
Mobil itu berhenti dihalaman rumah mewah dan megah. Seorang pria keluar dari mobil itu dan membukakan pintu untuk seorang wanita.
"Terimakasih."ucap Lia Dimas terseyum.
Dimas mengantar Lia sampai kedepan pintu rumah. Belum sempat Lia menekan bell pintu rumah itu lebih dulu terbuka.
"Dari mana saja kau?"tanya seorang pria menatap Lia tajam lalu menatap pria yang ada dibelakang Lia.
"Beginikah cara mu mengajak istri orang untuk jalan?"tanya Mikael Dimas terseyum miring.
"Aku ijin padanya."jawab Dimas.
"Aku suaminya seharunya kau ijin pada ku."ucap Mikael.
"Ohh kau menganggap dia istri mu?"tanya Dimas membuat tangan Mikael terkepal.
"Dimas sebaiknya kau pulang, ini sudah larut."ucap Lia.
"Baiklah aku pulang dulu, jika terjadi sesuatu telpon aku."ucap Dimas Lia terseyum dan mengangguk.
Dimas pergi melangkah menuju mobilnya dan masuk kedalam mobil itu pergi dari perkarangan rumah kakaknya.
Tiba-tiba tangan Lia tertarik begitu saja oleh Mikael dan membawanya kekamar dan mendorong Lia begitu saja.
"Kau memang pantas disebut wanita murahan, kau jalan dengan pria lain padahal suami mu menunggu mu dirumah."teriak Mikael.
Lia hanya diam sambil mengusap tanganya yang memerah.
"Apa kau tuli?"teriak Mikael.
"Lalu kau ingin aku menjawab apa? Bukan kah aku memang sudah seperti itu di mata mu."ucap Lia menatp Mikael.
"Apa kau ingin aku membela diri ku? Untuk apa aku melakukan itu jika kau tidak bisa menghargai perkataan ku. Bukan kah memang wanita murahan ini tidak pantas untuk mu, aku lelah tuan. Aku lelah dengan hidup"ucap Lia nafasnya berburu tapi matanya tidak menangis wanita itu sungguh kuat manahan air matanya agar tidak keluar.
"Cih...."Mikael hanya berdecih lalu menatap Lia tajam.
"Mulai besok aku yang akan mengantar jemput mu."ucap Mikael.
"Untuk apa? Aku tidak mau ada yang curiga."ucap Lia.
"Jadi kau merahasiakan pernikahan mu saat mencalonkan diri diperusahaan itu?"tanya Mikael.
"Ya aku merahasiakannya, lagi pula memang itu rencana awal bahwa kita tidak akan mengumbar pernikahan ini diluar bukan? Lalu untuk apa aku mengakui kau suami ku."ucap Lia tangan Mikael terkepal.
__ADS_1
"Kau wanita yang keras kepala. Besok aku akan tetap mengatar mu, tidak ada penolakan."ucap Mikael lalu keluar dari kamar itu.
Lia terduduk ditepian ranjang dan terdiam tanganya terkepal kuat. Pria itu tidak akan bisa dilawan, dia selalu memakai kekerasannya.
•●•●•●•●•●•
Pagi-pagi sekali Lia sudah mandi dan bersiap, dia memakai kemeja dengan renda dilehernya dan ada tali dengan warna yang sama dengan kemejanya diikat satu dilehernya. Rok pendek melilit dikakinya sampai lutut dan hels hitam mengkilap yang pas dikakinya.
Lia terseyum melihat bayangannya di kaca, make up tipis membuat wajahnya terlihat cantik natural. Lia melangkah menuju pintu saat membukanya Lia dibuat terkejud melihat Mikael berdiri didepannya.
"Kau sudah siap?"tanya Mikael Lia hanya diam.
"Kita akan sarapan lebih dulu, baru aku akan mengantar mu."ucap Mikael lembut membuat Lia tertegun.
Ada apa dengan pria itu, tidak biasanya seperti itu. Tiba-tiba Mikael menggenggam tanganya dan membawa Lia kelantai bawah untuk sarapan. Saat sudah sampai diruang makan Mikael menarikan kursi untuk Lia, wanita itu kembali tertegun.
"Duduk dan makan lah, Cika sudah menyiapkan makanan kesukaan mu."ucap Mikael menarik wanita itu yang masih terdiam untuk duduk.
"Makanlah yang banyak."ucap Mikael lalu duduk dikusi disamping Lia.
Ya karena lapar Lia memakan sarapan itu dalam diam, sesekali Mikael menatapnya dan tiba-tiba Mikael mengusap sudur bibirnya.
"Kau ini makan belepotan sekali."ucap Mikael membuat Lia terdiam.
Lia menatap Mikael. "Kau ini kenapa? Apa kau sakit?"tanya Lia akhirnya membuka suara.
"Kau ini aneh. Kau kerasukan apa tadi malam kenapa bisa jadi seperti ini?"tanya Lia menatap Mikael aneh.
"Hy kau kenapa bicara seperti itu? Apa kau pikir suami mu ini kerasukan? Aku hanya ingin merubah sikap ku pada mu."ucap Mikael.
"Berhenti main-main, aku tau kau hanya pura-pura."ucap Lia lalu melanjutkan makannya sampai selesai.
"Aku sudah selesai. Aku berangkat."ucap Lia beranjak dari duduknya tapi ditahan oleh Mikael.
"Apa kau tidak bisa menghargai suami mu sedikit saja, aku berbuat baik pada mu kau pandang salah. Lalu kau ingin aku bersikap seperti apa."ucap Mikael.
"Jadilah diri mu sendiri, aku tidak mau kau termakan permainan mu sendiri."ucap Lia memberikan peringatan.
"Aku sedang tidak main-main, aku sungguh-sungguh pada mu."ucap Mikael lalu beranjak dari duduknya dan menyamakan tingganya dengan Lia membuat wanita itu memundurkan kepalanya.
"Aku akan berbuat baik pada mu mulai sekarang, aku ingin memperbaiki semuanya dan tentang kontrak itu mulai sekarang lupakan itu. Aku ingin berdamai dengan mu."ucap Mikael menatap Lia lekat wanita itu hanya diam menatapnya.
"Kau mengerti sayang."ucap Mikael sambil menepuk pipi Lia pelan lalu menarik wanita itu untuk pergi.
__ADS_1
"Mimpi apa kau tadi malam, ini bukan tuan Mikael. Aku harus membawanya kedokter jiwa."gumam Lia.
"Kau bicara apa?"tanya Mikael tiba-tiba memutar kearahnya membuat Lia menghentikan langkahnya hampir menabrak dada bidang itu.
"Ti..tidak, aku tidak ada bicara apa-apa."jawab Lia kenapa tiba-tiba dia gugub seperti itu.
Mikael kembali terseyum. "Jangan banyak melamun sayang."ucap Mikael Lia kembali tertegun sungguh ada apa dengan tuan muda itu, kenapa sifatnya berubah drestis.
♢♢♢♢♢
Mikael sungguh-sungguh dengan ucapannya pria itu mengantar Lia sampai diperusahaan milik adiknya, banyak pasang mata yang menatap mobil itu heran.
"Aku seperti pernah lihat mobil itu."ucap seorang wanita pada temannya.
"Iya....ooohh bukan kah itu tuan muda."ucap temannya saat melihat Mikael keluar dari mobil dan melangkah menuju pintu mobil satunya dan membukanya.
"Apa yang kau lakukan kenapa berhenti disini? Aku meminta mu berhenti didepan jalan sana."omel Lia yang enggan keluar dari mobil.
"Kenapa memangnya? Aku yang mengantar mu jadi aku yang menentukan tempat yang pantas untuk menurunkan istri ku."jawab Mikael.
"Tapi jika seperti ini kau membuat mereka curiga. Mereka pasti bertanya-tanya aku siapa mu."ucap Lia menatap Mikael kesal.
"Memang itu tujuan ku, sudahlah ayo turun."ucap Mikael menarik Lia keluar dari mobil.
Beberapa karyawan disana tertegun melihat karyawan baru diperusahaan itu diantar oleh tuan muda anak pertama dari pembisnis besar yaitu tuan Sanjaya.
"Aku akan mengantar mu sampai kedalam."ucap Mikael menggenggam tanganya.
"Tuan muda apa yang kau lakukan lepaskan aku, apa kau gila."ucap Lia berbisik diakhir kalimatnya.
"Apa? Aku tidak gila, aku sungguh ingin mengantar mu sampai dalam. Ayo."ucap Mikael tapi Lia melawan sampai suara seseorang membuat Mikael berhenti menarik Lia.
"Jika dia tidak mau jangan dipaksakan, beginikah cara mu memperlakukan wanita?"tanya orang itu membuat Mikael dan Lia melihat kearahnya.
"Dimas..."gumam Lia Dimas menatapnya.
"Selamat pagi apa tidur mu nyenyak?"tanya Dimas terseyum pada Lia.
"I...iya."jawab Lia tiba-tiba Dimas menggenggam tangan satunya.
"Lepaskan tangan mu darinya."ucap Mikael dingin.
"Dia sekretaris ku ku, jadi biarkan dia bersama ku."ucap Dimas menatap Mikael.
__ADS_1
Tatapan tajam itu saling bertabrakan. Mikael tidak mau melepas tangan Lia begitu juga Dimas yang meminta Lia masuk bersamanya.
"Kenapa jadi seperti ini?"batin Lia.