
Sesampainya mereka di rumah Lia, mereka turun dari mobil. Mikael yang membawakan barang belanjaan Lia, karena tidak jadi membeli baju Lia mengajak Mikael membeli kebutuh kafenya.
Saat melangkah menaiki tangga, tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Bahkan Lia sedari tadi hanya diam dan menjawab pertanyaan Mikael seperlunya saja.
Sepertinya wanita itu masih marah. Saat sampai di lantai atas langkah mereka terhenti saat melihat Dimas duduk bangku teras dan terseyum pada Lia.
"Kau dari mana saja, aku menunggu mu dari tadi."ucap Dimas sambil mengelus pucuk kepala Lia.
Mikael menatap Dimas tajam, pria itu hanya terseyum miring.
"Aku baru pulang dari belanja."jawab Lia.
"Kenapa tidak bersama ku, biasanya kau akan pergi bersama ku."ucap Dimas.
"Aku pikir kau sibuk, seharian ini kau tidak ada mendatangi ku."ucap Lia.
"Oh itu, aku pagi tadi memang sibuk tapi sianganya aku menunggu mu menelfon ku."ucap Dimas.
"Maaf aku tidak tau itu."ucap Lia.
"Tidak papa."ucap Dimas sambil terseyum.
"Lalu untuk apa kak Mikael bersama Lia?"tanya Dimas.
"Mikael yang menemani ku seharian ini."jawab Lia dia tidak mau terjadi perkelahian antara mereka jika Mikael yang menjawab.
"Benarkah, aku pikir perusahaan lebih penting dari pada wanita bagi mu."ucap Dimas menatap Mikael.
"Itu bukan urusan mu, lagi pula aku lebih mahir mengembangkan perusahaan dari pada diri mu."ucap Mikael.
"Kau sombong sekali tentang itu."ucap Dimas.
"Tentu saja aku sombong tentang kemampuan ku sendiri tanpa bantuan ayah dan aku?, cihh kau iri pada ku padahal sudah jelas kau yang dimanja oleh ayah mu sendiri."ucap Mikael Dimas mengepalkan tanganya.
"Baiklah kalau begitu Lia aku pergi dulu, aku ingin melihat mu saja."ucap Dimas lalu pergi dari hadapan mereka.
"Dim...Mikael kenapa kau bicara seperti itu."ucap Lia.
"Memang seperti itu kenyataannya."ucap Mikael lalu masuk kedalam rumah Lia.
Wanita itu menyusulnya. "Tapi kau tidak perlu bicara seperti itu, kau menyakiti perasaannya."ucap Lia.
"Lalu paduli padanya, wahhh apa karena prai itu yang menemani mu selama ini makanya kau tidak terima jika aku bicara seperti itu?"tanya Mikael.
"Bukan seperti itu Mikael, aku hanya tidsk mau kau bicara seperti itu pada adik mu. Walau kalian hanya saudara tiri tapi dia tetap adik mu, apa kau tidak bisa mengerti perasaannya."ucap Lia.
"Jadi kau pikir aku yang salah, begitu? Baklah terserah kau saja. Percuma aku berharap kau mengerti, kau hanya peduli padanya."ucap Mikael lalu pergi dari rumah Lia.
__ADS_1
"Mikael...Mikael...."panggil Lia tapi pria itu tidak menghiraukannya.
Lia menghelakan nafasnya, kenapa jadi seperti ini. Lia hanya tidak ingin ikatan antara saudara mereka kacau.
Lia memijit pelipisnya, satu sisi Mikael yang ingin di akui oleh keluarganya sedangkan Dimas ingin menjadi seperti Mikael.
"Hah....ada apa dengan mereka sebenarnya."gumam Lia memijit pelipisnya.
♤♤♤♤♤♤
3 hari berlalu
Lia terus menatap keluar kaca berharap ada seseorang yang dia tunggu datang. "Apa dia masih marah pada ku, ini sudah 3 hari dan dia tidak mendatangi ku."gumam Lia hatinya merasa sedih tidak melihat wajah pria itu.
Crengg.
Lia langsung menoleh saat melihat pintu terbuka, tapi bukan pria itu yang datang.
Orang itu mendekat dan terseyum. "Hy.."sapa Dimas.
"Hy.."balas Lia dengan seyum terpaksa, Lia seperti tidak bersemangat 3 hari ini.
"Seperti biasa pesanan ku."ucap Dimas.
"Baiklah silahkan tunggu di meja nomor 7."ucap Lia.
"Maaf Dimas aku harus menjaga di sini, sekarang giliran Qila yang berkerja didapur."jawab Lia.
"Oohh baiklah kalau begitu."ucap Dimas lalu melangkah menuju meja nomor 7.
Dimas menatap Lia yang sepertinya sedang tidak bersemangat. "Apa dia menunggu kak Mikael yang datang, pasti karena malam itu kak Mikael tidak datang."gumam Dimas.
Lia hanya diam menatap keluar kafe. "Maafkan aku, apa kau marah pada ku smapai kau tidak ingin datang mengunjungi ku."gumam Lia.
"Kak....kak Lia....kakak."panggil Qila akhirnya Lia menolah.
"Iya kenapa?"tanya Lia.
"Ini pesanan nomor 7, kakak kenapa? Aku lihat beberapa hari ini seperti tidak bersemangat."ucap Qila.
"Kakak tidak papa."jawab Lia menerima nampan itu dan mengantarnya kemeja Dimas.
"Ini pesanan mu."ucap Lia saat berniat pergi Dimas menahan tanganya.
"Kau kenapa? Apa kau sedang memikirkannya?"tanya Dimas Lia hanya diam.
"Kak Mikael sedang ada perjalanan bisnis, dia akan kembali 3 hari lagi."ucap Dimas membuat Lia menatapnya.
__ADS_1
"Apa? Kenapa dia tidak memberi tahu ku."ucap Lia sedih, jadi pria itu sedang perjalan bisnis dan tidak memberitahunya itu artinya Mikael benar-benar marah padanya.
"Lia....aku ingin bicara pada mu."ucap Dimas.
"Apa?"tanya Lia.
"Nanti saja, kita bicara saat diatas."ucap Dimas.
"Baiklah kalau begitu, aku kembali berkeja dulu, kau tunggu saja. Ini sudah jam 8 sebentar lagi akan tutup."ucap Lia lalu pergi dari hadapan Dimas.
"Aku harus merebut Lia dari Mikael, aku sudah cukuo bersabar selama 1 tahun menunggu waktu yang tepat dan aku rasa sekarang saatnya."gumam Dimas.
......
Tutup tulisan di kaca pintu kafe itu, sedangkan dilantai atas dua orang sedang duduk sambil menikmati waktu malam.
"Kau ingin bicara apa?"tanya Lia.
"Aku ingin bertanya, apa kak Mikael ingin kembali pada mu?"tanya Dimas.
Lia sempat terdiam lalu berkata. "Dia mengatakan seperti itu, dia meminta maaf dan ingin aku kembali padanya."jawab Lia.
"Dan apa kau ingin kembali padanya?"tanya Dimas.
Lia terseyum lalu menunduk. "Entahlah aku bingung, aku masih takut. Tapi aku mencintainya, aku senang dia menyadari kesalahannya dan dia berusaha meminta maaf dari ku. Tapi bingung, apa benar dia serius dengan ucapannya, aku hanya dia menipuku dan kembali menyakiti ku."jawab Lia Dimas terdiam.
Sudah jelas Lia masih mencintai pria itu, tapi Dimas tidak mau kalah kali ini.
"Apa kau percaya padanya? Apa kau lupa bagaimana dulu dia memperlakukan mu?"tanya Dimas.
"Itu dulu Dimas, mungkin saja dia sekarang berubah."ucap Lia.
"Kau mungkin berpikir begitu, tapi jika kenyataannya tidak bagaimana. Kau tidak tau kan dia diluar sana bagaimana, mungkin saja dia hanya mempermainkan mu. Jika dia benar serius dengan mu apa dia memberi mu kepastian dalam hubungan ini? Lia aku hanya tidak ingin kau disakiti lagi."ucap Dimas.
"Kami memang tidak memiliki hubungan apa pun, tapi semua orang bisa berubah dia pasti serius dengan ucapannya. Kau mungkin tidak percaya hari ini, tapi jika dia benar-benar menunjukan keseriusannya, apa dia tidak pantas untuk mendapatkan kepercayaan? Dimas seharusnya kau mendukung kami untuk bersama bukan malah berpikir seperti itu."ucap Lia.
"Aku hanya tidak ingin kau tersakiti lagi olehnya Lia, tidak semua hal bisa kau percaya. Bahkan pada pria itu sekali pun."ucap Dimas. "Sampai kapan pun aku tidak terima kalian kembali bersama" batin Dimas.
"Ada apa dengan mu Dimas, aku bingung kau sering kali menjelekan kakak mu seperti itu."ucap Lia.
"Aku bukan menjelekannya, aku hanya bicara tentang fakta. Apa kau yakin dia serius dengan ucapannya, mulut bisa berkata tapi hati tidak. Apa kau percaya sekarang, Lia ingat bagaimana dulu kau kehilangan anak mu karenanya."ucap Dimas.
"Dimas aku sudah mengikhlaskannya, lagi pula itu masa lalu. Kita tidak bisa terus berpatokan pada masa lalu untuk melanjutkan kehidupan kita, kau terus memikirkan masa lalu, lalu kau kapan akan majunya. Mungki Mikael memang seperti itu dimasa lalu tapi kita tidak tau kan sekarang mungkin dia benar-benar berubah dan serius dalam ucapannya."ucap Lia Dimas diam.
"Kau memang mencintainya sampai kau membelanya seperti itu, baiklah aku akan diam dan membiarkan mu. Tapi Lia jika dia menyakiti mu lagi maka aku yang akan bertindak."ucap Dimas lalu pergi begitu saja.
Sepertinya Dimas tidak bisa memakai cara mempengaruhi pikiran Lia untuk sekarang. "Sepertinya harus dengan cara lain....baiklah kita lihat apa Lia masih mau dengan mu."gumam Dimas terseyum miring.
__ADS_1