
Tok tok.
"Masuk."
"Permisi tuan."
"Apa kalian mendapatkan informasinya?"tanya orang yang dipanggil tuan.
"Belum tuan, sepertinya kepergian mereka sangat ditutup rapat."jawab lawan bicaranya.
"AKHHH SIALAN..."teriak orang sambil membuang semua barang yang ada di atas meja kerjanya.
"Kemana pria itu membawa wanita ku."ucapnya tanganya terkepal kuat lalu memukul meja itu.
Orang yang berdiri didepannya sampai merinding ketakutan melihat kemarahan bosnya.
"Temukan mereka di mana pun, aku tidak peduli sampai berapa lama. Aku hanya ingin wanita ku kembali. PERGI." dengan cepat orang itu pergi meninggalkan ruangan bosnya.
"Aku akan menemukan mu Lia, dan aku akan memisahkan pria itu dari mu bagaimana pun caranya."gumam pria itu.
♧♧♧♧♧
Ditempat lain, seorang wanita sedang mengelilingi rumah itu setelah sarapannya.
"Sayang kau mau kemana?"tanya Mikael yang terus mengikutinya.
"Aku mau melihat pemandangan dari menara, tapi dimana letak menaranya."ucap Lia terus mencari Mikael tidak ingin memberitahunya karena menara itu harus menaikinya dengan tangga dan Mikael tidak mau Lia kelelahan.
"Untuk apa kau mencarinya sayang, kau akan kelelahan nanti. Ayo kita balik kekamar saja."ucap Mikael.
"Tidak mau, pokonya aku mau naik. Karena janji mu kau batalkan untuk menaiki kuda sebagai gantinya kita naik menara itu. TITIK TIDAK PAKE KOMA."ucap Lia penuh penekanan.
Mikael memijit pelipisnya. "Sayang ayolah, itu bahaya untuk mu. Aku tidak mau kau dan si kecil kenapa-kenapa."ucap Mikael.
Lia menghentikan langkahnya begitu saja membuat Mikael hampir menabraknya.
"Pokonya aku mau naik itu."ucap Lia dengan wajah cemberut.
"Tidak, kalau aku bilang tidak ya tidak."balas Mikael.
Wanita itu menatap Mikael dengan mata berkaca, perlahan air mata Lia mengalir, membuat Mikael menjadi tidak tega.
"Kau tidak mau menuruti ku."ucap Lia Mikael ragu-ragu ingin menghapus air mata itu.
"Jangan menyentuh ku."ucap Lia tu kan benar, wanita itu akan menepisnya.
"Sa...sayang, hy aku bukan tidak mengijinkan mu. Tapi menara itu bahaya untuk mu sayang."ucap Mikael Lia mengalihkan wajahnya dan menangis.
Mikael memejamkan matanya sambil menghelakan nafasnya. "Nanti saja ya sayang, ku mohon uttuk kali ini menurut lah."ucap Mikael.
Lia menghentakan kacinya dan itu membuat Mikael gemas. "Kau tidak mau memenuhi keinginan kami....aaaaaa ayah mu jahat sayang."ucap Lia menangis Mikael semakin gusar.
__ADS_1
"Oh ya ampun, kenapa istri ku jadi seperti ini. Apa ini karena kehamilannya."batin Mikael.
"Sayang...sayang...hy ssssstttt berhenti menangis aku mohon."ucap Mikael Lia menepis tanganya dan mendoro Mikael.
"Kau jahat menjauh dari ku."ucap Lia lalu pergi begitu saja.
Mikael melongo, oh ya ampun ada apa dengan Lia. Kenapa semenjak kehamilannya ini Lia jadi seperti itu.
"Oh sayang, kenapa kau membuat ibu mu menjadi semanja itu."gumam Mikael menyusul Lia.
"Sayang..."Mikael terus mengejar Lia.
"Pergi....jangan ganggu aku."ucap Lia sambil menuruni tangga.
"Sayang dengarkan aku dulu."ucap Mikael berusaha menahan Lia tapi wanita itu menepisnya.
Dan tanpa sadar kaki Lia tersandung membuat Lia hampir saja terjatuh.
"Nona.."teriak Cika yang melihat kejadian itu.
Jika tidak dengan cepat Mikael menangkap tubuh itu mungkin Lia sudah jatuh kedasar tangga itu.
"Lihatkan, apa kau tidak bisa diam hah?" Bentak Mikael membuat Lia terdiam.
"Kau tidak tau jika kau terjatuh tadi bagaimana hah? kau sedang berbadan dua Lia bukan hanya nyawa mu yang ku pikirkan, kau sedang mengandung jika kau terjatuh tadi itu sungguh membuat ku gila." Lia semakin menunduk takut.
"Aahhh kau hanya membuat ku pusing saja. Jantung ku hampir lepas karena mu." Lia hanya menangis dalam diam.
"Ba..baik tuan."ucap Cika lalu menaiki tangga mendekati Lia.
"Ayo nona."ucap Cika Lia hanya mengangguk dan melangkah pergi menuju kamar bersama Cika.
"Tuan kau terlalu keras pada nona."ucap Hang.
"Apa kau tidak lihat tadi, oleh kecerobohannya tadi dia hampir terjatuh. Apa dia tidak memikirkan keadaannya, semejak hamil ini kepalanya semakin keras saja."ucap Mikael sepertinya pria itu masih marah dia tidak akan mendengar siapa pun.
"Ahhh menjengkelkan sekali. Minggir."ucap Mikael Hang sedikit mengyingkir membuirkan tuannya lewat.
"Hah....yang satu sifatnya keras dan yang satu perubahan moodnya karena sedang hamil."gumam Hang sambil menggelengkan kepalanya.
Di dalam kamar Lia terus menangis. "Nona sudahlah.."ucap Cika tidak tega.
"Mikael marah pada ku...hiks...aku salah...seharusnya aku bisa lebih berhati-hati. Lihatkan dia tadi membentak ku seperti apa....hiks....aaaa Cika." Lia memeluk Cika menangis.
Cika menghelekan nafasnya sambil mengelus punggung Lia. "Nona sudahlah, tuan tidak marah."ucap Cika.
"Dia marah pada ku....hiks....dia bahkan tidak mengijinkan ku keluar kamar......hiks.."ucap Lia.
Cika jadi tidak tega, tapi Lia sendiri yang membuat masalah. Mau bagaimana lagi wanita itu sedang hamil, tentu saja tuan muda akan sangat sensitif jika menyangkut keselamat istrinya.
"Nona tenanglah, tuan pasti tidak akan marah lagi nanti."ucap Cika.
__ADS_1
Lia melepas pelukannya. "Apa kau yakin suami ku tidak akan marah lagi, aku sudah membuatnya sangat marah. Bahkan dia tega membentak ku tadi."ucap Lia.
"Nona, tuan seperti itu karena dia sayang dan takut nona kenapa-kenapa. Tuan tidak marah, itu hanya rasa gugubnya yang langsung keluar menjadi seperti itu. Nona tenang saja."ucap Cika Lia menghentikan tangisnya.
"Apa nona butuh sesuatu?"tanya Cika Lia menggeleng.
"Aku hanya ingin tidur."ucap Lia.
"Ya sudah Nona sekarang beristirahat lah."ucap Cika membawa Lia keranjang.
Lia naik keranjang itu dan menidurkan dirinya, Cika membantu menyelimuti Lia. Perlahan wanita itu tertidur dan Cika keluar dari kamar itu.
"Wahhh..jadi seperti itu jika wanita hamil moodnya akan sangat gampang berubah."gumam Cika.
"Sedang apa kau?"tanya Hang yang tiba-tiba ada dibelakangnya membuat Cika terkejud.
"Ya ampun tuan Hang."ucap Cika mengelus dadanya.
Hang hanya terseyum. "Bagaimana keadaan nona Lia?"tanya Hang.
"Nona sedang tidur, setelah menangis nona sepertinya kelelehan dan mengantuk."jawan Cika.
"Ooohhh begitu, ya sudah kembali keperkerjaan mu."ucap Hang.
"Baik tuan."ucap Cika, dia bukan hanya di buat terkejud karena kemunculan tiba-tiba Hang Cika juga terkejud karena Hang begitu dekat denganya.
"Aaahhhh kenapa wajahnya tampan sekali."gumam Cika sambil menepuk pipinya yang memerah.
Saat melewati ruang keja tiba-tiba Mikael muncul dan kembali membuat Cika terkejud.
"Ohhh ya ampu."ucap Cika sambil mengelus dadanya "Lama-lama aku bisa jantungan seperti ini."batin Cika.
"Sedang apa istri ku?"tanya Mikael.
"Nona Lia sedang istirahat tuan, nona sepertinya kelelehan setelah menangis."jawab Cika.
"Baguslah kalau begitu, setidaknya aku bisa tenang sekarang, kembali lah keperkerjaan mu."ucap Mikael.
"Baik tuan."balas Cika lalu melangkah pergi.
"Kenapa dua pria di rumah ini hobbynya membuat orang jantungan."gumam Cika melangkah menuju dapur.
Saat ingin berbelok Cika kembali terkejud melihat kain pel langsung terpampang di wajahnya.
"Aishhh mengejutkan ku saja."ucap Cika kes.
"Kau ini kenapa?"tanya Tata heran sambil membawa kain pel itu.
"Ahhh kau ini, kenapa kau membawanya terbalik seperti itu? Kain pelnya di bawah dan tonggatnya yang diatas Tata."ucap Cika kesal.
"Memangnya kenapa, suka-suka aku saja."balas Tata lalu melewati Cika begitu saja.
__ADS_1
"Ooohhh ya ampun lama-lama aku bisa mati karena sakit jantung."gumam Cika mengusap dadanya.