
Semakin hari Lia semakin terlihat aneh dari moodnya yang kadang membuatnya suka marah-marah sampai membuatnya gampang sekali menangis karena hal kecil.
"Sayang.."panggil Lia mencari Mikael keliling rumah.
"Cika kau lihat suami ku?"tanya Lia pada Cika yang berapa di ruang tamu lagi membersihkan sofa.
"Tadi tuan Mikael pergi dengan tuan Hang nona."jawab Cika.
"Pergi? Dan tidak memberitahu ku?"gumam Lia wajahnya berubah kesal lalu pergi begitu saja.
Cika yang melihat itu pun langsung berpikir nona Lia pasti marah lagi, dan benar saja pintu kamar itu kembali dibanting.
"Benarkan, nona pasti marah. Habislah tuan muda."gumam Cika.
Tidak beberapa lama Mikael datang bersama Hang.
"Tuan muda." Kedua pria itu menoleh.
"Ada apa Cika?"tanya Mikael.
"Uumm tadi nona Lia mencari tuan,dan saya menjelaskan kalau tuan sedang pergi. Sepertinya nona Lia marah tuan."ucap Cika.
Mikael terdiam, dia lupa memberitahu istrinya itu. "Hah sudah tau istri mu sedang seperti itu kau tidak memberitahunya."gumam Mikael memijit keningnya.
"Ya sudah kembali ke perkarjaan mu."ucap Mikael.
"Baik taun."balas Cika lalu pergi dari hadapan mereka.
"Hang kau urus sisanya aku akan mengurus istri ku dulu."ucap Mikael memberikan berkas itu pada Hang dan pergi.
Hang hanya mengerjapkan matanya. "Hang kau urus sisanya, Hang kerjakan laporan, Hang atur jadwal ku. Oh ya ampun lama-lama aku akan botak."gumam Hang dia bukan tidak terima berkerja seperti itu, Hang hanya lelah ya hanya lelah dan ingin istirahat.
Mikael sampai di kamar lalu membuka pintu kamar itu, dilihatnya Lia yang menyelimuti dirinya sampai di atas kepala.
"Sayang.."panggil Mikael tapi Lia tidak memperdulikannya.
Lihatlah rambut Lia yang hitam panjang terlihat diatas selimut itu.
"Sayang.." Mikael mendekat dan duduk ditepian ranjang itu.
Mikael perlahan menarik selimut itu, tapi Lia menahannya. "Hah....baiklah aku minta maaf tidak memberitahu mu kalau aku pergi, sayang aku pikir kau tidur tadi."ucap Mikael.
"Apa kau tidak melihat ku, aku bermain di taman belakang saat kau pergi begitu saja."ucap Lia Mikael memejamkan matanya.
"Maafkan aku, aku yang salah tidak melihat mu."
"Ya kau memang salah, kau tidak ada perhatiannya dengan istri mu sendiri."balas Lia.
Mikael menghelakan nafasnya. "Baiklah-baiklah maafkan aku ya, maaf sayang. Sudah ya sekarang jangan marah lagi."ucap Mikael menarik selimut itu tapi Lia menahanya.
__ADS_1
"Pergi.."ucap Lia.
"Sayang ayo lah, aku sudah minta maaf pada mu apa kau tidak mau memaafkan suami mu ini?"tanya Mikael masih berusaha membuka selimut itu.
"Tidak, pergilah."ucap Lia masih kekeh mempertahankan selimutnya.
"Ya sudah terserah diri mu saja, aku pergi."ucap Mikael melangkah kearah pintu.
Dia tidak benar-benar pergi dia hanya membuka lalu menutup lagi pintu itu dan berdiri disamping Lia.
Wanita itu perlahan membuka selimutnya dan melihat Mikael yang menatapnya, Lia menatapnya tajam lalu kembali menutup selimutnya tapi Mikael menahannya.
"Lepas...pergi saja sana."ucap Lia menarik selimut itu dari Mikael.
Pria itu membuang selimut itu begitu saja membuat Lia terdiam.
"Dengakan aku, aku pergi bukan tidak mau memberitahu mu, aku pergi begitu saja karena urusan itu sangat penting tadi dan aku lupa memberitahu mu sayang."jelas Mikael tapi Lia tidak mau mendengarnya.
"Hah...apa mau mu sebenarnya Lia, sudah beberapa hari ini kau sulit sekali dimengerti. Kau sering marah tidak jelas dan menangisi masalah sepele."ucap Mikael.
"Lalu kau menyalahkan ku?, kau yang membuat ku seperti ini, kau tidak ada pekanya sama sekali."ucap Lia.
"Katakan dimana letak kesalahan ku baru aku akan paham, jika kau hanya mendiamkan ku dan marah-marah tidak jelas seperti itu tentu aku tidak akan paham. Bukan kau yang hanya ingin dimengerti di rumah ini, aku juga sibuk dengan perkerjaan ku seharusnya kau juga bisa paham keadaan ku Lia."ucap Mikael suaranya terdengar keras membuat Lia terdiam.
Mata wanita itu berkaca membuat Mikael terdiam. "Oh ya ampun aku salah lagi."ucap Mikael Lia perlahan menangis.
"Hy...ssssttt jangan menangis sayang."ucap Mikael menangkup wajah Lia.
"Ya ya aku salah, maafkan aku ya. Ayolah sayang jangan menangis, maafkan aku."ucap Mikael tapi tangis Lia semakin menjadi.
"Aaaaa suami ku jahat."ucap Lia menangis Mikael memejamkan matanya lalu menatap Lia.
"Maafkan aku ya, sayang lihat aku. Aku tidak bermaksud untuk marah pada mu tadi, aku hanya heran ada apa dengan mu sayang."ucap Mikael berusaha menenangkan Lia.
Lia hanya diam. "Sayang...maafkan aku ya, aku minta maaf."ucap Mikael.
Lia hanya diam tiba-tiba perutnya terasa mual.
"Sayang aku..." Lia beranjak begitu saja lalu pergi kekamar mandi.
"Uuukkkhh...ukhhhh."
"Sayang."panggil Mikael mengejar Lia.
"Uukhh....hah..hah.." Lia memuntahkan isi perutnya tapi tidak ada apa-apa.
"Sayang kau kenapa?"tanya Mikael.
"Tidak tau, tiba-tiba aku merasa mu..ukhhh." Lia kembali memuntahkan isi perutnya tapi hanya air yang keluar.
__ADS_1
Mikael menatapnya khawatir sambil memijit tekuk Lia.
"Aku panggil dokter untuk mu ya." Lia menahan Mikael yang ingin pergi lalu memeluk pria itu.
"Sayang..."
"Aku tidak papa, aku hanya pusing mungkin aku masuk angin."ucap Lia membenamkan wajahnya didada Mikael.
"Kau yakin? Wajah mu pucat sayang."ucap Mikael khawatir Lia tidak biasanya seperti ini.
"Aku tidak papa, hanya mual. Mungkin aku masuk angin."ucap Lia Mikael menangkup wajah Lia menatap Lia lekat.
"Kau yakin, lihat lah bibir mu terlihat pucat sayang. Jangan membuat ku khawatir, aku panggilkan dokter ya."ucap Mikael Lia menggeleng menolak.
"Tidak perlu...ukhhh..aku bisa menahan...ukhhh..." Lia kembali mengeluarkan isi perutnya.
Mikael terus menemaninya, manatap Lia khawatir.
"Sayang....jangan membuat ku khawatir."ucap Mikael Lia mebasahi wajahnya.
"Aku tidak papa."ucap Lia sambil mengeringkan wajahnya.
"Lihatlah wajah mu semakin pucat sayang, jangan membuat ku khawatir."ucap Mikael menangkup wajah Lia.
Lia terseyum. "Aku tidak papa sayang sungguh."ucap Lia tapi tubuhnya terasa lemas.
Mikael hanya menatapnya wajahnya terlihat sangat Khawatir. "Sayang...ku mohon kita panggil dokter saja ya."pinta Mikael tapi Lia menggeleng.
"Uuukkhhh..." Lia kembali memutahkan isi perutnya tapi tidak yang keluar, perutnya sangat terasa mual.
Mikael terus menatap Lia khawatir.
"Sayang ku panggil dokterya?"ucap Mikael Lia kembali menggeleng sambil sengusap bibirnya.
"Kau ini kenapa? Kau tidak lihat kau pucat seperti ini, aku meminta dipanggil dokter tapi kau menolak."ucap Mikael sedikit menaikan suaranya Lia terdiam.
"Maaf...maaf, aku hanya khawatir sayang. Kau membuat ku khawatir, lihat wajah mu pucat sayang ku mohon kita panggil dokter ya."ucap Mikael memeluk Lia tapi wanita itu kembali menggeleng.
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja ya."ucap Mikael Lia mengangguk.
Saat mereka melangkah keluar kamar mandi, Lia perlahan kehilangan kesadarannya untung saja dengan cepat Mikael menangkap tubuh Lia.
"Sayang...hy...sayang.." Mikael mengangkat tubuh itu dan membawanya ke ranjang.
"Cika..."panggil Mikael.
"Cika..."teriak Mikael.
"Iya tuan, ada apa?"tanya Cika bahkan Hang pun ikut berlari kekamar.
__ADS_1
"Cepat panggilkan dokter istri ku pingsan."ucap Mikael.
"Apa? B..baik tuan."ucap Cika lalu pergi dari kamar itu.