Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
kalian yang membuat ku tersiksa


__ADS_3

"Ibu kandung mu...adalah ibu tiri mu yang sekarang." Ucap Hiro.


Lia terdiam mematung, menatap Tania yang menunduk tidak berani menatapnya kearahnya.


"Lolucon apa yang ayah katakan." Ucap Lia.


"Lia ayah tau kau tidak akan bisa menerima ini, tapi inilah kenyataannya. Tania adalah ibu kandung mu sayang." Ucap Hiro.


"Hah...waawww...apa kalian komplotan? Apa kalian sengaja tidak menganggap ku sebagai putri kalian?" Tanya Lia.


"Lia apa maksud mu? Kau putri ayah dan ayah sayang pada mu begitu juga ibu mu Tania. Kami menyayangi mu sayang."


"BOHONG.." Teriak Lia air matanya mengalir.


"Jika kau benar kalian menyayangi ku, kalian tidak akan membiarkan AKU TINGGAL BERSAMA WANITA ITU." Ucap Lia tanganya terkepal.


"Apa kalian sengaja membiarkan ku untuk tinggal bersamanya? Apa kalian sengaja membiarkan dia memenangkan hak asuh ku dan membiarkan ku di siksa olehnya?"


"Lia tidak seperti itu sayang." Ucap Tania Lia menatap wanita itu.


"Jika benar kau ibu ku, kau tidak akan terima jika aku di ambil dari mu. Tapi kenapa...TAPI KENAPA KALIAN MEMBIARKAN DIA MENGAMBIL KU." Teriak Lia Hiro memejamkan matanya putri sudah sangat marah padanya.


"Sayang.." Mikael mendekatinya.


"Mereka jahat Mikael...jika benar aku putri mereka, mereka tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Ucap Lia.


"Aku paham sayang...tapi ku mohon tenangkan diri mu, kau sedang hamil aku tidak mau kau tertekan." Ucap Mikael mengejutkan Hiro dan Tania.


"Apa? Lia hamil?" Tanya Hiro Lia menatapnya.


"Apa peduli kalian? Aku bukan putri kalian kan." Ucap Lia.


"Tidak seperti itu Lia ayah mohon mengerti lah, kau tau kan wanita itu menggunakan kekuasaannya untuk memenangkan hak asuh mu sedangkan ayah saat itu tidak memiliki apa pun untuk membayar pengacara." Ucap Hiro.


"Lalu setelah ayah punya perusahaan dan pekerjaan sendiri kenapa ayah tidak ingin mengambil hak asuh ku." Ucap Lia.


"Ayah.."


"Ayah tidak mau bukan....kalian yang membuat ku tersiksa dengan hidup bersama wanita itu." Ucap Lia membuat Hiro dan Tania terdiam.

__ADS_1


"Selama 24 tahun aku harus merasakan itu semua dan kalian dengan santainya MERAHASIAKAN ITU SEMUA DARI KU..apa kalian memang ingin menyiksa ku." Ucap Lia.


"Tidak seperti itu sayang mamah mohon, maafkan mamah." Ucap Tania.


Lia menatapnya. "Jika benar aku putri mu, ke apa kau selama itu hanya diam. Kenapa kalian hanya diam dan membiarkan aku tersiksa bersama wanita itu. BAHKAN AKU DI JADIKAN BAHAN PERJANJIAN OLEHNYA." ucap Lia


"Aku bingung harus seperti apa, perasaan ku saat ini antara senang dan kecewa. Aku senang bahwa ibu kandung ku bukan lah dia tapi aku kecewa kenapa orang tua ku sendiri yang membiarkan anaknya tersiksa." Tania menangis.


Mikael menghapus jejak air mata Lia. "Sayang tenangkan diri mu." Ucap Mikael Lia menatapnya.


"Bagaimana aku bisa tenang, orang tua kandung ku sendiri membuang ku." Ucap Lia.


"Lia tidak seperti itu sayang, kami tidak membuang mu." Ucap Hiro.


"Lalu apa kalian sebut apa? Kalian membiarkan hal itu terjadi. Membiarkan anak kalian, putri kalian ini hidup dengan wanita yang bukan ibu kandungnya, BAHKAN PUTRI KALIAN INI HARUS MENERIMA SEMUA SIKSAAN DARI NYA AKKHH.." Lia memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Sayang.." Mikael langsung menahan tubuh Lia yang hampir terjatuh.


Bahkan Cika dan Hang panik melihat Lia kesakitan.


"Lia.."


"Berhenti.." ucap Lia saat Hiro dan Tania ingin mendekatinya.


"Aku ingin istirahat perut ku keram." Ucap Lia pada Mikael.


"Apa? Aku akan membawa mu ke kamar. Cika panggil dokter." Ucap Mikael mengangkat tubuh Lia dan membawanya pergi.


Cika langsung pergi untuk memanggil dokter sedang Hang masih diam di tempat.


"Nona Lia mungkin masih belum bisa menerimanya, dia tidak terima karena selama ini kalian membiarkan dia tinggal bersama wanita itu. Padahal kalian tau bahwa putri kalian tidak hidup bahagia tapi kalian tetap diam. Siapa pun akan marah jika hal itu juga terjadi pada mereka, kalian sebagai orang tua seharusnya mengerti bagaimana perasaan anak kalian." Ucap Hang lalu pergi begitu saja.


Tania terduduk dilantai dan menangis. "Maafkan mamah sayang...mamah salah.." Ucap Tania tangisnya pecah.


"Aku yang salah, aku yang tau semua itu tapi kenapa aku terus membohonginya dan membiarkannya Lia bersama Rita." Ucap Hiro.


"Putri kita terluka karena kita sendiri." Ucap Tania.


*_*_*_*

__ADS_1


"Jangan biarkan nona Lia tertekan atau banyak pikiran itu bisa mempengaruhi janinnya." Ucap dokter yang Cika panggil tadi.


"Baik dok terimakasih." Ucap Mikael menatap Lia yang hanya diam sambil duduk diatas ranjang menatap keluar balkon kamar.


Cika mengantar dokter itu keluar, Hang menatap nona nya iba. "Aku pun akan marah jika orang tua ku juga seperti itu pada ku." Batin Hang lalu pergi keluar dari kamar itu.


"Sayang.."


"Hiks.." Mikael menangkup wajah Lia menatap istrinya yang menangis.


"Hy..jangan menangis lagi sayang kau tidak dengar apa kata dokter tadi." Ucap Mikael.


"Kenapa mereka tega pada ku." Ucap Lia Mikael menarik istrinya dalam pelukannya.


"Kenapa mereka membiarkan ku hidup bersama wanita itu." Ucap Lia memeluk Mikael erat.


"Mereka jahat sayang...hiks...mereka yang membuat ku tersiksa hidup bersama wanita itu." Ucap Lia.


"Iya...sayang iya...ku mohon tenangkan diri mu dulu. Aku takut kau dan si kecil kenapa-kenapa." Ucap Mikael memeluk Lia erat.


Mikael mencium pucuk kepala Lia, sambil terus mengelus punggung itu agar Lia bisa tenang.


"Sayang.."


"Hhmm ada apa?" Tanya Mikael.


"Aku ingin bertemu dengan ibu." Ucap Lia.


"Maksud mu.."


"Aku ingin bicara pada ibu Rita, aku ingin tau semua darinya." Ucap Lia.


"Tapi sayang.."


Lia melepas pelukannya dan menatap Mikael. "Ku mohon...aku ingin semuanya jelas sayang, aku mohon biarkan aku bertemu dengannya." Ucap Lia Mikael menghelakan nafasnya.


"Baiklah...kita akan mendatanginya, tapi kau harus tenang dulu. Dokter bilang kau harus banyak istirahat sayang, kita akan mendatanginya jika kondisi mu sudah pulih ya." Ucap Mikael Lia mengangguk.


Mikael mencium kening Lia. "Aku tidak mau kau dan anak kita kenapa-kenapa sayang, aku juga bingung dengan masalah ini. Tapi untuk sekarang aku hanya memikirkan mu, kau harus pulih dulu dan tenangkan diri mu. Kesehatan mu dan si kecil adalah hal penting bagi ku." Ucap Mikael.

__ADS_1


"Iya sayang, maaf membuat mu khawatir dan takut." Ucap Lia.


Mikael terseyum dan kembali memeluk Lia. "Tidak papa, sebagai suami jelas aku akan selalu memikirkan keadaan mu dan sebagai ayah jelas aku juga memikirkan anak kita, jadi kau dan si kecil adalah hal terpenting bagi ku. Untuk sekarang kau tenangkan diri mu dan pulihkan kesehatan mu dulu, baru kita akan menemuinya." Ucap Mikael Lia mengangguk dan memeluk suaminya erat.


__ADS_2