Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
mood


__ADS_3

Mereka sampai dirumah setelah pulang dari kafe itu. Lia masih mendiamkan Mikael.


"Sayang...kau masih marah pada ku?"tanya Mikael tapi Lia tidak menghiraukannya.


Wanita itu terus melangkah sampai ke kamar dan menutup pintu itu keras membuat Mikael hampir saja menabrak pintu itu.


"Ooohh ya ampun, kenapa dengan istri ku."gumam Mikael lalu mengetuk pintu itu.


"Sayang..."


"Pergi."teriak Lia dari dalam kamar.


"Aku minta maaf karena karena meninggikan suara ku tadi, tapi sungguh aku tidak bermaksud marah pada mu sayang."ucap Mikael.


"Aku bilang pergi, aku ingin sendiri."teriak Lia Mikael memijit keningnya ada apa dengan wanita itu.


"Tuan.."


"Oh ya ampun, Cika kau mengejutkan ku saja."ucap Mikael mengusap dadanya.


"Maaf tuan, tapi ada apa dengan nona Lia?"tanya Cika.


"Entahlah, dia marah pada ku karena aku meninggikan suara ku tadi saat kami berada di kafe."jawab Mikael.


"Kau membentak ku tadi."teriak Lia dari dalam kamar.


"Iya iya sayang maafkan aku, hy buka pintunya."ucap Mikael sedangkan Cika hanya terseyum.


"Kalau begitu saya permisi tuan."ucap Cika.


"Iya...eh Cika tunggu sebentar. Apa Hang sudah datang?"tanya Mikael.


"Sudah tuan, sekarang tuan Hang ada di kamarnya."jawab Cika.


"Oh baiklah kalau begitu kau boleh pergi."ucap Mikael Cika pamit pergi.


"Sayang.."


"Pergi kau urus saja pekerjaan mu sana, jangan hiraukan aku."ucap Lia.


Mikael mengusap keningnya. "Ya sudah terserah kau saja."ucap Mikael lalu pergi.


Lia didalam kamar dengan cepat membuka pintu dan melihat Mikael tidak ada didepan pintu.


"Dasar jahat."ucap Lia menutup kembali pintu itu.


■■■■■■


Didalam ruang kerja Mikael tidak fokus dengan perkerjaannya.


"Ada apa tuan? Anda seperti sedang memikirkan hal lain."ucap Hang.


"Hah...nona mu marah pada ku, padahal aku hanya menolak eskrim yang ingin dia suap pada ku."ucap Mikael Hang terseyum.

__ADS_1


"Mungkin mood nona sedang tidak baik tuan, kalau boleh kasih saran sebaiknya tuan belikan nona coklat atau semacamnya yang nona sukai mungkin mood nona akan kembali tuan."ucap Hang.


"Iya...kau benar, kalau begitu kau pergilah dan berlika apa pun yang istri ku sukai."ucap Mikael.


"Eeee maaf tuan, tapi saya tidak tau apa saja yang nona Lia sukai. Lebih baiknya tuan saja yang membelinya sendiri."ucap Hang..


"Cih kau ini, bilang saja kau masih mengantuk dan ingin kembali tidur. Dasar pemalas."ucap Mikael mengambil kunci mobil dan pergi begitu saja.


Hanga hanya diam dengan wajah masamnya. "Siapa yang membuat ku mengantuk seperti ini, tadi malam aku baru bisa tidur jam 3 subuh karena perintahnya dan tadi pagi dia meminta ku pergi kepruasahaan cabang untuk mengurus berkas dan saat kembali pulang dia meminta ku mengerjakan laporan. Lama-lama aku bisa mati muda seperti ini terus."gumam Hang memijit keingnya yang terasa sakit


Setelah menutup pintu ruangan itu, Mikael berpapasan dengan Lia yang baru turun. Ditatapnya wanita itu yang tidak melihat kearahnya sama sekali.


"Hy cantik apa kau masih marah pada ku?"tanya Mikael Lia hanya membuang muka.


Mikael mengerucutkam bibirnya. "Baiklah, kalau begitu aku pergi saja."ucap Mikael berniat menggoda Lia.


"Pergi saja aku tidak peduli."ucap Lia lalu melanjautkan langkahnya.


Mikael melongo. "Sebenarnya, ada apa denganya."gumam Mikael.


"Okeyh, aku pergi dulu."ucap Mikael tapi Lia tidak menoleh sama sekali.


"Ah sudahlah sebaiknya aku cepat pergi membelikannya sesuatu dan cepat kembali."guman Mikael lalu melangkah pergi.


Lia memutar tubuhnya lalu mengehentakan kakinya kesal. "Iiiiii dasar tidak peka."ucap Lia kesal.


"Nona."


"Apa?"tanya Lia kesal membuat pelayan itu terkejud.


"Terserah kau saja, masak pasir dan batu saja suruh tuan muda itu memakannya. Aku tidak peduli."ucap Lia kesal lalu kembali pergi menuju kamarnya.


Hang yang tadi melihatnya pun terheran-heran ada apa dengan nona mudanya itu.


"Wahhh mood nona muda memang benar-benar hancur."gumam Hang yang baru keluar dan melihat hal itu.


Lia membanting pintu itu keras membuat seisi rumah itu tertegun. Cika memejamkan matanya mendengar dentuman itu.


"Auuuhhh, nona kau kenapa?"gumam Cika mengusap kupingnya.


"Cika ada apa dengan nona muda?"tanya Tata juga pelayan dirumah itu.


"Aku juga tidak tau, kata tuan muda nona Lia marah padanya saat mereka pergi kekafe"jawab Cika.


"Mungkin saja tuan muda berbuat kesalahan dan membuat nona muda marah, sudahlah tidak perlu kalian pikirkan. Kembali ke pekerjaan kalian saja."ucap Hang.


"Baik tuan Hang."balas mereka berdua.


"Tapi nona Lia terlihat menggemaskan saat marah seperti itu."ucap Tata Cika juga ikut terseyum.


"Ya kau benar."balas Cika.


Hang yang mendengar itu juga ikut terseyum. "Itu sebabnya tuan muda bisa jatuh cinta pada nona Lia."gumam Hang lalu menguap besar.

__ADS_1


"Hah...aku mengantuk sekali."ucap Hang lalu melangkah menuju kamarnya.


Didalam kamar Lia hanya diam duduk diatas ranjang dengan tangan terlipat didada dan wajah cemberut.


"Lihat saja aku tidak akan mengijinkanya tidur dikamar."ucap Lia kesal.


Tapi perlahan matanya berkaca...."Uuuaaaaa suami ku jahat."ucapnya menangis.


Mikael sampai dirumahnya dengan membawa sekantong penuh dengan coklat dan makanan lainnya.


Saat memasuki rumah Mikael terheran milihat pelayannya hanya diam menatapnya.


"Kenapa kalian menatapku?"tanya Mikael.


"Uuumm tuan."


"Tadi nona Lia marah pada mereka, saat Tata menanyakan menu makanam untuk malam ini nona Lia menjawabnya dengan kesal dan meminta memasak pasir dan batu untuk tuan."ucap Hang yang tiba-tiba muncul dari balik sofa.


"Apa? Pasir dan batu? Oohhh ya ampun ada apa dengan istri ku itu."ucap Mikael.


"Tuan, tadi nona Lia juga membanting pintu kamar, sepertinya nona Lia sangat marah."ucap Cika.


"Hah...ya sudah kembali keperkerjaan kalian dan kau Hang, selesaikan laporan mu."ucap Mikael lalu melangkah pergi.


"Siap tuan."ucap Hang lalu melangkah menuju ruang kerja.


"Laporan-laporan-laporan....selalu aku yang mengerjakannya."gumam Hang lalu masuk kedalam ruangan itu.


Mikael sudah sampai didepan pintu kamar itu dan mengetuknya. "Sayang..."panggil Mikael.


"Lihatlah aku membawa mu apa? Kau pasti suka, apa kau tidak mau? Ini ada coklat dan beberapa kue lainnya."ucap Mikael pria itu mendengar suara kunci terbuka.


Sebuah tangan menjulur keluar meminta Mikael menyerahkan kantong belanjaan itu. Mikael memberikannya dan tangan itu membawanya masuk. Pria itu menahan seyum, istrinya sangat menggemaskan.


Pintu itu kembali terbuka, memperlihatkan Lia dengan wajah sebabnya. Mikael mendekatinya dan menangkup wajahnya.


"Sayang kau habis menangis?"tanya Mikael khawatir Lia hanya mengangguk.


"Maafkan aku yang membentak mu tadi."ucap Mikael memeluk Lia.


"Maaf aku juga marah-marah pada mu."ucap Lia dia merasa senang mendapatkan hadiah itu.


"Tidak papa, sekarang jangan marah lagi ya."ucap Mikael Lia mengangguk.


Mikael menangkup wajah itu dan mengecup bibir itu sekilas. "Kau ini menggemaskan sekali."ucap Mikael Lia hanya terseyum membuat pipinya mengelembung.


Mikael mencium pipi itu dalam lalu menggigitnya.


"Akh akh sakit..."ucap Lia memukul dada Mikael.


"Maafkan aku sayang, pipi mu ini terlihat semakin besar. Itu membuat ku gemas."ucap Mikael mengelus pipi Lia.


"Tapi jangan digigit."ucap Lia Mikael terkekeh lalu kembali memeluknya.

__ADS_1


"Maaf...maaf."ucap Mikael Lia hanya membalasnya dengan deheman.


__ADS_2