Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
kerja


__ADS_3

Hari ini Lia bersiap untuk berangkat kerja, untung saja dia bisa mendapatkan pekerjaan walau hanya menjadi karyawan biasa diperusahaan DS GROUP.


Setelah bersiap Lia melangkah menuju pintu saat membuka pintu itu dia terkejud saat Mikael berdiri didepannya.


"Mau kemana kau?"tanya Mikael.


"Kerja."jawab Lia.


"Siapa yang mengijinkan mu berkerja?"tanya Mikael.


"Kau sudah memberi ijin dua hari lalu apa kau lupa? Lagi pula aku sudah memberikan alasan ku kenapa aku ingin berkerja bukan. Aku tidak ingin merepotkan mu untuk memberikan ku uang, aku ingin menghasilkan uang ku sendiri. Sisa waktu ku hanya 2 bulan setengah dirumah ini."ucap Lia lalu melewati Mikael begitu saja.


"Cih...apa dia bilang tadi. Apa wanita itu tidak ingin pamit dengan ku dengan baik."gumam Mikael lalu menyusul Lia kebawah tapi tidak melihat wanita itu.


"Cika,dimana istri ku?"tanya Mikael hy sejak kapan kau menganggap Lia istri mu bahkan kau tidak ingin tidur dengan wanita itu.


"Nona muda langsung pergi begitu saja tuan, nona bilang akan sarapan dikantor saja."jawab Cika.


"Dia menaiki apa kekantornya?"tanya Mikael.


"Nona bilang dia akan jalan kaki untuk sampai didepan lalu manaiki taksi."jawab Cika.


"Apa dia bodoh, bukankah dia belum makan dari kemarin."guman Mikael untuk apa dia khawatir pada wanita itu.


....


Lia terus melangkah menyusuri jalan menuju jalan utama didepan untuk mencari taksi.


"Aaaaah aku lapar sekali, tapi aku harus cepat kekantor."gumam Lia.


Tintin


Lia terkejud saat mendengar suara klakson mobil.


"Butuh tumpangan?"tanya pria yang membawa mobil itu.


Lia menatapnya. "Dimas?"


"Iya...ayo cepat masuk kau ingin kekantor mu bukan?"tanya Dimas.


"Dari mana kau tau?"tanya Lia.


Dimas hanya terseyum. "Sudahlah ayo cepat naik."ucap Dimas Lia mendekat dan membuka pintu samping kemudi lalu masuk kedalam mobil.


"Terimakasih tumpanganya."ucap Lia.


"Tidak perlu berterimakasih. Kita sarapan dulu ya, aku belum makan."ajak Dimas.


"Tapi aku.."


"Sudahlah jangan khawatir kau tidak akan dimarahi."ucap Dimas lalu melajukan mobil.


Tanpa mereka ketahui ada seseorang yang melihat hal itu. "Kau lebih suka bersamanya dari pada suami mu sendiri."gumamnya lalu melajukan mobilnya pergi begitu saja.


Dimas dan Lia memasuki sebuah rumah makan, Lia juga tidak bisa menolak perutnya sudah sangat lapar tapi dia memikirkan perkerjaannya.

__ADS_1


"Aku sudah pesanakan makanan untuk kita berdua."ucap Dimas lalu membawa Lia duduk dikusi samping jendela.


"Tapi aku belum mengatakan apa yang ku pesan."ucap Lia.


"Sudah tidak masalah kau pasti menyukai makanan ini."ucap Dimas Lia hanya diam pikirnny asekarang dengan kacau.


Dia bisa dipercat dihari pertamanya berkerja jika seperti ini. "Apa pesanannya tidak bisa dibungkus saja, aku takut terlambat ini sudah jam 7 sedangkan diaturan perusahaan tempat ku berkerja karyawan tidak boleh datang terlambat lewat dari jam 7.30."ucap Lia Dimas terseyum.


"Kau begitu takut sekali. Jika nanti atasan mu memarahi mu dan menyuruhmu mendatangi bos maka datang saja tidak perlu takut aku jamin bos mu tidak akan memarahi mu."ucap Dimas.


"Enak sekali kau mengatakannya, aku yang terkena masalah bukan kau."ucap Lia kesal Dimas terkekeh.


"Kau ini takut sekali, percayalah bos mu tidak akan marah." Lia hanya membuang muka dia jadi kesal pada pria itu.


Setelah pesanannya datang Lia dengan terburu-buru memakan makananya.


"Hy tenanglah nona, kau tidak akan terlambat."ucap Dimas.


"Apa kau tidak melihat jam."ucap Lia kesal.


"Kau ini kenapa emosian sekali, tenanglah percaya pada ku dia tidak akan marah."ucap Dimas.


"Mudah sekali mulut mu berbicara."ucap Lia Dimas tertawa.


"Saat kau kesal seperti ini, kau seperti lebih menjadi diri mu sendiri. Aku suka itu."ucap Dimas lalu melanjutkan makannya.


Lia hanya terdiam, dia baru sadar saat bersama Dimas dia menjadi dirinya sendiri cerewet dan pemarah.


"Kenapa diam, lanjutkan makan mu nanti kau akan terlambat."goda Dimas.


"Kau cantik saat marah."ucap Dimas tapi Lia tidak mendenganrya dengan jelas.


"Kau mengatakan sesuatu?"tanya Lia Dimas menggeleng.


"Lanjutkan makan mu saja."ucap Dimas Lia hanya mengangkat bahunya acuh.


|●|●|●|●|●|


Lia sampai ditempatnya berkerja, dia turun begitu saja dari mobil tanpa pamit pada Dimas.


"Ya ampun wanita itu menggemaskan sekali."tapi Dimas menyukainya.


Lia dengan terburu-buru memasuki gedung itu dan mencari ruanganya dengan menanyakan dimeja resepsionis.


"Kau karyawan baru itu?"tanya seseorang saat Lia ingin menanyakan dimana ruanganya.


"Iya saya."jawan Lia.


"Ikut dengan ku, kau terlambat."ucapnya lalu melangkah pergi.


Lia menepuk keningnya. "Habis sudah hari pertama ku berkerja aku sudah mendapatkan masalah."batin Lia.


Saat dia melangkah pergi seseorang masuk kedalam gedung itu. "Selama pagi tuan."sapa karyawan yang menjadi resepsionis.


"Pagi."

__ADS_1


Dia pemilik perusahaan itu, banyak orang mengatakan pria itu baik hati, dan rama pada siapa pun. Maka dari itu banyak yang ingin berkerja diperusahaan itu, tapi tidak banyak yang diterima. Walau memiliki bos yang baik hati bukan berarti tes untuk memasuku perusahaan itu gampang, bahkan tesnya lebih sulit dari pada mengerjakan skripsi akhir perkuliahan.


Diruangan lain Lia hanya bisa menunduk.


"Kau tau ini jam berapa?"tanya atasannya Lia hanya mempu mengangguk.


"Kau tau bukan aturan yang ada perusahaan ini nona Lia?" Lia kembali mengangguk.


"Lalu apa alasan mu terlamabat dihari pertama mu berkerja?"tanya atasanya.


"Maaf bu, saya terlambat karena mencari sarapan terlebih dahulu."jawab Lia.


"Hah....dihari pertama kau sudah memvuat masalah."ucap atasannya.


Telpon perusahaan itu berdering menandakan ada panggilan untuknya.


"Iya tuan, ini saya Sari."ucap wanita itu Sari.


"Bawa anakbaru itu keruangan saya."ucapnya lalu mematukan sambungan telpon itu.


"Tuan muda meminta kau keruanganya."ucap Sari.


"Tapi saya tidak tau ruanganya dimana."ucap Lia.


"Ikut dengan ku."ucap Sari lalu melangkah keluar dari ruangan itu.


Mereka melangkah menuju lift dan masuk kedalamnya, lift itu bergerak membawa kelantai atas tempat CEO pemilik perusahaan itu berada.


Sesampainya disana Sari melangkah mendahului Lia, wanita itu hanya terus mengikutinya.


"Permisi tuan."ucap Sari.


"Masuk."


Kedua wanita itu masuk kedalam rungan itu, Lia hanya menatap sandaran belakang kursi dimana bosnya.


"Ini karyawan baru itu tuan."ucap Sari.


"Kau pergilah aku ingin bicara padanga."ucap orang itu.


Lia seperti pernah mendengar suara itu tapi dimana, suaranya begitu femiliar.


"Baiklah tuan."ucap Sari lalu melangkah pergi.


Lia hanya diam menunggu orang itu berbicara.


"Siapa nama mu?"tanya orang itu.


"Nama saya Sesilia Natasy Mila tuan."jawab Lia.


Lia masih hanya menatap bekalang kursi itu, sampai orang itu memutar kursinya dan terseyum pada Lia. Lia terkejud melihat siapa yang ada didepannya.


"Hy."sapa orang itu.


"Dimas."

__ADS_1


__ADS_2