
"Kau tidak boleh membawa istri ku."ucap Mikael menatap Dimas tajam begitu juga pria itu membalas tatapan Mikael.
"Sayang sudahlah."ucap Lia membuat kedua pria itu menatapnya.
"Ayo kita sama-sama memakan hidanganya."ucap Lia dia sengaja seperti itu agar Dimas sadar.
Mikael terseyum. "Ayo kalau kau yang mengajak."ucap Mikael lalu menggenggam tangan Lia dan membawanya pergi meninggalkan Dimas.
"Ciihh....kau sepertinya sengaja melakukannya."gumam Dimas menatap punggung Lia.
Lia menatap semua hidangan itu entah kenapa seleranya tiba-tiba hilang.
"Kenapa?"tanya Mikael yang melihat Lia hanya diam.
"Entahlah, aku hanya merasa pusing saja."jawab Lia.
"Kalau begitu, kita cari tempat duduk saja."ajak Mikael membawa Lia kemeja kosong yang tidak ada siapa pun dimeja itu.
"Aku akan mengambil mu minum sebentar."ucap Mikael Lia hanya mengangguk.
Saat Mikael pergi beberapa orang datang menghampiri Lia.
"Kau istri tuan muda kan?"tanya seorang wanita yang terlihat glamor dari cara berpakaiannya.
"Iya aku istrinya kenapa?"tanya Lia.
"Tidak papa, hanya aneh saja. Tuan muda mau menikahi wanita seperti mu, lebih baik putri ku yang bersanding denganya."ucap Wanita itu.
"Apa kalian dijodohkan sampai Mikael mau menikahi wanita seperti mu?"tanya wanita satunya lagi.
Lia hanya diam kepalanya sudah sangat pusing karena keramaian ini dan bau aroma yang membuatnya mual ditambah lagi ibu-ibu ini mengganggu pikirannya.
"Lihatlah kami bertanya saja kau tidak menjawabnya."ucap ibu itu lagi.
Lia menutup mulutnya mual itu semakin menjadi.
"Hy apa kau memakai dukun agar tuan muda mau bersama mu?"
"Hahaha mungkin saja, lihat lah ibunya saja bergaya seperti wanita murahan pasti anaknya pun seperti itu."balas wanita satunya.
"Kau dan ibu mu sangat mirip ya, maksudnya kelakuannya. Sama-sama wanita murahan kau tau ibu mu itu suka menggenggu suami-suami orang agar bisa mendapatkan perjanjian bisnis besar. Oohh itu artinya kau pun sama sepertinya kan an..."
"SUDAH CUKUP."teriak Lia wanita itu berdiri dari duduknya menutup telinganya. Semua tamu undangan menap kearahnya bahkan Rita melihat putrinya.
"Hanya bikin malu saja, ada apa denganya."ucap Rita
Mikael yang mendengar teriakan itu pun berlari mendekati Lia. Wanita itu menutup mulutnya lalu lari begitu saja menuju toilet.
"Lia..."panggil Mikael.
"Lihat lah, kelakuannya sama seperti ibunya."ucap wanita itu yang terdengar oleh Miakel.
__ADS_1
"Aku heran dengan kalian, apa membicarakan hidup orang lain adalah kenikmatan bagi kalian. Apa kehidupan kalian sudah lebih baik dari pada orang yang kalian bicarakan, lihat lebih dulu kehidupan kalian sebelum membicarakan kehidupan orang lain. Kalian hanya pembisnis bermuka dua."ucap Mikael lalu menyusul Lia.
Didalam kamar mandi Lia terus berusaha memuntahkan isi perutnya.
"Uuukh..hah...kenapa perut ku terasa mual sekali....ukh...uuukkh."
Mikael masuk kedalam kamar tamu dan mengetok pintu kamar mandi.
"Lia apa yang terjadi?"tanya Mikael.
"Aku tidak papa."jawab Lia.
"Kau yakin biar aku masuk."ucap Mikael dia menghawatirkan keadaan istrinya.
Lia melangkah membukakan pintu kamar mandi itu dan melihat Mikael yang menatapnya khawatir.
Pria itu menangkup wajahnya. "Kau pucat sekali, apa kau sakit?"tanya Mikael Lia menatap mata itu.
"Hah? Kau kenapa? Ada apa dengan mu?"tanya Mikael.
"Aku tidak papa. Aku ingin pulang."ucap Lia.
"kau yakin, baiklah kalau begitu kita pulang."ucap Mikael dilepasnya jas miliknya dan memasangkannya pada Lia.
Wanita itu tertegun dengan yang dilakukan Mikael.
Saat ingin melangkah keluar tiba-tiba Rita masuk dan mendekati Lia....
"Kau hanya memalukan ku saja, apa maksud mu berteriak seperti itu."ucap Rita.
"Apa yang kau lakukan beraninya kau menampar istri ku seperti itu."ucap Mikael merangkul Lia yang terdiam.
"Dia pantas mendapatkannya, dia berani sekali mengacaukan acara ku dengan berteriak seperti itu. Apa kau berniat mempermalukan ku hah? Apa kau tidak terima atas semua ini sampai kau berniat mempermalukan ku? Kau memang anak yang tidak tau diuntung, anak tidak berguna."
Lia mengepalkan tanganya lalu menatap ibunya tajam. "Kenapa kau menatap ku seperti itu. Apa kau ingin memarahu ibu begitu."
"Kau sungguh keterlaluan pada putri mu sendiri."ucap Mikael menatap Rita tajam.
"Apa hak berbicara hah, dia ini hanya anak yang tidak berguna hanya bisa mempernalukan ku. Kalian memang pasangan yang serasi, anak tiri dan anak durhaka."ucap Rita.
"Jaga ucapan mu Nyonya Rita apa kau tidak takut kehilangan ini semua."ucap Mikael dia sudah muak dengan semua ini sudah cukup Lia tersiksa oleh ibunya.
"Apa yang aku takutkan, kau tidak bisa menghancurkan ku. Lagi pula perusahaan mu hanya sebagian dari perusahaan tuan sajaya jadi tidak ada pengaruhnya bagi ku."ucap Rita.
Mikael terseyum miring. "Kau sudah melewati batasan mu, lihat saja apa yang akan aku lakukan."ucap Mikael lalu merangkul Lia.
"Ayo kita pupang sayang, kita tidak pantas berada diacara murahan ini."ucap Mikael membawa Lia pergi dari kamar itu.
Hang datang menjemput mereka dalam gerubulan itu. "Lakukan tugas mu."ucap Mikael Hang mengangguk.
"Baik tuan."balas Hang.
__ADS_1
Mikael melanjutkan langkahnya membawa Lia keluar dari acara itu, Mikael menyesal menyetujui pergi keacara itu.
Mikael membuka kan pintu untuk Lia tapi wanita itu hanya diam.
"Hy ada apa?"tanya Mikael lembut Lia menatapnya lalu menggeleng.
"Masuklah kita pulang."ucap Mikael Lia masuk kedalam mobil itu.
Mikael menutup pintu mobil lalu memutar mobil itu menuju pintu satunya.
"Dimana Hang, kenapa jadi kau yang menyetir?"tanya Lia Mikael terseyum.
"Dia ada tugas yang lebih baik dari pada menjadi supir kita."ucap Mikael mengelus pipi Lia.
Mobil itu pun pergi meninggalkan perkarang rumah tempat acara itu.
.....
Sesampainya dirumah Mikael mengobati pipi Lia yang masih merah karena tamparan itu.
"Apa masih sakit?"tanya Mikael.
Lia menggeleng. "Aku sudah biasa merasakan tamparan ini."jawab Lia lalu menunduk.
"Lia."panggil Mikael membuat mata mata itu menatapnya.
"Menangislah."ucap Mikael.
"Kau tidak bisa terus menahannya."ucap Mikael Lia meremas rok dresnya kuat.
"Keluarkan, jangan menahannya itu hanya akan membuat mu samakin terluka. Kau tidak bisa terus berusaha terlihat kuat, hati mu pun butuh istirahat. Sayang...menangislah."ucap Mikael.
Lia sungguh tidak sanggup menanhanya lagi air mata sungguh keluar dari matanya. "Aku lelah."ucap Lia air amta itu mengalir deras.
"Aku lelah dengan semua ini, kenapa hidup ku selalu dipenuhi oleh rasa kecewa sakit hati dan kehancuran. Kenapa? Kenapa Mikael? Kenapa? Apa tuhan tidak menyanyangi ku sampai dia terus mengirim ku cobaan ini."
"Kenapa semua ini terjadi pada ku, apa salah ku....hiks....aaaaaa...hiks..." Mikael menarik Lia dalam pelukannya.
"Kau tidak salah,sungguh tidak ada yang salah dari mu."ucap Mikael Lia terus menangis tangisnya terdengar memiluka begitu banyak luka yang dia dapatkan dan saat air mata itu benar-benar keluar rasanya begitu melegakan
Mikael memeluk Lia erat, wanita itu terus menangis. Tanga Mikael terus mengelus punggung Lia agar wanita itu tenang.
"Aaaaaaa.....hiks.....aku lelah."ucap Lia.
"Aku tau...keluarkan semuanya, agar hati dan oikiran mu lega."ucap Mikael.
Tangis Lia tidak ada hentinya dia benar-benar melepas semuanya dalam pelukan itu, perluka pria yang dia cintai dan berhasil membuatnya untuk menangis.
Mikael menarik bahu itu agar bisa menatap wajah Lia. Tangannya mengusap pipi itu lembut, diciumnya kening itu.
"Aku akan selalu melindungi mu."ucap Mikael.
__ADS_1