanganya sekarang, sayang kau ikut dengan ibu ya."pimta Rita.


"Tapi..."


"Lia akan tetap bersama ku, aku tidak mau dia jauh dari ku."ucap Mikael Lia menatapnya.


"Oohh baiklah kalau begitu,nanti kita akan mengobrol lagi."ucap Rita lalu pergi dari hadapan mereka.


"Kenapa kau tidak memberitahu ku?"tanya Lia.


"Memberitahu apa?"tanya Mikael.


"Memberitahu ku tentang kau anak tiri dari tuan Sanjaya."jawab Lai.


"Untuk apa aku memberitahukan hal itu, apa kau ingin aku menceritakan bagaimana susahnya hidup ku sebagai anak tiri dikeluarga itu. Apa yang kau lihat sekarang dari ku tidak semudah yang kau pikirkan, anak tiri seperti ku tidak akn mereka anggap."ucap Mikael Lia menatap pria itu, terlihat jelas bahwa sebenarnya Mikael memiliki luka di hatinya tapi pria itu menutupinya.


"Hy kalian disini."sapa seseorang mengalihkan pandangan Miakel dan Lia.


"Dimas."ucap Lia Mikael hanya diam menatap pria itu.


"Hy kak Mikael, bagaimana kabar mu?"tanya Dimas terseyum pada Mikael tapi dibalik seyum itu ada sesuatu tersembunyi.


"Aku tidak perlu menjawabnya."ucap Mikael.


"Ya aku pun tidak berharap kau menjawabnya."balas Dimas lalu menatap Lia.


"Mau ikut dengan ku mencicipi hidangan?"tanya Dimas menggenggam tangan Lia.


"Tapi...." Mikael lebih dulu menahanya.

__ADS_1


"Kau tidak boleh membawa istri ku."ucap Mikael menatap Dimas tajam begitu juga pria itu membalas tatapan Mikael.


__ADS_2