Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
kepastian


__ADS_3

Hari dan hari terus berganti ini sudah 4 hari Mikael tidak menunjukan batang hidungnya.


"Katanya 3 hari lagi akan kembali, tapi ini sudah lebih dari 4 hari Mikael tidak menddatangi ku. Apa dia masih marah?"gumam Lia duduk sendirian di meja kafe miliknya.


Hari ini kafe sepi jadi Lia ada waktu luang, bahkan Qila tidak turun hari ini karena ujian sekolahnya. Hari sudah menunjukan jam 8 malam.


"Apa aku tutup saja, sepertinya tidak ada yang datang lagi."gumam Lia.


Dia beranjak dari kursinya dan bertepatan dengan lonceng pintunya berbunyi.


"Oh ada yang datang."


"Selamat datang, silahkan duduk."ucap Lia pada pelanggannya itu.


Lia melangkah mengambil buku catatan pesana dan kembali menghampiri mereka.


"Mau pesan apa?"tanya Lia dua orang itu menyebutkan pesanannya.


"Baiklah, silah tunggu pesanan akan saya antar."ucap Lia.


Lia kembali kedapur dan mulai menyiapkan pesanan, dari jendela kecil di dapur Lia bisa lihat ada beberapa pengunjung lagi yang datang.


"Sepertinya memang harus di tunda tutupnya."gumam Lia.


Lia melayani mereka semua dengan baik, walau hanya berkerja sendiri tapi Lia tidak kesusahan. Setelah selesai semuanya, akhirnya Lia bisa terdiam sebentar.


"10 pelanggan datang sebelum di tutup, tidak apa penghasilan bertambah."gumam Lia lalu memakan makaroni gorangnya sambil melihat luar jemdela, dia duduk di tempat dia tadi.


"Permisi."ucap seseorang membuat Lia menoleh.


"Iya ada apa?"


"Apa aku bisa memesan kuenya lagi?"tanya orangnya itu.


"Oh tentu saja, tunggu sebentar."ucap Lia lalu melangkah kedapur.


Saat menyiapkan kue milik pelanggannya tiba-tiba lampu kafe mati membuat Lia terkejud.


"Ya ampun, apa yang terjadi."gumamnya.

__ADS_1


Lia meletakan piring kue itu di meja dan melangkah keluar. Lia tidak bisa melihat apa pun.


"Kenap jadi sepi? Kemana mereka." Lia terus melihat sekitar sampai lampu kembali menyala membuat mata Lia silau.


Perlahan Lia membuka matanya dan melihat seorang pria berdiri didepannya sambil terseyum.


"Mikael."gumam Lia pria itu terseyum lalu merentangkan tanganya.


"Kau tidak merindukan ku?" Lia melangkah cepat kearahnya dan memeluknya.


"Maafkan aku."ucap Lia.


"Kau paati marah pada ku sampai kau pergi lama sekali. Maafkan aku yang menyinggung perasaan mu, maafkan aku."ucap Lia memeluk Mikael erat, pria itu terseyum dan mememeluk Lia erat.


"Tidak papa sayang, aku tidak marah pada mu."ucap Mikael Lia melrpas pelukannya dan menatap pria itu.


"Lalu kenapa kau lama sekali perginya, aku tau kau pasti marah pada ku tentang malam itu kan. Sungguh Mikael maafkan aku, aku yang tidak bisa mengerti perasaan mu."ucap Lia Mikael terseyum dan mencium kening Lia.


"Aku tidak marah sayang, aku pergi karena ada perjalanan bisnis dan aku lupa mengabari mu. Maafkan aku, kau jadi salah paham."ucap Mikael Lia menatapnya.


"Aku tau itu, Dimas bilang kau sedang perjalanan bisnis."ucap Lia.


Wajah Mikael berubah kesal. "Apa maunya pria itu sebenarnya."batin Mikael.


Lia melihat ada luka di kening Mikael yang tertutup poni rambutnya.


"Kau kenapa? Kenapa kening mu terluka?"tanya Lia khawatir.


"Ah...i..ini, tidak papa. Ini hanya luka kecil, aku terbentur sesuatu saat disana."jawab Mikael.


"Benarkah? Kau tidak bohong kan?"tanya Lia karena hari itu Dimas juga datang dengan luka di bibir dan keningnya, mungkin saja kan mereka terlibat perkelahian.


"Tidak sayang aku tidak bohong."ucap Mikael Lia hanya menatapnya.


"Ya sudah, kau duduklah dulu."ucap Lia lalu melangkah pergi.


Lia mengambil piring kue itu lagi dan memberikannya pada pelanggannya. Ternyata ini semua suruhnya Mikael agar dia bisa memberikan kejutan.


"Aku yakin pria itu berbohong, kemarin Dimas datang dengan luka yang sama."batin Lia.

__ADS_1


Lia melangkah mendekati Mikael dan duduk dihadapan pria itu. "Kau mau?" Lia menawarkan makaroninya.


"Tentu."jawab Mikael.


Lia menatap tangan Mikael. "Tangan mu terluka?"tanya Lia menarik tangan Mikael.


"Hanya goresan kecil."jawab Mikael menarik kembali tanganya.


"Mikael jangan bohong pada ku, kau kenapa? Kau kembali dengan keadaan seperti ini."ucap Lia.


"Aku tidak papa sayang sungguh."jawab Mikael Lia hanya menatapnya.


Lia tau ada yang di sembunyikan darinya. "Aku ingin bertanya pada mu."ucap Lia.


"Tanyakan saja."


"Apa hubungan kita sebenarnya, kenapa kau selalu memanggil ku sayang padahal kita tidak ada hubungan. Aku tau aku yang belum bisa memaafkan mu seutuhnya, tapi aku merasa aneh saja."ucap Lia dia tiba-tiba memikirkan pertanyaan Dimas malam itu.


"Aku memanggil mu sayang sebagai menunjukan kalau aku serius dengan mu."ucap Mikael.


"Benarkah, tapi kita tidak memiliki hubungan apa-apa Mikael. Jika kau serius dengan ucapan mu seharus kau memberi ku kepastian dengan hubungan ini."ucap Lia kenapa dia jadi seperti meragukan Mikael.


"Ada apa dengan mu Lia, kau meragukan ku?"tanya Mikael.


"Bukan seperti itu, apa aku salah menanyakan hubungan ini. Mikael kita ini mantan suami istri jelas pasti banyak yang bertanya ada hubungan apa kita, kenapa kita terlihat bersama lagi dan terlihat dekat. Jika orang bertanya apa kalian punya hubungan lagi, lalu kita harus jawab apa? Hanya teman? Begitu. Hah....baiklah aku yang salah menanyakan hal ini, karena memang tidak ada kepastian dari mu."ucap Lia lalu beranjak Mikael menahanya tanganya.


"Lalu kau ingin seperti apa? Kau bilang pada ku kau masih belum bisa memaafkan ku, jika begitu apa yang harus aku di jelaskan lagi. Aku memang sayang pada mu tapi kau sendiri yang belum bisa memaafkan ku. Baiklah kau ingin bagaimana agar kau yakin dengan hubungan ini?"tanya Mikael.


"Apa kau sungguh mencintai ku? Atau ingin mempermainkan ku?"tanya Lia balik.


"Ohhh ya ampun, baiklah aku tau sekarang. kau meragukan ku, aku datang kesini untuk melepas rasa rindu ku dengan milihat mu tapi kau malah seperti ini. Baiklah, maaf Lia aku sedang banyak masalah kita akan bicara lagi nanti."ucap Mikael beranjak pergi.


Lia menatapnya tanganya terkepal. "Apa kau bodoh, tidak bisa kah kau mengatakan jalani hubungan ini seperti seorang kekasih saja dulu. Aku butuh kepastian dari mu."gumam Lia kesal.


Mikael masuk kedalam mobilnya dan menyalakan mobilnya. Mikael melihat Lia yang masuk kedalam dapur. "Aku tau maksud mu Lia, tapi aku hanya menunggu mu siap. Kau masih belum bisa memaafkan ku lalu apa kau mau kembali menjalin hubungan dengan ku lagi."gumam Mikael.


Tanganya meremas stir mobilnya kuat. "Ini semua pasti karena anak itu, apa mau mu Dimas. Bukan kah semuanya sudah aku berikan untuk mu, ibu ku bahkan kasih sayang ibu ku aku berikan untuk mu tapi kau yang menolak"gumam Mikael.


Mobil melaju meninggalkan tempat itu, Lia yang ingin mendatangi Mikael terhenti langkahnya.

__ADS_1


"Maafkan aku."gumam Lia.


__ADS_2