
Lia duduk seorang diri ditaman, dia terus menatap bunga yang ada ditaman itu dalam diam.
"Kenapa sakit sekali."gumam Lia menyentuh dadanya.
Tiba-tiba ada sepasang sepatu berhenti didepannya. Lia dengan cepat menatap orang itu, tapi berlahan seyumnya memudar ternyata bukan Mikael yang mendatanginya.
"Sedang apa kau disini?"tanya Dimas.
"Tidak sedang apa-apa."jawab Lia.
Dimas mengangguk megerti lalu duduk disampaing Lia. "Tadi kau bilang pulang duluan, tapi kenapa berada sini?"tanya Dimas.
"Tidak papa, hanya menunggu waktu."jawab Lia.
"Begitu."
Kembali hening, Lia masih memikirkan tentang Mikael, sedangkan Dimas memikirkan cara agar Lia terseyum.
"Li.."
"Dimas..."panggil Lia lebih dulu.
"Kenapa?"tanya Dimas.
"Apa kau tau bagaimana rasanya jatuh cinta?"tanya Lia Dimas mengerutkan alisnya lalu terseyum.
"Kenapa kau menanyakan hal itu? Apa kau sedang jatuh cinta?"tanya balik Dimas.
"Hanya ingin tau saja."
"Jatuh cinta itu, disaat kau merasa gugub berada disamping orang yang kau sukai. Saat kau jatuh cinta kau pasti terus memikirkannya, kau akan merasa bahagia saat berada disampingnya. Cinta itu juga bisa tumbuh tanpa kau sadari, bahkan disaat kau merasa tidak mencintainya padahal sebenarnya kau mencintainya."ucap Dimas.
"Lalu apa yang dirasakan seseorang saat melihat orang yang kau sukainya bersama orang lain?"tanya Lia.
"Kau akan merasa sakit, dada seperti berdenyut sakit. Jika kau dibuat sakit hati oleh cinta itu kau akan terus memikirkannya."jawab Dimas.
"Oh begitu ternyata."ucap Lia.
"Memangnya kenapa?"tanya Dimas wanita itu mengegeleng.
"Dimas....boleh aku bersandar dibahu mu?"tanya Lia.
"Tentu saja."jawab Dimas Lia perlahan menyandarikan kepalanya dibahu Dimas.
__ADS_1
"Dimas...rasanya sakit."ucap Lia.
"Apa yang sakit?"tanya Dimas khawatir.
"Aku tidak tau, tapi ini sungguh sakit saat melihatnya bersama wanita lain."ucap Lia membuat Dimas sadar.
"Apa kak Mikael?"tanya Dimas Lia mengangguk.
"Aku sengaja mempercepat kerja ku agar bisa cepat pulang dan bicara padanya, tapi tadi aku melihatnya makan bersama wanita lain direstoran dan itu membuat ku sakit."ucap Lia tanpa sadar tangan Dimas terkepal.
Jadi pria itu yang mengganggu pikiran Lia selama berkerja. "Sudahlah jangan dipikirkan."ucap Dimas merangkul bahu Lia.
"Tapi dia terus ada dipikiran ku."ucap Lia.
"Sudahlah, berhenti memikirkannya."ucap Dimas, "Aku sakit mendengarnya."batin Dimas.
"Mungkin benar, aku bukan wanita yang pentas untuknya."ucap Lia.
"Tidak seperti itu, jangan menilai diri mu tidak cocok. Semua butuh waktu, tenanglah aku akan terus menemanimu."ucap Dimas.
Dari kejauhan, Mikael melihat semua itu. Tangannya terkepal kuat. Pria itu pergi begitu saja dari sana dan melajukan mobilnya kencang.
<♤><♤><♤><♤><♤>
"Apa dia belum pulang."gumam Lia. Lalu dia melangkah menuju lantai atas.
Saat melewati pintu kamar Mikael Lia terhenti dan menatap pintu itu. "Dia sedang berada dimana."gumam Lia dia jadi khawatir meningglakan Mikael begitu saja tadi.
Lia melangkah menuju kamarnya, saat meletakan tasnya diatas tidak sengaja mata Lia melihat satu buket bunga mawar dan secarik kertas.
"Lia...maafkan aku untuk kejadian hari itu, aku ingin bicara seseuatu pada mu nanti."
Isi pesan itu, Lia meraih ponselnya dan ingin menelpon Mikael. Tapi belum sempat menelpon bell rumah berbunyi.
Dengan cepat Lia melangkah keluar kamar dan pergi menuju pintu utama, saat membuka pintu itu betapa terkejudnya Lia melihat Mikael yang digotong dengan seseorang.
"Ya ampun apa yang terjadi?"tanya Lia.
"Hy istri ku."ucap Mikael melangkah mendekati Lia dan memeluknya membuat wanita itu kebingungan.
"Tuan muda mabuk, dan dia sempat berkelahi dengan seseorang diluar club saya tidak tau siapa pria itu karena dia langsung pergi begitu saja dan saya sendiri yang memutuskan untuk mengantar tuan muda pulang."jawab pria itu.
"Ooohhh baiklah terimakasih telah mengantarnya pulang."ucap Lia.
__ADS_1
"Sama-sama nona, ini kunci mobilnya."ucap pria itu lalu pamit pergi.
Lia berusaha menahan tubuh Mikael yang berat. "Kau masih sadarkan, aku akan mengantar mu kekamar."ucap Lia.
Dengan hati-hati Lia menuntun Mikael menuju kamar. Saat sudah sampai dikamar itu, Lia menjatuhkan tubuh Mikael keatas ranjang dan melepaskan sepatu dan kaus kaki pria itu.
"Hah...kau berat sekali."ucap Lia tapi pria itu hanya diam sepertinya tertidur.
Lia duduk ditepian ranjang dan menatap wajah Miakel, mengelus pipi itu pelan. "Kenapa kau mabuk seperti ini dan lihat kening mu terluka, aku akan mengambilkan obat untuk mu."ucap Lia saat ingin pergi tiba-tiba tanganya tertarik begitu saja oleh Mikael.
Pria itu menariknya menjatuhkannya diranjang dan pria itu berada diatasnya. Lia terdiam saat mata itu perlahan menatapnya.
"Maafkan aku."ucap Mikael membuat Lia diam menatapnya.
Tangan Mikael bergerak mengusap kening Lia dan merapikan anak rambut wanita itu. "Aku tidak suka..."ucap Mikael.
"Aku tidak suka kau berdekatan denganya."lanjut Mikael.
"Maksud..." Mikael menempelkan jari telunjuknya dibibir Lia.
"Hanya aku yang bicara. Aku benci saat merasakan hal ini, apa kau percaya cinta? Cinta itu omong kosong, tapi kenapa? Kau berhasil melakukannya. Kenapa? Kau membuat ku jatuh seperti ini, aku benci saat melihat kau bersama pria lain, aku benci saat kepala ku terus memikirkan mu, aku benci mengakui bahwa aku tertarik pada mu."ucap Mikael membuat Lia terdiam.
"Aku benci di saat rasa ini terus menguasai ku agar aku terus berada disamping mu, aku benci di saat aku ingin mengelak perasaan ini tapi kau selalu muncul dan membuat ku gagal. Kenapa Lia? Kenapa kau selalu muncul dipikiran ku? Kenapa kau selalu menghampiri ku disaat aku bermimpi? Kenapa? Jawab aku."tanya Mikael air mata pria itu menetes mengenai pipi Lia membuat wanita itu tertegun.
"Ku mohon Lia, ku mohon jangan menyiksa ku dengan semua itu. Jangan membuat ku terus berharap bahwa kau mencintai ku, jangan membuat ku selalu ingin bersama mu karena sampai kapan pun kau tidak bisa berada terus disamping ku. Pernikah bodoh ini, membuat ku gila."
Lia mentap Mikael, "Jangan hanya menatap ku, katakan bahwa kau pun tidak menginginkan pernikahan ini buka?"tanya Mikael Lia mengangguk tapi itu dulu sebelum rasa ini muncul.
Mikael terseyum. "Kau membuat hati ku sakit. Aku tau kau mencintai Dimas bukan?"tanya Mikael membuat Lia bingung.
"Aku tidak mencintainya."jawab Lia.
"Bohong...kau pasti mencintainya, ya aku tau pria kasar ini tidak pantas mendapatkan cinta bukan. Aku sadar itu dan aku tau kau membenci ku."ucap Mikael Lia menggeleng.
"katakan, kau membenci ku kan?"
"Tidak.."
"BOHONG."teriak Mikael membuat Lia memejamkan matanya.
"Kau mencintainya. Baiklah, aku akan membuat mu menjauh darinya."ucap Mikael lalu mencium bibir Lia rakus.
Lia berusaha menahannya tapi tenaganya kalah oleh Mikael. "Tidak...mikael...ja..ngan....uuumm." Lia terus berusaha melawan tapi percuma.
__ADS_1
Perlahan ciuman itu melembut membuat Lia terbuai, permaian itu berlanjut dan hanya mereka yang tau.