
Beberapa hari berlalu, hubungan antara keduanya masih renggang bahkan Lia jarang ingin bicara pada Mikael pada hal pria itu selalu mengajaknya bicara.
Sarapan pagi ini sangat sunyi walau terdapat dua orang manusia dimeja makan, tapi mulur mereka hanya sibuk menguyang makan mereka saja.
Saat Lia menyelesaikan makanannya, beranjak dari duduknya tapi Mikael menahanya.
"Lia aku mohon, aku ingin bicara sebentar dengan mu."ucap Mikael menahan tangan Lia.
"Apa lagi yang ingin kau bicarakan?"tanya Lia menatap Mikael.
"Apa yang terjadi malam itu? Aku sungguh ingin tau yang aku ingat hanya aku sampai dirumah dan kau yang menyambut ku hanya itu."ucap Mikael.
"Sudah ku jelaskan bukan, tidak ada yang terjadi. Aku hanya mengantar mu sampai kamar itu saja."jawab Lia.
"Kau bohong, jujur pada ku. Apa kita melakukannya?"tanya Mikael membuat Lia terdiam.
"Tidak."
"Jika tidak, lalu kenapa aku terbangun dalam keadaan tidak memakai pakaianku?"tanya Mikael menatap Lia lekat dia berharap apa yang dia pikirkan itu benar terjadi.
"Mungkin kau yang membukanya. Sudahlah aku ingin kekamar ku."ucap Lia melepas genggaman tangan Mikael lalu melangkah pergi.
"Aku tau ada yang kau sembunyikan dari ku, ada bercak darah disaprai ku pagi itu. Apa kau yakin kita tidak melakukannya?"tanya Mikael menghentikan langkah Lia.
"Jawab aku Lia, jangan membuat ku gila hanya memikirkan hal itu."ucap Mikael.
"Kalau begitu jangan dipikirkan."balas Lia lalu pergi begitu saja.
"Kenapa susah sekali membuat mu berkata jujur, aku hanya ingin mendengar jawaban iya dari mu maka aku akan sangat senang mendengarnya."gumam Mikael.
Lia menutup pintu kamarnya lalu melangkah mendekati ranjang, dia duduk ditepian ranjang itu dan terdiam.
"Bagaimana aku mau menceritakannya pada mu, kau saja tidak mengingatnya dan mungkin kau tidak akan terima hal itu terjadi."gumam Lia.
Waktu pernikahan mereka tinggal 1 bulan 1 minggu lagi, apa yang harus Lia lakukan. Dia takut saat perceraian itu terjadi dia sudah mengandung anak Mikael, pria itu mungkin tidak akan percaya.
"Apa yang harus aku lakukan."
Ddddrrrrtttt
Ponsel Lia berdering tanda telpon masuk, Lia meraih ponselnya yang berada diatas ranjang dan melihat nama si penelpon.
__ADS_1
"Ibu..."
"Hallo ibu.."ucap Lia.
"Ku pikir kau tidak akan mengangkat telpon ku, aku ingin bilang besok datanglah kerumah bersama tuan muda. Aku mengadakan pesta besar untuk keberhasilan perusahaan ku."ucap Rita.
"Apakah aku harus datang?"tanya Lia.
"Hy kau, kau itu istri dari pengusaha besar. Jelas kau harus datang, lagi pula perusahaan ku tidak akan berkembang jika kau tidak menikah dengan tuan muda. Ya anggap saja undangan ini juga sebagai tanda terimakasih ku karena kau mau mengikuti keinginan ibu mu ini."ucap Rita.
"Tapi ibu ."
"Sudahlah pokoknya kau datang saja besok." Tut sambungan telpon itu terputus. Lia menghelakan nafasnya, sepertinya kali ini biarkan dia yang lebih dulu menegur.
Lia melangkah keluar dari kamarnya, dilihatnya pintu kamar Mikael. Apa pria itu tidak ada dikamarnya?.
Lia masuk kedalam kamar itu dan bertepatan dengan Mikael yang baru keluar dari kamar mandi dalam keadaan hanya memakai handuk dipinggangnya
"Akh..." teriak Lia lalu menutup matanya dan membelakangi Mikael.
"Kenapa kau tidak memakai baju mu?"tanya Lia.
"Seharusnya jika kau mandi, pintu kamar ditutup dan dikunci."ucap Lia Mikael hanya diam menatapnya.
"Kau tidak ingin melihat dada bidang ku?"tanya Mikael.
"Tidak, apa untungnya aku melihat dada mu itu."jawab Lia bayangan kejadain malam itu terlintas dikepalanya bagaimana Mikael begitu gagah melakukannya.
"Kenapa tidak, dada ini milik mu kau berhak melihatnya."ucap Mikael sambil melangkah mendekati Lia.
"Dada itu bukan milik ku, bagaimana mungkin bisa jadi milik ku."ucap Lia, wanita itu terkejud saat Mikael memeluknya dari belakang.
"Aku memang milik mu sayang, bukan kah kita sudah pernah melakukannya."ucap Mikael membuat Lia terdiam.
"Katakan pada ku, kita melakukannyakan malam itu?"tanya Mikael lalu meletakan dagunya dibahu Lia.
Wanita itu diam membeku aroma badan Mikael begitu tercium bahkan tetasan air dari rambut Mikael terasa dibahunya.
"Katakan sayang, apa yang aku bilang benar bukan?"
"Kau ini bicara apa, sudahlah jangan melantur. Melapaskan tangan mu, aku kesini ingin memberitahu besok ibu mengundang kita kepesta perusahaannya."ucap Lia berusaha melepas pelukan mikael tapi gagal.
__ADS_1
"Untuk apa dia mengundang kita, bukan kah kau tidak dianggapnya sebagai putrinya lalu untuk apa meminta mu untuk datang,"tanya Mikael.
"Itu tidak ada urusannya dengan mu. Pokoknya besok kita datang saja kerumahnya."ucap Lia melepas pelukan itu dan berniat melangkah pergi tapi Mikael menarik tanganya dan menyudutkannya ditembok.
Lia menatap wajah Mikael yang begitu dekat denganya. "Lia ku mohon bantu aku mengingatnya."ucap Mikael.
"Apa yang mau kau ingat? Tidak ada hal penting yang terjadi antara kita."ucap Lia menatap kearah lain.
"Benarkah? Lalu kenapa kau menghidari ku? Apa karena kejadian malam itu saat kau melihat ku bersama wanita lain?. Lia kau salah paham soal itu, dia adik ku jadi wajar bukan jika aku aku bersamanya?"tanya Mikael.
Adik jika adik kenapa Lia belum pernah melihatnya, bahkan diacara pernikahan waktu itu wanita itu tidak ada disana.
"Dia baru kembali dari perancis untuk keluahnya, jadi waktu pernikahan kita dia tidak bisa hadir karena dia sedang mengerjakan laporan akhir kuliahnya."ucap Mikael yang seperti membaca pikiran Lia.
"Aku tidak menanyakan hal itu."ucap Lia.
"Tapi raut wajah mu yang mengatakannya."balas Mikael. Tangan pria itu mengusap pipi Lia lembut.
"Sungguh aku penasaran sekali, apa yang terjadi pada malam itu."ucap Mikael.
"Untuk apa kau ingin tau hal itu, tidak ada yang terjadi diantara kita."ucap Lia.
Mikael terseyum. "Kau pintar sekali berbohong."
"Aku tidak berbohong."ucap Lia kesal.
"Hy kenapa kesal seperti itu, jika kau tidak berbohong kau tidak perlu marah."ucap Mikael.
"Habisnya kau terus bertanya apa yang terjadi, apa yang terjadi. Aku bosan mendengarnya tidak bis...." Lia terdiam saat Mikael mencium bibirnya.
Mikael mencium bibir itu lembut, ada suatu hal yang harus dia pastikan. Apa benar malam itu benar-benar terjadi.
Perlahan Lia mulai membalas ciuman itu tapi ingatan malam itu membuatnya ingat kembali, bahwa Mikael tidak mempercayainya dan mengatakan kalau Lia mencintai pria lain. Dengan cepat Lia mendorong tubuh Mikael dan mengusap bibirnya.
Mikael menatap heran. "Maafkan aku.."ucap Lia lalu pergi begitu saja.
Mikael terdiam, wanita itu tadi menerimanya tapi kenapa jadi menolaknya. Tapi ingatan mikael hapir terlihat dan kejadain malam itu bernar-benar terjadi tapi Lia menyembunyikannya.
"Kenapa dia merahasiakannya."
Lia menutup pintu kamarnya dan bersandar dibalik pintu itu, Mikael pasti mengingatnya dan Lia yakin pria itu menghindarinya. Bukan kah tidak masalah jika pria itu menghindarinya agar nanti Lia dengan mudah melepas pria itu saat perceraian nanti, tapi kenapa hatinya menolak akan hal itu.
__ADS_1